
Virza baru saja kembali dari kantor. Seperti biasa, rumah itu memang terlihat sepi. Sang Mama selalu duduk di teras belakang, ketika sore datang. Dan Kevin, sore ini tak terlihat batang hidungnya. Padahal pukul tiga sore tadi, ia sudah permisi untuk pulang dengan alasan sakit perut.
"Ma ... " Ia meletakkan tas diatas sofa."Mama." panggilnya lagi sambil berjalan ke halaman belakang. Tapi ketika itu telinganya sayup-sayup menangkap suara yang tak asing. Ia gegas berjalan ke arah sumber suara. Bibirnya mengembang sempurna saat melihat wanita yang sangat ia rindukan sedang asik bercengkrama memasak barbeque dengan orang-orang yang ia sayang.
Tak ada yang menyadari kehadirannya yang sedang berdiri didepan pintu kaca. Keempat orang yang berada disana sepertinya terlalu menikmati keseruan yang ada.
Wanitanya terlihat begitu cantik. Senyum mengembang terlukis disudut bibirnya. Sambil memegang sebuah benda tipis, mengipaskannya pada beberapa daging dan jagung manis yang berada diatas panggangan.
"Mama ... cepat dong. Aku lapar."protes Nathan yang terlihat ngos-ngosan karena habis berlari-lari kecil disekitar taman bersama Om jomblo. Ya, itulah julukan yang bocah kecil itu sematkan pada Kevin sejak acara pertunangan sang Mama seminggu yang lalu.
"Sabar, sayang .... sebentar lagi matang, kok." jawab Maura tak henti mengipasi."Om Virza juga belum pulang .... kita tunggu Om Virza dulu, ya."
"Ok, Ma."cicit Nathan sambil mendudukkan diri dikursi besi ketika pandangannya tanpa sengaja melihat Virza."Om!." ia turun lagi sambil berlari menghampiri Virza yang sedang tersenyum seraya membentang kedua tangan untuknya.
Maura dan Inggrid menoleh.
"Akhirnya kamu pulang." Maura tersenyum."Dari tadi Nathan nungguin?."
"Oh, ya? Nathan atau kamu?." Virza mencubit gemas pipi Maura.
Maura tersenyum malu.
Inggrid bergeleng pelan sambil tersenyum melihat anaknya yang sedang menggoda Maura. Ini adalah pertemuan pertama bagi Virza dan Maura setelah pertunangan beberapa hari lalu. Keduanya memang sangat sibuk dengan pekerjaan masing masing. Itu sebabnya Inggrid mengatur pertemuan agar keduanya bisa menghabiskan waktu bersama-sama. Selain itu, ia juga sudah rindu dengan Nathan. Bocah gembul yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Gimana mainnya, seru?." Virza melihat Nathan yang ada dalam gendongannya.
"Seru. Tapi Om jomblo pinggangnya keseleo gara-gara aku buat jadi kuda kudaan. Hihihi." Nathan terkikik pelan di akhir kalimat.
Virza pun tergelak ketika melihat Kevin berjalan kearahnya, sambil memegangi pinggang.
"Kamu harus tanggung jawab. Setelah ini kamu harus mengurut pinggangku sebagai ucapan terimakasih karena aku sudah membawa calon istrimu kemari."
"Oh ... jadi ini alasan kamu cepat pulang? kenapa harus membohongiku? pakai alasan sakit perut segala."
Kevin berdecak pelan."Sebagai saudara yang baik, aku mau memberimu kejutan. Harusnya kamu berterima kasih, dong."
__ADS_1
"Iya, iya ... terima kasih." Virza kemudian berjalan menuju meja makan seraya dengan sengaja menepuk pinggang Kevin, hingga membuat pria keseleo itu meringis kembali.
Makan malam berlangsung dengan hangat. Semua orang begitu menikmati kebersamaan dimeja makan. Sesekali terdengar gelak tawa. Begitu seru, membuat waktu yang berputar menjadi terasa singkat.
Usai selesai menikmati makan malam, satu persatu beranjak ke depan. Nathan yang super aktif mengajak Virza untuk menemaninya bermain. Sementara Kevin, ia beranjak masuk kedalam kamar karena merasa tidak nyaman dengan pinggangnya yang encok.
Inggrid tersenyum menatap Maura yang berdiri sambil memandangi bunga-bunga mawar yang bermekaran. Cahaya lampu-lampu yang menyala membuat taman tersebut terlihat terang.
"Jangan kelamaan berdiri disini."
"Eh, Tante ...." Maura terkejut lalu tersenyum.
"Nanti bisa masuk angin."sambung Inggrid lagi dengan nada suara yang lembut.
"Suasananya enak, Tante. Tante kalau mau masuk enggak apa-apa, kok. Aku masih mau disini dulu."
"Ya sudah. Tante masuk dulu ya." Inggrid mengusap-ngusap pelan kedua bahunya."Udaranya dingin. Tante enggak tahan."
"Iya, Tante."
"Aku merindukanmu?"bisik Virza lembut. Hembusan nafasnya terasa di kulit wajah Maura."Kenapa tidak bilang padaku kalau ingin kemari? aku bisa menjemputmu. Tidak perlu meminta tolong pada Kevin."
Maura berbalik menghadap Virza."Aku ingin memberimu kejutan, Mas. Bagaimana ... apa tadi kamu terkejut?."
"Tentu saja. Aku bahkan hampir berteriak berlari ketika tiba-tiba melihatmu."
Mata Maura membeliak, lalu dengan kesal memukul lengan kekasihnya itu."Memangnya kamu pikir aku hantu?"
"Maksudku berteriak lari mendekat, sayang." jelas Virza cepat.
Maura terkekeh."Oh, iya ... Nathan dimana, Mas?."
"Didepan ... main dengan Mama."
"Oh." Maura mengusap kedua telapak tangannya. Saat ini ia merasa udara semakin dingin. Virza melihatnya, lalu menggenggam dan mengusap kedua tangannya. Tatapan mereka bertemu. Entah mengapa Maura menjadi gugup. Seperti salah tingkah, ia langsung pergi. Tapi detik itu juga Virza menarik tangannya.
__ADS_1
"Mau kemana?." suara Virza terdengar lembut.
Maura menelan ludah gugup. Ia juga tak menoleh."Ke depan, Mas."
Virza langsung menarik tangan Maura hingga membuat tubuh wanita itu kembali berbalik, dan menubruk dada bidangnya."Nanti saja. Aku masih ingin bersamamu disini." ia semakin menarik tubuh Maura, hingga posisi keduanya semakin rapat tak berjarak.
"Mas ... jangan seperti ini. Tidak enak kalau ada yang melihat?." Maura mencoba mengurai, tapi dekapan Virza membuatnya tak bisa lepas.
"Sebentar saja, sayang ... biarkan seperti ini." Virza mengangkat dagu Maura, menatap bola mata bulat itu."Aku merindukanmu."
Maura membalas tatapan itu. Tapi hanya sesaat, ia kembali menunduk karena Virza membuatnya salah tingkah. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu. Rasa nyaman dan kehangatan kembali ia rasakan. Sama seperti saat Virza memeluknya dulu.
Hening.
"Mas." Maura membuka suara kembali.
"Hmm?." respon Virza singkat.
"Apa cintamu padaku masih sama seperti dulu?" Maura bertanya tanpa melihat. Ia masih betah menyandarkan wajah didepan dada bidang itu.
"Tentu saja. Bahkan saat ini cintaku tumbuh semakin dalam."Virza mengusap helai helai rambut Maura yang terurai.
"Meskipun dulu aku pernah menyakitimu?"kali ini Maura mendongakkan wajahnya memandang Virza.
"Kamu tidak pernah menyakitiku. Tolong jangan pernah sekali pun mengatakan seperti itu lagi." Virza mengurai pelukan. Kedua tangannya memegang bahu Maura."Bagiku .... kamu tetap wanita yang baik."
"Aku bahkan bersyukur karena tuhan membawamu kembali padaku. Kali ini aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi."Virza menatap lekat-lekat wajah Maura.
Bola mata Maura berkaca-kaca. Dan perlahan bulir bening menitik karena terharu. Sungguh ia tak pernah menyangka Virza masih mencintainya sedalam ini."Terima kasih, Mas."
Virza tersenyum lembut. Lalu mengusap jejak air mata di wajah bersih Maura. Keduanya saling bertatapan dengan dalam. Virza menurunkan pandangan. Menatap bibir Maura yang polos membuat darahnya berdesir.
Entah sadar atau tidak, Maura langsung menutup mata ketika Virza semakin merapatkan wajahnya.
"Mama ... Om!"seru Nathan yang tiba-tiba berlari ke halaman belakang.
__ADS_1