KIMCHI

KIMCHI
Kamu Harus Tanggung Jawab


__ADS_3

"Evelyn ... tolong jangan berbuat nekat seperti ini." Maura memandang Evelyn lembut."Aku memahami perasaanmu." ia menelan ludah."Kalau memang ini yang kamu inginkan .... aku siap meninggalkan Mas Virza untukmu."


Virza seketika menoleh pada Maura. Terdiam beberapa saat. Ia benar-benar tak menyangka Maura akan berkata seperti itu.


PLETAAAKKK!!


Senjata yang digenggam Evelyn seketika terjatuh. Tanpa disadarinya dari arah belakang Kevin mengendap masuk dan menangkis tangannya.


"Urus orang itu.!"perintah Kevin pada kedua orang bodyguard yang datang bersamanya untuk mengurus pria yang sudah tergeletak tak berdaya dilantai.


"Kevin, berani sekali kamu!"Evelyn menatap berang lalu mencoba mengambil kembali senjatanya yang terjatuh, namun dengan cepat Kevin menarik lengannya.


"Lepaskan tanganku!"


"Ikut denganku!." Kevin semakin mengeratkan genggamannya."Aku akan membawamu kekantor polisi dengan tuduhan percobaan pembunuhan." ia menarik Evelyn keluar.


"Aku tidak mau dipenjara. Lepaskan aku!"


Teriakan Evelyn masih terdengar.


Maura menghapus air mata yang sedari tadi membasahi pipinya. Ia menoleh pada Virza ketika pria itu juga melihatnya dengan sorot mata dingin.


"Terimakasih, ya, Mas karena kamu sudah menyelamatkanku."Maura menelan ludah kelu. Ia tau arti tatapan mata itu."I-ini sudah malam. Sebaiknya kita pulang." ia buru-buru melangkah dengan kaki sedikit pincang.


Virza memperhatikannya, lalu berjalan mengikuti. Kedua sudut bibirnya tertarik tipis."Dasar keras kepala."gumamnya pelan. Kemudian dengan langkah panjang ia berjalan mengimbangi, dan dengan gerakan cepat mengangkat tubuh mungil itu hingga Maura terkesiap.


"Mas, aku bisa jalan sendiri."


"Diam lah, atau aku akan meninggalkanmu disini sendirian. Biasanya jam-jam segini Harimau akan keluar mencari mangsa."


Maura menelan ludah cemas. Ia tak lagi membantah dan akhirnya pasrah saat Virza menggendongnya berjalan menuju mobil.


"Tubuhmu kecil, tapi berat juga."keluh Virza saat sudah masuk kedalam mobil.


Mata Maura membulat sempurna. Sungguh kalimat sensitif itu adalah kalimat yang tak ingin didengar oleh kaum hawa."Maksud kamu aku gemuk?"

__ADS_1


Virza tertawan renyah."Aku cuma bercanda."


Maura mengerucutkan bibir seolah masih tak terima dibilang berat. Meski begitu, justru semakin terlihat gemas bagi Virza.


"Kenapa tadi berkata begitu?" tanya Virza kemudian. Kali ini dengan tatapan serius.


Maura menelan ludah sambil menunduk. Virza lalu mengangkat dagu Maura agar menatapnya.


"Apa kamu tidak mencintaiku?."


"Aku hanya tidak ingin Evelyn menjadi nekat, Mas. Aku memahami perasaannya. Dia sangat mencintaimu."


"Apa kamu tidak mencintaiku? itu yang aku tanya." Virza memandang Maura lekat.


Maura hening sesaat.


"Aku cinta sama kamu, Mas."ucap Maura pelan."T-tapi aku ..."


"Maura, kamu tau aku mencintaimu. Tidak mudah untukku sampai di titik ini. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi."suara Virza sedikit bergetar. Sorot matanya tarsirat ketakutan yang teramat sangat.


"Tolong jangan pernah berkata seperti itu lagi. Hatiku sakit mendengarnya."Virza membalas erat pelukan kekasihnya itu.


Maura mengangguk pelan.


"Apa pria itu melukai tubuhmu?"Virza mengurai pelukan sambil memeriksa tubuh Maura.


Maura menggeleng."Tidak, Mas. Kamu datang tetap waktu."


"Syukurlah." Virza menghela nafas lega. Tapi tiba-tiba pandangannya terkunci pada bagian dada Maura yang sedikit terbuka akibat dua kancing kemeja yang terlepas.


"Aku sudah memberikan jas-ku untuk menutupi dadamu. Kenapa kamu tidak memakainya dengan benar? kamu ingin menggodaku?."


Maura mengikuti pandangan Virza. Bibirnya kembali membulat terkejut. Wajahnya seketika terasa panas, lalu dengan cepat dia merapikan jas tersebut agar menutupi dada."M-maaf, Mas. Aku tidak sengaja."


"Benarkah? tapi sepertinya kamu sudah terlanjur membuat keponakanku memberontak. Jadi kamu harus tanggung jawab."Virza perlahan mendekatkan tubuhnya pada Maura.

__ADS_1


Maura mengernyit."Keponakan? sejak kapan kamu punya keponakan, Mas?."


"Keponakan yang tersembunyi." Virza tersenyum smirk.


"Tersembunyi dimana?"Maura semakin bingung.


"Dibawah."Virza menurunkan pandangan, menujukan bibirnya pada bagian titik didihnya yang sudah hampir menegang.


Mendadak pipi Maura menjadi panas saat tau apa yang dimaksudkan.


Virza mengulum senyum. Ia pun semakin berniat menggoda wanitanya."Sebenarnya aku berniat untuk melakukannya setelah menikah. Tapi sepertinya kamu sudah mengobrak-abrik tembok pertahananku." ia menyapukan jemari membelai wajah Maura dengan lembut."Kamu harus tanggung jawab. Kalau sudah berdiri begini susah untuk kembali tidur. Harus di nina bobokan dulu."


Maura berdesis. Ia tau Virza hanya sedang menggodanya. Sudut bibirnya tertarik tipis. Sebuah senyum yang tidak begitu kentara. Terlintas dibenaknya untuk berbalik menggoda kekasihnya itu. Dengan gerakan sedikit centil dan manja ia mengalungkan kedua lengannya dileher Virza. Jas yang ia pegang melingkupi dada ia lepas. Detik itu langsung menampilkan bagian bahu dan dadanya yang putih mulus.


Melihat kelakuan Maura Virza terkejut dan menelan saliva dengan kasar. Jelas sekali jakunnya yang bergerak naik turun. Peluh mulai membasahi pelipisnya karena badannya yang tiba-tiba terasa panas."S-sayang, apa yang kamu lakukan?"


"Bukankah keponakanmu sudah memberontak? Tunggu apa lagi? mari kita tidurkan."ucap Maura menantang.


"Sayang, kamu serius?"suara Virza terdengar gugup sambil kembali menelan salivanya.


Maura mengangguk pelan, seraya menggigit bibirnya dengan genit.


Dengan gerakan cepat seraya menyipitkan mata tak berani melihat, Virza mengambil jaket yang sudah melorot, lalu menutupkannya pada dada Maura."Sayang, lebih baik kita pulang sekarang. Aku takut Nathan menunggumu."ucapnya, lalu menyalakan mobil.


Seraya mengalihkan pandangan menatap jalanan yang sudah terlihat gelap, bibir Maura tak henti henti mengulum senyum saat mengingat kembali wajah gugup Virza yang menurutnya sangat lucu.


-------


"Kak ... tolong keluarkan aku dari sini. Aku tidak mau dipenjara!." teriak Evelyn ketika dua orang petugas lapas membawanya masuk kedalam sel tahanan.


Yohan hanya berdiri bergeming memandang adik kesayangannya yang sudah berjalan menjauh. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Sementara Nathalie mengusap punggung sang suami agar sabar.


"Aku tidak menyangka Evelyn senekat ini. Apa dia tidak sadar dengan apa yang sudah dia lakukan? Dia hampir saja membunuh orang."lirih Yohan pelan. Kedua bola matanya berkaca-kaca menyesali kelakuan sang adik. Ia merasa gagal sebagai seorang Kakak.


Nathalie hening. Ia tak tau harus berkata apa. Saat itu, Virza datang berjalan kearah mereka.

__ADS_1


__ADS_2