
Varsha tampak duduk di dalam sebuah mobil sedan mewah. Tubuhnya terlihat kaku, sementara kedua tangannya ia letakkan di atas pangkuannya dalam posisi canggung. Bola mata besarnya terlihat bergetar, bingung hendak meletakkan arah tatapannya ke mana.
Tepat di sampingnya duduk seorang wanita anggun yang tengah sibuk melakukan panggilan telepon. Suaranya terdengar tajam dan tegas saat berbicara di ponselnya. Membuat jantung Varsha semakin ketar-ketir jadinya. Padahal dia bukanlah seseorang yang mudah gentar.
Sekitar setengah jam lalu, Sherry mengetuk pintu rumah Varsha untuk menjemputnya. Ia mengabari bahwa mama Surya sudah menunggu di dalam mobil untuk mengajak makan siang bersama. Tentu saja dirinya langsung membatalkan semua rencananya hari ini dan menuruti asisten kepercayaan ibunya kekasihnya itu.
“Saya ingin mendengar hasilnya malam ini juga bagaimanapun caranya.”
“Jika tidak, kesepakatan kita dibatalkan saja.”
Namun, tampaknya Ibu Chairman Tara masih sibuk dengan pekerjaannya. Varsha dan wanita anggun itu hanya sempat bertukar senyum sesaat selagi ia baru masuk ke dalam mobil. Selanjutnya, dirinya hanya terdiam canggung, sementara orang yang di sebelahnya berdiskusi di telepon.
“Maaf sekali, Varsha. Masih ada beberapa hal yang harus Tante urus tadi.”
“Tidak apa-apa, Tante,” jawab Varsha cepat. “Justru saya yang takut mengganggu Tante bekerja.”
Ibu Tara tersenyum. “Tentu saja tidak.”
“Oh, lihat. Kebetulan sekali kita sudah sampai di tempat tujuan.”
Varsha melihat ke arah jendela. Matanya langsung disambut dengan sebuah rumah yang sangat besar dan megah bak istana kerajaan. Tepat di depan bangunan kokoh itu terdapat air mancur dengan ukiran-ukiran elok di sekitarnya. Menambahkan kesan mewah dan elegan pada mansion bernuansa putih tersebut.
Tak lama kemudian, Ibu Tara dan Varsha sudah turun dari mobil. Sementara Sherry mengikuti mereka di belakang. Seorang pria paruh baya berjas rapi menyambut dengan ramah lalu menggiring ketiganya masuk ke dalam.
“Selalu sebuah kehormatan bagi kami saat Ibu Tara datang berkunjung,” ucap pria tersebut sambil berjalan di samping mama Surya. Tampaknya dia adalah manajer di tempat ini kalau melihat dari name tag yang terpasang pada jas hitamnya.
“Kalian sudah mempersiapkan semuanya?”
“Tentu, Ibu Tara,” jawab. “Segalanya sudah siap.”
“Kerja bagus.”
Sebenarnya, Varsha adalah orang yang sangat penasaran. Jika bukan karena wanita anggun di sebelahnya, lehernya pasti sudah menengok ke sana kemari untuk menikmati keindahan desain dalam bangunan tersebut. Namun karena dirinya terlalu tegang sekarang, ia hanya bisa menatap ke arah depan layaknya diberi kacamata kuda.
“Baik, kita sudah sampai di meja Ibu Tara,” ujar manajer tersebut. “Sebentar lagi, pesanan Ibu Tara akan segera kami antar.”
“Terima kasih, Aji.”
“Dengan senang hati, Ibu Tara.”
Kemudian pria paruh baya tersebut pamit dan pergi meninggalkan mereka. Mama Surya lalu mempersilakan Varsha duduk tepat di hadapannya. Sementara Sherry akhirnya mengikuti jejak Aji, ikut beranjak dari sana meninggalkan Ibu Tara dan Varsha hanya berdua saja.
Wanita muda itu tanpa sadar menelan ludahnya. Kedua tangannya sedikit gemetar di bawah meja. Ia juga bisa merasakan keringat dingin mengalir jatuh disepanjang punggungnya.
“Bagaimana menurutmu tempat ini?” tanya Ibu Tara tiba-tiba.
Varsha sontak terkejut dengan pertanyaan yang diajukan wanita anggun di hadapannya. Sejujurnya, ia masih belum bisa memproses semua hal yang baru saja terjadi. Jangankan melihat sekelilingnya, dirinya bahkan masih tak yakin ada apa saja di atas meja mereka.
Wanita muda itu pun berusaha memindai sekitarnya dengan cepat. Sebuah taman luas dan cantik langsung menyapanya. Rerumputannya dipangkas rapi sama tinggi. Berbagai tanaman hias ditata apik hingga membentuk beragam pola yang menawan. Kolam koi dengan air terjun besar berdiri indah di salah satu sisi menambah keasrian.
Varsha yang awalnya hanya ingin menatap sekelilingnya sesaat untuk merespon Ibu Tara, kini malahan jadi terkesima sendiri. Ia bahkan juga baru menyadari bahwa sekarang dirinya sedang duduk di dalam sebuah gazebo putih kokoh nan elok. Langit-langitnya tinggi sehingga tak menghalangi pemandangan.
Ibu Tara menatap wanita muda di depannya lalu tersenyum. Ia tampak merasa puas dengan ekspresi yang Varsha buat. Sepertinya tanpa perlu dijawab, mama Surya telah mendapatkan respon yang dia inginkan.
__ADS_1
“Sangat cantik,” ucap Varsha akhirnya.
Ibu Tara mengangguk setuju. “Ya, tempat ini sangat cantik. Salah satu spot favorit Tante.”
“Syukurlah kamu menyukainya.”
Tak lama kemudian, pesanan keduanya pun datang. Dua piring keramik putih tampak tersaji di depan mereka. Varsha pun melihat isinya. Kerang simping panggang yang ditata begitu apik dan elegan bersama puree putih dan saus kehijauan. Varsha sama sekali tak pernah melihat ataupun menyantap menu seperti ini sebelumnya.
“Ayo, silakan dicoba,” ajak Ibu Tara. “Ini baru appetizer saja.”
Wanita muda itu mengangguk lalu tersenyum. Kemudian ia memotong sebagian kerang simping dan memasukkannya ke mulut. Potongan itu terasa lembut dan menggoda lidahnya. Teksturnya begitu halus namun menyimpan berjuta cita rasa.
“Bagaimana? Apa kamu suka?”
“Ya, Tante Tara,” jawab Varsha. “Kerang simpingnya enak sekali.”
Begitu mereka selesai dengan makanan pembuka, menu lainnya pun berdatangan satu per satu. Risotto, beef wellington, dan diakhiri dengan vanilla mascarpone cheesecake. Tiap kalinya, Ibu Tara pasti selalu menanyakan pendapat Varsha mengenai hidangan yang ia makan.
“Baik. Sepertinya untuk masalah menu dan tempat sudah sempurna,” gumam mama Surya sambil mengetikkan sesuatu pada ponselnya.
“Apa warna favoritmu, Varsha?”
Wanita muda itu terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Ungu.”
“Okay,” gumam Ibu Tara lagi. “Berarti menggunakan nuansa ungu.”
“Perfect.”
“Maaf, Tante Tara,” tutur Varsha akhirnya memberanikan diri. “Sebenarnya apa tujuan Tante Tara mengundang saya makan siang?”
“Maaf sekali lagi, jika saya sudah menyinggung kebaikan Tante Tara,” ujar wanita muda itu lagi.
“Hanya saja rasanya agak ... ganjil orang sesibuk Tante menyempatkan waktu untuk makan siang bersama seseorang seperti saya.”
Mama Surya tertawa kecil. “Tante suka bagaimana kamu tidak berbasa-basi dan langsung menanyakan maksud Tante.”
“Kamu benar. Tentu saja Tante punya agenda khusus,” jawab Ibu Tara. “Dan tujuan Tante sudah tercapai.”
Varsha mengernyitkan dahinya sedikit. Ia masih tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ibunda kekasihnya. Yang ada kini ia malahan semakin bingung.
“Sejujurnya Tante sudah mencari tahu tentangmu sejak pertemuan kita di rumah sakit,” papar mama Surya. “Latar belakang, pendidikan, pekerjaan, dan segala hal lainnya yang perlu diketahui.”
“Maaf, sebelumnya kalau itu terdengar kelewat batas. Namun, Tante sangat protektif terhadap putra Tante. Tentunya kamu mengerti sebagai seorang ibu.”
Varsha mengangguk. Entah mengapa ia merasa seolah sedang berdiri telanjang di hadapan wanita itu. Kini mama Surya telah mengetahui segala sesuatu tentang kehidupannya selama 23 tahun terakhir.
“Kamu seorang wanita tangguh dan pantang menyerah. Tante sangat mengapresiasinya.”
Lalu Ibu Tara meletakkan tangannya di atas tangan Varsha dan meremasnya pelan. Kemudian ia tersenyum. “Terima kasih telah memberiku seorang cucu.”
“Teja bisa tumbuh dengan tampan dan cerdas karena kamu telah merawatnya dengan sangat baik.”
Tiba-tiba saja Varsha terpaku. Ekspresi ibunda Surya begitu lembut dan menenangkan. Berbeda jauh sekali dari yang biasanya terpasang pada wajah wanita anggun itu. Seketika secercah kehangatan mengalir di dalam dadanya. Seolah ia bisa merasakan bayang mendiang ibunya pada mama Surya. Setitik air mata pun terjatuh di pipi Varsha.
__ADS_1
“Kenapa kamu menangis, Varsha? Maafkan Tante, jika telah membuatmu bersedih.”
Wanita muda itu pun menggeleng lalu tersenyum. “Tidak Tante. Tante tidak berbuat salah.”
“Justru saya yang ingin berterima kasih karena Tante bisa menerima Teja sebagai cucu Tante. Ia pasti sangat senang memiliki seorang nenek seperti Tante Tara.”
Mama Surya lalu berdiri dan berjalan ke arah Varsha. Ia lalu memeluk wanita muda itu. Mengusap pelan rambutnya dengan lembut layaknya sikap seorang ibu pada anaknya.
“Bukan hanya Teja saja,” ujarnya. “Kamu juga.”
Tangis Varsha pun jadi semakin deras. Ia tak menyangka bahwa ibunda Surya akan memberikan restunya dengan begitu mudah. Padahal, selama ini ia selalu berpikir bahwa dirinya dan Teja tak punya tempat dalam Keluarga Abhiyoga.
“Sudah, sudah. Tak usah menangis lagi, Sayang,” hibur Ibu Tara. “Semuanya salah putra Tante yang membiarkanmu terus memikul beban ini sendirian.”
“Padahal Surya tinggal langsung mengenalkanmu dan Teja pada Tante dari awal. Apa susahnya, sih,” gerutu Ibu Tara.
“Biar tahu rasa dia sekarang.”
Varsha tidak begitu mengerti apa yang dibicarakan mama Surya tapi dia diam saja. Pelukan dari Ibu Tara sangat mendamaikan hati dan menenangkan pikirannya. Ia memejamkan matanya dan tersenyum. Merasa bersyukur telah diberkahi satu orang lagi yang begitu baik.
“Tante dengar, Surya sudah melamarmu di Akasa Tower saat acara 'Light Show'?”
“Dan lagi-lagi Tante mendengar hal ini dari orang lain, bukannya putra Tante sendiri,” gumam mama Surya sambil menghela napas panjang.
“Anyway, untuk itulah Tante juga jadi berinisiatif sendiri.”
“Tante ingin kamu dan Surya menyelenggarakan pernikahan kalian di tempat ini. Tentunya dengan nuansa ungu seperti warna favoritmu. Menu makanannya seperti yang kamu coba tadi," jelas Tante Tara panjang lebar.
"Tante bahkan sudah berbicara dengan Vera dari Kemal Co. untuk menjadi wedding planner kalian pagi ini.”
Varsha seketika terbatuk mendengar paparan dari ibunda kekasihnya. Mama Surya lalu mengambil segelas air putih dan langsung memberikannya pada calon menantunya. Sambil sesekali menepuk pelan punggung wanita muda itu. Namun, tiba-tiba saja ada satu pertanyaan yang terlintas dalam benak Ibu Tara.
“Oh, kamu menerima lamaran Surya, ‘kan?”
***
Curcol Author:
ehek
<3<3<3<3<3<3<3
Halo semua! Jangan lupa terus dukung author dengan memberikan love, jempol, komen, hadiah, dan votemu ya!
Selamat mimpi indah!
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1