
Varsha melirik Teja yang sedang duduk di sampingnya. Tadi wanita cantik itu terlalu terkejut untuk merespon buah hatinya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa putranya sudah mengetahui identitas Surya.
“Saat malam peluncuran mobile game DRF, Teja menemukan pena Om Bumi yang terjatuh dari jas Om Surya,” jelas Teja sebelum ditanya.
“Karena pena itu sangat mirip dengan pena milik papa Teja yang Mama simpan. Teja pun akhirnya datang untuk mengkonfirmasinya dengan Om Surya,” paparnya lagi. “Dan Om Surya mengakuinya.”
Keduanya kini tengah duduk di luar ruangan Surya. Rupanya pria yang sedang ditunggu-tunggu itu sedang ada rapat. Namun menurut Ardi, sebentar lagi akan selesai.
“Mama tidak marah, ‘kan?”
Varsha pun tersenyum dan mengusap kepala putranya. “Tentu saja tidak, Sayang.”
“Justru Mama yang ingin bertanya. Apa Teja tidak marah sama Mama atau Om Surya?”
Teja menggeleng kuat. “Teja sama sekali tidak marah pada Mama ataupun Om Surya. Malahan Teja sangat senang punya orangtua seperti Mama dan Om Surya.”
Baru saja buah hati Varsha selesai berbicara, pria yang dinanti-nanti akhirnya tampak batang hidungnya. Surya dengan setelan lengkapnya, tampak menawan berjalan mendekati mereka. Hatinya begitu berbunga-bunga melihat dua orang spesialnya hadir di depan matanya. Sebuah senyum manis pun merekah lebar pada wajahnya yang lelah.
“Ada apa kalian kemari pada akhir pekan begini?”
“Kami ingin menculik, Om Surya," jawab Teja.
"Dan membawamu kabur," tambah Varsha.
***
“Teja, siap?”
“Siap, Om Surya!”
Teja pun berlari kencang semakin menjauhi Surya. Satu tangannya tampak memegang gulungan benang layangan sementara yang lainnya memegang benang. Berusaha mengontrol ke mana arah layangan miliknya akan menuju.
Surya lalu berlari mendekati putranya. Membantunya menstabilkan layangan berbentuk awan berekor tersebut. Keduanya lalu sama-sama menikmati keelokan layangan mereka yang terbang semakin tinggi mengikuti gerakan angin.
Varsha tersenyum lebar menatap pasangan ayah dan anak itu. Kini ia sedang duduk di atas tikar di tepi pantai. Pada pangkuannya terdapat sebuah tablet canggih yang tadi Teja belikan untuknya. Sementara tangan kanannya sibuk mensketsa pemandangan yang sedang ia lihat.
“Mama! Lihat layangannya!” seru Teja sambil menoleh ke belakang.
“Iya, Sayang! Mama lihat!” jawabnya. "Bagus sekali, Teja!"
__ADS_1
Namun setelah kurang lebih setengah jam, layangan tersebut putus dan tertiup angin. Teja pun mau tak mau harus merelakannya. Akhirnya, Surya dan putranya memutuskan untuk bermain pasir saja.
Dan rupanya mereka memanglah sepasang ayah dan anak genius yang kompak. Bukannya membuat istana pasir normal, kini keduanya sedang membangun kastel dan benteng yang terdapat pada game DRF. Mengerjakannya dengan detail dan teliti layaknya dua orang seniman.
“Om Surya, sepertinya kita perlu tambahkan lagi pasir di sisi ini,” lapor Teja serius. “Kalau tidak pondasinya akan kurang kuat.”
“Kamu benar, Teja,” respon Surya. “Sebentar, biar Om ambilkan.”
Varsha hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan dua orang tersayangnya itu. Sementara tangannya kini sedang menggambar Surya dan Teja yang sedang beraksi dengan bangunan pasir mereka. Meskipun wajah keduanya tampak fokus dan mengerut, Varsha tahu pasti kalau duo itu sedang bersenang-senang.
Tanpa disadari, satu per satu orang datang mengerumuni pasangan ayah dan anak tersebut. Mencoba memotret hasil karya mereka atau berswafoto dekat dengan kastel pasir DRF tersebut. Kemudian mengajak Surya dan Teja berbicara untuk memuji maha karya keduanya.
Setelahnya, juga banyak anak-anak yang ingin mengajak Teja bermain bersama. Memintanya untuk mengajari mereka cara membuat istana pasir yang keren seperti miliknya. Anak laki-laki itu pun menolehkan kepalanya pada mama dan papanya, memberikan isyarat dengan kedua matanya untuk diizinkan bermain.
Surya dan Varsha pun menangkap maksud putra mereka kemudian tersenyum dan mengangguk. Akhirnya pria tampan itu bergabung dengan kekasihnya, duduk berdua di atas tikar. Kemudian Surya mengambil tablet Varsha dari pangkuannya dan meletakkan kepalanya sebagai gantinya.
“Wah, gambar kekasihku benar-benar sangat bagus,” puji Surya sambil menggeser-geser layar tablet. Posisinya tampak sangat nyaman. Berbaring di atas tikar dengan paha pujaan hatinya sebagai bantalan kepala.
“Apa aku memang terlihat setampan ini?”
Varsha mengacak pelan rambut Surya. “Kurasa memang aku yang terlalu ahli menggambar sehingga kamu terlihat begitu tampan dalam versi 2D.”
Wanita cantik itu pun tertawa kecil sambil mencubit sayang hidung pangeran mataharinya. Namun sebelum tangan Varsha meninggalkan wajah pria tampan itu, Surya sudah terlebih dulu menangkapnya dan mengecupnya pelan.
Seketika rona kemerahan muncul pada pipi bidadari hujannya. Disusul dengan dua lesung pipit manis yang memabukkan. Pria tampan itu begitu menikmati pemandangan yang kini sedang dilihatnya. Rupanya menatap Varsha dari sudut yang tidak biasa juga membawa efek yang sama bagi dirinya atau bahkan bisa dibilang lebih ....
Ia ingin merengkuh Varsha sekarang juga. Mendekapnya erat hingga ia bisa merasakan denyut jantung bidadari hujannya. Membuka ikatan rambutnya dan mengusapnya lembut. Mendaratkan kecupan manis ke seluruh wajah dan lehernya kekasihnya. Kemudian ….
Surya pun langsung terbatuk dan mengalihkan pandangannya kembali ke tablet. Ia harus segera cepat-cepat menjernihkan pikirannya sebelum melantur ke mana-mana. Bagaimana juga dirinya bisa memikirkan hal tersebut di tempat umum seperti ini.
“Mama! Om Surya!”
Mendengar suara putranya sontak membuat Surya langsung terduduk kembali. Bahkan Varsha pun jadi tersentak kaget karena gerakan kekasihnya yang tiba-tiba. Namun begitu Teja menghampiri mereka, senyum keduanya otomatis terpasang.
“Mama, apa Teja boleh main air?”
“Hmm ….” Varsha tampak mengerutkan keningnya menimbang harus menjawab apa. Masalahnya Teja tidak membawa baju ganti.
“Biar aku temani Teja,” ucap Surya.
__ADS_1
“Memangnya kamu bawa baju ganti?”
“Kita tinggal beli saja nanti saat pulang,” jawab pria tampan itu sambil menaikkan bahunya ke atas. Teja pun tersenyum lalu ikut menaikkan bahunya juga mengopi papanya.
Varsha pun jadi tak kuasa tersenyum saat melihat perilaku dua orang di hadapannya. Akhirnya ia pun mengangguk setuju. Seketika Teja langsung menggandeng tangan papanya menuju laut.
Mereka saling mencipratkan air ke muka dan tubuh masing-masing. Tentu saja Surya melakukannya dengan lebih pelan dan hati-hati, memastikan ia tak melukai buah hatinya. Pria tampan itu lalu menggendong Teja dan membuatnya melayang di air. Gelak canda tawa terdengar tanpa henti dari arah keduanya.
Varsha tentu saja tidak membiarkan momen itu terlewatkan. Ia pun dengan cepat mengabadikan detik tersebut dengan tabletnya. Kemudian ia kembali menggambar sketsa keduanya yang sedang bermain air bersama. Menebalkan garis-garis dasarnya dan menyempurnakannya.
Namun yang wanita cantik itu tidak sadari, pasangan ayah dan anak itu kini tak lagi ada di dalam air. Tetapi sedang berjalan pelan-pelan mendekat ke arahnya. Teja lalu memberi aba-aba pada Surya dengan mengacungkan satu per satu jarinya ke atas.
Begitu jarinya menunjukkan angka tiga, Teja langsung mengambil tablet dari tangan mamanya dan meletakkannya di atas tikar. Sementara Surya mengangkat wanita cantik itu dan berlari membopongnya ke arah laut.
“Surya, turunkan aku!” jerit Varsha sambil memukul-mukul dada bidang kekasihnya. Kemeja putihnya yang basah membungkus ketat tubuh Surya dan menampakkan lekuk-lekuk ototnya yang terbentuk sempurna.
“Hei! ini bukan ideku!” ungkap pria tampan itu sambil tersenyum jail. “Aku hanya suruhan putra kita.”
Kemudian ia mencelupkan bidadari hujannya ke dalam air dengan hati-hati. Suara tawa Teja pun terdengar dari belakang mereka. Anak laki-laki itu dengan semangat menciprati Varsha dan Surya dengan air laut. Menantang kedua orangtuanya untuk perang air.
Ketiganya pun akhirnya bermain air bersama dan terus melepas tawa hingga sang surya tenggelam.
***
Curcol Author:
Hehe.
<3<3<3<3<3<3<3
Jangan lupa terus dukung Author dengan memberikan like, jempol, komen, hadiah, dan votemu ;D
Selamat mimpi indah!
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1