
..."Kau datang diwaktu yang salah. Dulu tak ada cinta, sampai akhirnya ada. Hati sepakat berpisah akan cinta dalam gelisah, yang terbalut kalut, mengutuk hidup yang kusut. Aku dan kamu adalah sepasang cinta terbodoh, dari rasa yang ceroboh yang mengorbankan jodoh."...
^^^Puisitentangcinta^^^
Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu
Aku yang pernah terluka, kembali mengenal cinta
Hati ini kembali temukan senyum yang hilang
Semua itu karena dia
Oh tuhan ke cinta dia
Ku sayang dia, rindu dia, ingin kan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya, untuk dia
Maura tertegun mendengar petikan irama akustik yang dimainkan oleh Damar. Dan suara pria itu, sungguh tak seperti yang ia duga. Mungkin akan sumbang, atau jauh dari kata merdu merusak pendengaran.
Damar bernyanyi seraya sesekali memejamkan mata, seolah meresapi. Lirik lagu romantis itu, terdengar sopan menembus telinga. Bukan hanya dirinya, namun teman-teman yang lain juga seolah hanyut dalam lagu, menatapnya penuh kekaguman.
"So sweet." gumam Anya pelan seraya mengatupkan kedua tangan disisi wajah sambil menatap Damar tak berkedip.
Jauh waktu berjalan kita lalui bersama
Betapa di setiap hari, ku jatuh cinta padanya
Dicintai oleh dia ku merasa sempurna
Semua itu karena dia
Entah disadari atau tidak, netra Maura terus menatap lekat wajah tegas itu. Hingga ketika mata elang itu melihat padanya, dirinya dibuat gugup dan langsung melempar pandangan ke sembarang arah. Saat itu, ia tak sengaja melihat Deva beranjak pergi.
Oh tuhan ku cinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta dihatiku
Hanya padanya, untuk dia ...
"Huuuu!! Keren, Pak." seru semuanya sambil bertepuk tangan saat lagu berjudul Dia itu, berakhir.
"Tadi Bapak bilang tidak biasa bernyanyi. Tapi ternyata hasilnya sangat luar biasa, Pak. Keren, keren!."Anya berdecak kagum.
"Oke baik lah. Tadi Chef Deva sudah bernyanyi ... Pak Damar juga sudah. Sekarang giliran saya menyanyikan sebuah lagu untuk neng Anya." Donny nyengir, dan langsung mendapat seruan tepuk tangan dari yang lain. Namun tidak dengan Anya yang langsung mencibir.
"Haduh, Donny ... suara kamu emang bagus. Tapi lebih bagus lagi kalau kamu diam. Yang ada tuh, binatang-binatang yang ada disini pada kabur dengar kamu nyanyi."
"Hahahaha."suara tawa pecah dari yang lain mendengar celetukan Anya.
Begitu pun Damar yang kemudian tak sengaja melihat kesamping, saat itu dirinya baru menyadari bahwa Maura sudah pergi. Begitu pun, Deva. Pria itu juga tak terlihat. Dirinya sudah bisa menebak, keduanya pasti saat ini sedang berada ditempat yang sama. Memikirkan itu, rahangnya tiba-tiba mengetat. Sial!
"Dari pada bernyanyi, mending kamu bakar jagung, gih! laper nih." ucap Anya kemudian. Yang di tanggapi wajah antusias oleh Donny.
"Oke, deh! untuk neng Anya ... apapun akan Aa lakukan. Biar kata disuruh keliling Ranca Upas untuk mencari jagungnya dulu, Aa pasti lakukan demi bisa mendapatkan hati neng Anya!."
__ADS_1
"Oh, ya ... kamu serius? kebetulan dong .... stok jagung kita memang cuma sedikit. Sepertinya kita masih membutuhkan beberapa lagi. Bisa, kan, kamu cari sekarang?."pinta Anya tanpa ragu.
"Hahahaha ... rasain kamu! Cari dah, tuh jagung!." celetuk Andre sambil tertawa, merasa lucu melihat wajah Donny yang berubah pias.
Damar masih mendengar percakapan dibelakang, sebelum berjalan jauh mencari keberadaan Maura. Tanpa ia sadari dari mulai dirinya beranjak sepasang mata sendu mengikutinya.
*****
"Kenapa mengikuti ku?." tanya Deva tanpa melihat. Netranya nyalang melihat bintang-bintang yang bersinar di langit malam. Membiarkan saja Maura berdiri disisinya. Melihat Maura terus menatap Damar ketika bernyanyi tadi, membuat percikan api cemburu menyala seketika didalam dadanya.
"Aku cuma mau mengucapkan terimakasih."
"Buat apa?." kali ini Deva menoleh dengan sorot tak mengerti
"Ya, terima kasih karena kamu telah memberikan obat-obatan padaku. Sekarang nyeri di tanganku sudah berkurang." Maura tersenyum tipis menunjukkan telapak tangan kanannya yang dibalut plaster luka berwarna coklat.
"Tapi aku ..."
"Disini rupanya?!."
Suara tebal yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang mengejutkanku Maura dan Deva.
"Masuk ke tenda!."
Decak Maura kesal sambil memutar kedua bola mata."Apa, sih?."
"Masuk ke tenda, sekarang!!." ulang Damar dengan nada suara dan tatapan tegas tak ingin dibantah.
"Enggak!!." sahut Maura tak kalah tegas. Yang kala itu berhasil merobohkan batas kesabaran Damar, dan langsung mendekat menarik pergelangan tangannya.
"Lepasin!!."
"Anda tidak berhak mengatur Maura dengan siapa dia ingin dekat!."
Damar berdesis pelan dengan senyum sinis."Jelas saya berhak. Saya suaminya!."ucapnya dengan nada suara sedikit tinggi.
Mendengar itu Deva tersenyum kecut."Anda lupa kalau saya tau tentang perjanjian pernikahan kontrak itu?."
Damar akhirnya bergeming. Begitu juga Maura yang tampak terkejut karena ternyata Deva mengetahui tentang kontrak pernikahan itu. Apa ini alasan dibalik tanda tanya besar, mengapa Deva selama ini menjadi lebih berani mendekatinya?
"Oh, atau sepertinya anda yang lupa kalau pernikahan anda dengan Maura hanya pernikahan diatas kontrak. Kalau begitu saya yang akan mengingatkan anda, Pak!." ucap Deva dengan santai Meski seseorang bertubuh tegap dihadapannya sekarang adalah atasannya sendiri. Bahkan sedikitpun ia tak merasa takut jika besok dirinya harus menerima amplop, berisi surat pemecatan dirinya sebagai chef di Nara House.
"5 bulan sudah berlalu, Pak. Itu artinya perjanjian itu semakin dekat menuju perceraian."
"Kamu benar!." sahut Damar santai berusaha tak lagi terpancing emosi."Tapi jika saat itu tiba, dan aku tidak ingin menceraikannya, kamu mau apa?."sambungnya melihat Deva yang terdiam."Semua keputusan ada ditangan ku."
"Maksud kamu apa, Mas?."protes Maura tak terima.
"Ikut aku ke tenda!."Damar seolah tak perduli dengan pertanyaan itu, langsung kembali menarik lengan Maura.
"Jelasin dulu kenapa kamu ngomong begitu?." Maura menepis tangannya."Kamu lupa dengan kesepakatan kita?."tanyanya dengan nada suara lebih keras.
Membuat Damar berhenti dan dengan gerakan cepat langsung mengangkat tubuh gadis itu. Jika dibiarkan terus berteriak, mungkin malam ini rahasia itu akan terbongkar dihadapan seluruh karyawan. Ini tidak bisa dibiarkan!
"Mas kamu apa-apaan, sih? turunkan aku!." Maura memberontak sambil menerjang-nerjangkan kedua kakinya diudara, seraya memukuli dada bidang Damar bertubi-tubi.
"Bisa diam nggak?! kamu mau aku jatuhin ke bawah?!" ancam Damar sambil terus berjalan melewati perkumpulan karyawan yang menjadi bengong dan bingung menyaksikan adegan mereka. Dan sepertinya Maura sama sekali tak merasa takut. Masih terus memukuli dada Damar meminta diturunkan. Bahkan kali ini dengan pukulan yang lebih kuat. Tapi pria itu seolah mati rasa, hampir membuat dirinya pasrah.
Hingga ketika keduanya telah sampai didepan tenda pertama, Damar akhirnya dibuat memekik karena tanpa diduga Maura tiba-tiba menggigit lengannya.
__ADS_1
"Aaaakh!!."
"Rasain!." ejek Maura langsung turun ketika kedua tangan Damar melemah."Ini akibat karena kamu sudah macam-macam denganku. Aku enggak mau tau, ya, Mas. Pokoknya setelah satu tahun berakhir. Kita harus tetap bercerai. Titik!!."
Damar yang seolah tak mendengar langsung membuka tenda. Saat itu melalui ekor mata dirinya melihat Maura melangkah hendak pergi. Dengan gerakan secepat kilat ia langsung menarik topi jaket gadis itu hingga tertarik mundur kebelakang.
"Mau kemana? Tidur disini!!."
"Hiis, lepasin!!." Maura menepis, merapikan jaketnya dengan gerakan gusar."Tidur saja sendiri. Ngapain ngajakin aku? ajak tuh, mbak Aira. Bukannya kamu dekat banget sama dia?."
Damar menghela nafas dalam-dalam berusaha untuk menahan sabar menghadapi gadis yang menurutnya sangat-sangat keras kepala ini."Tidur disini. Kalian tidak akan muat jika berlima dalam satu tenda."ucapnya dengan nada suara yang lebih tenang.
"Enggak!!." tolak Maura tegas dan langsung berbalik pergi. Kali ini Damar seolah habis kesabaran langsung menggendong tubuh mungil Maura memaksanya masuk kedalam tenda.
"Lepaskan, Mas. Kamu itu nyebelin. Aku enggak mau tidur disini!."
"Alasan!." ia menghempaskan Maura hingga terduduk di extra bed."Kamu mau ketemu sama pria itu lagi, kan? Iya, kan?."
"Kalau iya, kenapa? Kamu nggak berhak ngatur-ngatur aku!"
"Kata siapa? Sebelum perceraian itu terjadi, aku masih jadi suami kamu. Dan aku berhak mengatur dengan siapa kamu dekat!."
"Dan ini jaket siapa? Jaket pria itu, kan?!." tuduh Damar sambil berusaha melepasnya dari tubuh Maura."Buka sekarang!!."tegasnya dengan rasa kesal penuh, yang memuncak didalam dada. Oh, entahlah. Melihat jaket itu berada ditubuh Maura, dirinya seolah sedang melihat gadis itu tengah dipeluk oleh Deva.
"Enggak!!." Maura yang sedang duduk, berusaha menghindar dari jangkauan Damar. Namun tangan kanannya yang menjadi tumpuan, mendadak nyeri akibat memar yang belum sepenuhnya mengering kembali berdenyut. Membuat tubuhnya jatuh dengan posisi terlentang.
Saat itu, Donny baru saja kembali mencari jagung. Rayuan maut dan kata-kata manis yang beberapa saat lalu ia ucapkan, rupanya di tanggapi serius oleh Anya. Kini, 6 tongkol jagung berhasil ia dapatkan setelah bersusah payah mengelilingi Ranca Upas dimalam buta. Itu pun ia dapatkan dari sisa penjualan seorang lelaki paruh baya yang sudah berkemas hendak pulang.
Namun ketika dirinya kembali menuju tenda, langkahnya dibuat tertahan. Kedua bola matanya terbelalak dengan bibir membulat sempurna ketika melihat sebuah bayangan dari dalam tenda pertama. Cahaya lampu tenda membuat bayangan itu terlihat jelas. Seorang wanita berada dibawah, dengan pria berbadan tegap berada diatas.
Seketika pikirannya berkelana jauh, mencibir jiwa jiwa nestapa kejombloannya. Dan dirinya tau betul itu adalah tenda milik Andre, yang memang sesuai rencana akan dipakai oleh Damar dan Maura.
"Buka!."
"Enggak, Mas!"
"Buka, Maura!."
"Enggak! Aduuuh ... sakiit."
Pekik Maura dengan nada suara hampir menangis. Seketika membuat Donny menelan ludah kasar, tanpa sengaja menjatuhkan satu kantong plastik berisi jagung yang sedari tadi digenggam. Lalu dengan tangan sedikit gemetar memungut kantong plastik itu kembali, kemudian dengan cepat berjalan menuju teman-teman yang lain.
"Yang bener?." Anya terbelalak dengan mulut membulat sempurna. Begitu juga dengan yang lain.
Bahkan ada yang hampir mengantuk, mendadak kedua mata membola segar, seperti ini adalah berita panas dimalam dingin dengan suhu terendah sepanjang tahun. Kecuali Deva yang beberapa saat lalu kembali ikut bergabung, berubah wajahnya menjadi dingin ungkapan rasa sakit dari patahnya hati berkeping-keping. Merobohkan segala rangkaian asa yang tersimpan.
"Beneran." ucap Donny yakin."Kalau enggak percaya, ayo kita lihat. Tadi terakhir aku dengar Maura bilang, aduuuh, sakit. " sambungnya menirukan pekikan Maura tadi. Membuat semuanya ternganga tak kunjung berhenti membungkam mulut.
"Fiks, apalagi kalau bukan lagi begituan." sambungnya dengan ekspresi mengalahkan emak-emak komplek dengan bibir tipis setajam silet, menceritakan gosip terbaru dan terpanas."Bayangannya itu kelihatan jelas banget. Tadi itu aku lihat bayangan Pak Damar diatas, terus Maura dibawah. Ngapain coba, kalau bukan begituan."
"Aku sih, percaya. Cuaca dingin begini, kayaknya enggak mungkin banget Pak Damar bisa nahan." Anya tergelak diakhir kalimat.
Aina yang mendengar celotehan Anya hanya bisa mengulum senyum. Pandangan yang tanpa sengaja terlempar, menyoroti Deva yang bergerak menjauh.
"Ya ampun. Hihihi." Ivan terkikik pelan seraya menutup mulut."Aku jadi penasaran. Lihat, yuk."sambungnya melambaikan tangan pada uang lain, melangkah ke arah tenda yang dimaksud. Dengan dituntun rasa penasaran semuanya berjalan dengan gerakan mengintai.
Lampu tenda pertama tiba-tiba dimatikan. Melibas bayangan, menjadi gelap gulita. Lagi-lagi membuat semuanya semakin ternganga, dengan tarikan nafas hampir berhenti.
"Tuh, kan! lampunya dimatikan." Donny setengah berbisik menatap yang lain dengan sorot mata semakin yakin."Kayaknya Pak Damar suka yang gelap-gelapan."
__ADS_1