
Acara team building Akasa Game kali ini akan diadakan selama tiga hari dua malam di sebuah komplek vila di luar kota. Tim Akasa Game akan berangkat naik bus bersama-sama pada hari Jumat pagi dari Akasa Tower dan kembali hari Minggu siang. Karena Varsha masih harus bekerja pagi harinya dan Teja juga masih harus bersekolah, mereka menyusul saat siang bersama karyawan yang juga datang terlambat.
“Tunggu di sini aja katanya?”
“Iya, Mama.”
Pasangan ibu dan anak itu berdiri di halte di dekat rumah mereka. Karena kebetulan rumah Varsha dan Teja searah dengan perjalanan, keduanya diminta untuk menunggu di sana. Tak lama, sebuah mobil sedan mewah berwarna biru tua metalik parkir di dekat halte.
Seorang pria tampan dan tinggi keluar dari pintu depannya. Ia memakai kemeja putih panjang yang lengannya dilipat sampai siku. Dua kancing atasnya terbuka membuat penampilan profesionalnya menjadi kasual dan seksi.
“Sudah siap?”
Suara berat Surya menyapa Varsha dan Teja. Anak laki-laki di depannya tersenyum dan mengangguk cepat. Kemudian Surya mengambil satu koper kecil di sebelah Varsha dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
“Ini saja?” Tanyanya pada Varsha.
“Ah, iya.” Jawab Varsha. “Hmm, hanya kita bertiga saja yang pergi, Pak Surya?” .
“Ya, sepertinya hanya kita bertiga yang tersisa.” Respon Surya sambil membuka pintu belakang mobil. “Ayo masuk.” Katanya kemudian pada Teja.
Teja dengan bersemangat segera duduk di kursi belakang. Ia letakkan tas punggungnya di sampingnya. Surya kemudian memasangkan sabuk pengaman pada Teja lalu menutup pintu. Begitu selesai, ia melirik ke arah Varsha yang masih berdiri canggung di dekatnya.
“Kalau Mama Teja ingin duduk di belaka-”
“Aah, tidak. Tidak. Sa… saya akan duduk di depan.” Potong Varsha cepat merasa tidak enak.
Varsha tidak percaya dirinya menjadi gugup di depan Surya, wajahnya memerah. Sementara itu Surya membuka pintu depan mobilnya dan mempersilakan Varsha masuk. Saat wanita cantik itu menunduk hendak ke dalam, tangan besar Surya melayang di atas kepala Varsha melindunginya agar tidak terbentur. Kemudian ia pun menutup pintunya.
“Siap?”
Surya akhirnya duduk di kursi supir, menatap dua penumpang spesialnya. Varsha tersenyum dan menganggukan kepalanya sementara Teja menjawabnya dengan antusias. Mendengar sambutan yang penuh semangat, ia tersenyum lebar sambil memakai kacamata hitamnya. Tak lama, mobil mereka pun berangkat.
***
“Siapa pencipta komputer modern pertama?”
“Charles Babbage.” Ucap Surya dan Teja bersamaan.
“Apa nama fobia bagi orang yang tidak bisa jauh dengan ponselnya?”
“Nomophobia.” Jawab keduanya bersamaan lagi.
Varsha bolak-balik mengamati Surya dan Teja. Keduanya sejak tadi dengan serempak menjawab pertanyaan dari kuis di radio. Surya sambil menyetir sementara Teja melihat-lihat pemandangan di luar. Melihat kekompakan mereka, Varsha tanpa sadar menghela napasnya.
“Apa mau kita ganti ke lagu saja?” Tanya Surya melirik wanita cantik di sampingnya.
Varsha menggeleng, “Tidak perlu, Pak Surya. Sepertinya Teja juga menikmati kuisnya.”
“Kalau Mama mau ganti ke lagu, Teja tidak apa.” Timpal Teja. “Lagipula kuisnya terlalu mudah.”
“Om setuju.” Tambah Surya.
Wanita cantik itu tersenyum sambil memutar kedua bola matanya. Tak percaya dengan respon ‘angkuh’ kedua laki-laki barusan. Teja dan Surya pun menyengir manis padanya.
“Baiklah kita ganti ke musik saja.” Ujar Varsha akhirnya.
Surya lalu menyetel radio di depannya dan tak lama, musik pun mengalun di dalam mobil. Karena mendekati akhir pekan, perjalanan mereka lumayan diwarnai dengan kemacetan. Varsha menatap langit yang semakin gelap di luar. Ia tak menduga mereka akan terjebak begitu lama di jalan. Seharusnya dia membuat bekal sebelum berangkat, setidaknya untuk Teja.
Surya juga menatap dua penumpang spesialnya. Merasa bersalah karena membuat mereka kelaparan. Karena terjebak macet di jalan tol, Surya jadi tidak bisa membeli apa-apa. Sementara tempat peristirahatan pun sepertinya masih jauh.
“Mama, Om Surya, apa Teja boleh makan marshmallow di mobil?”
Suara Teja menarik Varsha dan Surya dari lamunan mereka. Sepertinya putra kecilnya sudah merasa kelaparan. Kemudian wanita cantik itu melirik pria yang sedang menyetir di sampingnya.
__ADS_1
“Tentu saja boleh, Teja.” Ucap Surya lembut.
“Boleh, Sayang.” Jawab Varsha. “Kemarikan tanganmu, Nak.” Tambahnya lagi sambil menuangkan hand sanitizer ke tangan kecil Teja.
Setelah menggosok-gosok tangannya, anak laki-laki itu pun mengambil marshmallow dari dalam tasnya. Ia minta tolong Varsha membuka bungkusnya lalu akhirnya melahap satu demi satu camilan awan kenyal itu.
“Mama, aaaa...” Tangan Teja tiba-tiba ada di samping pipi Varsha, berusaha menyuapinya dengan marshmallow.
“Terima kasih, Sayang.”
Varsha membuka mulutnya dan sensasi manis pun langsung memenuhinya.
“Om Surya, aaaa…” Kali ini giliran Surya yang disodori marshmallow oleh Teja.
“Ah, terima kasih, Teja.” Surya pun membuka mulut dan melahapnya.
“Sebenarnya satu-satunya camilan manis yang Om suka itu marshmallow. Untung saja itu yang Teja bawa.” Ucap pria tampan itu sambil mengedipkan matanya pada Teja.
“Teja juga Om!” Timpal Teja antusias.
“Kalau minuman, Teja suka milkshake cokelat atau susu cokelat.”
“Om juga.” Respon Surya sambil men-tos tangan kecil Teja.
Varsha menatap keduanya dengan ekspresi tak terbaca. Hatinya terasa hangat namun juga ada sensasi menusuk di sana. Tanpa sadar, Ia pun menghela napas lagi.
Setelah beberapa jam panjang penuh kemacetan, akhirnya mereka pun tiba di vila. Malam sudah sangat larut dan kebanyakan dari karyawan Akasa Game juga sudah tidur karena besok jadwal acara padat sejak pagi.
Selesai melapor ke resepsionis, mereka langsung diantarkan ke kamarnya masing-masing. Kamar Surya kebetulan bersebelahan dengan kamar Teja dan Varsha. Surya lalu menanyakan pada petugas apakah restoran masih bisa menerima pesanan, namun sayangnya tempat makan di sana sudah tutup.
Surya kemudian mengetuk pelan kamar Varsha dan Teja. Dia berencana mau keluar untuk mencari makanan. Tak lama, seorang wanita cantik membuka pintu.
“Maaf, Mama Teja sudah mengganggu. Restoran di sini kebetulan sudah tutup semua, jadi saya mau mengajak Mama Teja dan Teja untuk makan di luar.” Jelas Surya.
“Atau saya bisa pergi sendiri membeli makan di luar dan membawakannya pada Teja dan Mama Teja.” Lanjutnya lagi.
“Hm?”
“Ah, kebetulan ada dapur dan stok mi di dalam. Jadi saya sedang memasak mi untuk Teja dan saya. Pak Surya mau bergabung dengan kami?”
Surya sebenarnya ingin menerima tawaran itu, tapi dia masih merasa tidak enak hati. Tiba-tiba sebuah kepala menyembul dari balik pintu. Tangan kecil Teja lalu menariknya masuk.
“Ayo Om, kita makan mi sama-sama.”
“Ah, oke. Terima kasih Teja dan Mama Teja.”
Surya tersenyum, diam-diam merasa lega dengan kemunculan Teja yang tepat waktu. Ia pun duduk di sofa di sebelah anak laki-laki itu. Di sampingnya, ia bisa melihat Varsha sedang menambahkan dua bungkus mi lagi ke dalam panci.
Entah kenapa melihat punggung Varsha yang sedang memasak membuat hati Surya bergetar. Rasanya dia ingin ke sana dan memberi wanita itu pelukan hangat. Surya menghela napasnya. Ia tak percaya pikiran semacam itu muncul lagi di benaknya. Dengan segera ia mengalihkan pandangannya ke acara animasi yang ditonton Teja.
Beberapa menit kemudian, Varsha pun datang membawa sepanci besar mi dan meletakannya di atas meja. Surya langsung berdiri dan membawa tiga mangkuk beserta sendok dan garpu dari dapur. Teja dan dirinya lalu bersama-sama mencuci tangan mereka di wastafel sementara Varsha menyendokkan mi ke dalam masing-masing mangkuk.
Ketiganya makan dengan lahap karena sudah beberapa jam menahan lapar di mobil tadi. Varsha lega dia memasak lima bungkus mi dan bukannya tiga. Melihat mereka makan, kedua laki-laki di depannya sepertinya bisa menghabiskan masing-masing dua porsi sendiri.
“Om Surya, kenapa tadi terlambat juga?” Tanya Teja.
“Hmm, tadi pagi Om kebetulan masih ada rapat dengan Akasa Group.”
“Oh begitu. Teja juga tadi pagi ke TK dulu dan Mama juga masih harus bekerja.” Ucap Teja menjelaskan.
“Ah, Mama Teja kerja apa kalau saya boleh bertanya?” Tanya Surya sopan.
“Mamaku superwoman Om. Pekerjaan Mama banyaaak sekali.” Timpal Teja sebelum Varsha sempat menjawab. “Dan yang paling keren Mama adalah asisten komikus komik online. Gambar Mama bagus-bagus.”
__ADS_1
Varsha tersenyum mendengar jawaban putranya. Lalu mengelus kepalanya pelan. Tiba-tiba hati Surya merasa hangat melihat pemandangan di depannya.
*“*Keren sekali Mama Teja. Hmm… boleh saya lihat komik online-nya?”
Varsha sempat ragu, namun akhirnya mengangguk. Ia berpikir, setidaknya bisa menambah satu pembaca lagi kan bagus juga. Wanita cantik itu pun mengambil ponselnya dan mencoba online namun sinyalnya buruk. Akhirnya ia membuka fail komik online yang ia simpan di dalam ponselnya saja dan menunjukkannya pada Surya.
Surya menggeser pelan halaman demi halaman dan membacanya. Ekspresi pada wajah tampannya tampak berubah-ubah. Terkejut, mengerutkan kening, lalu mengangguk-angguk tersenyum. Kemudian ia menyerahkan ponsel Varsha kembali padanya.
“Bagus sekali. Gambarnya sangat indah dan jalan ceritanya begitu menarik. Sekarang saja saya merasa penasaran dengan kelanjutannya.” Ucap Surya tersenyum.
“Apa Mama Teja tidak bisa memberitahu saya *spoiler-*nya? Bagaimana petualangan Awan nanti?” Tanya Surya lagi.
“Eh?”
Varsha mengedipkan matanya beberapa kali, ekspresinya bingung. Genre komik online milik Mario adalah komedi romantis dan tidak ada karakter bernama Awan. Ia pun mengecek ponselnya, lalu menghela napas panjang. Rupanya yang ia berikan pada Surya bukanlah komik online Mario melainkan komik ciptaannya sendiri yang sedang ia kembangkan.
“Hmm… Sepertinya saya salah memperlihatkan komik pada Pak Surya. Yang tadi itu adalah karya saya sendiri.”
“Oh ya? Kalau begitu saya fans Mama Teja. Komik online-nya bagus sekali. Apa judulnya? Saya mau ikuti agar bisa membacanya dengan cepat tiap kali dirilis.”
Tiba-tiba Varsha merasa pipinya memanas mendengar pujian dari Surya. Sejujurnya Varsha masih takut-takut memperlihatkan komik digital karyanya itu pada orang lain. Ia masih merasa bahwa ciptaannya masih kurang bagus dan jauh dari sempurna.
"Komik itu belum terbit. Saya masih mengembangkannya.” Ucap Varsha pelan.
“Ah… sayang sekali. Padahal saya sudah sangat penasaran dengan ceritanya.” Kata Surya. “Mama Teja harus mengabari saya kalau komik itu sudah terbit, ya?”
Varsha pun mengangguk merespon pria tampan di depannya. Kemudian dengan cepat menunduk, beralih ke mi nya lagi untuk menyembunyikan rona merah pada wajahnya. Surya pun melakukan hal yang sama, kembali melahap mi-nya. Tidak lama, panci besar di depan mereka ludes habis, bahkan tak sedikit pun kuah bersisa.
Setelah selesai makan, Teja dan Surya membawa panci, mangkuk, dan sendok-garpu kotor ke bak cuci. Varsha sempat menahan Surya yang hendak mencuci piring, namun pria itu bersikeras karena Varsha tadi sudah memasak. Akhirnya Varsha pun hanya bisa duduk di sofa dan menonton televisi bersama Teja.
Begitu selesai mencuci piring, Surya membalikkan badannya menghampiri Varsha dan Teja untuk pamit. Tiba-tiba dia tersenyum. Di depannya, seorang wanita cantik dan anak laki-laki yang menggemaskan sedang tertidur di depan televisi yang masih menyala.
Surya pun mencari remote control dan segera mematikan TV-nya. Kemudian dengan sigap dan hati-hati ia gendong Teja menuju ke tempat tidur. Gerakan Surya membangunkan Varsha yang memang sedang duduk di samping buah hatinya. Ia mengucek matanya pelan lalu mengucapkan terima kasih pada Surya.
Varsha pun kemudian mengantarkan Surya ke pintu depan. Surya tersenyum dan akhirnya berpamitan ke kamarnya.
“Selamat malam, Varsha.”
“Selamat malam, Surya.”
Entah karena efek mengantuk atau kekenyangan, namun keduanya sama-sama tidak menyadari mereka saling menyapa dengan nama depan mereka masing-masing.
***
Curcol Author:
Jumat pagi,
Dewa: "Lho Sur, kamu enggak berangkat bareng tim-mu ke villa? Rapat kita kan udah beres."
Surya: "Ah enggak. Nanti aja."
Dewa: "Kenapa gitu?"
Surya: "Mau nge-gym dulu."
Dewa: "Ooh..kay.. Dasar sepupu aneh... mau jadi hulk kayaknya ke gym terus…"
Jangan lupa love, komen, dan jempolnya ya guys <3
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1