
Hari ini seperti biasa, Surya sudah nangkring di dekat rumah Varsha dan Teja. Memperhatikan pasangan ibu dan anak itu berjalan keluar rumah menuju sekolah anak laki-laki tersebut. Ia berdiri agak jauh layaknya seorang pemuja rahasia … atau mungkin lebih cocok disebut penguntit. Memastikan agar dirinya tidak terlihat oleh keduanya.
Begitu Teja sampai di sekolahnya, Surya kemudian mengikuti Varsha hingga ke mini market tempatnya bekerja. Memarkir mobilnya lalu mengamati wanita cantik itu dari kejauhan sampai waktunya tiba untuk ke kantor.
Meskipun Surya sudah bertekad untuk terus berada di sisi Varsha dan Teja, kenyataannya tidaklah semudah mengucapkan di bibir. Ia sadar kalau dirinya telah melukai perasaan ibu dan anak itu. Menorehkan luka yang dalam di hati mereka.
Surya pun jadi tidak yakin bagaimana dirinya harus bersikap. Terlebih lagi terhadap Teja yang ternyata adalah putra kandungnya. Buah hati milik Varsha dan dirinya.
Rrrrrr ….
Rrrrrr ….
Surya mengecek ponselnya yang bergetar. Alarm yang ia pasang rupanya berbunyi. Surya pun menghela napas panjang. Kemudian sekali lagi menatap wanita cantik yang tampak sedang melayani pelanggan di mini market. Kelihatan sekali bahwa pria itu enggan berpisah dengannya.
Setelah pergumulan panjang dengan dirinya sendiri, Surya akhirnya berhasil melawan godaan untuk tetap tinggal di tempat. Pria itu pun pergi menuju Akasa Tower dengan berat hati. Pagi ini dia memiliki jadwal rapat penting dengan klien besarnya. Lagipula semakin ia cepat selesai, semakin cepat pula ia bisa kembali ke rutinitas favoritnya.
Mengamati Varsha dan Teja.
***
“Bagaimana kabarmu, Sur? Sudah sehat?”
Setelah selesai rapat, Axel tetap tinggal di ruangan untuk mengecek keadaan temannya. Ini pertama kalinya ia melihat Surya lagi setelah sekian lama. Ah, ralat. Sebab dirinya baru melihat Surya beberapa hari lalu mengantarkan bubur ke rumah Varsha.
Surya tersenyum. “Ya. Aku sudah baikan. Maaf, sudah membuatmu khawatir.”
“No worries,” respon Axel. “Yang penting kau sudah pulih.”
“Thanks, Bro.”
Axel dan Surya kemudian janjian dengan Dewa untuk bertemu di sebuah restoran. Ketiganya berencana untuk makan siang bersama. Kebetulan Dewa sudah memesankan spot di salah satu tempat yang sedang hits di ibu kota.
Kedatangan tiga pria tampan yang berjalan beriringan bersama memasuki restoran, serentak membuat kaum hawa tak kuasa menoleh. Entah berapa banyak pasang mata yang terus mengikuti ketiga sosok tersebut hingga mereka mencapai tempat duduknya.
Dewa memang sengaja memilih spot yang agak tersembunyi dari keramaian, agar mereka bisa leluasa berbicara. Sudah menjadi kebiasaan bagi anggota Keluarga Abhiyoga untuk berlaku seperti itu, demi menghindari gosip dan semacamnya.
“Kalian duduk manis saja, biar aku yang pesan,” ucap Dewa pada kedua pria di depannya. “Aku ahlinya di tempat ini.”
Surya dan Axel pun hanya manggut-manggut menurut. Ketiganya lalu berbincang bersama, membahas berbagai topik. Mulai dari bisnis hingga kenangan mereka bersama di Australia beberapa tahun lalu.
“Kau ingat dulu satu malam Axel pernah mengigau dan terus-menerus memanggil nama seorang gadis,” ledek Dewa. “Aku lupa siapa namanya, tapi kau benar-benar tampak sedih, Bro.”
Axel mendengus pelan. “Ya, entah mengapa malam itu aku merasa patah hati lagi.”
__ADS_1
“Terus bagaimana kehidupan cintamu sekarang?” tanya Dewa.
“Sudah ada gadis baru atau jangan-jangan justru cinta lama bersemi kembali?” timpal Surya.
Axel adalah yang paling muda di antara ketiganya. Meskipun begitu, Surya dan Dewa tidak pernah meragukan kepiawaian ataupun merendahkan kemampuannya dalam berbisnis sejak awal. Terbukti sekarang, Axel dengan cepat sukses meniti karirnya.
Namun, masalah kehidupan pribadi soal lain. Bagi Dewa dan Surya, Axel sudah seperti adik sendiri. Mereka seringkali saling menggoda dan meledek. Apalagi dengan status kejombloan masing-masing.
“Sebenarnya, aku baru-baru ini reuni lagi dengan gadis itu,” ungkap Axel malu-malu.
“Nice, Axel!” ujar Surya.
“Congrats, Bro!” ucap Dewa tak kalah antusias memberi selamat. “Wah, kita memanglah tiga serangkai. Bahkan kehidupan cinta kita bertiga saja berlayar di tahun yang sama.”
“Benarkah?” tanya Axel setengah tertawa.
“Yep. Pendekatanku lumayan berjalan mulus walau tentu saja ada beberapa tantangan,” papar Dewa. “Sementara Surya ... yah, sepupuku ini sedang berupaya keras,” lanjutnya lagi sambil menepuk pelan bahu Surya.
“Bahkan seorang Surya akhirnya menyerah juga dan menemukan seorang wanita, huh?” goda Axel.
Surya memang terkenal selalu fokus dengan karirnya tanpa membiarkan kaum hawa mendekatinya. Seperti yang sudah diketahui, ia bahkan sengaja memakai cincin di jari manis agar terhindar dari godaan dan rayuan para wanita yang mengincarnya. Seingat Axel, Surya hanya pernah memiliki rasa pada seseorang spesial dari masa lalunya namun ia tidak terlalu tahu detailnya.
Tiba-tiba memori Axel bermain kembali pada pagi hari di mana sosok pria ber-hoodie putih meletakkan bungkusan cokelat sedang di depan rumah Varsha. Kemudian pria misterius tersebut berjalan cepat kembali ke mobilnya. Menunjukkan profil samping wajah yang Axel kenali.
Seketika perasaan Axel menjadi tidak tenang. Mungkinkah ia dan Surya menyukai wanita yang sama?
“Ya,” jawab Axel. “Dia teman SMA-ku.”
“Wah, dunia benar-benar sempit,” celetuk Dewa. “Varsha adalah gadis misteri Surya. Wanita dari masa lalunya yang membuat Surya tak bisa berpaling ke yang lain.”
Tiba-tiba Axel merasa bagaikan disambar petir. Meski awalnya ia sudah memiliki kecurigaan, ia tak menyangka kalau firasatnya sepenuhnya benar. Pikiran Axel menjadi kacau balau. Kini ia berusaha mengingat memori saat Surya menceritakan tentang gadis misterinya beberapa tahun lalu. Namun tak satu pun terlintas di benaknya.
“Dunia memang sungguh kecil,” balas Axel akhirnya. “Bisa kau ceritakan padaku lagi bagaimana dirimu bisa bertemu dengan Varsha?”
“Hmmh …. Terlalu rumit dan panjang untuk diceritakan,” respon Surya. “Bagaimana jika kita jadikan itu topik di lain waktu?”
“Setidaknya beri tahu aku kapan kau pertama kali bertemu dengannya?” tanya Axel sambil berusaha menekan keras sebuah pikiran buruk ke balik benaknya.
“Lima tahun lalu.”
Axel mendadak merasakan dadanya bergemuruh kencang. Kedua tangannya mengepal keras. Sementara wajahnya semakin memerah.
“Apa kau bertemu Varsha di sebuah tempat wisata?” tanya Axel dengan wajah menunduk. Suaranya bergetar menahan amarah yang membuncah.
__ADS_1
“Komplek perkemahan di dekat tebing??” lanjutnya lagi. Nada suara Axel semakin naik.
“Ya. Bagaimana kau bisa ta-”
Bukk!
Seketika sebuah tinju keras menghantam wajah Surya. Tubuhnya sampai terpelanting jatuh ke lantai karena sama sekali tak menyangka akan mendapat serangan tiba-tiba. Pikirannya linglung. Bertanya-tanya mengapa temannya begitu emosi sampai memukulnya.
“Surya, kau pria berengsek!” maki Axel.
Kemudian pria itu berjalan menghampiri Surya, bersiap untuk mendaratkan tinju lain pada temannya. Namun mendadak sudah ada seseorang yang menahan tubuhnya.
“Apa yang kau lakukan, Axel?! Kepala Surya belum pulih benar! Kau bisa memperburuk kondisinya!” teriak Dewa berusaha menenangkan dan menyadarkan Axel.
“Lepaskan aku, Dewa! Sepupumu ini perlu dihajar!” ronta Axel berusaha melepaskan diri dari Dewa.
“Surya! Bagaimana kau bisa berjalan tegak dengan kelakuan biadabmu?! Bagaimana kau bisa hidup dengan nyaman saat kau menghancurkan hidup seorang gadis, huh?!!”
…
...
“Kenapa kau tega melakukan semua itu pada Varsha …”
***
Curcol Author:
No comment.
<3<3<3<3<3<3<3
Makasih semua yang sudah menyempatkan diri untuk mampir dan baca KAHM. Love you muach muach xD
Jangan lupa love, komen, dan jempolnya ya ;D
Semoga harimu menyenangkan.
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1