
Surya melirik jam yang ada pada nakasnya, pukul 5:30. Pria itu belum memejamkan matanya sama sekali sejak semalam. Hanya duduk di atas tempat tidurnya dan terdiam. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam kepalanya.
Setelah beberapa saat, Surya akhirnya memutuskan untuk mandi dan bersiap ke kantor. Sehabis mengenakan jasnya, ia mengambil kunci mobil dan bergegas ke garasi di lantai bawah. Begitu bersemangat saat menyadari ia akan segera mengerjakan rutinitas favoritnya sebelum bekerja. Mengunjungi dua orang spesialnya.
Namun saat pria itu melihat pantulan wajahnya di spion depan, ia terdiam lagi seperti semalam. Pada wajah tampannya tampak rona ungu samar di bagian pipi kiri. Bekas tinju temannya.
Kemarin siang, Surya akhirnya menyuruh Dewa untuk melepaskan Axel. Membiarkannya untuk menghajar dirinya sampai temannya itu merasa puas. Namun baru mendaratkan beberapa pukulan, Axel sudah berhenti.
“Tinggalkan Varsha dan Teja. Jangan ganggu mereka lagi ….”
Usai mengucapkan kalimat itu, Axel langsung pergi meninggalkan dia dan Dewa. Sejak itu, Surya jadi terus mempertanyakan apakah eksistensinya sungguh mengganggu Varsha dan Teja. Itulah juga yang menjadi sumber insomnianya semalam. Pria itu mengurut dahinya lalu menghela napas panjang.
Surya pun akhirnya memutar balik mobilnya menuju ke arah Akasa Tower, meski dengan hati yang berat.
***
Di kantor, Surya tidak bisa berkonsentrasi karena pikirannya sibuk berkelana ke mana-mana. Bahkan ia perlu membatalkan beberapa rapatnya karena merasa tidak bisa fokus hari ini. Surya pun membaringkan tubuhnya di atas sofa di dalam kantornya. Mungkin ia perlu beristirahat sejenak.
Namun, rasa kantuk juga tidak datang-datang meskipun ia sudah mencoba memejamkan mata. Surya menatap kosong langit-langit di atas ruangannya. Berharap ia menemukan suatu jawaban di sana.
Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk. Surya menghela napas panjang. Padahal ia sudah bilang pada sekretarisnya tidak mau menemui siapa-siapa siang ini.
Sebuah kepala kecil terlihat mengintip masuk dari celah pintu. Seorang anak laki-laki yang terus mengisi benaknya beberapa hari belakangan ini. Buah hatinya, Teja.
“Apa aku boleh masuk, Om Surya?” tanya Teja ragu-ragu.
Seketika Surya terduduk. Sebagian stresnya juga hilang begitu saja saat melihat anak laki-laki itu. Sejak kecelakaan di Akasa Hotel, Teja meminta izin cuti panjang dan sudah lama tidak datang ke Akasa Game Studio. Ini kali pertama Surya berinteraksi langsung lagi dengan Teja setelah sekian lama.
“Tentu saja,” jawab Surya. “Kemari dan duduklah di sini,” tambahnya lagi sambil menepuk spot kosong di sebelahnya.
Anak laki-laki itu pun menuruti Surya dan duduk di dekatnya. Pria tampan itu lalu memegang bahu Teja dan mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seakan sedang berusaha mencari sesuatu.
“Bagaimana keadaanmu setelah hari peluncuran? Apa ada yang terasa tidak nyaman di suatu tempat?” tanya Surya khawatir.
“Teja baik-baik saja, Om Surya.”
Surya mengangguk dan tersenyum lega. “Syukurlah.”
Keduanya lalu terdiam sesaat hingga Teja mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah pena elegan dengan perpaduan warna hitam dan emas. Saat terkena cahaya, warna hitamnya akan berpendar dan berubah menjadi warna biru tua berkerlip.
“Teja menemukannya di panggung … pada hari itu,” ucap Teja sambil menyerahkan pena tersebut pada Surya.
“Terima kasih, Teja. Om sudah lama mencari-carinya, namun tidak ketemu.”
__ADS_1
Pena itu merupakan pena keberuntungannya. Setiap kali ia ada kesepakatan atau acara penting, Surya pasti akan membawanya di saku. Ditambah lagi, pena itu merupakan milik Bumi.
Surya memutar pelan pena cantik di tangannya. Sebuah inisial tertera di satu sisinya. B. B. A. Bumi Bima Abhiyoga. Sebenarnya pena tersebut adalah pemberian dari ayah mereka. Baik Bumi dan Surya mendapatkan sebuah pena identik dengan inisial nama masing-masing di atasnya.
Namun, Surya telah meninggalkan pena miliknya di karavan. Tempat yang sama di mana ia pergi dari kehidupan Varsha lima tahun lalu. Ia juga tidak yakin apakah bidadari hujannya menyimpannya atau tidak.
Tiba-tiba satu tangan kecil menyodorkan sebuah pena lagi pada Surya. Pena yang desainnya persis sama dengan yang sedang ia pegang sekarang. Tiga huruf 'S. K. A.' bertinta emas tertulis di sisinya. Inisial dari Surya Kingkin Abhiyoga.
“Dulu sekali, mama pernah bilang kalau pena ini merupakan milik papa Teja.” Anak laki-laki itu menatap dalam-dalam ke arah Surya.
“Jadi … apa Om Surya adalah papa Teja?”
Seketika jantung Surya berdebar kencang. Ia begitu menantikan momen ini, tapi apakah sekarang adalah saat yang tepat. Bermacam-macam skenario dengan cepat bermain di benaknya. Bagaimana dia sebaiknya merespon pertanyaan Teja? Bagaimana Varsha akan menanggapi sikapnya nanti?
Surya memejamkan mata berusaha menghentikan pikiran-pikirannya yang semakin tak terkontrol. Kemudian ia menatap lurus ke arah Teja. Apapun risikonya dia akan menanggungnya nanti. Sekarang dirinya hanya ingin mengikuti kata hatinya.
Surya mengangguk. “Teja benar. Om adalah papa Teja.”
Pria itu mengamati anak laki-laki di depannya. Memperhatikan ekspresi wajahnya. Namun, tidak ada rasa keterkejutan di sana. Seolah ia sudah menduganya dari awal.
"Sejak kapan Om Surya mengetahuinya?"
"Belum lama ini," papar Surya jujur. Tak ingin lagi ada kebohongan di antara mereka.
Surya mengusap pelan kepala anak laki-laki di depannya. Putra kandungnya. “Sampai kapan pun juga, tak akan pernah ada alasan valid meninggalkan kalian berdua.”
“Jawaban yang cukup bagus,” respon anak laki-laki itu.
Surya tersenyum kecil. Merasa lega ia telah mengambil keputusan untuk menjawab Teja dengan jujur. Namun tetap saja, ada sebuah keraguan di hatinya.
“Apa Teja membenci Om Surya?”
“Tidak.” Teja menggeleng. “Hmmh … mungkin sedikit?”
Surya mengangguk mengerti. Ia bisa menerima jawaban itu. Setidaknya putra kecilnya tak sepenuhnya membencinya.
“Apa Om Surya menyayangi mama dan Teja?”
“Dengan seluruh jiwa dan raga Om Surya,” jawab pria itu mantap.
Teja tampak sedang berusaha menahan senyumnya, namun kedua lesung pipitnya tetap muncul. Kelihatannya anak laki-laki itu cukup puas dengan jawaban pria di depannya.
“Apa aku harus memanggil Om Surya, dengan sebutan ‘Papa’ sekarang?”
__ADS_1
Kini tangan Surya menyentuh satu sisi wajah buah hatinya. “Hanya jika Teja menginginkannya.”
“Kalau begitu aku tak akan melakukannya,” ujar Teja cepat.
Seketika Surya merasa ada yang menghantam keras ulu hatinya. Bahkan lebih terasa sakit daripada pukulan Axel kemarin.
“Om Surya harus bekerja keras kalau mau kupanggil dengan titel istimewa itu.”
Surya tersenyum. Kedua matanya tampak sedikit berkaca-kaca. “Om Surya akan berusaha dengan amat sangat keras.”
“Baiklah. Teja akan menantikannya.”
“Apa Om Surya boleh memeluk Teja?” tanya Surya ragu-ragu.
Teja menatap pria di depannya dan mengangguk pelan. Seketika tubuhnya di dekap erat oleh Om Surya, ayah kandungnya. Teja bisa merasakan tangan besar papanya mengusap lembut kepala dan punggungnya. Persis seperti yang biasa dilakukan mamanya.
Tanpa sadar sebuah senyum tersungging di bibir kecil Teja. Setelah lima tahun, akhirnya ia bisa bertemu dengan papanya. Diam-diam hatinya merasa bersyukur bahwa papanya adalah Om Surya yang sangat ia sukai.
***
Curcol Author:
Author to Teja: Huhuhu, berbahagialah kau, Nak.
Author to Surya: Awas kamu berani2 ninggalin Teja ama Varsha lagi. Author bakal $%*#* abis itu %@^^&@#^& terus di &@%#*!@ Ngerti\, Sur??
Surya to Author: Ya enggak ngerti lah, Thor. Disensor semua begitu.
Author: ... Bener juga kamu .. kzl.
<3<3<3<3<3<3<3
Selamat membaca xD Jangan lupa love, komen, dan jempolnya, ya ;D
Semoga harimu menyenangkan :))
Nuhun~
- Bawang
PS: udah ada yang dengar lagu terbarunya nct127 'Favorite'? Bagus deh hihihi.
__ADS_1