
“Pagi foto prewedding, siang ada acara reuni sampai jam 3:00 sore, lanjut ke acara tunangan sampai tutup ….”
Varsha sedang mendengarkan Tessa menjelaskan rundown acara mereka besok melalui loudspeaker ponselnya. Kafe Tessa jadi sangat hits sejak Dewa mengunggah foto Private Cafe ke akun sosial medianya. Hari biasa selalu penuh, sementara pada akhir pekan luar biasa sibuk.
“Siap, Bos!” seru Varsha sambil mematahkan akar sebaskom taoge di depannya.
Selain acara di kafe Tessa, besok dirinya juga memiliki 100 porsi pesanan asinan untuk acara pesta pelanggannya. Sebab itulah Tessa harus selesai menyiapkan semua bahannya malam ini. Agar besok pagi Bayu bisa mengantarkan ke konsumennya.
“Oke, sampai ketemu besok, Var!”
“Sampai ketemu.”
Sehabis bicara dengan Tessa di telepon, Varsha meniriskan baskom taogenya dan menuju ke dapur. Kini ia akan beralih ke pekerjaan berikutnya. Memasak bumbu untuk asinan. Saat sedang asyik-asyiknya menggoreng kacang, tiba-tiba ponsel Varsha berbunyi.
“Teja, boleh tolong cek ponsel Mama, Nak,” panggil Varsha meminta bantuan pada putranya karena kedua tangannya berminyak.
“Tolong bacakan pesannya ya, Sayang. Takutnya dari pelanggan asinan,” lanjut Varsha lagi.
“Iya, Mama,” jawab Teja.
Anak laki-laki itu mengambil ponsel mamanya dan menggeser-geser layarnya. Lalu membuka pesan yang masuk dan membacakannya dengan keras pada mamanya.
“'Varsha, apa aku boleh membawa Teja jalan-jalan besok?' Pengirimnya Pak Surya Abhiyoga ....”
Baik Varsha dan Teja seketika terdiam. Wanita itu sama sekali tidak menyangka kalau pesan yang diterimanya adalah dari Surya. Rasanya ia jadi sedikit menyesal telah meminta tolong Teja untuk mengecek ponselnya tadi.
“Mama … apa Teja boleh ikut?” tanya buah hatinya ragu-ragu.
Ini dia yang Varsha takutkan. Dia masih belum mau membagi Teja dengan siapa pun. Terlebih lagi kini Surya sudah tahu kalau Teja adalah putranya. Namun, memandang kedua mata putranya yang membesar dan sedikit berkaca-kaca membuat hatinya bimbang.
***
“Kita mau ke mana, Om Surya?”
“Mau merasakan bagaimana jadi Superman.”
Surya tertawa kecil melihat ekspresi putranya yang kebingungan. Ia sengaja tidak memberitahukan detailnya untuk memberi kejutan pada Teja. Idenya ini muncul karena sering melihat anak laki-laki itu menaikkan tangannya layaknya Superman yang sedang terbang, tiap kali berada di dalam elevator.
Surya melirik ke arah putranya lagi. Ia merasa sangat bersyukur Varsha memberikan izinnya. Awalnya, ia bahkan tidak berharap untuk dibalas. Namun, siapa sangka bidadari hujannya malah meneleponnya langsung. Menyebutkan detail apa saja yang harus ia persiapkan sebelum dan selama bepergian dengan Teja.
Setelah kurang lebih dua jam, pasangan ayah dan anak itu pun tiba di tujuan. Surya menggandeng tangan Teja dan membawanya ke arah sekelompok orang yang memakai helm dan harness. Di sekitar mereka juga ada parasut berwarna-warni yang sedang beterbangan.
“Teja, mau coba terbang paralayang?”
“Mau! Mau!” jawab Teja cepat. Wajahnya berseri dan kepalanya mengangguk bersemangat.
__ADS_1
Surya tersenyum lebar melihat antusiasme anak laki-laki di sampingnya. Ia tahu kalau dirinya dan Teja memiliki sifat serta kebiasaan yang mirip. Tak disangka, kini mereka pun bisa berbagi hobi.
“Hei, Bro! Udah lama enggak ketemu!”
“Bosku! Ke mana aja?”
“Woi, Sur! Sibuk bener nih, sampai jarang kelihatan lagi.”
Surya cengar-cengir lalu memberikan tos pada semua temannya. Ia memang sudah cukup lama tidak beraktivitas bersama klub paralayangnya karena sibuk mengurusi Akasa Group. Ditambah lagi dengan persiapan peluncuran mobile game DRF beberapa waktu lalu. Membuatnya makin tak sempat menekuni hobinya itu.
“Wih, anakmu, Sur? Cakep bener. Pasti karena mamanya.”
“Ngawur. Mirip banget sama Surya begitu.”
“Siapa namanya, Dek?”
Surya melirik panik ke arah Teja. Ia lupa memperhitungkan hal ini sebelumnya. Tentu saja teman-temannya akan menanyakan identitas anak laki-laki yang ia bawa. Rasanya Surya ingin terjun langsung ke bawah menyadari kebodohannya.
“Namaku Teja, Om.”
Teja tersenyum lebar ke arah anggota klub paralayang di depannya. Seketika sensasi hangat pun merasuki hati Surya. Entah mengapa dia begitu terharu mendengar jawaban simpel putranya. Mungkin karena fakta bahwa Teja secara tidak langsung mengakui bahwa Surya adalah papanya.
Setelah berkenalan dan bercengkerama sejenak, keduanya pun akhirnya bersiap untuk terbang. Surya berjongkok di depan putranya lalu memasangkan harness ke tubuh kecilnya dan helm pelindung di kepalanya. Kemudian ia pun mengenakan perlengkapan yang sama.
“Ini payung cadangan. Untuk berjaga-jaga jika payung utamanya bermasalah,” jawab Surya.
“Dan ini GPS, agar posisi kita bisa selalu di pantau,” jelasnya lagi sambil menunjukkan benda pipih dengan bentuk seperti ponsel.
Teja mengangguk mengerti. Ia memperhatikan dengan saksama seluruh penjelasan dari Surya. Rupanya batas minimal usia untuk terbang paralayang solo di negeri adalah 14 tahun. Namun, untuk terbang tandem bisa dilakukan semuda 5 tahun. Biasanya dengan berat badan paling sedikit 25 kg.
Selain itu, tidak sembarang orang bisa terbang begitu saja. Apalagi untuk terbang tandem. Meskipun penumpang untuk terbang tandem bisa siapa saja, tidak begitu dengan instrukturnya. Pilot paralayang harus mengikuti pelatihan hingga lulus dan berlisensi sebelum akhirnya diizinkan terbang. Syukurlah papanya memenuhi persyaratan.
Tak lama kemudian, Surya dan Teja pun sudah berdiri di atas bukit. Jantung Teja berdebar kencang karena ia tak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Ada sedikit rasa takut namun jauh terkalahkan dengan semangatnya. Ia sudah tidak sabar lagi untuk berparalayang.
“Teja, siap?” teriak Surya dari belakang Teja.
“Siap!” seru Teja tak kalah lantang.
“Pada hitungan ke-tiga kita akan bersama-sama berlari kencang ke depan, oke?”
“Oke!” Teja mengacungkan jempolnya.
“Satu … dua … TIGA!”
Seketika keduanya berusaha berlari sekencang-kencangnya ke depan melawan angin. Setelah beberapa saat, kedua kaki Teja pun perlahan terangkat dari tanah. Pemandangan luar biasa terpapar di hadapannya.
__ADS_1
Teja menatap takjub sekelilingnya. Rasanya berbeda sekali melihat dari atas sini. Udaranya pun jauh lebih segar dan bersih.
“Bagaimana? Sudah merasa menjadi Superman?” tanya suara akrab di belakangnya.
Teja tertawa kecil. Rupanya ini yang dimaksud papanya dengan merasakan menjadi Superman. ”Iya. Terima kasih banyak, Om Surya. Ini benar-benar menyenangkan!”
“Dengan senang hati, Sayang.”
Keduanya pun mengagumi kebesaran alam di hadapan mereka. Mengucap syukur karena telah diberi kesempatan untuk bisa menikmati keindahan tersebut. Apalagi bersama dengan seseorang yang mereka sayangi.
Dan tentu saja, Surya juga tidak lupa membawa kamera untuk mengabadikan momen ini dengan putra tercintanya.
***
Teja menunggu di dalam mobil, sementara Surya memasukkan barang-barang ke dalam bagasi. Pria tampan itu tadi juga membeli stroberi dari petani sekitar untuk dibawa kembali sebagai oleh-oleh. Terutama untuk Varsha tentunya.
Teja yang bosan menanti, mengamati sekitarnya. Sejak awal, putra Varsha dan Surya itu memanglah anak yang penasaran. Ia terus memperhatikan dan menyentuh benda di dekatnya. Kemudian menekan beberapa tombol untuk mencari tahu apa kerjanya.
Sampai akhirnya Teja membuka laci dasbor mobil yang berada tepat di depannya. Di dalamnya ada sebuah kotak biru tua berdesain cantik dan elegan. Ia pun membuka kotak tersebut untuk melihat isinya.
Tampaklah sebuah cincin emas putih dengan hiasan batu berlian besar dan batu berlian kecil yang dibentuk seperti bunga matahari. Sementara pada bagian dalam cincin tersebut terlihat ukiran dengan huruf-huruf elok. Teja pun mendekatkan kedua matanya agar bisa membaca tulisannya.
Rain 🌧 & Sun ☀︎. Varsha & Surya.
Seketika anak laki-laki itu senyum-senyum sendiri. Ia melirik ke arah pria tampan yang kini sedang berpamitan dengan rekan-rekannya. Sepertinya Teja dan Surya akan membahas topik menarik dalam perjalanan pulang nanti.
***
Curcol Author:
Ahem, cie, cie, cie....
<3<3<3<3<3<3<3
Helo semua, semoga suka bab ini ya. Jangan lupa love, komen, jempol, dan hadiahnya ;D
Selamat beraktivitas dan semoga harimu menyenangkan!! :)
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1