
“Apa … maksudmu Tara?”
“Kak Santika, sebaiknya kita tak perlu berpura-pura lagi di sini.”
Mama Surya berjalan semakin mendekat hingga kakak iparnya berada tepat di hadapannya. Rasanya ia ingin sekali melukai wanita itu, mencabik-cabiknya, karena telah mencelakai putranya. Namun, kini memandangnya saja ia sudah merasa mual dan jijik.
Ibu Santika tersenyum. “Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu. Sepertinya ada sebuah kesalahpahaman.”
“Aku rasa tak ada kesalahpahaman,” respon Ibu Tara dengan nada tajam. “Semuanya sudah jelas sekarang.”
Tiba-tiba saja Raka langsung mengambil pistol dari dalam saku belakangnya siap untuk menjadikan Ibu Tara sebagai sandera. Namun sialnya untuk pemuda itu, asisten Chairman Akasa Group bukanlah orang sembarangan. Ia merupakan seorang pengawal terlatih.
Sherry dengan sigap melucuti senjata Raka dan memelintir pergelangan tangannya. Membuat senapannya terjatuh ke bawah. Sementara dua tangannya dengan mudah dikunci ke belakang punggung oleh wanita muda itu.
Ibu Tara mendengus kecil lalu tersenyum dingin. “Semoga Kak Santika menikmati tempat liburanmu yang baru.”
Seketika terdengar bunyi puluhan derap kaki yang semakin mendekat. Polisi berpakaian serba hitam lengkap dengan helm dan rompi anti peluru berjalan cepat beriringan. Membuat lingkaran barikade mengurung dua Nyonya Abhiyoga beserta asisten mereka.
Seluruh pasukan tersebut serentak mengarahkan senjata ke arah Ibu Santika dan Raka. Membawa nuansa teror dan intimidasi yang luar biasa. Salah satunya kemudian keluar dari dalam barisan dan berjalan menghampiri mereka. Pada satu tangannya terlihat selembar surat penangkapan.
“Saudari Santika Abhiyoga. Anda ditangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Saudara Surya Abhiyoga.”
Beberapa polisi lainnya lalu mengikuti arahan pemimpinnya dan mengamankan Ibu Santika serta Raka. Memborgol mereka lalu berdiri mengawal di kiri kanan keduanya.
“Anda memiliki hak untuk diam. Apa pun yang Anda katakan bisa dan akan dapat digunakan untuk melawan Anda di pengadilan. Anda memiliki hak untuk bicara pada penasihat hukum ….”
Ibu Tara mengamati prosesi penangkapan pelaku yang berusaha mencelakai putranya. Mendengarkan seluruh ‘Peringatan Miranda’ dibacakan sampai selesai oleh pihak kepolisian untuk kakak iparnya. Lalu melihat Raka dan wanita itu digiring bersama dua penyidik menuju mobil polisi.
Mama Dewa tetap berdiam diri di posisi yang sama hingga semuanya pergi. Terus menatap kosong ke arah tempat di mana Ibu Santika dan Raka menghilang. Meskipun dirinya lega dalang di balik semua musibah putranya terungkap dan telah tertangkap. Tetap ada seporsi hati kecilnya yang terluka.
Ibu Santika bukan hanya sekadar mama Dewa. Ia merupakan seorang sahabat, rekan, kakak, dan keluarga bagi Ibu Tara. Hanya Ibu Santika yang mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang pemimpin wanita di Keluarga Abhiyoga. Bagaimana mereka bertahan dan segala kerja keras serta upaya yang harus mereka lakukan.
Namun sekarang, bahkan orang terdekatnya pun telah mengkhianatinya ….
Seketika kedua mata Ibu Tara tampak berkaca-kaca. Sherry dengan sigap menawarkan sebuah sapu tangan bersih pada pimpinannya. Mama Surya tersenyum dan mengambil kain putih tersebut.
“Terima kasih, Sherry,” ucapnya pelan.
“Dengan senang hati, Ibu Chairman.”
Keduanya pun akhirnya berjalan kembali menuju mobil Rolls-Royce putih milik Ibu Tara, yang sudah terparkir tidak jauh dari sana.
__ADS_1
***
Surya menyalakan mobilnya lalu melaju tanpa tujuan. Semuanya sudah usai sekarang, namun hatinya sama sekali tidak merasakan sedikit pun kepuasan. Ia meninggalkan Dewa dalam keadaan syok di shooting range milik Bumi.
Namun, kini ia tak bisa berlama-lama lagi di sana bersama pria itu. Ia bahkan tak bisa melihat sepupunya tanpa merasakan amarah yang meluap. Apalagi harus menghiburnya seperti dulu ....
Ia sudah meminta Ardi untuk mengecek dan mengawasi keadaan Dewa di sana. Surya pun sudah menghubungi supirnya untuk menjemput Tessa dan membawanya pada kekasihnya itu. Setidaknya ia harus memastikan Dewa tidak sendirian dan melakukan tindakan bodoh.
Tiba-tiba saja begitu ia tersadar dari kemelut pikirannya, mobilnya sudah terparkir di depan rumah Varsha. Surya lalu menatap pintu rumah itu dan menghela napas panjang. Merasa bimbang untuk mengetuknya atau tidak.
Akhirnya pria tampan itu memutuskan bahwa malam sudah begitu larut dan ia sebaiknya pergi. Namun, layaknya sebuah telepati yang dimiliki sepasang kekasih, Varsha seketika muncul dari balik pintu rumahnya. Memakai piyama biru muda dengan motif hujan dan kardigan kuning.
Surya pun tak kuasa menahan senyumnya. Kemudian segera keluar dari mobilnya. Tak sabar ingin menyapa bidadari hujannya yang tampak begitu cantik malam ini.
“Selamat malam, Varsha.”
“Selamat malam, Surya.”
Keduanya lalu terdiam sesaat. Surya menatap kekasihnya kemudian mengambil satu tangannya dan mengecupnya lembut. Aroma akrab yang menenangkan pun langsung merasuki dirinya.
Tanpa melepaskan pegangannya pada tangan Varsha, pria itu akhirnya berbisik, “Apa aku boleh menculikmu malam ini?”
***
Mereka sudah naik mobil sekitar dua jam, lalu berjalan kaki selama kurang lebih 20 menit sekarang. Pemandangan di sekitarnya gelap, namun Varsha bisa melihat ada sedikit penerangan tidak jauh di depannya. Entah mengapa area ini terasa familier baginya.
“Kamu ingat tempat ini?”
Varsha mendadak membelalakan matanya. Tentu saja dia ingat. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan tempat ini. Mereka ada di Tebing Purwa, di mana Hujan bertemu Matahari.
“Ya, aku ingat.”
Suasananya cukup berbeda saat malam hari. Lampu-lampu temaram terpasang mengelilingi pinggir tebing. Sementara bintang-bintang tampak malu-malu bersinar pada langit yang gelap.
“Ah … aku lupa kalau di sini tak ada tempat duduk,” celetuk Surya. “Well, no problem.”
Pria tampan itu lalu melepaskan jas abu-abunya dan meletakkannya di atas tanah berpasir. Kemudian ia duduk di sana dan memberi isyarat pada Varsha untuk bergabung dengannya.
Varsha sempat menahan napas sejenak begitu melihat perbuatan Surya tadi. Harga jas itu pastinya bagaikan langit dan bumi jika dibandingkan dengan piyama yang sedang ia kenakan. Rasanya absurd mengorbankan sebuah maha karya desainer ternama daripada baju tidur simpelnya.
Namun begitu melihat ekspresi kekasihnya yang masih sendu, ia tak jadi berkomentar apa-apa. Wanita cantik itu lalu duduk di depan pangeran mataharinya. Surya pun langsung mendekapnya erat dari belakang. Menikmati aroma bidadari hujannya yang selalu membuat hatinya terasa nyaman dan damai.
__ADS_1
“Pelakunya sudah ditangkap,” ucap Surya akhirnya. Suara lirihnya terdengar sedih di telinga wanita cantik itu. Sementara kepalanya bersandar pada bahu dan leher pujaan hatinya.
“Dalangnya adalah Tante Santika, mamanya Dewa ….”
Varsha bisa mendengar suara Surya yang semakin bergetar dan napasnya yang tak beraturan. Ia pun mengusap pelan kepala pria tampan itu berusaha menenangkannya. Namun, tak lama wanita cantik itu merasakan bahunya sedikit basah.
“Dewa mengetahui semuanya ...,” lanjut Surya lagi. “Tetapi ia hanya berusaha melindungi mamanya ... jadi aku mengerti.”
“Kurasa aku pun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisinya ….”
Melihat kekasihnya yang begitu sedih, Varsha pun tak kuasa menahan air matanya. Ia menolehkan kepalanya ke arah Surya dan mengecup pelan kening pangeran mataharinya. Berusaha memberinya kekuatan dan dukungan.
“It’s okay,” bisik Varsha lembut. “Semuanya akan baik-baik saja, Surya.”
Mendadak pria tampan itu tersenyum kecil di tengah tangisnya. Ia seperti merasakan déjà vu. Lima tahun lalu, bidadari hujannya juga melakukan hal yang sama. Memberinya kalimat penyemangat yang membuatnya bisa bertahan hingga saat ini.
Dan kini, lima tahun kemudian, wanita itu pun mengerjakan hal serupa.
Surya lalu meraih dagu Varsha dan mengecup lembut bibirnya. Merasakan setiap hembusan napas bidadari hujannya yang menari-nari di wajahnya. Menghirup aroma miliknya dan kekasihnya yang menyatu. Serta mendengar bunyi detak jantung mereka yang senada.
Surya sangat mencintai Varsha dan ia berharap wanita itu tahu dan bisa merasakan kesungguhannya.
***
Curcol Author:
Jadi begini, kyaaaaa xD authornya kok ikutan baper wkwkwk
Oke. Serius sekarang hehe. Sebenarnya di Indonesia tidak menganut pemakaian 'Peringatan Miranda' saat proses penangkapan. Tapi berhubung biar lebih dramatis (#ehek) author jadi mengadopsi prosesi itu deh, hehe. Jadi harap dimaklumi dan ikhlaskan aja ya, namanya juga fiksi ohoho ;D
<3<3<3<3<3<3<3
Jangan lupa dukung Author dengan memberi love, komen, jempol, hadiah, dan vote kalian, ya ;D
Semoga malammu menyenangkan dan selamat mimpi indah!
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1