Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XLI. Tentang Mereka


__ADS_3

“Halo permisi, Kakak. Kami kebetulan ada produk kopi baru dari Akasa Food. Apa Kakak bersedia mencobanya?”


Tessa menggigit bibirnya, wajahnya terlihat sangat tegang. Sementara Dewa yang berdiri di sebelah wanita itu hanya tersenyum melihat ke arahnya. Keduanya kini sedang bersembunyi di balik rak gondola sambil mengamati seorang SPG menawarkan produk kopi pada pengunjung supermarket.


Hari ini Tessa dan Dewa memutuskan untuk melakukan riset pasar bersama. Setelah mendapatkan formula yang cocok, akhirnya kopi Tessa sudah siap diluncurkan. Namun sebelum memproduksi dalam jumlah besar, ia ingin melihat apakah para calon konsumen juga berpendapat sama dengannya.


“Hmm … enak rasa kopinya, Mba. Saya bisa ambil produknya di mana, ya?”


“Maaf, Kak. Kopi ini baru sampel,” respon SPG cantik tersebut. “Mohon ditunggu saja, Kak. Akasa Food akan segera meluncurkan produknya jika respon yang didapat positif.”


“Wah, harus banget ini, Mba. Salah satu kopi terenak yang pernah saya coba,” puji konsumen itu lagi. “Saya pasti akan menjadi pembelinya nanti.”


“Terima kasih banyak, Kakak.”


Seketika wajah tegang Tessa berubah menjadi berseri-seri. Dewa pun mendengus kecil melihat perubahan ekspresi yang begitu cepat dari wanita di sampingnya. Sejujurnya, Tessa benar-benar tidak perlu khawatir. Dewa yakin sekali bahwa kopinya akan populer dengan cepat.


Rasa kopi Tessa sangat sulit untuk dijelaskan jika tidak pernah mencobanya. Begitu berbeda dari yang lainnya, namun di saat yang sama juga terasa familier. Selain itu, juga ada aroma yang lekat dengan cita rasa negeri di sana.


Orang yang pernah sekali meminum kopi Tessa, pasti akan kembali lagi untuk yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Apalagi jika seseorang itu adalah penikmat kopi. Ia pasti takkan ingin melepaskan kenikmatan unik tersebut.


“Kurasa sudah cukup riset di sini. Mari kita ke tempat selanjutnya.”


Tessa mengernyitkan dahinya. “Memangnya Kak Dewa menaruh sampel kopinya di mana lagi?”


“Ikut saja pokoknya,” ujar Dewa sambil mendorong lembut punggung Tessa. Membawanya menuju ke pelataran parkir untuk mengambil mobil.


Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di depan sebuah bangunan besar. Rupanya Dewa membawa Tessa ke ACE atau Akasa Convention Exhibition. Tempat Festival Akasa Game diselenggarakan setiap tahunnya. Serta acara lainnya yang membutuhkan spasi luas seperti pameran, konser, dan sebagainya.


“Hari ini ada pameran buku akbar di sini. Jadi kupikir tempat ini cocok untuk riset pasar kita,” jelas Dewa. “Bagaimana menurutmu?”


“Pecinta buku dan kopi? Sempurna,” respon Tessa mengangguk setuju.


Keduanya pun masuk ke dalam ACE. Kemudian menuju ke stan sampel kopi Tessa yang terpasang dekat dengan stan produk Akasa Food lainnya. Sama seperti tadi, mereka mencari tempat yang cocok untuk mengawasi. Tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat.


“Dilihat dari pengamatan sebelumnya, perbedaan jumlah peminat versi kopi kaleng dan fresh coffee-nya tidak terlalu besar,” ujar Dewa.


Tessa tersenyum. “Ya. Rasanya usahaku berbulan-bulan kemarin jadi terbayar.”


“Sulit sekali menemukan formula yang tepat untuk versi kalengnya. Namun, setelah ratusan trial and error, akhirnya kudapatkan juga.”


“Luar biasa,” puji Dewa. “Kerja yang sangat bagus.”


Kemudian pria tampan itu tanpa sadar mengusap pelan kepala Tessa. Membuat wanita cantik tersebut seketika terpaku. Keduanya memang belum berbicara serius mengenai hubungan mereka. Namun, Dewa dan Tessa sudah jelas saling menyadari perasaan masing-masing.


“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya Tessa sambil menunduk. Berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.

__ADS_1


Sebenarnya Tessa bukanlah gadis yang pemalu. Ia bahkan seringkali disebut terlalu percaya diri. Namun di depan Sang Dewa Abhiyoga, entah mengapa seluruh arogansinya hilang. Yang tersisa hanyalah seorang gadis polos yang suka tersipu.


“Kurasa aku akan mencoba meluncurkan kopinya dengan dua macam vending machine,” jawab Dewa.


“Dua macam vending machine?”


Dewa mengangguk. “Pertama dengan vending machine yang menyediakan fresh coffee. Sementara yang kedua, vending machine minuman kaleng hangat.”


“Yang seperti di Jepang itu?” tanya Tessa lagi.


“Yep. Agar konsumen bisa langsung mengkonsumsi kopinya dalam keadaan hangat.”


Tessa pernah melihat vending machine fresh coffee di dalam mal-mal. Namun tidak dengan versi yang kedua. Sepertinya ide Dewa sangat menarik.


“Kita juga bisa meletakkannya di kantor-kantor atau acara-acara besar semacam ini,” usul Tessa. “Menyewakannya ke berbagai event seperti pernikahan, konser, acara ulang tahun, dan lain sebagainya.”


“Tepat sekali,” ujar Dewa sepakat. “Kopi vending machine bisa menjadi alternatif yang jauh lebih murah bagi para pecinta kopi. Tentunya dengan rasa yang tak kalah luar biasa dengan yang bisa didapat di kafe.”


“Tentu saja,” tegas Tessa. “Aku sangat percaya dengan ramuan kopi yang kuracik.”


Dewa tertawa kecil. “Kita memang pasangan yang serasi.”


Tessa yang awalnya menggebu-gebu percaya diri tiba-tiba jadi menunduk ciut lagi. Ia sedang mengulum senyumnya dan menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Sementara pria di sebelahnya justru sedang menikmati pemandangan tersebut dan ikut tersenyum.


***


Seorang pria tua berpakaian jas rapi menyambut Teja dengan antusias. Warna seluruh rambutnya didominasi putih dan abu-abu. Namun, perawakannya masih tegap dan gagah.


“Jangan bilang kalau Akasa Game telah menendangmu keluar. Karena Pria Tua ini akan dengan senang hati menyambutmu di Narendra Group,” tambahnya lagi sambil menyodorkan tangannya pada Teja.


Anak laki-laki itu pun menyambut tangan pria di depannya. Lalu menjabatnya dengan mantap. Kedua pipinya memerah dan mengeluarkan lesung pipit manis.


Terakhir kali ia bertemu dengan Putera Narendra adalah saat acara peluncuran mobile game DRF. Waktu itu, pemilik perusahaan IT dan computer security terbesar se-Asia Tenggara ini, juga terus memuji dan ingin merekrutnya.


“Sayangnya Akasa Game belum memecat Teja, Pak Putera,” jawab pria kecil itu malu-malu.


Kemudian Teja mengarahkan kedua tangannya pada rekan kerja di sampingnya. “Pak Putera, perkenalkan ini Tante Dania. Salah satu pengembang di Akasa Game juga.”


“Ah, mengapa Akasa Game selalu memiliki yang bagus-bagus,” gerutu Pak Putera tiba-tiba.


“Gadis ini merupakan pemenang kompetisi IT yang diselenggarakan Narendra Group beberapa tahun lalu,” jelasnya. “Pria Tua ini berusaha merekrutnya, tapi ia malah bergabung dengan Akasa Game.”


“Senang bertemu dengan Anda lagi, Pak Putera,” balas Dania sambil menjabat tangan pria tua di depannya.


“Baiklah,” kata Pak Putera akhirnya. “Tentunya dua bintang Akasa Game tidak mungkin datang kemari tanpa maksud tertentu, bukan?”

__ADS_1


“Ada yang bisa Pria Tua ini bantu?”


Teja dan Dania mengangguk. Kemudian gadis itu mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang dari dalam tasnya. Lalu ia menyerahkan boks tersebut pada Pak Putera.


Pria tua itu pun membuka tutup kotaknya dan melihat ke dalam. Sebuah kaca spion tengah mobil tergeletak di dalamnya. Seketika dahinya mengernyit.


“Kaca spion tersebut didapatkan dari mobil Pak Surya dari kecelakaannya lima tahun lalu. Sayangnya, microSD-nya hilang,” jelas Dania. “Namun, Teja berhasil mengenali signature Pak Putera pada spion itu.”


“Apa Pak Putera yang menciptakan kaca spion merangkap kamera black box ini?” tanya Teja memastikan.


Pak Putera terdiam sejenak namun akhirnya mengangguk. “Benar, akulah penciptanya.”


“Boleh Pria Tua ini tanya mengapa kalian ingin mengetahui hal tersebut?”


“Pak Surya merasa ada keanehan pada kecelakaannya lima tahun lalu,” jawab Dania. “Beliau juga curiga adanya keterkaitan dengan kejadian di Akasa Hotel.”


“Kami sudah berusaha meretasnya karena percaya bahwa black box ini dapat menyimpan rekaman beberapa jam terakhir sebelum mesinnya rusak total. Meskipun tanpa kartu memori,” tambah Teja lagi. “Namun, ada satu kode yang tak bisa kami pecahkan.”


Seketika wajah pimpinan Narendra Group berubah serius. Sejujurnya ia tidak berkata apa-apa lima tahun lalu, karena mendengar bahwa kecelakaan Surya kemungkinan disebabkan akibat menyetir di bawah pengaruh obat-obatan. Ia tak ingin semakin mempermalukan Surya dengan rekaman black box-nya.


Namun, kali ini berbeda. Kini Surya sendirilah yang justru meminta untuk memeriksa rekaman tersebut. Pemuda cerdas itu adalah anak dari sahabat baiknya, Bima Abhiyoga. Surya bahkan seringkali ia anggap sebagai putra kandungnya sendiri. Jadi tentu saja dia tak akan tinggal diam sekarang.


“Baiklah, Pria Tua ini mengerti,” respon Pak Putera akhirnya. “Mari kita mulai.”


***


Curcol Author:


Huhuhu, maafkan up-nya telat ya. Doakan supaya semedi Author lancar biar bisa up lagi hari ini hehe.


<3<3<3<3<3<3<3


Terima kasih sudah mampir di KAHM, semoga betah2 :)


Jangan lupa love, komen, jempol, dan hadiahnya ;D


Semoga harimu menyenangkan!


Nuhun~


- Bawang


 


 

__ADS_1


__ADS_2