Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
LXIV. Ekstra I: Tessa dan Dewa


__ADS_3

“Bagaimana kondisimu, Var? Sudah makan cukup hari ini? Vitaminnya sudah diminum? Atau sedang mengidam apa mungkin?”


Begitu Tessa tahu sahabatnya telah hamil lagi, dirinya pun langsung tak kalah heboh. Ia bergegas membeli berbagai buku tentang kehamilan, baju-baju hamil, serta segala macam peralatan yang dibutuhkan sahabatnya itu. Mungkin yang bisa menyaingi antusiasme Tessa hanyalah suami Varsha.


“Aku baik-baik saja, Tessa.” Tawa Varsha terdengar dari speaker phone Tessa.


“Kamu dan Surya ya, kadang suka lupa kalau ini bukanlah pengalaman pertamaku.”


Tessa tersenyum. “Tapi itu kan sudah delapan tahun lalu. Kami harus memastikan segala sesuatu yang ibu dan bayinya perlukan terpenuhi.”


“Baiklah, sahabatku yang cantik. Terima kasih, ya.”


“Dengan senang hati, Varsha,” respon Tessa tertawa kecil. “Aku sudah tidak sabar menantikan kehadiran ponakan keduaku, hihihi.”


“Sepertinya keponakanmu juga tak sabar untuk menemui Tantenya. Nih, dia baru saja menendangku.”


“Titip salam buat keponakanku ya, Bumil,” balas Tessa. Kemudian ia melirik jam yang terpasang pada dinding kamarnya. “Eh, enggak terasa sudah jam segini aja. Kamu sebaiknya beristirahat.”


“Oke, Tessa. Kamu juga selamat bobo, ya.”


“Sip. Good night!”


Begitu Varsha menutup teleponnya, tiba-tiba suasana sunyi kembali menyelimuti kamar tidur Tessa. Biasanya pada waktu begini lah, ia begitu merindukan kekasihnya. Saat malam, ketika semua aktivitas memadam.


Dewa kini sedang berada di Sydney, mengembangkan Akasa Food di sana. Jadi ada empat jam perbedaan waktu di antara mereka. Yang artinya juga, kekasihnya itu pasti sudah tidur sekarang. Tessa pun menghela napas panjang. Mengharap adanya keajaiban yang bisa mendatangkan kekasihnya sekarang.


Rrrr ….


Rrrr ….


Tessa tersentak saat tiba-tiba ponselnya bergetar di atas tempat tidur. Begitu melihat nama yang tertera di layar, ia seketika tersenyum lebar. Namun, ada sedikit kekhawatiran juga di sana, karena seharusnya baru pukul 02:00 pagi di Sydney.


“Halo, Sayang.”


“Halo, Kak Dewa,” balas Tessa. “Kok masih bangun? Apa ada sesuatu?”


“Ya … aku merindukanmu.”


Tessa pun tak kuasa menahan senyumnya. “Aku … juga.”


“Bagaimana kabarmu, Sayang?”


“Baik … dan sedikit lapar,” ujar Tessa.


“Lapar? Tepat sekali kalau begitu,” respon Dewa. “Ayo, kita cari makanan.”


“Bagaimana caranya?” tutur wanita cantik itu kembali tertawa.


“Caranya ya … kamu tinggal turun ke bawah dan menyapa kekasihmu.”


Tessa pun seketika terkejut dan berlari ke arah jendela. Begitu ia membuka tirai, tampak seorang pria tampan sedang bersandar di depan mobil, berdiri tepat di depan rumahnya. Lalu pemuda itu pun membentuk hati besar dengan kedua tangannya yang ia tekuk di atas kepala.


“Ayo, kita makan!”


***


“Selamat datang di Akasa Food Market!”


Seketika lampu di ruangan menyala terang. Menampakkan pasar swalayan yang luas dan kosong. Tanpa seorang pun atau kesibukan lain yang biasa dilihat di dalamnya.


“Boleh aku jujur, Kak Dewa?”


“Tentu saja, Sayang,” jawab Dewa. Satu tangannya masih menggandeng kekasihnya erat.


“Supermarket besar, saat larut malam dan di luar jam kerja … sedikit menakutkan.”


Dewa tertawa kecil lalu mendesah. “Benarkah?”


“Padahal aku meniru jurus ini dari Surya,” curhatnya. “Ia membawa Varsha mengelilingi tempat kerjanya dan keduanya memiliki kencan yang luar biasa.”


Tiba-tiba sebuah kecupan lembut mendarat di pipi Dewa. “Tentu saja kencan di mana pun bersama Kak Dewa tak akan terlupakan.”


“Ayo, Kak Dewa. Kita masuk,” ajak Tessa sambil memalingkan wajahnya. Berusaha untuk menyembunyikan rona merah pada kedua pipinya.

__ADS_1


Dewa tersenyum lebar menyadari tingkah manis kekasihnya itu. “Ayo!”


Pemuda itu mengambil sebuah troli besar dari jajaran panjang di bagian depan supermarket. Lalu menggendong Tessa yang meronta kaget, kemudian meletakkan tubuhnya dengan hati-hati ke dalam troli. Sementara wanita cantik itu memasang wajah bingung.


“Ini merupakan kursi VIP di Akasa Food Supermarket. Jadi Kekasihku, selamat menikmatinya.”


Tessa mendengkus berusaha menahan tawanya. “Baiklah. Sudah puluhan tahun aku tidak pernah duduk di atas troli. Kurasa akan menyenangkan.”


Dewa pun meluncurkan trolinya ke dalam, mendorong masuk kekasihnya menuju seksi makanan. Namun tiba-tiba pemuda itu berhenti. Seolah baru saja menyadari sesuatu.


“Kamu bisa masak, Tes?”


Tessa menggeleng pelan. “Yang membuat makanan di Private Cafe adalah juru masak, sementara aku menyediakan minumannya.”


“Kak Dewa … bisa masak?”


“Bisa kalau terpaksa,” jawab laki-laki itu dengan penuh percaya diri. Sementara kekasihnya sedikit meragukannya.


“Aku bisa makan mi gelas aja kok, Kak Dewa,” ujar Tessa. “Tinggal diseduh air panas, beres. Atau camilan juga oke banget.”


“Tenang saja,” tutur Dewa lagi, menenangkan wanita cantik itu. “Serahkan semuanya padaku.”


“Hmm … apa kamu suka spageti?”


“Yep.” Tessa mengangguk.


“Perfect.”


Pemuda itu pun meraih berbagai bumbu-bumbu dan bahan makanan yang diperlukan untuk memasak menu italia tersebut. Spageti pasta mentah, daging cincang, saus tomat, dan lain sebagainya. Mengopernya pada Tessa, sementara kekasihnya itu menyusunnya di dalam troli.


“Oke. Selanjutnya kita menuju seksi dapur,” kata Dewa setelah puas melihat semua bahan lengkap di dalam troli.


“Seksi dapur?”


“Ya. Kita masih memerlukan kompor portabel serta gasnya, lalu perkakas masak dan perlatan makan kita.”


Tessa pun sontak kaget. “Kita akan masak dan makan di sini?”


“Tentu saja. Ini ‘kan tur eksklusif Akasa Food Market.”


“Kamu yakin tak perlu kubantu, Kak Dewa?”


Dewa menggeleng. “Aku hanya ingin kamu duduk manis di depanku selagi menikmati pesona seorang chef tampan yang sedang memasak khusus untukmu.”


Tessa pun tak kuasa menahan senyum mendengar respon kekasihnya. Keduanya kini berada di sebuah kafe kecil di dalam supermarket. Dewa telah mengatur tatanan meja dan kursinya agar ia bisa masak tepat di hadapan wanita itu.


Setelah setengah jam penuh dengan proses memotong, merebus, menumis, dan menata dengan cantik di atas piring. Akhirnya dua porsi spaghetti bolognese tersaji apik di depan keduanya. Jika dilihat dari penampakannya, sepertinya cukup meyakinkan.


“Gimana?” tanya Dewa yang harap-harap cemas setelah Tessa mencicipinya.


Namun, kekasihnya tampak mengernyitkan dahi dan wajahnya suram. Seketika jantung pemuda itu pun mencelus. Meskipun ia hanya pernah memasak menu tersebut sesekali, dirinya cukup percaya diri dengan rasanya.


“Kalau tidak enak, tidak usah dipaksa, Sayang.”


Tiba-tiba Tessa mengulum bibirnya dan tersenyum lebar. “Justru ini enak sekali, Kak Dewa.”


“Kalau aku tidak melihat sendiri Kak Dewa yang memasaknya, mungkin aku tak akan percaya kalau pacarku ini yang buat.”


Sontak Dewa pun mencubit pelan pipi Tessa. “Kamu, yah! Makin sayang deh.”


Sepasang sejoli itu pun tertawa bersama lalu kembali melanjutkan makan. Sambil sesekali saling mencuri pandang dan tersenyum. Mereka begitu berbahagia bisa menghabiskan waktu berdua lagi.


Usai makan, pria tampan dan wanita cantik itu, pergi ke bagian seksi daging untuk meminjam tempat cucinya. Di sana, Tessa mulai menyiapkan sabun dan menyalakan keran, sementara Dewa turut membantunya tepat di belakang. Berdiri rapat seperti sedang berpelukan, sementara tangan mereka beradu mesra sembari membersihkan piring kotor.


“Sehabis ini aku punya kejutan untukmu,” bisik Dewa di telinga kekasihnya.


Tessa tersenyum. “Aku tak sabar menantikannya.”


Setelah memastikan semuanya sudah bersih, keduanya pun mengeringkan seluruhnya dan meniriskannya sesaat. Dewa kemudian menggandeng tangan Tessa untuk berjalan ke suatu tempat. Melangkah perlahan, seraya kekasihnya mengikuti pasrah di samping.


“Sebentar,” kata Dewa tiba-tiba berhenti. “Biarkan aku menutup kedua matamu dulu.”


“Boleh?”

__ADS_1


Tessa tersenyum mengangguk. Pemuda itu pun lalu membuka dasinya dan mengikatkannya pada wajah kekasihnya. Menutup mata cantik wanita pujaannya hingga ia tak lagi dapat melihat sekitarnya.


“Pegang tanganku,” ucap Dewa lirih.


Tessa pun menurut dan menggenggam tangan pemuda itu. Entah ke mana pria tersebut akan membawanya. Namun, ia mempercayakan seluruhnya pada kekasihnya.


Setelah sekitar lima menit yang terasa amat panjang, Dewa pun akhirnya membuka ikatan matanya. Cahaya terang pun langsung menyambar, membuat perempuan cantik itu mengedipkan matanya beberapa kali berusaha untuk beradaptasi.


Namun, begitu penglihatannya kembali dengan sempurna, ia sontak menangkupkan tangannya ke atas mulut. Tak percaya dengan pemandangan di depannya. “Kamu … sudah membuatnya ….”


“Maaf, butuh waktu tiga tahun untuk mewujudkannya,” ujar Dewa.


“Namun, vending machine kopi kaleng dan kopi fresh milikmu kini sudah siap untuk diluncurkan di publik,” ungkapnya lagi.


“Tepatnya malam ini, 5.000 unit vending machine mulai ditempatkan ke seluruh negeri.”


Tessa terdiam sesaat mendengarkan penjelasan Dewa lalu akhirnya menatap lekat-lekat pemuda itu seraya mengatakan, “Terima kasih, Sayang.”


Laki-laki itu tersenyum. “Dengan senang hati, Sayang.”


“Apa kamu mau mencobanya?” tanya Dewa menawarkan. “Bagaimana kalau vending machine kopi kaleng dulu?”


Tessa mengangguk bersemangat. Kemudian pria itu memberikan beberapa lembar uang pada wanita cantik itu. Lalu kekasihnya dengan antusias memasukkan uang tersebut ke dalam vending machine.


Seketika sekaleng kopi meluncur ke bawah. Tessa pun mengambilnya lalu meletakkannya ke sisi pipi. “Kopinya hangat.”


“Ya,” jawab Dewa. “Aku menambahkan fitur tersebut. Kuharap kamu tak keberatan.”


“Tentu saja tidak,” respon Tessa cepat. “Justru ini yang terbaik.”


“Syukurlah,” ucap Dewa lega. “Apa kamu siap mencoba vending machine fresh coffee-nya?”


“Of course.”


Wanita cantik itu kembali memasukkan uangnya dan menunggu. Mesin di dalamnya pun dengan canggih bekerja. Mengambil gelas kertas dan meletakkannya tepat di bawah tempat jatuhnya air kopi. Namun, tampaknya ada masalah pada vending machine tersebut. Sebab Tessa melihat bukanlah cairan cokelat yang keluar, melainkan sebuah benda asing.


Setelah mesin tersebut menyatakan bahwa sudah aman untuk mengeluarkan gelasnya, wanita cantik itu pun mengambilnya dari dalam. Kemudian sontak kaget saat melihat isinya. Kedua matanya membesar seraya menatap ke arah kekasihnya.


Dewa tersenyum dan menarik pelan gelas tersebut. Lalu mengeluarkan isinya yang rupanya sebuah cincin emas putih bertatahkan batu berlian. Kemudian pemuda itu menekuk salah satu lututnya.


“Kekasihku Tessa, sudikah kamu berbaik hati menerima lamaran pria ini dan menikahinya?”


Tessa mengulum bibirnya. Kedua matanya tampak sedikit berkaca-kaca, merasa terharu dengan apa yang baru saja dilihat dan didengarnya. “Apa kamu akan membetulkan vending machine ini nanti?”


Dewa tertawa kecil. “Ya. Tapi kurasa aku akan menaruhnya di rumah kita nanti sebagai kenang-kenangan.”


“Kalau begitu … aku bersedia.”


Pria itu pun berdiri lalu meraih wajah kekasihnya dan menciumnya lembut. Setelah nyaris empat tahun bersama, akhirnya keduanya meresmikan hubungan mereka. Dewa dan Tessa siap menempuh lembaran baru menyusul Surya dan Varsha.


***


Curcol Author:


Huhuhu ... akhirnya bisa membuat pasangan ini berbahagia. Author kini bisa makan dengan tenang #lho.


Maaf ya lama sekali penantiannya :((


Lagi super sibuk bgt di real life akhir pekan ini.


Semoga masih sabar menunggu untuk bab finale ^^;


<3<3<3<3<3<3<3


Jangan lupa untuk terus dukung author dengan memberi love, jempol, komen, hadiah, dan vote kalian ya ;D


Selamat malam dan semoga mimpi indah <3


Nuhun~


- Bawang


 

__ADS_1


 


__ADS_2