
Dua pemuda tampan terlihat duduk bersebelahan di lantai basemen dan bersandar pada temboknya. Ekspresi keduanya tak bisa dibaca. Baik Surya dan Dewa, sama-sama terdiam tak berbicara. Hanya bunyi napas mereka yang terdengar bersahut-sahutan di dalam ruangan.
“Kau tahu kalau awalnya mamaku seharusnya dijodohkan dengan papamu?”
Suara Dewa tiba-tiba memecahkan keheningan di antara mereka berdua. Surya pun menggeleng pelan merespon pertanyaan dari sepupunya. Hatinya seakan sudah kelu dan mati rasa.
“Mamaku adalah orang yang berambisi besar … begitu tahu bahwa ayahmu adalah anak kedua, mamaku langsung menolaknya,” lanjut Dewa lagi. “Ia hanya ingin dinikahkan dengan anak pertama.”
“Pikir mamaku dulu, anak pertama lah yang sudah pasti akan memimpin perusahaan menggantikan pendahulunya.”
Dewa mendengus kecil. “Ia sama sekali tak menyangka kalau kakek akan menunjuk penerusnya berdasarkan kemampuan dan akhirnya memilih ayahmu untuk memimpin Akasa Group.”
“Mamaku pun mau tak mau harus menelan pil pahit dan terpaksa menerima kenyataan.”
Dewa kembali terdiam. Sekejap kesunyian kembali menyapa dua sepupu sedarah itu. Pemuda di sebelah Surya lalu menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.
“Tetapi bukan berarti dirinya sudah menyerah ….”
Pria tampan itu memejamkan matanya dan menyadarkan kepalanya ke tembok. “Begitu mamaku melihat putra tunggalnya juga tak kalah unggul dari Bumi, ia merasa punya kesempatan lagi.”
“Ambisi besarnya pun akhirnya diarahkan … padaku.”
Dewa membuka matanya lalu tersenyum. “Lalu kau lahir dan segalanya berubah.”
Surya melirik sesaat ke arah sepupunya namun masih tak bergeming. Ia sama sekali tak ada tenaga ataupun niat untuk merespon Dewa.
“Adik kecil Bumi yang mamaku kira bukanlah ancaman, justru malah bersinar semakin cemerlang. Bahkan kemampuannya jauh melebihi kakak kandungnya dan kakak sepupunya.”
Dewa menghela napas panjang. Satu kakinya kini ia tekuk. Sementara tangan kanannya bertumpu ke atas lututnya.
“Mamaku kembali lagi dihadapkan pada tembok tinggi yang sulit didaki,” tutur pria tampan itu. “Akhirnya, ia pun berusaha belajar menerima kekalahannya.”
Sepupu Surya itu kemudian tersenyum. “Dan ia cukup berhasil melakukannya untuk waktu lama.”
Keheningan sekali lagi merasuki dua pemuda tampan itu. Sampai akhirnya Dewa menarik dan menekuk satu kakinya lagi. Kemudian kedua tangannya memeluk lututnya.
“Namun, tiba-tiba Bumi goyah …. Ia mulai minum-minum dan memakai obat-obatan ….”
Bola mata Surya perlahan berkaca-kaca mengenang memori itu. Ia menengadahkan kepalanya ke atas dan menghela napas. Berusaha menahan air matanya untuk tidak jatuh.
“Ditambah lagi kau pun juga mengikuti jejaknya ….”
“Dari sana, perlahan mamaku kembali lagi melihat celah kesempatan yang telah lama ia lupakan,” tambah Dewa kemudian.
__ADS_1
“Dan puncaknya adalah saat Om Bima tewas karena kecelakaan dan Tante Tara mengalami koma,” paparnya lagi. Indra penglihatannya kini juga dipenuhi air mata yang siap untuk keluar kapan saja.
“Karena kini satu-satunya penghalang ambisi besar mamaku untuk menguasai takhta Akasa Group hanyalah ….”
Setitik air mata mengalir pada wajah Dewa.
“… dirimu.”
Surya kembali menghela napas. Meskipun beberapa hari lalu, ia sudah tahu bahwa Tante Santika adalah dalang di balik dua kecelakaannya. Bukan berarti mudah baginya untuk menerima fakta tersebut.
Tante Santika yang ia kenal adalah mama Dewa yang selalu ramah dan lembut. Yang selalu membela dirinya dan sepupunya, dikala keduanya dimarahi oleh mama Surya. Siapa sangka keberadaannya justru merupakan duri dalam daging bagi tantenya itu.
“Ia pun menyuruh Raka untuk mengikutimu. Lalu saat kau berada di Tebing Purwa bersama Varsha, ia membuat rem mobilmu blong atas perintah mamaku.”
Ekspresi Dewa begitu sedih. Wajahnya sudah bersimbah air mata. Namun tak ada isak di sana, hanya tangis tertahan yang bisa dilihat.
“Meskipun saat itu ia gagal …. Mamaku sudah telanjur haus akan titel pewaris Akasa Group. Sebab ia pernah melihatnya dari dekat dan nyaris berhasil menggapainya.”
Pemuda itu menguburkan kepalanya ke dalam kedua tangannya yang dilipat di atas lutut.
“Untuk itulah ia bersabar menunggu, menanti saat yang tepat untuk menyingkirkanmu sekali lagi.”
“Syukurlah ia kembali gagal,” ucap Dewa dengan nada lega.
Tiba-tiba pria tampan itu merasakan ponselnya bergetar. Ia pun meraihnya dari saku celana. Kemudian membuka pesan yang baru masuk. Rupanya teks tersebut datang dari Raka. Mengabarkan bahwa mamanya telah tiba di bandara dan sekarang hanya perlu menunggu jet pribadinya mendarat untuk menjemput mereka.
“Maafkan aku, Surya. Tetapi aku akan tetap mengatakan pada pihak kepolisian bahwa akulah pelakunya,” ungkap Dewa.
“Kuharap kau menumpahkan segala kebencianmu padaku dan bisa menerimanya.”
Dewa lalu berjalan menuju tangga ke atas. Meninggalkan adik Bumi yang masih terduduk di lantai dan bersandar pada tembok. Namun, sebelum ia melangkahkan kakinya pada anak tangga pertama tiba-tiba sepupunya berbicara.
“Maafkan aku juga, Dewa,” ucap Surya. “Karena aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi.”
***
“Kau sudah menghubungi Dewa?”
Ibu Santika bertanya pada Raka. Wajahnya tampak sedikit pucat. Ekspresinya terlihat tegang dan khawatir.
“Sudah, Ibu Santika.”
Keduanya kini sedang berada di pinggir landasan lapangan terbang. Sedia menanti pesawat jet pribadi yang akan segera datang. Di sekitar mereka sudah tampak koper-koper besar yang siap diangkut ke dalamnya.
__ADS_1
“Apa kata putraku?” tanya Ibu Santika lagi.
“Urusan Pak Dewa memakan waktu yang lebih lama. Ia akan segera menyusul dengan penerbangan kedua menggunakan jet pribadi miliknya.”
Raka tak punya pilihan selain membohongi Ibu Santika atas permintaan Dewa. Tugas utamanya adalah memastikan agar wanita itu bisa meninggalkan tempat ini dengan aman dan selamat.
Dahi Ibu Santika tampak mengerut penuh kecurigaan. Namun, ia juga tahu kalau putranya memang sibuk. Bukan hal aneh bagi Dewa untuk menyusulnya dikala ia mengajukan liburan dadakan. Seketika keraguannya pun sirna.
Ibu Santika akhirnya mengangguk. “Baiklah.”
Tak lama kemudian, pesawat jet yang ditunggu-tunggu pun mulai tampak di langit malam. Lampu burung besi itu bersinar berkelap-kelip layaknya bintang jatuh yang meluncur kian mendekati landasan.
Dalam beberapa menit saja, jet pribadi tersebut telah sukses mendarat. Kemudian pilotnya memarkirkan pesawatnya tidak jauh dari tempat Ibu Santika dan Raka berdiri. Usai menanti beberapa saat, pintunya pun terbuka.
Akhirnya, keduanya berjalan mendekati kapal terbang tersebut. Pada tangan kanan dan kiri Raka terlihat dua koper besar yang diseret. Namun, tiba-tiba Ibu Santika dan pemuda itu berhenti.
Seorang wanita cantik berusia awal 50-an tampak menuruni anak tangga pesawat. Pembawaannya begitu anggun dan elegan. Tepat di belakangnya, seorang asisten perempuan mengikutinya dengan awas.
“Jika kalian pikir bisa meninggalkan tempat ini setelah berusaha mencelakai putraku ….”
Wanita anggun itu berjalan semakin mendekat. Ekspresi wajahnya tak bisa dibaca. Sementara matanya menatap tajam dua orang yang berada tak jauh di depannya.
“Kalian salah besar.”
***
Curcol Author:
Wohooo! Semangat tante!!
<3<3<3<3<3<3<3
Halo semua, semoga suka dengan bab ini ya :)
Jangan lupa terus dukung Author dengan memberi love, komen, jempol, hadiah, dan vote kalian ;D
Selamat menikmati detik-detik terakhir akhir pekanmu ;P
And sweet dreams!
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1