
“Gimana ceritanya Surya bisa ada di sini?”
Tessa berbisik pada Varsha yang duduk di sebelahnya. Entah apa yang terjadi saat Tessa sedang ke kamar mandi di kampus Varsha. Tiba-tiba saja sahabatnya itu mengatakan bahwa mereka akan makan siang di restoran yang telah dipesan oleh Surya.
“Sebenarnya … aku juga tidak mengerti,” jawab Varsha.
Surya, Tessa, dan Varsha beserta seluruh keluarganya kini sedang berada di sebuah rumah makan mewah berbintang Michelin. Gelar yang diberikan untuk restoran berkualitas tinggi dengan sajian yang istimewa. Bahkan cara peletakan sendok dan garpunya saja terlihat begitu anggun dan elegan.
Varsha membuka menu makanan dan menghela napas panjang. Tentu saja si Tuan Muda Abhiyoga akan membawa mereka semua ke tempat elite dengan harga selangit. Tiba-tiba sebuah tangan merebut buku menu yang ada di tangan wanita cantik itu dan menutupnya.
Varsha refleks menengadahkan kepalanya ke atas dan langsung disambut dengan senyum manis Surya. Kemudian pria itu menyerahkan buku tersebut pada pelayan di dekatnya sebelum ia duduk lagi di sebelah Teja. Seolah tak mau wanita cantik itu tahu lebih jauh mengenai harga jamuan mereka siang ini.
Tak lama kemudian, piring-piring makanan pun berdatangan. Mengisi penuh hingga ke setiap sudut meja tanpa meninggalkan spasi. Segala jenis daging dan sayuran dengan berbagai olahan bisa dilihat di sana.
“Bu, udangnya gede bener, ya?”
“Itu namanya lobster.”
“Dagingnya kok kayak masih merah-merah gitu, sih. Mentah iki, Pak.”
“Ck, ck, ck. Moso ndak tahu. Itu namanya dimasak medium rare.”
Berbagai macam komentar dan percakapan pun memenuhi meja. Namun setelah beberapa saat, hampir semuanya tak bersuara lagi. Sibuk menikmati hidangan lezat di hadapan mereka.
Melihat bagaimana sanak saudaranya menikmati sajian yang dipesankan Surya, membawa kehangatan di hati Varsha. Wanita cantik itu pun melirik ke arah pria tampan di samping kanannya. Teja duduk di antara mereka berdua.
Namun, Surya yang dilihat Varsha kini sedang memijat keningnya. Wajah pria tampan itu tampak sedikit pucat. Tiba-tiba saja hatinya terasa ngilu melihat pemandangan tersebut. Merasa khawatir jika Surya belum sepenuhnya pulih dari kecelakaannya beberapa minggu lalu.
Pria yang dilirik Varsha mendadak bergidik. Merasa seperti ada yang terus mengawasinya. Tetapi saat ia mengecek bahwa sepasang mata yang memperhatikannya adalah milik bidadari hujannya, segala sakit pun terlupakan. Sebuah senyum tersungging ke wanita cantik itu secara otomatis.
Tak terasa waktu pun berlalu begitu cepat. Piring-piring indah yang awalnya terisi penuh dengan berbagai macam menu kini ludes habis. Perut-perut yang sebelumnya kosong juga telah dimuati seluruhnya dengan makanan.
“Terima kasih banyak, Mas Surya. Makanannya enak sekali.”
“Iya, Mas Surya. Sering-sering aja, hehe.”
“Bintang lima pokoknya Mas Surya. Top markotop, deh.”
Mendengar pujian dari adik-adik sepupu Varsha, Surya mengangguk dan tersenyum. Kemudian ia berdiri lalu pamit untuk keluar sejenak. Pria tampan itu rupanya menuju kasir dan meninggalkan black card miliknya di sana.
Kemudian ia bergegas menuju toilet restoran. Entah mengapa kepalanya terasa semakin nyeri dan terus berputar. Ia menebak kemungkinan itu efek dari kecelakaan beruntun tadi. Kepalanya tidak terbentur tetapi ia lumayan terdorong cukup keras ke depan.
Namun sebelum mencapai kamar kecil, tiba-tiba saja Surya tak dapat mengontrol tubuhnya. Ia kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke samping. Seketika dua tangan menangkap lengannya dan berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
“Varsha,” bisik Surya lembut kemudian tersenyum.
__ADS_1
Namun Varsha tidak membalas senyuman pria tampan itu. Ekspresi wajahnya mengkerut dan penuh kekhawatiran. Sambil berupaya keras menopang badan besar Surya dengan tubuhnya yang lebih kecil.
“Ada apa denganmu? Apa kamu masih sakit?” tanya Varsha lirih.
Surya yang ditanya dalam posisi sedekat itu malah terdiam terpaku. Mengagumi kecantikan bidadari hujannya yang paripurna. Kedua bola mata besarnya, lalu bulu mata lentiknya yang memayungi, kemudian bibirnya yang merah merekah….
“Surya!” desis Varsha lebih keras.
Pria tampan itu menggeleng dan berdiri tegap kembali. “Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja. Hanya tersandung sedikit.”
“Terima kasih sudah menangkapku sebelum terjatuh,” lanjutnya lagi.
Jika Surya menganggap bisa membohongi Varsha dengan mulut manisnya, ia salah besar. Memang pada rupa tampannya masih terhias senyum elok yang mampu membuat para kaum hawa lemas. Namun wajahnya terlihat pucat dan beberapa tetes keringat dingin pun tampak di sana.
Surya sebenarnya juga merasakan bahwa Varsha tidak mempercayai jawabannya. Itulah sebabnya dia langsung cepat-cepat berjalan kembali ke kasir. Beralasan ingin mengambil kartu kreditnya yang ditinggal di sana. Ia tidak mau membuat bidadari hujannya cemas.
Varsha pun berdiri mematung menatap punggung besar Surya yang semakin hilang di kejauhan. Ia tahu kalau pria tampan itu berusaha kabur darinya. Kemungkinan takut akan dicecar dengan berbagai pertanyaan.
Wanita cantik itu lalu berjalan kembali ke mejanya. Duduk di antara Tessa dan Teja. Kemudian tangannya menyenggol pelan sahabatnya di samping.
“Tampaknya Surya belum sepenuhnya pulih,” ujar Varsha pelan, takut Teja mendengarnya.
“Tadi dia bahkan kehilangan keseimbangannya dan nyaris terjatuh,” tambahnya lagi.
“For real?” respon Tessa terkejut. “Perlukah kita membawanya ke rumah sakit?”
“Ya, dia pasti tak ingin tampak lemah di hadapanmu.” Tessa mengangguk setuju. “Lalu apa rencanamu?”
“Aku tak bisa membiarkannya menyetir pulang dalam kondisi seperti itu,” jawab Varsha. “Setidaknya aku akan mengantarkan dan memastikan ia sampai di rumah dalam keadaan utuh … tapi-”
“Tapi apalagi?” potong Tessa cepat. Kemudian ia meremas pelan tangan sahabatnya.
“Kau tidak usah khawatir. Aku juga akan memastikan seluruh keluargamu sampai di rumah mereka masing-masing dengan selamat.”
Varsha memandang Tessa dengan ekspresi sangat berterima kasih. Ia tak pernah berhenti bersyukur telah dikaruniai sahabat seperti Tessa yang selalu ada untuknya. Tak hanya dalam suka bahkan dalam banyak duka. Selalu hadir dan tak pernah absen.
“Terima kasih, Tes.”
“Sama-sama, Cantik,” jawab Tessa yang langsung memeluk erat sahabatnya. “Sekali lagi happy graduation, ya.”
Varsha tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada anak laki-laki yang duduk di sebelah. Ia juga perlu menjelaskan pada Teja agar putranya itu tidak cemas. Namun sebelum Varsha hendak memanggil, pangeran kecilnya sudah terlebih dahulu menghadap ke arahnya.
“Teja juga akan menjaga semuanya sampai tiba di rumah dengan selamat, Ma. Jadi Mama juga jaga Om Surya supaya tidak sakit, ya.”
Rupanya, buah hati Varsha sejak tadi mendengarkan perbincangan dia dengan Tessa. Ibu muda itu pun mengangguk lalu mengusap pelan kepala buah hatinya. Tak lama kemudian, pria tampan yang jadi topik pembicaraan pun kembali bergabung di meja.
__ADS_1
Setelah mengucapkan terima kasih dan saling berpamitan, seluruh keluarga Varsha masuk kembali ke dalam dua angkot yang sengaja dipesan untuk pergi menghadiri acara wisudanya. Varsha juga menitipkan Teja pada Bayu dan Bude Woro, sekaligus meminta izin padanya untuk mengantarkan Surya pulang.
Sebenarnya Bude Woro memiliki banyak pertanyaan untuk keponakan ayunya itu. Terutama mengenai Surya yang melindungi cucunya dari kecelakaan di Akasa Hotel. Namun ia berusaha menahannya, setidaknya untuk sekarang. Akhirnya Bude Woro pun mengangguk dan memberi izin.
Surya menatap ke arah Varsha yang sedang mengantarkan pakde dan budenya ke mobil Tessa. Melihat banyaknya anggota keluarga yang dimiliki oleh bidadari hujannya, ia merasa lega dan juga sedikit iri.
Lega karena artinya banyak yang menemani Varsha selama hidupnya dan iri karena Surya juga menginginkan hal yang sama. Sebuah keluarga lengkap dan harmonis. Kemudian pria itu tersenyum kecil. Jika dia berusaha keras, mungkin dia bisa memulainya dengan Varsha dan Teja.
Pria tampan itu pun mengawasi hingga dua angkot dan mobil Tessa pergi. Ekspresinya sedih karena harus berpisah dengan buah hati dan bidadari hujannya. Namun siapa sangka Varsha rupanya masih ada di sana.
Surya sedikit terkejut melihat pujaan hatinya sedang menatap ke arahnya dan berjalan mendekat. Kemudian wanita cantik itu berhenti dan berdiri tepat di depannya. Satu tangannya naik ke atas, seakan hendak meminta sesuatu.
“Berikan aku kunci mobilmu,” ucap Varsha singkat.
“Baiklah,” jawab Surya tersenyum. “Boleh kutahu untuk apa?”
“Aku akan mengantarmu pulang.”
***
Curcol Author:
Author: Sur, girang pasti kamu ya!
Surya: hehehhehehehhehe
Author: Jangan lupa traktir Author juga loh.
Surya: Siap, Thor! Ntar kita janjian di warteg pojokan ya.
Author: Asem, pernah liat sendal terbang ga, Sur?
<3<3<3<3<3<3<3
Halo terima kasih sudah singgah di KAHM. Lope yu!
Jangan lupa terus kasih love, komen, jempol, dan hadiah ya ;D
Semoga harimu menyenangkan dan selamat beraktivitas :)
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1