
Tepat pukul satu siang, Virza kembali ke rumah sakit menemui sang Mama. Ia juga sempat mendapat kabar dari Kevin bahwa keadaan sang Mama sudah membaik. Dengan langkah panjang dan pasti ia berjalan menuju ruangan dimana wanita paruh baya itu berada. Ia mendadak tertegun mendapati wanita cantik yang sedang duduk disisi kiri sang Mama, ketika pintu ruangan baru saja ia buka.
"Widiih ... dapat banget ekspresinya kagetnya. Kayaknya udah cocok kan, Ma .... Virza jadi aktor." Kevin tertawa.
Inggrid tersenyum pada Kevin, begitu juga wanita cantik itu. Kemudian memandang Virza.
"Kemari lah, nak."
Virza melangkah ragu."Kamu kenapa bisa ada disini?." ia memandang wanita cantik yang tak lain adalah Maura.
Maura baru saja ingin bersuara, tapi Inggrid menjawabnya lebih cepat.
"Mama yang minta Maura datang."ujar Inggrid dengan suara lembut. Sama sekali tak ada nada kemarahan dari kalimatnya.
"Gimana ... senang kan?." Kevin berdiri dari duduknya seraya menaik-turunkan kedua alisnya dengan senyum jahil, sambil berjalan mendekati Virza. Lalu mendekatkan wajah ditelinga saudara angkatnya itu."Habis ini langsung dilamar. Kalau perlu langsung dinikahin. Aman ... tembok raksasa udah roboh."
Virza tak ingin merespon. Sepertinya dia masih belum percaya dengan pemandangan yang ada didepannya.
"Ma ... aku pergi dulu, ya." Kevin menoleh pada Inggrid."Barusan dapat telpon dari kantor."
"Iya, nak. Kamu hati-hati, ya."
"Masih mau berdiri disitu?" kali ini Inggrid menatap lembut Virza yang masih berdiri.
Mendengar suara parau itu, Virza akhirnya mendekati ranjang sisi kanan sang Mama. Duduk di kursi bekas Kevin tadi."Kenapa Mama tiba-tiba meminta Maura datang? tumben."
Bibir pucat Inggrid tersenyum tipis. Ia lalu mengambil tangan kanan Virza dan menggenggamnya. Perlahan netranya berkabut."Mama mau minta maaf sama kamu." suara Inggrid bergetar menahan tangis.
"Mama enggak salah. Kenapa minta maaf?." Virza membalas genggaman tangan itu."Aku lah yang salah karena sudah membuat sakit Mama kambuh."
"Sekarang ... apapun keinginan Mama aku akan melakukannya."Virza semakin mengeratkan genggaman tangannya."Yang penting Mama tetap sehat."
Inggrid bergeleng lemah. Bulir bening seketika meluncur disudut matanya."Mama tidak ingin egois. Mama hanya akan bahagia kalau kamu bahagia." ia kemudian menoleh pada Maura. Meraih pelan jemari wanita itu, lalu menyatukannya dengan tangan Virza.
__ADS_1
"Mama menyetujui hubungan kalian."
Virza dan Maura sempat tertegun. Lalu kemudian saling bertatapan.
"Mama serius?."
Inggrid mengangguk tersenyum.
"Terima kasih, ya, Ma."
"Terima kasih, Tante."
Ucap Virza dan Maura bersamaan. Kebahagian terpancar di wajah keduanya. Inggrid melihat itu.
"Sekali lagi tante minta maaf ya, Maura. Tante sudah salah paham sama kamu." Inggrid memandang Maura dengan tatapan bersalah.
"Iya, Tante ... uda, ah minta maafnya." Maura terkekeh pelan. Pasalnya sejak ia datang, entah sudah berapa kali Inggrid mengucapkan kata maaf padanya."Saya paham kok, kenapa tante berfikir seperti itu." ia memegang punggung tangan Inggrid yang putih dan sudah sedikit keriput."Itu semua pasti karena tante ingin yang terbaik untuk mas Virza."
Virza hanya tersenyum mendengar celotehan sang Mama.
Begitu pun Maura yang tersenyum malu dengan pipi sedikit memerah. Kerena Inggrid terus melayangkan kata-kata pujian padanya.
"Sekarang aku enggak tau apakah aku harus bersyukur atau enggak, Ma. Setelah Mama masuk rumah sakit Mama jadi berubah begini."ucap Virza tiba-tiba dengan wajah seperti sedang berpikir.
Inggrid mengernyit."Menurut kamu?."
"Sepertinya aku memang harus bersyukur, sih, Ma."celetuk Virza dengan polos.
Plak!!
Inggrid memukul lengan anaknya itu hingga meringis pelan."Jadi kamu senang Mama sakit?"
"Ya, untuk kali ini jujur .... aku senang, Ma."celetuk Virza lagi.
__ADS_1
Inggrid hendak melayangkan pukulan kembali. Tapi Virza dengan gerakan cepat langsung mengelak sambil tergelak.
Sementara Maura hanya tertawa melihat kelakuan Virza yang sedang menjahili wanita paruh baya itu. Ketika itu, pintu ruangan rumah sakit tiba-tiba dibuka. Ketiganya menoleh. Tatapan mereka tertuju pada wanita cantik dengan penampilan elegan berdiri tertegun didepan pintu.
"Kamu ...." Evelyn kemudian berjalan dengan langkah cepat, lalu mendorong bahu Maura."Ngapain kamu disini?."
"Belum cukup kamu sudah membuat Tante Inggrid sakit. Belum puas kamu sudah berhasil membuat Virza membatalkan pertunangan kami? huh?." teriak Evelyn dengan dada naik turun karena emosi.
"Evelyn, cukup!." seru Virza dengan suara sedikit keras, membuat Evelyn menoleh."Sekali lagi kamu bertindak kasar ... aku enggak akan segan-segan menyuruh security untuk menyeret kamu keluar dari ruangan ini."
"Za ... kenapa, sih, Za kamu malah bawa perempuan ini kemari? Kamu mau buat sakit Mama kamu jadi semakin parah?."
"Bukan aku yang membawa Maura kemari. Tapi Mamaku." jawab Virza cepat.
"Apa?." Evelyn menatap Inggrid tak percaya.
Inggrid menelan ludah."Iya, Evelyn ... memang tante yang menyuruh Maura kemari." ia memandang Evelyn dengan tatapan ragu.
"Buat apa, Tante?."
Inggrid hening sesaat.
"Evelyn ... sebelumnya Tante mau minta maaf sama kamu. Sepertinya Tante tidak akan memaksa Virza lagi untuk menikah dengan kamu."
"Tante sekarang sadar ... Tante terlalu memaksa. Apa yang menjadi kehendak Tante, ternyata sudah membuat Tante menjadi seorang ibu yang egois."
"Jadi mulai sekarang ... Tante menyetujui siapa pun wanita yang akan menjadi pilihan Virza. Tante percaya ... Virza bisa memilih wanita yang tepat untuknya."
Mendengar pernyataan Inggrid membuat netra Evelyn berkabut. Pandangannya berpindah pada Maura. Perlahan membuat jari jemarinya terkepal geram.
"Kamu cantik Evelyn." Inggrid tersenyum tipis."Tante yakin kamu bisa mendapatkan laki-laki yang mencintaimu dengan tulus."
Bulir bening seketika menitik di wajah Evelyn, detik itu ia langsung berlari keluar.
__ADS_1