Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
L. Hadiah


__ADS_3

Sebulan berlalu sejak Tante Santika diamankan oleh pihak kepolisian. Selama nyaris lima pekan itu pula Akasa Group diguncang skandal terbesarnya. Kasus internal Keluarga Abhiyoga yang melibatkan percobaan pembunuhan terhadap kerabat sendiri.


Para reporter dari berbagai media tak henti-hentinya melaporkan status perkembangan pemeriksaan mama Dewa. Belum lagi penurunan nilai saham Akasa Group beserta anak perusahaannya yang sangat signifikan akibat peristiwa tersebut. Seluruhnya tampak kacau balau.


Jadi wajar saja, Surya sama sekali tak bisa tidur nyenyak beberapa pekan terakhir ini. Ia dan Ibu Tara begitu sibuk, berusaha menangani krisis yang menimpa Akasa Group. Ditambah lagi, sepupunya yang dulu selalu ada dan siap siaga untuk membantunya kini harus absen.


Dewa juga masih harus menjalani pemeriksaan karena sempat menyembunyikan fakta bahwa ibunya adalah pelakunya. Namun menurut pengacaranya, sepupunya bisa mendapat penghapusan pidana karena niatnya adalah melindungi keluarga dekat. Syukurlah, kemungkinan besar hanya akan mendapat sanksi dan harus membayar denda.


“Pak Bos?” Suara Ardi seketika membuyarkan lamunan Surya.


“Ya, Ardi. Segera eksekusi rencana itu secepatnya.”


“Baik, Pak Bos.”


Surya memejamkan mata dan mengurut-urut pelipisnya. Tiba-tiba saja ia begitu merindukan bidadari hujannya. Akibat kesibukannya yang luar biasa, sudah tiga pekan ini Surya belum lagi bertemu dengan kekasihnya. Meskipun ia selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Varsha walau hanya sesaat.


Pria tampan itu juga sangat merindukan putranya. Walau ia sesekali masih bisa melihat Teja di Akasa Game Studio, itu tidak sama dengan menghabiskan waktu bersama. Surya pun menghela napas panjang. Ia harus segera membereskan kemelut ini, agar dirinya bisa kembali lagi bersama keluarga kecilnya.


***


Hari ini Varsha punya rencana besar untuk Teja. Ia akhirnya akan memberi tahu buah hatinya bahwa Surya adalah ayahnya. Sebenarnya sudah sejak lama wanita cantik itu ingin mengatakannya. Namun kedekatan Teja dengan Surya terkadang membuatnya takut akan reaksi putranya nanti.


Surya merupakan idola Teja. Salah satu pengembang game favoritnya. Sebab itulah ada rasa kecemasan kalau buah hatinya akan merasa kecewa atau terkhianati saat mengetahui kebenarannya.


Tetapi kali ini, Varsha sudah memantapkan hatinya. Hubungan Surya dan dirinya sudah semakin serius. Selain itu, ia tak mau lagi berkelit, tiap kali Teja menyipitkan mata dan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan saat memergokinya sedang berteleponan dengan Surya.


“Selamat pagi, Sayang.”


“Selamat pagi, Mama.”


Teja berjalan masih sambil setengah memejamkan mata. Kemudian ia duduk di kursi makan. Menyeruput susu cokelat hangatnya yang sudah disiapkan mamanya di atas meja.


“Hari ini jadwal Mama kosong,” ucap Varsha. “Jadi, Mama dan Teja akan menghabiskan waktu bersama sepanjang hari.”


“Beneran, Ma?”


“Iya, Sayang,” jawab Varsha sambil mengusap rambut putranya.


“Pokoknya hari ini Teja yang mengatur seluruh jadwalnya,” tutur wanita cantik itu. “Mama hanya tinggal mengikuti apa kata Teja.”


Seketika wajah buah hatinya pun berseri-seri. Sejujurnya, suasana di Akasa Game beberapa minggu terakhir ini juga kurang menyenangkan. Atmosfernya jauh berbeda dari yang biasanya. Semua orang tampak makin serius dan lebih sedikit tertawa.


Maka dari itu, Teja pun jadi ikut terbawa stres juga. Jadi, saat mamanya memberikan dia kebebasan untuk merancang hari mereka, ia pun merasa senang bukan kepalang. Di dalam kepalanya otomatis sudah tersusun rencana perjalanan.


“Tapi, Teja mau Mama janji dulu.”


“Janji apa, Sayang?” tanya Varsha penasaran.

__ADS_1


“Hari ini Mama tidak boleh menolak apa pun keinginan Teja.”


Wanita cantik itu mengernyitkan dahinya tampak sedikit curiga. Namun, akhirnya ia mengangguk.  “Oke. Mama janji.”


***


“Toko perkakas?”


Varsha sekali lagi bertanya pada putranya untuk memastikan. Teja pun meresponnya dengan mengangguk bersemangat. Jujur, saat anak laki-lakinya minta untuk pergi ke mal, ia tak menyangka bahwa tempat inilah yang ingin dituju putranya.


Teja lalu mengisyaratkan pada mamanya untuk sedikit membungkuk. Kemudian ia berbisik, “Hari ini Teja yang akan  mentraktir semuanya ya, Mama.”


Varsha sudah hendak mendebatnya, namun putranya itu keburu membalas dengan, “Mama sudah janji, lho.”


Akhirnya dengan helaan napas panjang, wanita cantik itu mengangguk. Namun, karena melihat ekspresi mamanya yang sedikit muram, Teja pun berbisik lagi padanya.


“Mama, tenang saja. Tabungan Teja … sangat amat cukup. Ditambah lagi, ini adalah hadiah buat eyang.”


Kemudian putranya langsung menyengir lebar. Varsha pun jadi otomatis ikut tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mengusap rambut putranya.


Tak lama kemudian, seorang pramuniaga datang menghampiri mereka untuk membantu. Seorang gadis muda berwajah ramah dan semringah. Rambutnya disanggul rapi ke belakang.


“Selamat pagi, Kak. Selamat pagi, Adik Kecil. Ada yang bisa saya bantu?”


“Ya, Kak. Aku ingin ke bagian peralatan dapur,” jawab Teja mantap.


Sebenarnya, Teja kemari karena ingin membelikan perlengkapan dapur untuk eyangnya. Ia sudah lama sekali mau melakukan hal tersebut karena sering melihat eyangnya kecapaian saat sedang menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak buat usaha jualannya.


Setelah kurang lebih satu jam berkeliling, troli mereka pun terisi penuh dengan tumpukan peralatan canggih dapur. Food processor, blender, mikser, dan lain sebagainya, tampak duduk manis di dalamnya. Teja pun mengangguk puas. Sepertinya ia telah mendapatkan semua yang dicarinya.


Teja mengeluarkan kartu debitnya kemudian memberikannya pada kasir dengan tangan kecilnya. Yang tentunya langsung membuahkan rasa takjub sekaligus senyum pada wajah pegawai toko. Usai membayar seluruh belanjaan, Teja meminta izin untuk menitipkan seluruh barang-barangnya di sana sejenak, pada petugas kasir tersebut.


“Ayo, Mama. Kita ke tempat selanjutnya,” ajak Teja sambil menggandeng tangan mamanya.


“Oke,” Varsha mengangguk. “Kita mau ke mana, Sayang?”


“Toko elektronik,” jawab Teja tersenyum lebar. “Teja mau membeli tablet canggih agar Mama bisa dengan mudah menggambar di mana saja dan kapan saja.”


Varsha tersenyum memandang buah hatinya. Tak menyangka putra kecilnya sampai memikirkan hal tersebut.


“Terima kasih, Sayang,” respon wanita cantik itu sambil tersenyum. “Tapi Mama juga sudah senang kok, memakai drawing tablet yang dipinjamkan Om Mario.”


Teja menyipitkan matanya dan mengerucutkan bibirnya ke arah Varsha. “Mama bilang janji harus ditepati, tapi kenapa Mama sendiri mengingkarinya.”


“Mama ‘kan tadi sudah janji kalau hari ini akan mengikuti semua kemauan Teja ….”


Seketika Varsha tersenyum canggung karena telah di sekak mati oleh buah hatinya sendiri. Lain kali ia harus lebih berhati-hati saat membuat janji dengan putra geniusnya. Setelah berhasil mendebat dan membujuk mamanya, Teja pun langsung menggandeng tangan wanita cantik itu masuk ke dalam toko elektronik.

__ADS_1


Dalam sekejap, Varsha sudah mendapatkan sebuah tablet canggih keluaran terbaru di tangannya. Kotak pipih putih seukuran buku tulis besar yang bisa dipakai untuk menggambar dan kebutuhan lainnya seperti ponsel pintar.


“Terima kasih, Sayang. Mama akan menggunakannya dengan sebaik-baiknya,” ucap Varsha sambil mengusap kepala putranya.


“Dengan senang hati Mama. Teja juga senang sekali akhirnya bisa membelikan hadiah untuk Mama.”


Kemudian Teja memeluk mamanya erat. “Terima kasih juga sudah merawat dan membelikan apa pun kebutuhan Teja selama ini.”


Seketika tenggorokan Varsha tercekat. Hatinya terasa hangat namun juga teremas bersamaan. Merasa terkejut dan takjub putra kecilnya sudah memikirkan hal seperti itu di usia mudanya.


“Tentu saja, Sayang,” respon Varsha yang masih berada dalam rangkulan Teja. “Mama pun berterima kasih sekali, Teja sudah mau menjadi anak Mama.”


“Teja juga berterima kasih sekali, Mama sudah mau menjadi mama Teja.”


Setelah beberapa saat, keduanya pun akhirnya melepaskan pelukan mereka. Kemudian Teja kembali menggandeng tangan Varsha.


“Ayo, Mama. Kita ke tempat berikutnya.”


Varsha tersenyum. “Siap, Komandan. Teja mau ke mana?”


“Akasa Tower.”


“Akasa Tower?” Kening Varsha mengerut sedikit.


Teja mengangguk. “Ya. Ayo, kita jemput papa.”


***


Curcol Author:


Huhuhu, maaf ya kemarin enggak sempat up. Jadi malam ini, Author akan up lagi. Makasih ya sudah bersabar menunggu. Kalian semua paling terbaeq dan terkece <3


<3<3<3<3<3<3<3


Author mengkhayal dulu deh bisa punya anak kayak Teja ^^;


Halo, semoga suka dengan bab ini ya, hehe.


Jangan lupa terus tunjukkan dukunganmu dengan memberi love, jempol, komen, hadiah, dan vote ;D


Selamat beraktivitas dan semoga harimu menyenangkan!


Nuhun~


- Bawang


 

__ADS_1


 


__ADS_2