KIMCHI

KIMCHI
Jangan Macam-macam.


__ADS_3

"Virza bilang dia masih mencintaimu." ucap Razdan tiba-tiba ketika mereka sedang menyantap sarapan. Membuat Maura yang baru mengunyah nasi seketika tersedak.


Razdan hening sesaat melihat Maura yang buru-buru meneguk air putih.


Astaga .... jadi kemarin Mas Virza benar-benar mengatakan itu?? batin Maura tak percaya.


"Maafkan kami, Maura ... dulu saat memintamu menikah dengan Damar, kami benar-benar tidak tau kalau kamu sudah punya hubungan dengan Virza."


"Iya, Maura ... Papa sama Mama minta maaf, ya."timpal Desi kemudian dengan tatapan bersalah.


Maura menelan ludah."Ma, Pa ... kalian enggak perlu minta maaf." ucapnya memandang sepasang paruh baya itu bergantian."Semua yang terjadi dulu, adalah pilihan. Dan aku ikhlas melakukannya."


"Dulu, Mas Virza juga paham dengan posisiku." sambung Maura, tersenyum tipis mengingat kembali saat Virza merelakannya menikah dengan Damar. Virza memang terluka saat itu, tapi Maura sama sekali tidak melihat kebencian pria itu pada dirinya.


"Dia tidak marah."sambungnya lagi."Jadi ... Mama dan Papa tidak perlu merasa bersalah." Maura menatap lembut sepasang mertuanya itu."Asal Mama dan Papa tau ... aku beruntung bisa menjadi menantu di keluarga ini."


"Mama dan Papa menyayangiku seperti anak kandung sendiri."


Razdan tersenyum tipis. Begitu pun, Desi. Wanita paruh baya itu tampak berkaca-kaca. Ya, mereka memang menyayangi Maura. Menganggap wanita itu sudah seperti anak mereka sendiri.


Razdan menghela nafas pelan."Jadi bagaimana hubungan kamu dengan Virza?."


"Maksud Papa?."


"Dia sudah mengatakan bahwa dia masih mencintaimu. Lalu bagaimana dengan kamu? apa kamu juga masih mencintainya?."


Maura hening.


"Papa rasa dia laki-laki yang baik."sambung Razdan kembali dengan yakin."Kami juga tidak ada masalah kalau kamu ingin kembali dengannya."


"Iya, Maura ... kamu masih muda. Kalau ada yang serius mencintaimu, terima lah, nak."timpal Desi kembali dengan suara yang lembut."Jangan merasa tidak enak dengan kami ... jujur, Mama dan Papa senang kalau ada laki-laki yang bisa membahagiakan kamu."


"Terima kasih, ya, Ma ... Pa." Maura tersenyum tipis."Saat ini aku dan Mas Virza memang baru kembali memulai hubungan. Doakan saja semoga hubungan kami baik-baik saja."


"Pasti, nak." ucap Desi diiringi senyum tulus diwajahnya. Sementara Razdan manggut-manggut pelan.

__ADS_1


_____________


Maura memperhatikan satu persatu karyawan yang sedang mengerjakan proyek pembuatan kostum hewan permintaan Gerry Djohan. Tampak Aya, Salma dan beberapa karyawan lainnya yang bertugas di bidang desain sedang fokus dalam pembuatan pola. Dan ada pula yang sedang menjahit. Saat ini, masih baru beberapa kostum yang sudah jadi. Namun PT. Alingga berusaha keras menyelesaikan proyek sesuai waktu yang ditentukan.


"Tinggal satu jam lagi, setelah itu kalian boleh pulang."ucap Maura sambil berjalan."Lakukan dengan teliti ... jangan sampai ada jahitan yang tidak rapi."


"Semangat, semangat!." sambung Maura lagi dengan senyum yang ceria.


"Semangat!." seru karyawan tersebut dengan serempak.


Beberapa saat berlalu, tepat pukul lima sore Maura keluar dari dalam gedung PT. Alingga. Ia terkejut, melihat Virza sudah berdiri menyambutnya dengan senyum manis mengembang sempurna.


"Mas, kamu disini? dari kapan?." Maura tersenyum tak percaya.


Virza melihat jam dipergelangan tangannya."Sudah sekitar ... lima belas menitan, lah."


"Ya ampun, Mas ... kenapa enggak masuk? kan capek nungguin diluar."


"Cuma lima belas menit. Itu enggak lama, sayang ... buktinya nungguin kamu sampai tiga tahun, aku sanggup."ucap Virza dengan suara santai.


Mendengar itu Maura dibuat tertawa."Kamu ada-ada aja, sih, Mas."


"Kemana?."


"Aku antar pulang."


"Tapi, Mas ...."


"Supir kamu udah aku usir. Barusan dia pulang."jelas Virza memotong kalimat Maura.


"Ya ampun, Mas. Kasihan pak Rudy ... harusnya tadi kamu bilang kalau mau jemput aku. Aku kan, bisa kasih tau dia ... jadi enggak perlu repot-repot datang kemari."


"Aku kemari mau kasih kejutan, sayang ... kalau bilang-bilang ya bukan kejutan namanya."


"Tapi aku enggak terkejut." ucap Maura dengan suara menggoda.

__ADS_1


"Masa???" sahut Virza tak percaya."Terus tadi kamu kenapa senyum-senyum pas lihat aku??."


"Enggak ... perasaan kamu aja kali."


"Ya udah, deh ... kalau gitu aku pulang."


"Jangan!." Maura langsung menahan Virza dengan senyum malu-malu."Ya udah, ayo ... antar aku pulang."sambungnya dengan suara yang manja.


Virza tersenyum, mengusap pelan puncak kepala Maura dengan gemas.


Mobil BMW berwarna putih itu melaju lambat ditengah jalanan kota yang sedikit padat. Ditengah perjalanan, Virza sengaja membelokkan mobil ke arah barat.


"Kita mau kemana, Mas?."


"Pantai." Virza menoleh pada Maura."Kita jalan-jalan sebentar, ya. Jangan khawatir ... aku tadi sudah minta izin sama Papa kamu. Katanya boleh ... asal jangan macam-macam."


"Jadi aku tadi sempat tanya ... kalau satu macam aja enggak apa-apa, kan, Om? cium pipi, misalnya? Janji deh, saya enggak macam-macam, Om."jelas Virza kembali, namun Maura hanya tersenyum mendengar celotehannya.


"Oh, boleh ... boleh. Kalau cuma cium pipi enggak apa-apa."ucap Virza kali ini memperagakan ucapan Razdan kepadanya tadi dengan gaya meyakinkan.


Maura langsung terkekeh mendengarnya."Ngarang kamu, Mas. Mana mungkin papa begitu. Itu sih, akal-akalannya kamu."ia mencubit gemas perut Virza yang langsung reflek mengelak seraya tertawa keras.


"Emang enggak boleh?."


"Enggak!." sahut Maura cepat.


"Dikit aja, sayang."


Beberapa saat kemudian mobil putih itu berhenti cukup jauh dari bibir pantai. Keduanya berjalan beriringan menyusuri pantai pasir putih itu, dengan satu tangan Virza menggandeng tangan Maura. Rasanya Virza masih tak percaya. Dulu, ia melihat Maura bersama Damar disini tersenyum berlarian. Namun siapa sangka, saat ini dirinyalah yang berada disisi wanita itu. Menggenggam tangannya, mengajaknya berjalan menyusuri setapak demi setapak pasir putih yang membentang.


"Aku tau kamu suka pantai." ucap Virza sambil berjalan menyapukan pandangan pada beberapa orang yang sedang menunggu sunset yang mulai memperlihatkan sinarnya. Sementara tangannya tidak lepas memegang tangan wanita pujaannya itu.


"Kamu tau dari mana, Mas?."


"Barusan kamu tersenyum. Itu artinya kamu suka."

__ADS_1


Maura berdesis pelan.


"Aku punya sesuatu untuk kamu." Virza berhenti. Kemudian merogoh saku celananya. Mengambil sebuah kotak kecil dari dalam sana lalu membukanya.


__ADS_2