KIMCHI

KIMCHI
Pelakor Berserakan


__ADS_3

"Ara ... tolong bawakan itu ke kamar mbak, ya." pinta Naomi menujukan dagu pada paper bag diatas sofa.


"Dari siapa, mbak?." Maura mengambil, lalu sedikit mengintip paper bag yang didalamnya ternyata berisi mainan anak.


"Itu tadi dari mbak Aira." sahut Naomi yang sudah lebih dulu berjalan menuju lantai atas.


"Oh." respon Maura sambil berjalan mengikuti. Tak lama, ia kembali bersuara."Mas Damar sama mbak Aira dekat banget ya, mbak."


"Ya ... namanya juga sahabat." sahut Naomi sambil berjalan pelan menapaki tangga."Kenapa?." ia menoleh pada Maura yang kini berjalan disisinya.


"Mbak nggak takut, gitu?"


Naomi mengernyit.


"Ya, tau lah zaman sekarang. Pelakor udah kayak pakaian dalam yang dijual di pasar. Berserakan." celetuk Maura, sambil meremas gemas tangan mungil Zayn.


Naomi tertawa pelan."Jadi kamu pikir mbak Aira begitu?."


Maura hanya mengedikkan bahu.


"Enggak lah ... Mas Damar sama Aira itu sudah bersahabat sejak SMP. Sudah lama sekali, kan? kalau memang mereka saling suka ... pasti sudah sejak lama Mas Damar pilih Aira. Begitu pun sebaliknya."


"Bukan malah pilih, mbak." sambung Naomi lagi."Jadi udah ... enggak usah mikir yang aneh-aneh. Kebanyakan nonton drama kamu."


"Mbak Aira itu baik. Waktu kami kuliah ... dia juga yang selalu ada buat mbak. Kamu tau kan, kehidupan kita dulu bagaimana?."


Maura mengangguk pelan.


Ya, masa-masa dulu, adalah masa tersulit bagi Naomi dan Maura. Sang Ayah meninggal pada kecelakaan pesawat 15 tahun lalu ketika hendak pulang merantau dari Batam menuju Jakarta. Tak lama berselang, sang ibu ikut menyusul karena serangan jantung akut yang sempat diidapnya.


Naomi Khirania Ayu, kala itu adalah gadis remaja yang baru menduduki bangku SMA. Badai hebat dalam hidupnya, ketika menerima takdir menjadi tulang punggung menghidupi sang adik, Maura Serillya Ayu yang saat itu masih duduk di Sekolah Dasar. Almarhum kedua orang tuanya, bukanlah dari keluarga yang berkecukupan. Sang Ayah hanya seorang perantau, dan ibunya hanyalah seorang pemilik warung sederhana dan cukup diminati pada masanya.


Tak banyak harta ditinggalkan. Hanya setengah hektar kebun nyiur dan uang tabungan sang ibu yang berjumlah 500ribu rupiah. Itu mereka pergunakan untuk menyambung hidup. Ketika pulang sekolah, keduanya menjajakan gorengan dan kue basah. Kepandaian itu mereka pelajari dari almarhumah sang ibu ketika hidup.


Tak hanya itu, Naomi yang memang pandai menyanyi dan menari, tak jarang melewatkan kesempatan ketika diundang pada hajatan kecil di sekitar kampungnya. Ia juga mendaftarkan diri dan diterima menjadi guru tari di sanggar seni didaerahnya. Berkat kesabaran dan kegigihan, uang yang ia dapat mampu menyekolahkan sang adik, membiayai dirinya masuk ke perguruan tinggi yang ada di Jakarta.


Disana ia bertemu Aira Zivanya, gadis yang cukup dekat dengannya kala itu. Keduanya semakin dekat katika tau sedang mengambil jurusan yang sama. Yaitu, jurusan Sendratasik (Seni, Drama, Tari, dan Musik.) Aira yang memang sedikit lebih berada diatas Naomi, tak jarang membantu Naomi ketika kesulitan. Entah itu dalam hal pelajaran, dan keuangan. Aira tak pernah pamrih. Gadis itu begitu tulus pada Naomi.


"Maaf, ya, mbak. Mungkin itu hanya pikiran buruk ku saja." ucap Maura akhirnya. Ia membuka handle pintu kamar utama untuk Naomi.


"Mbak paham apa yang kamu pikirkan. Tapi tidak semua orang seperti itu, Ra." Naomi meletakkan Zayn diatas tempat tidur."Persahabatan mbak sama Aira memang tidak selama Mas Damar dan mbak Aira. Tapi mbak tau bagaimana hatinya."


Maura menghela nafas lega. Ia kemudian duduk di bibir tempat tidur, menciumi pipi lembut Zayn, ketika Naomi berjalan untuk membuat susu."Sus Ana, mana, mbak? dari tadi enggak kelihatan."

__ADS_1


"Lagi demam." Naomi menuangkan air hangat kedalam botol susu." Mbak suruh istirahat dulu. Kasihan, mungkin kecapean."


"Sudah berobat?."


"Sudah, tadi." sahut Naomi sambil berjalan kembali ke tempat tidur, membawa susu yang sudah hangat kuku.


Bayi tampannya itu sudah tak lagi minum ASI sejak sebulan terakhir. Hal itu karena tiba-tiba ASI milik Naomi sudah tak lagi selancar usai melahirkan meski Naomi sudah mengikuti saran dokter untuk perbanyak memakan sayur berwarna. Namun tetap saja hasilnya sama. Bahkan sekarang bisa dibilang hampir tak lagi mengalir. Zayn yang kerap haus dan tidak sabaran, alhasil susu formula lah, yang jadi jalan penengah.


"Hei, embul ... haus, ya?." ucap Maura dengan logat suara anak kecil, pada Zayn yang dengan cepat mengenyot ****** dodot seperti tidak sabaran.


Naomi terkekeh pelan melihat kelucuan Zayn.


"Oh, iya ... bagaimana dengan rencana kamu ingin mengambil sekolah memasak di Korea? itu serius, kan?."


"Iya, dong, mbak. Kan mbak tau sendiri ... aku itu pingin jadi pengusaha kuliner handal sama seperti ibu. Kalau dulu ibu jadi chef terkenal dikampung, aku bisa menjadi Chef Internasiona! Hihihi." serunya, sambil terkikik pelan membayangkan dirinya memakai seragam Chef, apron, serta pisau pribadi. Bertempur dengan asap dan aroma bumbu.


"Mbak senang dengarnya kalau kamu semangat begini. Mbak yakin, adik mbak yang cantik ini suatu saat bisa jadi chef yang terkenal." Naomi mencubit gemas pipi halus Maura diakhir kalimat.


______________


Pagi ini, Damar dibuat gemas pada sikap sang istri yang menjadi lebih manja. Naomi terus merengek memeluknya ketika dirinya hendak bangkit ke kamar mandi.


"Sayang, aku harus mandi. Sebentar lagi harus berangkat ke proyek."Damar kembali terduduk di bibir ranjang, ketika Naomi menarik tangannya dan kembali memeluknya.


Damar akhirnya menghela nafas pasrah, mencoba memahami perasaan sang istri. Meski sebenarnya, ia juga menginginkan hal yang sama. Beberapa bulan lalu, ia memang tak sesibuk ini. Tapi sekarang berbeda. Selain mengurus restoran, ia kini harus mengurus perusahaan Razdan. Sang Papa yang saat ini sedang mengalami stroke ringan. Hampir seluruh waktunya habis untuk bekerja.


"Maafkan aku, sayang." Damar mengusap halus rambut Naomi seraya mencium dahi putih itu lembut."Nanti, kalau ada waktu senggang kita pergi liburan."


"Mas serius?." Naomi bertanya antusias.


Damar mengangguk mantap.


"Aaa ... makasih ya, Mas." Naomi langsung memeluk kembali tubuh Damar, seraya menghujani pipi suaminya itu dengan ciuman."Hemm ... tetap wangi walau pun belum mandi."


"Masa, sih?." Damar mengernyit."Kayaknya ada yang aneh deh, sama kamu. Biasanya kamu enggak mau nyium aku kalau belum mandi. Ini malah dibilang wangi."


"Apa jangan-jangan ... " Damar menggantung kalimat dengan ekspresi tak percaya."Kamu hamil lagi, sayang?."


Naomi berdesis pelan."Jangan ngaco deh, Mas. Mana mungkin baru sehari langsung jadi. Lagi pula Zayn masih kecil banget. Enggak lah ... kasihan."


Damar tergelak."Aku cuma bercanda, sayang. Tapi kalau iya, juga enggak apa-apa."


"Enggak apa-apa kalau kamu yang mengandung."celetuk Naomi asal, Damar kembali dibuat tergelak.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, Damar sudah bersiap untuk berangkat ke proyek. Naomi memasangkan dasi padanya dengan penuh kesabaran ditengah kejahilannya menciumi wajah cantik sang istri.


"Mas, aku izin, ya. Pagi ini aku mau pergi ke mall. Susu Zayn habis. Ada juga beberapa yang pingin aku beli." ucap Naomi sambil berjalan mengambil jam tangan milik Damar yang sudah ia pilihkan, di atas nakas.


"Ya sudah enggak apa-apa. Nanti aku suruh Pak Rudi untuk mengantar. Aku bisa mengemudi sendiri ke proyek."Damar menerima jam tangan, lalu memakainya.


"Enggak perlu, Mas. Lokasi proyekmu jauh ... aku takut kamu lelah kalau mengemudi sendiri. Udah enggak apa. Pak Rudi biar ngantar kamu. Aku nanti bisa bawa mobil sendiri."


"Kamu sudah lama tidak pakai mobil. Aku takut bahaya."jelas Damar kemudian.


"Ya sudah ... kan ada Ara. Dia kan libur hari ini."


"Pakai mobil bututnya itu?."


"Chubby, mas ... bukan mobil butut." tegas Naomi merasa kesal karena Damar terus saja mengejek mobil kesayangan adiknya itu."Mobilnya masih di bengkel. Nanti kami bisa pakai mobilku."


"Ya sudah, terserah kamu saja, sayang. Tapi ingat, bilang sama dia hati-hati." Damar yang sudah hendak keluar dari kamar mengacungkan telunjuk didepan Maura." Kamu tau sendirilah Maura, kalau nyetir enggak lengkap tanpa musik Korea. Kalau keasikan, aku takut dia lalai."


"Iya ... nanti aku ingatkan tidak usah pasang musik Korea." Naomi mengikuti langkah suami yang berjalan menuju dapur.


"Zayn jangan dibawa. Aku takut dia lelah. Udara luar belum bagus untuknya."kata Damar lagi sambil terus berjalan.


"Iya, Mas."sahut Naomi dengan nada gemas sambil menarik sedikit kursi untuk Damar.


"Ara mana, bik? belum bangun?." tanya Naomi pada bik Imah, chef khusus di rumah itu yang sedang menghidangkan mi goreng dan sandwich diatas meja.


"Yah ... hari gini nanya non Ara, non. Ya belum bangun. Kan libur." sahut bik Imah dengan logat jawanya yang kental.


Naomi bergeleng mengingat sang adik yang sudah pukul delapan pagi tapi belum bangun juga.


Ngomong-ngomong Ara, Damar teringat sesuatu. Pria yang sedang mengunyah sandwich itu kembali membuka suara."Oh, iya, sayang ... aku baru ingat. Di laci pakaian ada amplop coklat. Nanti berikan itu pada Maura."


"Apa itu, Mas?." Naomi menundukkan diri dikursi makan yang kosong.


.


.


.


.


Like, komentar dan votenya, jangan lupa ya๐Ÿ‘๐Ÿ‘

__ADS_1


Salam sayang dari author๐Ÿ˜˜


__ADS_2