KIMCHI

KIMCHI
I Wanna Grow Old With You (Aku Ingin Menua Bersamamu)


__ADS_3

Tepat pukul 7 malam, sudah ada banyak tamu undangan yang hadir untuk memeriahkan acara resepsi pernikahan Virza dan Maura. Acara itu digelar disalah satu hotel mewah berbintang yang ada di kota Jakarta.


Sederet tamu penting seperti rekan bisnis dan pengusaha-pengusaha terkenal juga ikut serta untuk menyaksikan moment bahagia dari sepasang pengantin yang akan berlangsung sesaat lagi.


Maura berdiri memakai gaun putih tulang, yang menjuntai indah. Parasnya yang sudah cantik, semakin cantik dengan riasan lembut diwajahnya. Tapi dimana Virza? suaminya itu tak terlihat usai beberapa saat lalu sampai di hotel bersamanya. Maura yang saat ini berdiri di atas karpet merah yang memanjang menuju pelaminan, mulai cemas sambil menggigit bibir ketika pembawa acara mulai bersuara, membuka acara.


Semua mata para tamu melihatnya penuh tanya. Sang mempelai pria tidak ada. Maura melihat Kevin yang berdiri tidak jauh darinya. Namun pria itu hanya mengedikkkan bahu. Ingin bertanya pada Desi dan Inggrid, tapi sorot mata dua wanita paruh baya itu juga sedang kebingungan.


Another day without your smile,(satu hari lagi tanpa senyummu)


Another day just passes by (satu hari lagi berlalu begitu saja)


But now I know how much it means (tapi kini ku tau betapa berartinya)


For you to stay right here with me (saat kau tinggal disini bersamaku)


Alunan musik dan suara nyanyian lembut membuat semua orang melempar pandangan kearah lain. Semuanya langsung berseru haru menyaksikan Virza bernyanyi seraya berjalan pelan menuju Maura. Pengantin pria yang memakai tuksedo hitam itu turut membawa bunga ditangannya. Berjalan menuju sang istri yang tersenyum haru menyambutnya.


The time we spent apart (waktu yang kita jalani dengan terpisah)


Will make our love grow stronger (akan membuat cinta kita bertambah kuat)


But it hurts so bad I can't take it any longer (tapi sungguh sakit rasanya hingga aku tak tahan lagi)


I wanna grow old with you (Aku ingin menua bersamamu)


I wanna die lying in your arms (aku ingin mati dalam dekap mu)


I wanna grow old with you (Aku ingin menua bersamamu)


I wanna be looking in your eyes (aku ingin menatap matamu)


I wanna be there for you, sharing everything you do (aku ingin ada untukmu, berbagi apa saja yang kau lakukan)

__ADS_1


I wanna grow old with you (Aku ingin menua bersamamu)


Virza memberi bunga yang ia bawa, lalu memberikan kecupan lembut di kening sang istri. Membuat tamu-tamu undangan kembali berseru melihat keromantisan sepasang pengantin itu.


Inggrid hanya bergeleng dengan senyum. Hampir saja jantungnya kumat karena merasa cemas, takut jika anak tampannya itu diculik.


Selamat malam para hadirin, undangan yang berbahagia ... atas nama keluarga besar kedua mempelai, tiada kata lain yang dapat kami haturkan ....


Terdengar suara dari MC master of ceremony (pembawa acara) pertanda acara dimulai.


"Kenapa nggak briefing dulu sama aku kalau mau nyanyi. Jadi aku nggak perlu jantungan Mas, nyariin kamu. Aku pikir kamu kabur."bisik Maura disela-sela MC bersuara. Virza hanya tertawa pelan.


"BTW, aku nggak nyangka ... ternyata kamu bisa nyanyi, Mas?." sambung Maura lagi kembali merapatkan wajahnya ditelinga Virza.


"Itu suara emas yang sengaja aku simpan untuk hari pernikahanku. Aku hanya ingin bernyanyi didepan istriku. Kamu suka?."


Maura mengangguk senang."Lain kali kita bisa duet."


"Memang kamu bisa nyanyi?."Virza tak yakin.


"Enggak perlu, sayang." sergah Virza cepat."Nanti nyanyinya dikamar aja. Kita duet .... oke?."


"Ya udah, deh ... nggak papa." Maura kembali fokus memandang ke depan.


...... dengan menyambut sang pengantin yang elok rupawan, bagaikan pangeran dan putri raja yang akan melangkah di karpet merah nan indah dikelilingi mawar-mawar putih untuk menuju singgasana pelaminan. Untuk itu, kami mempersilahkan kedua mempelai agar memasuki .....


Kembali terdengar sambutan yang diucapkan si pembawa acara dengan begitu meriah.


Virza menekuk siku kanannya. Saat itu Maura langsung melingkarkan lengannya. Keduanya saling menatap dan tersenyum, lalu melangkah menuju pelaminan. Senyum bahagia tak putus terlempar pada semua tamu undangan yang menatap keduanya dengan kagum. Sepasang suami istri, cantik dan tampan. Keduanya terlihat serasi.


"Terimakasih saya ucapkan kepada seluruh tamu undangan ... sahabat, dan teman-teman saya yang sudah bersedia hadir di acara resepsi pernikahan kami yang sederhana ini." Virza melihat kepada seluruh tamu yang hadir. Memberikan sambutan hangat.


"Malam ini ... izinkan saya mengungkapkan isi hati atas rasa cinta saya pada wanita yang sudah berhasil memikat hati saya selama ini." ia memandang Maura seraya mengambil tangan sang istri."Dia adalah wanita yang telah menjatuhkan hati saya dalam jerat cintanya."ucapnya tanpa berpaling.

__ADS_1


"Perjalanan cinta kami cukup sulit ...." Virza kembali melihat ke depan, sambil tangan yang tak lepas dari sang istri."Tapi saya bersyukur .... karena akhirnya Tuhan mempersatukan kami."


Virza mempererat genggamannya sambil kembali menatap lekat mata indah yang sedari tadi menatapnya memuja.


"Sebenarnya, aku tidak pandai menyusun kata-kata untuk menjadi kalimat yang indah." Virza menelan ludah. Mendadak ia jadi sedikit gugup. Namun genggaman tangan yang bertautan memberanikannya untuk terus berbicara.


"Tapi meski begitu ... aku ingin mengungkapkan rasa kebahagiaanku, kenyamanan yang selama ini aku rasakan bersamamu."


"Sayang .. terimakasih karena kamu telah mempercayakanku sebagai orang yang akan menjaga hatimu."


"Terimakasih karena kamu telah memilih aku, sebagai seseorang yang akan menghiasi senyuman di wajahmu."


"Aku selalu menunggu saat-saat nanti. Masa depan yang bahagia ... dimana kita saling berbagi, kita saling percaya, saling menjaga untuk masa depan rumah cinta kita yang akan kita bangun bersama mulai hari ini."imbuh Virza sambil menatap dengan dalam kedua mata indah sang istri.


Maura merasakan haru yang teramat sangat. Bibirnya tersenyum, bersamaan dengan air mata bahagia yang seketika menitik tanpa permisi.


"Hooo ... manis sekali." lirih Adira sambil menangkup wajahnya sendiri karena terharu. Sejauh ini, sebagai sahabat ia memang memahami perjalan kisah cinta keduanya yang memang terjal.


"Biasa aja, enggak usah lebay."celetuk Fariz sekilas melihat sang istri.


"Mas, aku mau dirayu seperti itu."Adira sedikit merengek sambil mengedip-kedipkan matanya manja.


"Iya, nanti dirumah."jawab Fariz santai. Mendengar itu Adira hanya mengerucutkan bibirnya ke depan. Menurutnya, suaminya itu memang kaku dan tidak pandai bersikap romantis.


Inggrid yang berdiri tidak jauh, bisa merasakan cinta begitu besar diantara mereka. Wanita paruh baya itu menangis haru, sambil sesekali mengusap pipinya yang basah dengan tisu yang sedari tadi ia genggam.


Pemandangan yang sama pun, terlihat dari wajah Razdan dan Desi. Keduanya turut merasakan keharuan yang sama. Meski harus sesekali disibukkan dengan tingkah aktif Nathan yang bergerak kesana-kemari.


"Tetaplah bersamaku membalas genggaman tanganku seperti ini, sampai kita menua bersama."sambung Virza lagi seraya mengusap air mata bahagia sang istri. Maura seakan tak bisa berkata-kata. Ia hanya mengangguk bersama air mata yang kembali menitik langsung memeluk tubuh tegap sang suami.


Disebuah sudut ruangan, cukup jauh dari sepasang pengantin berada. Kevin tersenyum tipis. Pria itu tenggelam dengan perasaan yang bercampur aduk sambil menatap Virza dan Maura dari kejauhan. Ia menyendiri. Berusaha menyembunyikan sebuah rasa.


"Semoga kalian bahagia." gumamnya pelan sambil berbalik.

__ADS_1


BRUK!!


"Maaf, Mbak. Aku enggak sengaja."


__ADS_2