
DOR!
Surya baru saja menarik pelatuk pistolnya. Tangannya lurus ke depan sementara sisa bubuk mesiu bertebaran di sekitarnya. Ekspresi wajahnya tampak fokus dan serius. Sementara kedua matanya masih menatap target yang jauh di depan.
Pria tampan itu sedang berada di dalam sebuah basemen. Beberapa meter di hadapannya, terdapat banyak papan target berbentuk siluet manusia. Sementara dirinya sendiri diapit oleh pembatas kaca di kanan kiri.
Ia mengenakan kemeja hitam dengan celana bahan abu tua. Pada wajahnya tampak kacamata pelindung transparan dan di kepalanya terpasang headset. Surya kelihatannya sedang berada di sebuah shooting range.
Tiba-tiba saja dari arah belakangnya terdengar bunyi langkah kaki seseorang sedang menuruni anak tangga. Semakin lama suaranya semakin dekat dan nyaring. Namun, pria tampan itu tetap tidak menoleh ke belakang sama sekali.
Ia tahu benar siapa yang datang. Hanya ada tiga orang yang tahu mengenai tempat ini dan salah satunya telah tiada. Yang artinya cuma ada satu kemungkinan.
“Kau datang.”
“Ya. Kata Raka kau ada di sini ….”
Seketika Surya menyeringai mendengar nama asistennya disebut. Tentu saja pengkhianat itu akan memberitahukan keberadaannya meskipun ia tidak tahu pasti alamat di sini. Namun yang mereka tidak tahu, memang itulah tujuan Surya dari awal.
“Ada apa kau datang mencariku ... Dewa?”
“Sudah lama sekali rasanya aku tidak melihatmu,” ujar Dewa berjalan perlahan menghampiri Surya.
“Sepertinya ada banyak hal yang perlu kita bicarakan ….”
Entah mengapa hawa di sekitar dua sepupu itu begitu berbeda dari biasanya. Tiada lagi senyum dan gurau canda yang selalu hadir dikala keduanya bertemu. Kini yang tersisa hanyalah kecurigaan dan tanda tanya.
“Perihal apa yang perlu kita bahas?”
Surya tersenyum, namun hanya di permukaan saja. Kemudian ia letakkan pistolnya di atas meja. Dilanjutkan dengan headset dan kacamata pelindungnya. Pandangannya sekarang fokus penuh pada sepupunya.
Dewa membalas senyum Surya lalu menghela napas panjang. Tak lama, ia tampak mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. Sebuah benda yang sangat kecil hingga bisa muat dalam kepalan tangan. Kemudian meletakkannya di atas meja.
Sebuah microSD card.
“Apa itu, Dewa?” tanya Surya. Sorot matanya tajam.
“Kurasa kau tahu benar itu apa,” jawab Dewa singkat.
Keduanya lalu terdiam beberapa saat. Saling menilai dan menimbang apa reaksi lawan bicaranya. Baik Surya dan Dewa kini sama-sama memandang ke arah kartu memori di atas meja. Benda yang mendadak hilang secara misterius dari mobil Surya lima tahun lalu.
Surya mengambil kartu kecil itu lalu akhirnya berkata, “Jadi ... selama ini rupanya ada padamu.”
“Benar.”
Kekasih Varsha itu lalu duduk bersandar di atas meja. Kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. Seraya melirik tajam ke arah sepupunya.
“Sebenarnya apa tujuanmu datang kemari mencariku, Dewa?”
Dewa mematung sejenak. Seolah dirinya sendiri sedang terjebak dalam sebuah dilema yang bergejolak di dalam hatinya. Ia pun memejamkan mata sesaat lalu menarik napas dan membuangnya perlahan.
“Aku ingin mengakui perbuatanku,” ucapnya mantap.
__ADS_1
“Akulah dalang di balik kecelakaanmu lima tahun lalu serta kejadian di Akasa Hotel.”
Seketika Surya tertawa kencang dan panjang. Namun, nadanya begitu dingin hingga menusuk tulang. Satu tangannya memijat pelipisnya berusaha mencerna informasi yang baru saja ia dapatkan.
“Benarkah?” tanya Surya akhirnya setelah puas tertawa.
“Ya, Surya. Akulah pelakunya.”
Pria tampan itu lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mendengus kecil sambil menghabiskan sisa-sisa tawa. Kemudian, ia mencoba mengatur napasnya dan fokus kembali pada sepupunya.
“Kau sudah menyimpannya dengan baik selama lima tahun ini,” tutur Surya. “Kenapa sekarang malah mengaku?”
“Aku tahu kau sedang melakukan penyidikan ulang dan mendalam mengenai dua kasus itu,” papar Dewa.
“Dan cepat atau lambat … kedokku pasti akan terungkap.”
Dewa berjalan menghampiri Surya lalu meremas pelan bahunya. Seolah sedang menantang dan menghiburnya sekaligus.
“Jadi kupikir, lebih baik aku menyerahkan diriku sekarang,” lanjutnya lagi. “Sebelum semuanya menjadi besar dan tak terkendali.”
“Menyelesaikannya tanpa rusuh agar nama Akasa Group … tidak terseret jatuh.”
Surya mengepalkan tangannya dengan keras. Kuku-kuku jarinya sampai menusuk ke telapaknya, hingga membuatnya berbekas. Kemudian dengan sekejap, ia pun melayangkan tinjunya ke wajah Dewa.
Sepupunya seketika terpelanting ke lantai. Darah segar tampak mengalir dari pinggir bibirnya yang sobek. Ia pun meludahkan sisa cairan merah yang terkumpul di dalam mulutnya.
“Kau tahu apa akibat perbuatanmu, Dewa?” tanya Surya tajam.
“Karena kecelakaan itu … seorang remaja perempuan dengan masa depan cerah harus merelakan mimpinya.”
“Karena kecelakaan itu, ia harus menanggung segala hujatan kejam dari orang-orang di sekitarnya sendirian.”
Surya memandang sepupunya yang masih terduduk di lantai. Bola matanya bergetar. Sementara suaranya semakin mengeras terbawa emosi.
“Mengandung bayinya tanpa persiapan … tanpa bantuan apa pun dari pria yang telah menghamilinya ….”
“Lalu melahirkan bayi itu seorang diri. Tanpa seorang suami yang menemaninya, membantunya, memberinya dukungan lahir dan batin ….”
Surya menghela napas panjang. Kedua matanya merah dan berkaca-kaca. Kemudian ia berjalan dan berjongkok di dekat Dewa yang menundukkan kepalanya.
“Karena kecelakaan itu … putraku harus hidup tanpa seorang ayah ….”
Sesaat keadaan menjadi sunyi. Hanya suara napas Surya dan Dewa yang sesekali terdengar dalam keheningan yang menusuk.
“I’m sorry ….” Sayup-sayup suara lirih sepupunya terdengar di telinga.
Surya mendengus kecil mendengar kalimat itu. “Apa motifmu, Dewa?”
“Pewaris Akasa Group? Posisi Chairman?”
Dewa tak merespon pertanyaan Surya. Kepalanya masih tertunduk menghadap ke lantai. Akhirnya, Surya pun kembali berdiri dan berjalan ke arah meja. Mengambil pistol yang tadi ia letakkan di sana, kemudian menyodorkannya pada sepupunya itu.
__ADS_1
“Hanya aku satu-satunya yang menghalangi jalanmu, bukan?” tanya Surya. Satu tangannya masih menawarkan gagang pistol pada Dewa.
“Cuma kita berdua yang tahu alamat shooting range milik Bumi. Letaknya pun tersembunyi dan jauh dari pemukiman,” papar pria itu lagi. “Tempat ini bahkan tak memiliki kamera pengawas.”
“Jadi apalagi yang kau tunggu?”
“Maafkan aku, Surya ….” bisik Dewa lirih.
“Cepat singkirkan diriku. Bukankah itu yang ingin kau lakukan sejak lima tahun lalu?” tantang pria itu lagi.
Satu tangannya yang tak memegang pistol menarik dagu Dewa. Memaksa sepupunya menatap lurus ke wajahnya.
“Peluru dan pistol ini tak bisa dideteksi asalnya. Aku sudah memastikannya sendiri. Kau hanya perlu menyembunyikan senjatanya setelah membunuhku ….”
Mata Dewa tampak berkaca-kaca. Peluh dan darah bekas pukulan tadi masih menghiasi wajahnya. “Surya, cukup. Aku ….”
“Atau barangkali kau bisa juga membuangnya bersama tubuhku.”
“Surya, kumohon hentikan ….”
Dewa memejamkan matanya dan menggeleng keras. Seolah kalimat yang dilontarkan sepupunya bagaikan pisau belati panas yang menyayat dagingnya.
“Apa perlu kutunjukkan di mana kau harus mengubur mayatku nanti?”
Dewa yang sudah tak tahan lagi mendengar perkataan sadis sepupunya, akhirnya berlutut di hadapannya. Kedua tangannya meremas kuat lengan Surya. Sementara bola matanya bergetar dan berkaca-kaca, memohon ampunan.
“Surya ... kumohon maafkan aku ….”
“Kalau kau bersungguh-sungguh ingin meminta maaf ….” ucap Surya lirih.
“MENGAPA KAU TERUS BERBOHONG DAN MELINDUNGI PELAKU YANG SEBENARNYA?!”
***
Curcol Author:
????????
<3<3<3<3<3<3<3
Jangan lupa tinggalkan jejakmu dengan memberi love, komen, jempol, hadiah, dan votenya ya ;D
Selamat mimpi indah dan semoga akhir pekanmu menyenangkan!!
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1