Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
VI. Hari Awan


__ADS_3

“Terima kasih, Ibu dan Adik kecil. Selamat menikmati dan harap datang kembali.”


Teja memberikan pesanan asinan kepada seorang ibu dan anaknya yang sedang membeli. Ia baru saja selesai melayani lima pelanggan berturut-turut yang datang ke warung asinan kecil milik Pakde Marta dan Bude Woro.


“Terima kasih. Pintar sekali cucunya, Pak, Bu.” Ucap pembeli tersebut kepada Pakde Marta dan Bude Woro.


Pakde Marta dan Bude Woro tersenyum. Teja, cucu mereka memang mirip sekali dengan mamanya. Pintar, ramah dan rajin membantu. Karena Varsha sedang lembur bekerja di studio bosnya mengejar deadline komik online dan Bayu masih kuliah, Teja dititipkan sebentar pada Pakde Marta dan Bude Woro.


Bude Woro mengelus kepala Teja, cucu tersayangnya. “Teja tidak capek?”


“Enggak, Eyang.”Jawab Teja.


“Tugas-tugasmu sudah dikerjakan semua?” Kali ini Pakde Marta yang bertanya.


“Sudah dong, Eyang.” Jawab Teja lagi sambil tersenyum menaikkan jempol kanannya.


“Pintar sekali cucu Eyang.”


“Hehe.” Teja tertawa kecil.


Melihat tidak ada lagi pembeli, Teja mengambil sebuah buku dari dalam tasnya dan mulai membaca. Bude Woro menggeleng-gelengkan kepalanya melihat cucunya yang berusia empat tahun itu membaca buku tebal dengan tulisan kecil-kecil. Walau tidak asing dengan pemandangan ini, Bude Woro selalu takjub tiap kalinya.


“Tejaaaaa…”


Tiba-tiba dari luar warung terdengar suara Varsha memanggil Teja yang sedang fokus membaca bukunya. Varsha baru saja datang dari tempat kerjanya. Di tangannya ada sebungkus marshmallow dan satu plastik putih.


“Pakde Marta, Bude Woro.”


Varsha masuk ke warung kecil itu dan mencium tangan Pakde dan Budenya. Kemudian ia menyerahkan plastik putih tersebut pada Bude Woro.


“Ada dua gelas cendol di dalam Bude.” Kata Varsha.


“Ealah. Terima kasih, Ndok.” Ucap Bude Woro sambil menyajikan gelas satunya untuk Pakde Marta.


“Kamu baru pulang dari studionya Mario?” Tanya Bude Woro.


“Iya, Bude.”


“Gimana kerjaan dan kuliahmu, Var?” Tanya Pakde Marta.


“Baik-baik saja, Pakde.”


“Komik online yang dikerjakan Mama selalu jadi karya top 10 di platform, Eyang. Dan nilai Mama semuanya A.” Ucap Teja tiba-tiba menimpali.


“Luar biasa keponakan Pakde dan Bude ini ya.”


“Itu karena cerita komik online yang Om Mario buat juga sangat menarik.” Respon Varsha.


“Dan karena Mama enggak mau kalah dari Teja yang nilainya selalu bagus.” Tambahnya lagi sambil mengetuk sayang hidung buah hatinya dengan satu jari.


“Hehe.”


Wajah Teja memerah. Ia hanya bisa merespon dengan tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Karena hari sudah semakin sore, Varsha dan Teja akhirnya pamit pulang pada Pakde Marta dan Bude Woro. Mereka berdua berjalan menuju ke rumah. Jaraknya hanya sekitar lima belas menit berjalan kaki dari warung asinan.


Di perjalanan, Teja melirik sebungkus marshmallow yang dipegang mamanya. Tiap kali mamanya harus bekerja lembur atau pulang terlambat karena mengerjakan tugas kuliah atau hal lainnya, Ia pasti selalu tidak lupa untuk membawa pulang sebungkus marshmallow untuk Teja.


Melihat ekspresi wajah putra kecilnya yang begitu berseri-seri melihat sebungkus marshmallow, Varsha berusaha menahan senyum. Akhirnya dia pun menyenggol pelan buah hatinya.


“Teja mau makan marshmallownya sekarang, Nak?” Tanya Varsha tiba-tiba.


Teja tampak berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya. “Nanti saja Mama, habis makan malam.”


“Pintar sekali anak Mama.” Ucap Varsha tersenyum sambil mengelus kepala Teja.


Keduanya pun berjalan riang menuju ke rumah.


***

__ADS_1


Teja membuka bungkusan marshmallow-nya lalu duduk di teras depan rumah. Ia baru saja selesai makan malam bersama mamanya dan Om Bayu. Sehabis pulang tadi, mamanya harus masak terlebih dahulu dan baru sempat mandi sekarang. Sementara Om Bayu sedang mencuci piring di dapur.


Sensasi manis yang akrab menyapa Teja begitu dia memasukkan satu marshmallow ke dalam mulutnya. Sejak pertama kali ia mencoba camilan awan putih kenyal ini, Ia langsung menyukainya. Padahal ia bukan penggemar makanan manis lainnya.


“Teja?” Suara mamanya terdengar dari dalam rumah memanggilnya.


“Iya Mama.”


Teja menyembulkan kepalanya ke pintu depan. Varsha tersenyum melihat buah hatinya. Kemudian Ia pun menuju ke teras dan bergabung dengan putranya duduk di sana.


“Teja… mau menerima tawaran dari Akasa Game?” Tanya Varsha tiba-tiba pada Teja.


Akhirnya pertanyaan itu bisa terlontar dari mulut Varsha. Sebenarnya sudah dua hari ini ia berusaha menghindari topik tersebut. Ia masih harus mempersiapkan dirinya.


Namun beberapa pesan teks terakhir Surya yang terus menyebutkan keandalan dan kelebihan Teja membuatnya goyah. Ia tidak mau menjadi orang yang menghalangi kesuksesan putranya.


“Hmm..” Teja berpikir sejenak. “Bagaimana kalau kita bikin daftar pro dan kontranya, Mama?”


Tiap kali Varsha sedang bimbang dalam memutuskan sesuatu, ia selalu membuat daftar pro dan kontra. Dan kebiasaan itu juga menurun pada Teja. Keduanya akan berdiskusi lalu menimbang untuk memutuskan hasil terbaik.


“Boleh.” Varsha akhirnya mengangguk.


“Sebentar ya Mama.”


Kata Teja yang segera melesat masuk ke dalam rumah. Tak lama, dia datang membawa sebuah buku dan pulpen. Kemudian ia kembali duduk di sebelah mamanya.


“Mulai dari pro dulu?” Tanya Teja yang direspon dengan anggukan kepala dari Varsha.


“Daftar pro pertama. Gaji yang ditawarkan besar...” Ucap Teja dengan suara yang semakin lama semakin pelan.


Varsha tertawa kecil. Ia tahu putra kecilnya masih merasa bersalah karena tidak memberitahu dirinya sejak awal bahwa ia bekerja sebagai game tester untuk membantu membayar biaya hidup mereka.


“Benar. Penghasilan yang ditawarkan memang besar. Sangat besar malah.”


Ucap Varsha akhirnya mengangguk setuju sambil menyentil sayang dahi buah hatinya. Teja menahan senyum lalu mulai menuliskan alasan pertama di tabel pro yang sudah ia buat di bukunya.


“Kedua. Mendapatkan pelatihan dan pelajaran langsung dari salah satu Game Developer berskala internasional.” Kata Teja mantap.


Namun itu juga yang menjadi alasan utama Varsha menunda-nunda mendiskusikan tawaran Akasa Game dengan Teja. Ia masih merasa berat ‘membagi’ Teja dengan seseorang. Varsha takut putra kecilnya akan terlalu terikat dan dekat dengan Surya.


“Alasan yang bagus.” Kata Varsha menyetujui dengan berat hati.


Teja tersenyum lalu kembali memasukkan alasan keduanya ke dalam tabel pro.


“Ketiga. Mendapatkan beasiswa penuh sampai perguruan tinggi dari Akasa Foundation.” Ucap Teja.


“Bahkan Teja boleh memilih sekolah mana saja yang Teja inginkan asalkan nilainya memenuhi persyaratan untuk masuk.” Tambahnya lagi.


“Rasanya Mama tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, kan?” Ledek Varsha.


“Tentu saja. Teja kan pintar seperti Mama.” Jawab Teja tanpa ragu. Lalu ia tambahkan alasan tadi ke tabelnya.


Varsha tertawa kecil sambil mengelus kepala putranya. Lesung pipit pada kedua pipi wanita muda cantik itu muncul. Meski baru berusia empat tahun, putra kecilnya ini sudah tahu benar caranya memuji.


“Selanjutnya. Alasan keempat… Mama tidak perlu khawatir lagi menitipkan Teja dengan siapa sehabis pulang sekolah.” Kata Teja sambil menyengir manis.


Varsha menggeleng-gelengkan kepalanya. Sejujurnya apa yang dikatakan Teja benar. Ia selalu merasa tidak enak hati pada Pakde, Bude, Paklik, dan Buliknya tiap kali menitipkan Teja pada mereka. Meskipun semuanya selalu bilang tidak apa, Varsha tetap saja akan merasa ia telah merepotkan mereka.


“Kamu ini ya...” Varsha tersenyum sambil menyentil sayang hidung Teja.


“Hehe.”


Teja tersenyum lebar menunjukkan barisan gigi kecilnya yang putih. Kemudian ia tuliskan alasan itu ke dalam tabel miliknya.


Tidak terasa tabel pro dalam daftar Teja sudah semakin memanjang. Mungkin sudah ada belasan alasan di dalamnya sekarang. Kini hanya ada satu hal yang belum disentuh. Tabel kontra.


“Kontra… “ Teja memulai dengan ragu-ragu.


“Mama sepertinya kurang setuju kalau Teja bergabung dengan Akasa Game...” Ucap Teja akhirnya.

__ADS_1


Varsha sedikit terkejut dengan kalimat buah hatinya. Ia tidak menyangka Teja bisa menyadari itu meski dirinya berusaha untuk menyembunyikannya. Varsha menghela napas panjang lalu menghadap ke arah putranya.


“Kalau Mama kurang setuju pun, bukannya hanya ada satu kontra? Tentunya belasan alasan pro mengalahkan satu kontra.”


Teja menggelengkan kepalanya dengan keras. “Teja mempercayai keputusan Mama.”


“Walaupun alasan kontranya cuma ada satu, kalau datangnya dari Mama, itu seperti hak veto di PBB. Sebanyak apapun alasan pro yang Teja tuliskan, kalau Mama tidak setuju, Teja tidak akan melakukannya. Karena pendapat Mama yang paling penting bagi Teja.”


Varsha tersenyum kecil mendengar penjelasan putranya. Kini buah hatinya bahkan bisa mengutip hak istimewa organisasi PBB. Varsha berdiri lalu berjongkok di depan bangku Teja.


“Teja mau bergabung bersama dengan Akasa Game, kan?”


“Tapi kalau Mama tidak setuju...”


“Teja mau belajar lebih dalam mengenai game development, kan?”


“Tapi Teja tidak perlu melakukannya dengan Akasa Game…”


“Sama seperti Teja yang percaya pada keputusan Mama. Mama juga percaya dengan keputusan Teja.” Ucap Varsha sambil menatap kedua mata Teja dalam-dalam.


Kedua tangannya lalu memegang wajah putranya.


“Sekarang Mama akan tanya Teja lagi dan Mama mau Teja menjawabnya dengan jujur.” Ujar Varsha yang direspon Teja dengan anggukan kepala.


“Teja mau bergabung bersama dengan Akasa Game?”


“Iya Mama.”


“Teja mau belajar lebih dalam mengenai game development?”


“Iya Mama.”


“Pintar anak Mama. Besok kita akan pergi ke Akasa Tower untuk meneken kontrak dengan Akasa Game, oke?” Kata Varsha tersenyum.


Kedua mata Teja tampak sedikit berkaca-kaca. Ia lalu menganggukan kepalanya dengan bersemangat kemudian memeluk erat Varsha.


“Terima kasih, Mama. Teja sayang sekali sama Mama.”


“Sama-sama, Sayang. Mama juga sayang sekali sama Teja.” Jawab Varsha sambil mengusap-usap punggung putra kecilnya.


Varsha lalu mengantarkan Teja ke kamarnya dan menemaninya hingga buah hatinya terlelap. Begitu tidur Teja sudah nyenyak, Ia pun pelan-pelan keluar dari kamarnya.


Varsha kemudian menarik kursi pada meja makan dan duduk terdiam di sana selama beberapa saat. Berbagai macam pikiran terlintas di kepalanya. Perasaannya campur aduk. Varsha pun menarik napas panjang lalu perlahan membuangnya.


Ia kemudian berjalan ke kamar tidurnya. Kamar ini dahulunya merupakan kamar orangtua Varsha dan Bayu. Namun semenjak kepergian mereka, Varsha yang menempati kamar itu. Ia lalu memutar kunci sebuah laci kecil yang tersembunyi di dalam lemari baju. Dulu ia selalu melihat ayah dan ibunya meletakkan barang-barang yang penting di sana.


Varsha kemudian menarik laci itu, membukanya pelan. Sebuah pena dan robekan kertas kecil ada di dalamnya. Warna pena itu begitu cantik dan elegan, perpaduan hitam dan emas. Jika terkena cahaya, warna hitamnya akan berpendar dan berubah menjadi biru tua dengan kerlipan layaknya melihat bintang di langit malam.


Varsha mengambil pena itu lalu meraba inisial yang tertera di sana.


Tiga huruf berbeda dengan warna emas.


S. K. A.


***


Curcol Author:


Kenapa Author perasaannya juga ikut terenyuh gimana-gimana gitu ya tiap kali nulis KAHM ahahhahahuhu hiks...


Aaaaaaah mau tulis yang hepi-hepi rasanya XDDD


Sigh, baiklah. Semoga enjoy bab ini ya men-temen. Jangan lupa love, komen, dan jempolnya <3


Nuhun~


-Bawang


 

__ADS_1


 


__ADS_2