KIMCHI

KIMCHI
Kalau Begitu, Berikan Dia Padaku


__ADS_3

"Mama ... Om!"seru Nathan yang tiba-tiba berlari ke halaman belakang.


Membuat Maura dan Virza terkejut, menoleh.


"Mama mau diapain, Om?." ucap bocah bertubuh gempal itu keheranan ketika wajah Virza semakin rapat pada sang Mama.


Maura menggigit bibirnya bingung.


"Oh, ini sayang ... tadi Mama kelilipan. Om tadi lagi tiup." Virza nyengir."Biar enggak pedih."


"Iya, kan, sayang?." Virza memandang Maura."Masih pedih enggak matanya?."


Kali ini Maura yang nyengir."Udah enggak."


 


Bugh!!!


Virza masuk kedalam kamar Kevin. Melemparkan krim pereda nyeri diatas tempat tidur."Pakai itu."


"Apa ini?"Kevin mengambil dan melihat benda tersebut.


"Krim keseleo." Virza duduk di pinggir tempat tidur."Itu ampuh!"


Kevin terkekeh pelan."Ternyata kamu perhatian juga denganku. Tapi aku tidak butuh ini ... pinggangku tidak sakit."


"Apa maksudmu? jadi tadi kamu berbohong." Virza melihat Kevin kesal.


Kali ini Kevin tergelak."Aku hanya mencari alasan agar Nathan berhenti membuatku jadi kuda. Dia tidak ingin berhenti. Kamu tau sendiri kan, badannya gemoy banget." ia bergeleng membayangkan tubuh gembul Nathan."Ampun."


"Dua menit terasa banget. Bisa-bisa pinggangku patah. Bukan keseleo lagi." kekehnya diakhir kalimat.


Braaak!!


Virza melibaskan handuk yang ia bawa pada pinggang Kevin.


"Ya ampun ... kamu mau membuatku sakit pinggang beneran?." Kevin mengusap pinggangnya yang terasa panas.


"Itu balasan karena kamu telah membohongi calon anakku"Virza terlihat kesal.


Kevin masih mengusap pinggangnya."Dimana mereka? apa sudah pulang?."


Virza mengangguk."Aku baru saja pulang mengantar mereka."


Hening.


"Oh iya .... aku pernah menemukan selembar foto dari dalam laci mu ketika mengambil berkas. Foto itu terlihat sudah buram ... dan sepertinya foto lama." Virza memandang Kevin serius."Siapa wanita yang ada didalamnya?"

__ADS_1


Kevin tertegun.


"Sepertinya wanita itu spesial bagimu. Sampai sekarang kamu masih menyimpannya."sambung Virza lagi.


"B-bukan siapa-siapa." Kevin menelan ludah gugup.


"Tidak mungkin. Wanita itu pasti spesial bagimu. Pasti dia cinta monyet mu. Iya, kan?"Virza mengangkat telunjuknya didepan dada, sambil terkekeh.


"Memangnya kenapa, kalau iya?"


"Bagus dong." Virza mengedikkkan bahu."Dimana wanita yang ada didalam foto itu sekarang? Apa kalian masih sering bertemu?"


"Sering." ucap Kevin tanpa sadar.


"Maksudku sering komunikasi saja." ralatnya cepat."Dia ada di kota ini. Aku belum sempat menemuinya."


"Sebenarnya kami tidak pernah pacaran. Karena dia tidak pernah mencintaiku."Kevin tersenyum kecut."Dia mencintai orang lain."


Virza yang tadi mendengarkan kembali bersuara."Lalu bagaimana denganmu? apa kamu masih mencintainya?."


"Jawaban itu biar hanya aku saja yang tau."cicit Kevin pelan. Raut wajahnya terlihat serius. Tidak ada ketengilan yang selama ini melekat pada dirinya.


Virza tergelak. Ini kali pertama ia melihat Kevin yang terlihat lemah karena cinta. Ketika di Jerman, saudara angkatnya ini dikelilingi banyak wanita. Namun kali ini, dibuat patah hanya kerana satu wanita. Harusnya ia kasihan. Namun entah mengapa wajah Kevin yang terlihat frustasi malah menjadi lucu baginya.


"Ini beneran kamu??." Virza tergelak, hingga bahunya berguncang."Lihatlah wajahmu ... wajahmu begitu menyedihkan."


"Atau apa?"


"Atau carikan aku pacar."


"Kamu serius? aku tidak salah dengar, kan?."Virza kembali tergelak."Kamu kayak udah nggak laku aja. Sepertinya susuk pemanismu sudah expired. Makanya wanita-wanita yang dekat denganmu sudah terbuka mata batinnya."


Kevin berdesis geram."Aku serius."


"Baiklah ... yang seperti apa kriteriamu?"


"Tidak muluk-muluk. Yang seperti calon istrimu saja, sudah cukup." jawab Kevin cepat.


Virza bergeleng pelan."Yang seperti itu sulit. Hanya ada satu di dunia ini. Dan dia hanya tercipta untukku."


"Kalau begitu berikan dia padaku."cicit Kevin datar.


Virza menoleh, tatapannya terlihat tidak suka.


Melihat ekspresi serius Virza, Kevin tertawa terbahak-bahak."Aku hanya bercanda. Jangan serius seperti itu."ia memukul pelan pundak saudara angkatnya itu.


__________________

__ADS_1


Restoran Nara,


Pukul setengah satu siang. Adira tiba-tiba menjadi gelisah. Wanita itu tampak berjalan mondar-mandir didepan pintu restoran seraya sesekali melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Netranya juga celingukan melihat ke arah jalanan memastikan kedatangan sahabatnya. Keduanya memang sedang merencanakan pertemuan ditempat ini. Hal yang biasa mereka lakukan ketika weekend.


"Aduh, Maura .... kamu dimana sih?."gumamnya pelan.


Pasalnya beberapa saat lalu, Maura sudah menghubunginya, dan mengatakan bahwa dirinya sedang berbelanja beberapa keperluan restoran di supermarket. Jarak supermarket menuju restoran Nara hanya 10 menit saja. Tapi sudah dua jam berlalu, sahabatnya itu tak kunjung datang.


"Ini anak belanja di supermarket mana, sih? jonggol kali, ya?" Adira menggigit bibir, sambil memilin-milin jari jemarinya. Sebenarnya ada hal yang paling membuatnya khawatir. Tadi, sebelum panggilan tiba-tiba terputus, ia sempat mendengar suara keras dari seberang telpon. Setelah itu, ia tak mendengar apa pun, lagi.


Kali ini, Adira mencoba menghubungi Maura kembali. Tapi ponsel Maura sepertinya masih belum aktif.


"Ya ampun, Maura ... kamu dimana sih?."Adira berjalan masuk kedalam restoran. Ia lalu mendudukkan diri disebuah kursi berusaha membuang perasaan cemasnya. Tapi kembali berdiri. Karena menurutnya ini sudah tidak wajar. Akhirnya Adira memutuskan untuk menemui Maura dirumah. Namun ketika hendak keluar, bola matanya tersita pada sebuah mobil BMW berwarna putih yang berhenti dihalaman restoran. Gegas ia berjalan menghampiri.


"Hei ... Adira. Dimana Maura?"ucap Virza saat sudah turun dari dalam mobil.


"Loh, Za .... kamu juga tidak tau Maura dimana?" Adira semakin cemas.


Virza mengernyit."Sebenarnya ada apa? dua jam yang lalu dia meneleponku dan mengatakan kalau dia akan berjumpa denganmu disini."


"Apa dia belum sampai?"


Adira mengangguk cepat."Tadi katanya mampir sebentar belanja ke supermarket. Tapi setahuku jarak supermarket dengan restoran ini tidak begitu jauh. Ini sudah dua jam lebih ... tapi dia belum juga sampai."


"Aku takut terjadi sesuatu padanya, Za."sambung Adira dengan suara yang terdengar khawatir."Tadi juga ponselnya tiba-tiba mati. Sampai sekarang belum bisa dihubungi."


Virza hening. Entah mengapa ia merasa kalau sesuatu yang buruk sedang terjadi pada kekasihnya itu. Gegas ia berbalik dan masuk kedalam mobil. Memacunya menuju supermarket terdekat. Sesampainya disana, pandangannya tertuju pada mobil mini Cooper hitam yang terparkir dihalaman supermarket. Itu adalah mobil wanitanya. Ia sedikit bisa bernafas lega, lalu turun. Tapi ada yang aneh. Didekat mobil tersebut, ia melihat beberapa telur yang pecah berceceran.


Dengan langkah panjang, Virza berjalan menuju pos penjagaan. Mencari informasi apakah ada sesuatu yang terjadi.


"Permisi, Pak. Saya mau tanya ... apa bapak melihat seorang wanita dengan rambut panjang segini?."ia mengisyaratkan rambut Maura yang sebatas bahu."Tadi dia belanja disini. Mobilnya yang itu."kali ini ia menunjuk ke arah mobil mini Cooper yang terparkir.


Security tersebut terlihat seperti sedang mengingat-ingat."Saya tidak tau pasti pemilik mobil tersebut. Tapi tadi setelah saya keluar dari toilet .... saya sempat melihat seorang wanita dengan ciri-ciri yang Mas-nya sebutkan. Wanita itu dibawa masuk oleh seseorang kedalam mobil sedan hitam. Sepertinya wanita itu sedang pingsan."


"Pingsan?." ulang Virza terkejut."Ciri-ciri pemilik mobil hitam tersebut bagaimana? dan dia laki-laki atau perempuan?"


"Sepertinya lelaki, Mas. Saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena orang tersebut memakai pakaian serba hitam. Memakai masker dan topi. Saya tadi juga sempat ingin mengejar .... tapi mobil tersebut pergi secepat kilat."terang security berusia 40 tahunan itu.


"Mobil tersebut pergi kearah mana?"


"Ke arah sana." Security tersebut menunjuk kearah kanan.


"Terimakasih atas informasinya." Virza ingin segera pergi, tapi suara security tersebut kembali menahannya.


"Sebentar, Mas. Ini barang-barang belanjaan wanita itu. Tadi saya melihatnya berserakan didekat mobil."


Virza meraihnya."Sekali lagi terima kasih, Pak. Tolong titip mobil itu disini dulu, ya."

__ADS_1


__ADS_2