Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XV. Festival Akasa Game (I)


__ADS_3

Varsha mengerjakan soal ujian di depannya dengan cepat. Tangannya dengan lincah menuliskan kalimat demi kalimat jawaban. Tidak sia-sia Teja membantunya belajar dengan metode tanya-jawab semalam.


Hanya dalam waktu kurang dari sejam, Varsha sudah menyelesaikan seluruh pertanyaan. Ia pun segera mengumpulkan lembar jawabannya ke dosen pengawas. Kemudian wanita muda itu langsung menuju halte untuk naik bus menuju ACE.


ACE atau Akasa Convention Exhibition adalah tempat diselenggarakannya Festival Akasa Game yang diadakan setiap setahun sekali selama tiga hari. Kebetulan hari ini adalah hari penutupannya dan Varsha tidak mau melewatkannya. Ia baru sempat datang pada hari terakhir karena kesibukannya yang begitu padat.


Beberapa hari sebelumnya, Varsha mendapat banyak orderan asinan online untuk tiga acara. Ditambah lagi dengan tugas webtoon serta ujiannya. Kafe Tessa pun kemarin dipesan penuh untuk acara ulang tahun dan reuni. Seandainya Varsha bisa membelah diri seperti amoeba, dia pasti sudah melakukannya.


Varsha menatap hujan deras di depannya yang tampaknya takkan segera berhenti. Wanita cantik itu tidak membawa payung atau jas hujan, jadi ia putuskan untuk menerobosnya dengan berbekal tas di atas kepala. Varsha pun bergegas lari menuju gedung ACE yang jaraknya hanya sekitar 300 meter lagi.


Begitu sampai, Varsha langsung menuju stan tempat Teja bertugas. Putranya tampak serius mengerjakan sesuatu di depan sebuah laptop. Keningnya bahkan sampai berkerut. Varsha pun berjalan mendekati Teja dan duduk di dekatnya. Ia tidak mau mengganggu konsentrasi buah hatinya.


Tiba-tiba di sebelahnya ada sebuah tangan besar menyodorkan sebuah hoodie putih. Varsha pun menoleh ke sampingnya dan melihat Surya berdiri di sana. Pria tampan itu mengenakan kaus hitam pendek dan celana jeans dengan ikat pinggang, tampak simpel dan kasual.


Rambutnya terlihat berantakan sekaligus rapi seolah memang sengaja diatur seperti itu. Siapapun yang melihat Surya sekarang, takkan menduga bahwa dirinya adalah CEO dari perusahaan besar. Kalau boleh jujur, penampilannya saat ini lebih mirip seperti senior ganteng di kampus atau bahkan seorang idol atau model.


Surya berdeham pelan, berusaha memberi tanda pada Varsha dengan kedua matanya. Wanita cantik itu pun akhirnya menatap ke arah baju yang ia kenakan. Rupanya pakaian putihnya yang kebasahan hujan membuatnya menjadi agak tembus pandang. Pipi Varsha pun tiba-tiba memanas.


“Terima kasih, Pak Surya.” Ucap Varsha sambil cepat-cepat memakai hoodie putih milik Surya.


Surya mengangguk pelan lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk memberi privasi pada Varsha. Meskipun badan besarnya tetap berada di dekat Varsha, berusaha menutupi tubuh wanita cantik itu dari tatapan mata lainnya.


“Mama!”


Teja akhirnya menyadari Varsha sudah ada di dekatnya. Ia tersenyum lebar menunjukkan barisan gigi putihnya yang bolong-bolong menggemaskan. Varsha pun mengusap pelan kepala buah hatinya.


“Hai, Sayang.”


“Uhm, maaf Mama. Sepertinya Teja belum bisa menemani Mama berkeliling festival. Teja masih harus memperbaiki sistem game ini.” Ucap Teja.


“Tidak apa-apa, Sayang.” Kata Varsha tersenyum.


“Bagaimana kalau Om yang coba perbaiki?” Tanya Surya menawarkan.


“Hmm, walaupun itu tawaran yang menarik, Teja mau mengatasinya sendiri, Om Surya. Teja yang menciptakan coding ini, jadi Teja juga mau bertanggung jawab saat sistemnya eror.” Jelas Teja dengan sopan menolak tawaran Surya.

__ADS_1


“Sepertinya Om telah merekrut pengembang game yang luar biasa.” Puji Surya sambil mengusap kepala Teja seperti yang biasa dilakukan Varsha.


“Hehe.” Respon Teja dengan tawa kecil. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya.


“Bagaimana kalau Om Surya membantu dengan cara lain saja?”


“Siap.”


“Bagaimana kalau Om Surya menemani Mamaku keliling festival?”


“O… ke.” Jawab Surya ragu-ragu sambil melirik ke arah Varsha.


“Ah, tidak apa, Pak Surya. Saya duduk di sini saja bersama Teja.” Ujar Varsha cepat-cepat.


“Mama, festival ini luar biasa. Selain itu ada juga game yang Teja kembangkan sedang ditampilkan di sini. Teja ingin sekali Mama melihat dan mencobanya.” Ucap Teja dengan mata besar yang memelas ala Puss in Boots.


Varsha pun menghela napas lalu akhirnya mengangguk. Tak lama kemudian, Surya dan dirinya pun sudah berjalan berdampingan melihat-lihat festival. Dari belakang keduanya tampak seperti seorang pasangan muda yang sedang pergi berkencan.


***


“Pak Surya awas!”


Surya dan Varsha saling bertatapan lalu tertawa. Keduanya hampir saja mati dimangsa segerombolan mayat hidup. Saat ini mereka sedang memainkan game horor aksi bertema zombi.


Meskipun pada awalnya Surya dan Varsha merasa canggung, tembok es di antara keduanya semakin mencair setelah mencoba beberapa game bersama. Rupanya wanita cantik di sampingnya cukup kompetitif seperti dirinya. Jadi tak mengherankan kalau mereka berdua cocok.


Banyak sekali stan-stan game yang menarik untuk dicoba. Dari game sederhana sesimpel memasangkan blok sampai game 4D yang rumit dan canggih, semuanya ada. Selain itu, beberapa tempat juga menawarkan suvenir cantik khas Akasa Game. Varsha membeli gantungan ponsel dengan karakter cantik untuk Tessa dan satu gantungan kunci DRF untuk Bayu.


“Halo Kakak cantik dan Kakak ganteng. Mau coba game baru kami? Ini cocok banget lho buat couple.” Sapa salah seorang pegawai menawarkan.


Festival Akasa Game sangatlah besar sehingga mereka membutuhkan banyak karyawan, khusus untuk acara tahunan ini. Biasanya perusahaan akan merekrut mahasiswa atau pelajar SMK yang mempunyai latar pemrograman atau pengembangan game. Jadi cukup wajar jika sebagian besar pegawai di festival tidak mengenal Surya meskipun dia adalah CEO Akasa Game.


“Halo, Pak Surya.”


Salah satu karyawan yang lebih senior datang menghampiri mereka. Lalu ia menyenggol pelan pegawai ramah yang tadi menyapa Surya dan Varsha. Berusaha memberi sinyal bahwa Surya bukanlah pengunjung ‘biasa’.

__ADS_1


“Silakan Pak Surya. Silakan Kak.” Katanya kemudian.


“Terima kasih, Mila. Ini Varsha, Mamanya Teja.” Respon Surya tersenyum.


“Oh, wow. Halo Kak. Perkenalkan saya Mila.” Ucapnya menjabat tangan Varsha. “Teja adalah pengembang yang luar biasa. Sebuah kehormatan memiliki LittleCloudy di tim kami.” Tambahnya lagi sambil menggiring Varsha dan Surya ke dalam.


“Terima kasih. Teja juga senang sekali bisa menjadi bagian dari tim Akasa Game.” Ucap Varsha tersenyum.


Mila membawa mereka ke sebuah tempat kosong berspasi cukup luas. Kemudian memberikan Varsha dan Surya masing-masing sepasang headset dan controller. Lalu ia menerangkan bagaimana cara kerja game tersebut. Sebenarnya lebih ditujukan kepada Varsha daripada Surya.


“Ini merupakan game VR terbaru keluaran Akasa Game yang masih belum dirilis. Teja juga salah satu pendesainnya.” Tambah Surya.


Surya membantu memasangkan peralatan VR wanita cantik di sebelahnya. Kemudian ia mengecek lagi apakah semuanya telah terpakai dengan benar. Melihat Varsha yang siap beraksi membawa senyum ke wajah pria tampan itu.


“Selamat bermain, Varsha.” Ucap Surya lembut.


Tak lama, pria tampan itu pun menyusul Varsha masuk ke dalam dunia VR. Keduanya sedang berada di dalam sebuah gedung usang. Surya melihat karakter Varsha berjalan mengelilingi ruangan sambil sesekali berusaha menyentuh benda di sekitarnya. Wanita cantik itu merasa takjub dengan apa yang ia lihat. Varsha masih tak percaya bagaimana semuanya tampak begitu nyata.


Tiba-tiba seorang musuh melompat menerjang Varsha, dengan sigap Surya pun menembakkan pistolnya. Varsha mengucapkan terima kasih lalu kembali menjelajahi gedung. Sementara Surya mengikutinya dari belakang.


Begitu mereka tiba di atap gedung, sekumpulan musuh sudah siap menerjang. Surya dengan lincah menghindar dan balas menyerang. Dia melirik cepat ke arah Varsha dan melihat wanita cantik itu pun sudah mulai terbiasa dengan game VR ini. Varsha dengan lihai menembak semua musuh yang mendatanginya.


Tak butuh waktu lama bagi Varsha dan Surya untuk menghabisi lawan-lawan mereka. Dalam sekejap atap gedung sudah kembali tenang. Tubuh-tubuh musuh mereka terbaring di lantai. Keduanya pun saling memandang dan tersenyum lega.


Tiba-tiba gedung yang mereka pijak bergetar. Membawa Varsha semakin mendekati pinggiran atap gedung. Ketika Varsha kehilangan keseimbangannya, Surya secara refleks langsung menarik tangan wanita cantik itu ke arahnya. Namun karena tenaganya cukup kuat, Varsha pun jatuh ke pelukan Surya.


Dan layar pun mati.


***


Curcol Author:


Nah lo, nah lo, nah lo. Muehehehehe. Hihihihi <3


Semoga suka ya, guys. Jangan lupa love, komen, dan jempolnya ;D

__ADS_1


Nuhun\~


- Bawang


__ADS_2