Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XXXV. Surya vs Axel


__ADS_3

Tempat biasa. Jam 7:00.


Surya membaca pesan Axel semalam kemudian langsung melesat menuju tempat yang dimaksud. Tujuan pria itu adalah sasana panjat tebing, tempat favorit Surya, Axel, dan Dewa untuk berolahraga. Sekaligus bertaruh dan berkompetisi agar lebih semangat melatih otot.


Begitu Surya sampai, Axel sudah berdiri di dekat tembok panjatan paling tinggi dengan harness dan tali. Tak lama, pria tampan itu pun mengenakan peralatan lengkap dan segera bergabung dengan temannya. Keduanya kini saling berdiri bersebelahan. Ini merupakan kali pertama mereka bertemu lagi setelah Axel meninju Surya di restoran.


“Semua permintaan pemenang dikabulkan,” ucap Axel singkat.


Surya mengangguk lalu Axel pun menghitung aba-aba mundur. Setelah hitungan ke-satu, keduanya langsung dengan lincah mendaki ke atas. Menggenggam batu demi batu pegangan menuju puncak.


Keduanya sedang beradu kecepatan dalam lead climbing. Dua orang belayer berada di bawah mereka. Memandang takjub dua pria bugar non atlet yang sangat tangkas memanjat tembok tinggi di depannya.


Belayer merupakan orang yang bertindak sebagai pengaman dalam lead climbing. Mereka akan mengawasi pemanjat dari bawah dan memegang kendali tali jika pemanjat jatuh. Lead climbing juga merupakan salah satu kategori panjat tebing selain dari bouldering dan speed climbing.


Axel melirik cepat ke arah Surya. Posisi rivalnya itu sedikit lebih ke atas dibandingkan dirinya. Semangat Axel pun semakin terbakar. Ia kerahkan seluruh tenaga, memaksa tiap otot agar bekerja lebih keras. Bagaimanapun juga dirinya harus menang.


Pagi ini Axel mengajak Surya berlomba panjat tebing memang karena dua alasan khusus. Beberapa hari lalu, Axel akhirnya mengetahui seluruh fakta mengenai hubungan Surya dan Varsha dari Tessa. Ia pun jadi merasa bersalah telah menghajar teman baiknya itu.


Sebab itulah dengan memakai kesempatan ini, dia akan meminta maaf pada Surya. Sementara satu alasan lagi … ia masih tidak tahu pasti bagaimana harus mengatakannya. Yang jelas ia ingin mengaku pada Surya dan menantangnya secara jantan sebagai rival cinta Varsha.


“Wah, pantesan teleponku tidak diangkat. Rupanya kalian berdua ada di sini.”


Teriakan Dewa memecah konsentrasi kedua pria atletis yang sedang mendaki. Axel dan Surya nyaris saja kehilangan keseimbangan mereka. Setelah keduanya berhasil mengontrol tubuh kembali, Axel dan Surya pun melanjutkan kompetisi. Tak ada satu pun yang mengindahkan Dewa di bawah.


“Kalian berdua tidak ke wisuda Varsha?” seru Dewa lagi dengan suara lebih keras.


“Tadinya aku mau mengajak Tessa kemari, tapi dia bilang hari ini akan ke wisuda Varsha di kampusnya.”


Akhirnya Dewa berhasil menarik perhatian kedua pemuda di atas. Serempak Axel dan Surya menoleh ke arahnya. Tiba-tiba saja persaingan dan taruhan terlupakan dari benak mereka. Surya bahkan sudah memberi tanda pada belayer-nya dan meluncur cepat ke bawah.


Axel pun tak mau kalah dan segera menyusul temannya. Keduanya langsung bergegas melepaskan perlengkapan panjat dari tubuh masing-masing. Sementara Dewa menatap mereka dengan keheranan.


“Thanks, Bro,” kata Surya pada sepupunya.


“Trims,” ujar Axel setelahnya.


Kemudian, dua pemuda tampan itu berlari menuju ruang ganti untuk bertukar pakaian. Axel secara kilat mengenakan pakaian dari tasnya dan melaju menuju tempat parkir. Namun, tiba-tiba saja sebuah mobil sedan biru gelap meluncur melewatinya.


Rupanya Surya sudah lebih dulu mengambil mobil dan meninggalkan sasana. Axel pun masuk ke dalam kendaraannya dan menyalakan mesin. Lalu ia memasukkan alamat kampus Varsha ke dalam GPS.


Axel terlalu banyak menghabiskan waktunya di Australia selama lima tahun terakhir, sehingga dirinya tak terlalu familier dengan jalanan di sini. Setelah selesai menyetel alat navigasi tersebut, ia pun meluncur mengejar Surya.


Baru beberapa saat Axel mengarahkan mobilnya ke jalan raya, ia sudah disambut dengan kemacetan yang luar biasa. Meski memang tidak begitu mengherankan karena sekarang adalah akhir pekan. Ia pun menghela napas panjang.

__ADS_1


Rivalnya mungkin sudah meliuk-liuk melewati jalan tikus rahasia demi menghindari kepadatan kendaraan yang menjemukan ini. Bagaimanapun juga, Surya lebih menguasai jalan di sini daripada dirinya.


“Dalam 100 meter ambil jalur kiri ….”


Setelah beberapa waktu yang terasa amat sangat panjang, Axel akhirnya membelokkan mobilnya ke pintu gerbang tol mengikuti petunjuk navigasi. Sebenarnya hampir semua jalan tampak berwarna kemerahan pada layar GPS, namun jalan layang di atas setidaknya menampilkan rona oranye cerah.


Tetapi dewi fortuna memang sedang tidak memihak pada Axel. Dia merasa tertipu dengan keterangan warna pada GPS-nya. Begitu memasuki jalan tol, seluruh kendaraan tampak padat merayap berjalan dan berhenti beriringan.


Tiba-tiba di sisi kanan Axel, tampak beberapa mobil berjajar saling berdempetan. Kepulan asap tipis menguap ke atas. Sementara orang-orang berdiri di sekitarnya. Beberapa saling memaki, sebagian panik, dan yang lainnya diam. Rupanya telah terjadi kecelakaan beruntun.


Samar-samar Axel bisa melihat sebuah kendaraan yang tampak akrab berada dalam barisan naas tersebut. Sebuah sedan mewah berwarna biru gelap. Pria itu pun membelalakkan matanya. Ia mengenalinya.


Itu mobil Surya.


***


Surya menghela napas. Merasa kesal mengapa ia bisa terjebak di dalam kekacauan di depannya. Seseorang menabrak mobilnya di jalan tol dan membuatnya ikut terdorong menghantam kendaraan di depannya. Yang sialnya sedang berhenti … karena bertumbukan juga.


Alhasil dia beserta kelima mobilnya lainnya terperangkap dalam tabrakan beruntun ini. Untungnya semua penumpang tampak baik-baik saja, tanpa ada korban kritis. Surya melirik jam tangannya. Ia tak punya waktu untuk meladeni semua pemilik mobil satu per satu.


“Mas, bagaimana ini? Mobil saya tertabrak mobil, Mas.” Seorang pria berusia awal 40-an menghampiri Surya. Mukanya tampak jengkel.


“Saya minta maaf sekali, Pak. Sebentar, biar saya hubungi asuransi saya.”


Sebenarnya itu bukan sepenuhnya kesalahan Surya. Namun biar terurus cepat, ia pun tak mau ambil pusing. Pria tampan itu pun merogoh saku celana dan mengambil ponselnya. Namun sebelum dia meletakkan benda pipih itu ke telinga, terdengar seseorang memanggil namanya. Surya pun menoleh ke arah sumber suara.


“Are you okay, Sur?” tanya Axel.


“I’m fine,” jawab Surya menganggukkan kepala.


Pria yang ditabrak Surya tadi menatap kedua pemuda tampan di depannya. Lalu berusaha memberi kode keras pada Surya untuk kembali fokus pada permasalahan mereka. Axel pun melirik ke arah pria tersebut.


“Maaf, Pak. Saya yang akan menyelesaikan masalah ini,” tutur Axel tegas namun lembut.


“Apa Bapak bisa menunggu sejenak? Saya akan bicara dengan teman saya sebentar lagi saja,” katanya kemudian sambil tersenyum menenangkan.


Axel memang sangat ahli dalam berbicara. Pria tadi yang awalnya bersungut-sungut jengkel seketika menjadi kalem dan bahkan bersedia bersabar menanti mereka. Tidak heran banyak klien besar yang berhasil digaet olehnya. Ia terlihat sangat bisa dipercaya dan dapat diandalkan.


“Maafkan aku, Surya,” ucap Axel setelah menarik teman baiknya agak menjauh dari lokasi tabrakan. Kedua matanya menatap Surya lekat-lekat dengan penuh kesungguhan.


“Aku sudah salah paham padamu sebelumnya,” lanjutnya lagi.


“No problem. Lagi pula kamu juga tidak salah.” Surya menunduk lalu tersenyum simpul. “Aku memang pria berengsek.”

__ADS_1


Axel kembali menatap teman baiknya. Tubuh Surya sedikit membungkuk. Ekspresi wajahnya menunjukkan penyesalan dan rasa bersalah. Seketika dada Axel berkecamuk. Dua kubu berlawanan masih saling mendebat dan terus berargumen di dalamnya. Sahabat atau cinta?


Setelah ia pikir-pikir lagi, pria di hadapannya pun sebenarnya juga merupakan korban dari permainan takdir. Baik Varsha dan Surya, sama-sama menderita karena terpisah dari orang yang dikasihinya. Jadi mengapa juga dirinya berusaha memaksa berada di antara kedua sejoli itu alih-alih menyatukan mereka?


“Biar aku saja yang urus di sini, Sur,” ujar Axel akhirnya sambil menyodorkan kunci mobil miliknya. “Kau bergegaslah ke wisuda Varsha.”


Surya menatap sahabatnya itu dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan. Rasa terima kasih, rasa bersalah, rasa tidak enak hati, rasa sesal, seluruhnya campur aduk menjadi satu. Setelah berhasil mendapatkan suaranya lagi Surya hanya bisa berkata, “Thank you.”


“Tapi sebagai gantinya kau harus menjanjikan sesuatu padaku.”


Axel menatap tajam ke arah Surya. “Jangan pernah melewatkan momen penting Varsha lagi.”


“Itu janji yang telah kubuat dengan diriku sendiri,” respon Surya membalas tatapan Axel tanpa gentar.


“Bagus,” ujar Axel puas. “Apalagi yang kau tunggu? Cepat pergi!”


Surya tersenyum lalu berlari kencang menuju tempat Axel memarkir mobil. Satu tangannya melambai pada teman baiknya sebagai ucapan selamat tinggal. Dalam hati ia bersyukur seseorang seperti Axel ada di dalam kehidupan Varsha dan dirinya.


***


Sementara itu malam sebelum hari wisuda Varsha.


Teja: Hmm ... kenapa rasanya aku melupakan sesuatu ...


Pagi-pagi sekali di hari wisuda Varsha.


Teja: Hmm ... rasanya aku benar-benar melupakan sesuatu yang penting. Apa ya ... Rasanya semua sudah diundang ....


Teja: Wah, mama kelihatan cantik sekali!


Curcol Author:


Akang Axel, masih ada author di sini kok bersedia memberimu kasih sayang ;D


<3<3<3<3<3<3<3


Jangan lupa love, komen, jempol, dan hadiahnya ya temen2.


Selamat malming UwU


Nuhun~


- Bawang

__ADS_1


 


 


__ADS_2