Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
LII. Kabur (II)


__ADS_3

Surya dan Teja menatap refleksi mereka di depan cermin. Kini pria tampan itu tampak memakai kemeja pantai biru dengan motif pohon kelapa dan bawahan celana pendek berwarna oranye. Sementara anak laki-laki di sampingnya mengenakan baju putih tanpa lengan dan celana pendek bermotif sama dengan kemeja yang dipakai Surya.


“Hmm … not bad.”


“Iya. Teja juga lumayan suka.”


Keduanya serentak mengangguk-anggukkan kepala secara bersamaan. Menyetujui penampilan masing-masing yang mereka lihat di depan cermin. Kemudian saling melakukan tos dan akhirnya keluar dari ruang ganti pakaian.


Di luar sudah tampak Varsha, yang mengenakan gaun pantai panjang dengan hiasan garis vertikal putih dan oranye. Kain lemasnya dengan selaras mengikuti setiap gerak elok wanita cantik itu. Yang kini sedang berjalan menghampiri dua laki-laki di depannya.


“Kalian sudah siap?” tanya Varsha sambil tersenyum.


Surya menatap bidadari hujannya tanpa berkedip. Jantungnya kembali berdetak dengan cepat dan tak terkendali. Kalau begini terus, rasanya ia harus rutin pergi ke dokter, selain dari pemeriksaan berkala tahunannya.


“Iya, Mama,” jawab Teja.


“Kami siap, Varsha.”


Pemuda tampan itu lalu menawarkan lengannya pada kekasihnya. Sementara satu tangannya lagi menggandeng Teja. Varsha pun tersenyum dan mengaitkan tangannya di sana.


Usai membayar semua pakaian, ketiganya pun pergi meninggalkan toko. Kemudian memutuskan untuk langsung menuju restoran karena sudah jam makan malam. Mereka pun memilih seafood sebagai menu malam ini.


Surya memesan berbagai hidangan boga bahari untuk mereka santap. Ikan bakar, kerang dara rebus, kepiting saus padang, dan lain sebagainya. Mengisi penuh seluruh meja mereka dengan santapan lezat yang membuat perut semakin keroncongan.


Pria tampan itu kemudian memotong ikan bakar dan menyingkirkan semua durinya lalu memberikannya pada Teja dan Varsha. Ia pun juga melakukan hal yang sama dengan kerang dara dan kepiting saus padangnya. Membuka satu per satu cangkang keduanya lalu meniriskan isinya untuk kekasih dan buah hatinya.


“Terima kasih, Om Surya.”


“Terima kasih, Surya.”


Surya tersenyum mengangguk. “Sama-sama, Sayang.”


Usai memastikan piring-piring dua orang spesialnya terisi penuh dengan makanan, barulah ia mengambil bagian yang tersisa ke piringnya. Akhirnya, ketiganya pun menyantap makanan bersama. Sambil sesekali berbicara, mengenang kembali hari mereka tadi.


Tiba-tiba Surya merasakan ponselnya bergetar. Ia pun segera meraihnya dari saku celana. Setelah melihat nama yang tertera pada layar, ia pamit permisi sebentar untuk meninggalkan meja.


Varsha dan Teja menatap pria yang baru saja pergi menjauh ke luar restoran. Ekspresi tampannya tampak sangat serius saat berbicara di telepon. Sementara satu tangannya memijat-mijat pelipisnya.


“Mama ... apa kita membuat Om Surya dalam masalah?”


Varsha yang juga tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya hanya tersenyum simpul dan mengusap pelan kepala putranya. Kemudian mencoba mengalihkan perhatian Teja dengan menambahkan porsi kepiting ke atas piringnya. Yang tentu saja langsung disambut dengan suka cita oleh anak laki-laki tersebut.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Surya pun kembali ke meja mereka. Pemuda itu tampak tersenyum namun Varsha bisa merasakan ada yang disembunyikan di sana. Ia pun menatap pangeran mataharinya dengan raut wajah khawatir.


“Are you okay?” Varsha bertanya tanpa suara, takut Teja mendengar.


Surya mengangguk lalu membalas dengan gerakan mulut, “I’m okay.”


Usai menyantap habis seluruh hidangan di atas meja, ketiganya bersantai sejenak di sana. Menghabiskan es kelapa mereka, sambil menurunkan sisa-sisa makanan. Kemudian Surya tampak menggeser-geser layar ponselnya lalu menatap Varsha dan Teja.


“Kalian suka nonton, ‘kan?”


***


Teja dan Varsha menatap berbagai kendaraan yang terparkir rapi di sekeliling mobil mereka. Keduanya sedang berada di sebuah lapangan luas. Di hadapan mereka terdapat sebuah layar raksasa.


Pasangan ibu dan anak itu kini tengah menunggu Surya yang sedang keluar untuk membeli minuman dan camilan. Pria tampan itu rupanya membawa keduanya ke sebuah drive-in cinema. Tempat menonton bioskop di luar ruangan yang dinikmati melalui kendaraan masing-masing.


“Okay. Aku membeli tiga bungkus marshmallow untuk kita, satu air mineral untuk Varsha serta dua cokelat panas untukku dan Teja.” Surya baru saja datang dan mengoper semua belanjaannya pada pasangan ibu dan anak itu.


“Teja duduk di depan sama Om Surya, ya. Biar menontonnya lebih jelas.”


Anak laki-laki itu mengangguk dan menuruti papanya. Surya menggeser jok mobilnya ke belakang untuk memperluas ruang. Kemudian memangku putra kecilnya.


Pria tampan itu lalu menyetel radionya ke frekuensi yang telah diberikan oleh pegawai drive-in cinema. Rupanya audio film tersebut akan terintegrasi ke frekuensi radio mobil bukannya dengan outdoor speaker yang selama ini Varsha kira. Jadi, hanya mereka yang berada di dalam kendaraan yang bisa mendengarnya.


Surya lalu menoleh ke arah bidadari hujannya. Kemudian ia tersenyum sambil meraih tangan kanan wanita cantik itu dan menggenggamnya erat. Varsha pun turut meremas pelan tangan besar pria itu dan menunjukkan lesung pipit manisnya.


“Mama, lihat! Rumahnya terbang,” komentar Teja yang seru menonton.


“Iya, Sayang.”


Ketika Varsha kembali melirik pangeran mataharinya, pria tampan itu sudah tertidur lelap. Tangan kiri Surya masih menggenggam erat tangannya, sementara tangan kanannya memeluk Teja yang duduk di pangkuannya. Dadanya terlihat naik turun berirama.


Varsha tahu bahwa Surya sudah beberapa pekan terakhir ini, tak mendapat tidur yang cukup. Wajah pria itu tampak lelah dan ada sedikit lingkaran hitam samar di bawah matanya. Wanita cantik itu pun bersyukur setidaknya kekasihnya bisa beristirahat sejenak di tempat ini.


Setelah kurang lebih satu setengah jam, film pun berakhir. Surya membuka kedua matanya tepat saat halaman kredit film tampil pada layar. Kemudian Teja turun dari mobil dan kembali lagi duduk di kursi belakang.


“Siap pulang?” tanya pria tampan itu.


“Siap!” respon Teja.


Varsha mengangguk dan sedan mewah milik Surya pun meluncur pergi.

__ADS_1


***


Dalam perjalanan pulang Surya tak pernah melepaskan genggamannya pada Varsha. Kebetulan mobilnya bertransmisi otomatis, jadi ia tak perlu repot-repot mengganti persneling. Alhasil, tangan kirinya bisa dengan nyaman terus menyelimuti tangan bidadari hujannya.


Setibanya mereka di rumah Varsha, Teja sudah tertidur lelap di jok belakang. Wajar saja sebenarnya, karena malam sudah sangat larut. Ditambah lagi dengan aktivitas mereka hari ini yang cukup aktif dan padat, tentunya membuat putranya tepar kelelahan.


“Biar aku gendong dia masuk ke dalam,” ujar Surya pelan.


Varsha pun langsung mengangguk setuju. Ia juga tak tega membangunkan putranya. Kemudian Surya keluar dari mobil dan membuka pintu belakang. Perlahan ia memeluk putranya dan menggendongnya menuju rumah Varsha. Sementara wanita cantik itu menutup pintu mobil dan menguncinya.


Varsha lalu menggiring Surya masuk ke dalam hingga sampai di kamar Teja. Kemudian pria tampan itu meletakkan buah hatinya ke atas tempat tidur dengan perlahan dan hati-hati. Memastikan ia tidak terbangun.


Namun sebelum Surya pergi keluar dari kamarnya, anak laki-laki itu tiba-tiba berbicara layaknya sedang mengigau. Kedua matanya pun masih tampak terpejam. Surya akhirnya berjalan menghampiri putranya kembali, untuk mendengarkan lebih jelas racau Teja.


“Kenapa, Sayang?” Surya mendekatkan telinganya pada wajah putranya.


“... terima kasih ... Papa.”


Sontak seluruh lelah dan letih yang ia rasakan menumpuk selama berminggu-minggu lenyap begitu saja. Kehangatan manis menyelimuti hati Surya dan merangkulnya lembut. Sementara di saat bersamaan, ratusan kembang api cantik turut meledak-ledak juga di dalam tubuhnya. Membuatnya begitu bahagia dan bersemangat.


Pria tampan itu pun tersenyum dan mengecup kening putranya. Kemudian pamit pergi dari rumah Varsha dan Teja dengan energi membara. Tiba-tiba saja krisis Akasa Group tak serumit kelihatannya. Surya percaya ia bisa menghadapinya.


Ia harus membuktikan bahwa dirinya adalah seorang ayah yang bisa diandalkan.


***


Curcol Author;


AWWWWW selamat ya, Sur. Akhirnya XD


<3<3<3<3<3<3<3


Terima kasih semua reader KAHM, lope you all sekebon!


Jangan lupa terus dukung Author agar makin semangat dengan memberi love, like, jempol, hadiah, dan vote kalian ya ;D


Selamat mimpi indah!


Nuhun~


- Bawang

__ADS_1


 


 


__ADS_2