
Varsha terduduk tegak. Kedua matanya membelalak tidak percaya. Apa dirinya sudah salah dengar. Apa mungkin dia hanya berhalusinasi saja karena efek kurang tidur beberapa hari belakangan ini.
“Rain… ”
Pria di depannya mengucapkan lagi nama itu dengan lebih jelas. Kedua matanya tampak sedikit memerah. Satu tangannya perlahan kembali mendekati wajah Varsha. Hanya tinggal beberapa senti saja maka telapak besar itu akan menyentuh pipinya.
Tanpa sadar, Varsha langsung menepis tangan Surya dan berdiri menjauh. Pria itu tampak sedikit terkejut tetapi dengan cepat kembali mengontrol sikapnya.
“Maaf Rain,” tuturnya lembut.
Jantung Varsha berdetak cepat. Ia tidak tahu apakah itu reaksi dari kerinduan yang dalam ataukah kemarahan yang meluap. Hanya satu yang ia yakini. Bahwa dirinya tak ingin menghadapinya sekarang.
Melihat Varsha yang berjalan semakin menjauhinya, membuat Surya panik. Ia pun berusaha berdiri dan berjalan menghampiri wanita itu. Membuat selang infusnya menegang hingga tertarik dan terlepas dari punggung tangannya.
Seketika darah segar merembes ke plester infus dan mengalir jatuh ke lantai. Namun Surya tak mengindahkannya sama sekali. Fokusnya kini hanya satu.
“Rain…”
Kini mata wanita itu tampak berkaca-kaca. Satu saat wajahnya menunjukkan kekhawatiran, namun di detik berikutnya ia terlihat tak peduli. Varsha mengambil napas lalu menghempaskannya.
“Berhenti… memanggil… nama itu,” ujarnya terputus-putus.
“Rain, kumohon…”
Begitu mendengar Surya masih mengucapkan nama yang sama, Varsha pun membalikkan badannya dan bergegas menuju pintu keluar. Namun ia kalah cepat dengan pria di belakangnya. Tiba-tiba Varsha merasakan tarikan kencang pada tangannya yang seketika membawa tubuhnya terdorong ke tembok.
Sebelum kepalanya membentur dinding, sebuah tangan besar sudah sigap menangkapnya. Membuat bantalan empuk di belakang kepala Varsha. Kemudian Surya melepaskan cengkeraman eratnya pada Varsha lalu menempelkan telapaknya ke tembok. Mengurung wanita cantik itu dengan tubuhnya.
Posisi mereka begitu dekat hingga keduanya bisa mendengar suara napas masing-masing. Surya menatap lekat-lekat wanita di depannya. Perasaannya begitu campur aduk. Senang, sedih, lega, sayang…
“Aku merindukanmu, Rain,” ucap Surya dengan suara sedikit serak. “Aku sangat merindukanmu,” ulangnya sekali lagi seolah ingin memastikan bahwa wanita di depannya sudah mendengarnya dengan baik.
“Kenapa kau tak pernah menghubungiku selama ini?” tanya Surya. “Padahal aku sudah meninggalkan kontakku…”
“Kenapa? Mengapa Rain?” Kini nada yang digunakan pria itu lebih seperti permohonan daripada tuntutan.
Sebuah memori buruk bermain di benak Varsha. Tiba-tiba Varsha mendengus kecil hingga nyaris menyeringai. Satu tangannya mengepal keras hingga kuku-kuku jarinya menusuk telapak tangan. Sementara bibirnya bergetar berusaha merangkai kata-kata yang ingin diucapkan.
“Benar. Kau memang meninggalkan nomor kontakmu,” ucap Varsha memulai, sementara kepalanya mengangguk.
“Tapi kau tahu apa yang terjadi pada nomor yang tertera di sepotong kertas itu?”
Varsha menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, “tiga nomor terakhirnya hilang tersapu tetesan hujan.”
“Meskipun begitu aku tetap mencobanya. Aku terus berusaha mencoba menghubungi nomor itu dengan memasukkan setiap kombinasi tiga angka. Tapi kau tahu, Sun?” Setetes air mata mengalir di pipi Varsha.
Akhirnya gadis misterinya memanggil nama spesialnya lagi. Hal yang selalu ia nantikan selama bertahun-tahun. Namun, ia tak pernah berharap untuk mendengarnya dengan nada tajam seperti saat ini.
__ADS_1
“Tak satu pun ada yang tersambung padamu.”
“Tidak. Satu. Pun,” ucap Varsha menekankan setiap katanya.
Bola mata Surya bergetar. Ia sama sekali tak menyangka akan mendengar respon tersebut dari Varsha. Wajah tampannya yang awalnya pucat karena sakit kini semakin memutih. Bibir dan tenggorokannya pun mengering.
“Aku… aku... “
Untuk pertama kalinya seorang Surya Abhiyoga kehilangan kata-kata. Seolah seseorang telah menggembok pita suaranya lalu melempar kuncinya ke dasar jurang tak berujung. Namun ia begitu putus asa sekarang. Ia harus melakukan sesuatu, apapun itu. Untuk membuat Rain tetap berada di sisinya.
“Bisakah kau memberiku kesempatan, Rain?”
“Untuk sekali ini saja,” mohon Surya. “Semua itu di luar kuasaku… Aku akan menjelas-”
“Kesempatan?” potong Varsha sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.
Tiba-tiba wanita itu tertawa dingin. Surya bahkan bisa merasakan bulu kuduknya berdiri. Tatapan Varsha begitu tajam hingga menusuk ke sumsum tulangnya.
“Aku telah memberimu seribu kesempatan.”
“Apa… maksudmu?” bisik Surya lemah.
“Dari nomor 000 hingga 999. Seribu kombinasi angka aku tekan satu per satu hingga jari-jariku kebas dan kapalan. Seribu kesempatan telah aku berikan padamu agar kita bisa menghabiskan hari bersama, agar kita dan Tej-”
Varsha mendadak menghentikan kalimatnya. Tidak sudi untuk melanjutkan.
“Jika memang sesulit itu untuk bersamamu. Mungkin memang sudah jalannya kita ditakdirkan untuk berpisah.”
“Aku harap kau bisa melupakan semua kejadian hari ini dan terus menjalani hidupmu. Anggap saja apa yang terjadi barusan hanyalah sekadar mimpi buruk belaka.”
Varsha terdiam sesaat lalu menatap dalam-dalam pria di depannya.
“Selamat tinggal, Sun.”
Surya merasa seperti sedang berada di dalam sebuah ruang vakum. Tersesat dan melayang terombang-ambing tanpa mampu mengontrol ke arah mana ia harus menuju. Pria itu pun tak bisa mencerna seluruh kalimat yang Varsha tadi lontarkan. Atau lebih tepatnya ia memilih untuk tidak mengerti.
Setitik air mata mengalir pelan pada wajahnya. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Akhirnya Surya pun menyandarkan tubuhnya di tembok. Kemudian merosot ke bawah hingga ia terduduk di lantai.
“Selamat tinggal, Sun.”
Kalimat singkat itu terus terngiang di telinganya. Bagaikan sebuah melodi sendu dan miris yang menusuk dadanya. Kemudian mencabik-cabik jantungnya.
Seketika gelora dan bara di hatinya padam. Layaknya sudah terbakar habis menjadi abu lalu tertiup angin. Dirinya melompat ke sana kemari. Bersusah payah menggapai dan mengumpulkan bubuk abunya, namun sia-sia.
Bersamaan dengan itu, Surya merasakan tubuhnya semakin lunglai dan pandangannya kabur. Akhirnya ia pun teroleng ke samping dan jatuh pingsan.
***
__ADS_1
Dewa menatap sepupunya dengan cemas. Ia begitu terkejut menemukan Surya sudah terkapar tak berdaya di dekat pintu kamar. Ditambah lagi ia melihat banyak tetesan darah di lantai. Jadi tentu saja Dewa langsung meminta petugas untuk mengecek CCTV yang merekam sepanjang lorong luar ruangan VVIP.
Namun yang paling tak ia sangka adalah sahabat Tessa lah yang keluar dari kamar Surya. Wanita muda itu menutup pintu lalu berjalan cepat sambil mengusap air matanya. Kemudian ia pun menghilang ke balik elevator.
Entah apa yang terjadi di antara Surya dan Varsha, namun tentunya bukanlah sesuatu yang biasa. Dewa tahu sepupunya memiliki perasaan khusus pada sahabat Tessa itu, tapi apakah sudah sangat dahsyatnya hingga mencapai situasi seperti tadi.
Hanya satu wanita yang Dewa tahu bisa membuat Surya melupakan segala nalarnya demi bisa bersamanya. Perempuan yang selalu menghantui mimpi-mimpinya. Gadis misteri sepupunya dari kenangan lima tahun lalu.
Kecuali…
Kecuali tentu saja gadis misteri Surya adalah Varsha. Jika itu memang benar adanya, maka segalanya pun akan menjadi masuk akal. Tapi kenapa baru sekarang ia muncul? Di saat Surya sedang dalam masa jaya-jayanya?
Selain itu, Surya sudah mencarinya selama bertahun-tahun namun tak kunjung menemukannya. Berapa besar kemungkinannya gadis itu malah menggedor masuk sendiri mendatangi Surya setelah sekian tahun? Apa yang sebenarnya terjadi di antara keduanya.
Tiba-tiba Dewa meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang. Sambil menanti teleponnya diangkat, ia berjalan keluar dari kamar Surya. Begitu tersambung ia langsung berkata pelan, “Varsha Ametarka. Aku ingin laporan rincinya.”
***
Curcol Author:
Oh PUEBI
Kau terlihat simpel namun menyimpan misteri
Sebuah kode penuh teka-teki
Saat kukira benar katamu coba lagi
Kupikir salah ucapmu betul sekali
Oh PUEBI
Akankah kita menjadi bestie
Membuatku tak lagi merasa newbie
Semoga kelak suatu saat nanti
Kau dan aku sejalan sehati
Jadi begini. MAAAAAF.... Author ga janji2 lagi ah, atut ga bisa nepatin hix. [kembali mendelep ke tempurung]
<3<3<3<3<3<3<3
Jangan lupa love, komen, dan jempolnya ya guys ;D
Semoga harimu menyenangkan :)
__ADS_1
Nuhun\~
- Bawang