
Setelah Teja bangun dan Varsha memastikan putranya itu baik-baik saja, keduanya pun memutuskan untuk pulang. Kondisi Teja sedikit lemas tapi sudah jauh membaik meskipun masih belum mau terlalu banyak bicara. Varsha akhirnya menggandeng Teja menuju ke pelataran parkir bersama Tessa.
Sahabatnya itu tadi sempat pulang ke rumah untuk membawa mobilnya. Ia berpikir akan lebih nyaman jika mobilnya stand by di rumah sakit. Sekalian berjaga-jaga jikalau Varsha dan Teja memerlukan sesuatu.
Tessa membuka kunci mobilnya lalu membukakan pintu belakang untuk Teja. Varsha membantu putranya masuk ke dalam kemudian memakaikan sabuk pengaman. Saat Varsha memegang gagang pintu depan, tangan Tessa tiba-tiba menahannya.
“Var, kondisi Teja kan syukurnya sudah stabil. Jadi kalau…” Mulai Tessa ragu-ragu. “Kalau kau mau tetap di sini dan melihat keadaan Surya, sungguh tak apa.”
Varsha tersenyum lemah lalu menggeleng pelan. Tetapi Tessa masih belum melepaskan tangannya. Tessa tahu benar kalau sahabatnya itu sangat mengkhawatirkan keadaan Surya. Namun sulit sekali membuat Varsha untuk mengakuinya.
“Aku juga akan menginap dan menjaga Teja hari ini dengan Bayu dan Bude Woro.” Tambahnya lagi.
Kemudian Tessa mengambil sebuah tas kain dari bagasi lalu menyerahkannya pada Varsha. Di dalamnya ada baju bersih, sebungkus roti, dan sebotol air minum. Varsha menatap Tessa dengan ekspresi tak terbaca.
“Kalau ada apa-apa, aku janji akan segera menghubungimu.” Kata Tessa. “Bahkan aku sendiri yang akan menjemputmu kemari.”
Setelah terdiam beberapa saat, Varsha akhirnya mengangguk. Lalu ia berjalan mendekati mobil untuk melihat Teja sekali lagi. Tiba-tiba putra kecilnya sudah menurunkan kaca belakang mobil bahkan sebelum ia sampai.
“Mama mau mengecek kondisi Om Surya, kan?” Tanya Teja tiba-tiba dengan suara sedikit serak. Ini pertama kalinya buah hati Varsha menggunakan kalimat lengkap sejak kecelakaan tadi.
“Iya, Sayang… Apa boleh?” Tanya Varsha ragu-ragu.
Teja mengangguk, “Kalau begitu… pastikan Om Surya baik-baik saja Mama.”
Varsha menggigit bibirnya berusaha untuk menahan rasa sedihnya di depan Teja. Kemudian ia tersenyum lalu mengusap pelan kepala putranya, “Kalau ada apa-apa, Teja hubungi Mama ya, Sayang.”
“Iya, Mama.”
Varsha pun akhirnya berpamitan pada Tessa dan kembali lagi menuju rumah sakit.
***
Hari sudah menjelang subuh. Ibu Tara baru saja kembali dari kamar kecil untuk berganti pakaian. Sebelumnya, ia telah menyuruh asistennya untuk pergi ke rumahnya dan membawa baju bersih. Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering jadi ia mengambil air hangat dari dispenser di ujung lorong. Kemudian Ibu Tara berjalan lagi menuju tempat putranya sedang dirawat.
__ADS_1
Seorang wanita muda sedang berdiri menatap ke arah Surya dari balik tembok kaca unit perawatan intensif. Ekspresinya tampak begitu cemas dan khawatir. Kedua matanya pun terlihat sedikit berkaca-kaca.
Ibu Tara mengenal wanita itu. Nyatanya ia baru dikenalkan padanya beberapa jam lalu. Wanita cantik yang selalu berada di sisi putranya tadi malam. Orang paling pertama yang melesat ke atas panggung dan memeriksa keadaan Surya lalu tak lagi mau melepasnya hingga petugas medis datang. Mamanya si pria kecil, Varsha.
Ibu Tara tidak yakin ada hubungan apa di antara Varsha dan Surya, namun yang jelas ia masih tak tahu bagaimana harus menyikapinya. Tiba-tiba seorang wanita berjas rapi sudah berada di sampingnya. Kemudian Ia tersenyum sopan pada Ibu Tara.
“Ibu Chairman, berita mengenai kejadian tadi malam sudah menyebar begitu cepat di berbagai media dan platform. Kami sudah berusaha untuk mencegah dan menahan beberapa, namun tidak terlalu membawa dampak karena kabar tersebut telah menjadi pencarian terpopuler.”
Ibu Tara mengangguk lalu menyeruput air hangatnya. Laporan tadi diberikan oleh Sherry, asisten kepercayaannya. Ibu Tara kemudian menatap tajam ke arah Varsha yang masih berdiri di sisi tembok kaca dan memperhatikan putranya. Secara tak langsung memberi perintah pada Sherry untuk mengikuti ke arah ia melihat.
“Cari tahu mengenai wanita itu. Aku ingin laporan sedetail-detailnya tanpa ada yang terlewatkan.”
“Baik, Ibu Chairman.” Jawab Sherry menganggukan kepalanya.
“Awasi investigasi di Akasa Hotel. Laporkan padaku setiap jam.” Ucap Ibu Tara.
“Baik, Ibu Chairman.”
“Kau boleh pergi.”
***
Varsha menatap tubuh pria yang sedang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Mesin-mesin medis asing yang tak ia kenal menghias di sisi kanan-kiri tempat tidur Surya. Varsha kemudian melihat ke atas, berusaha untuk menahan air matanya yang sudah siap jatuh kapan saja.
Rasanya sungguh aneh melihat Surya dalam keadaan seperti ini. Pria itu selalu berdiri tegak dan penuh percaya diri. Menyeringai manis dan menebar pesonanya di sana-sini. Fokus dan dapat diandalkan setiap saat. Tapi sekarang…
Varsha memang sempat membenci pria di depannya. Terutama saat ia sedang berada di masa-masa sulitnya. Mengutuk Surya pelan sebagai pelampiasan dalam setiap isak tangisnya yang ia tahan. Namun ia juga tidak pernah mengharapkan musibah besar menimpanya. Karena bagaimanapun juga ia adalah seseorang yang begitu spesial untuk Varsha, meskipun pria di depannya tak berpikiran sama.
Entah sudah berapa lama Varsha berdiri di depan ruangan unit perawatan intensif. Tetapi yang jelas wanita itu tidak merasa lelah sama sekali. Walaupun hal yang sama tak bisa diucapkan untuk penampakannya sekarang. Wajah cantik Varsha begitu pucat dan tampak letih.
Ia mengenakan setelan training milik Tessa yang tadi diberikan sahabatnya itu. Satu tangannya memegang tas kain yang kini telah terisi dengan gaun putihnya. Sementara sebungkus roti dan sebotol air minum di dalamnya juga belum tersentuh sama sekali.
Tanpa sadar Varsha meletakkan satu tangannya ke tembok kaca. Ada keinginan begitu besar untuk menyentuh pria di hadapannya sekarang. Mengusap punggungnya dan memeluknya erat. Sambil menghiburnya dan memberikan kata-kata penyemangat padanya. Seperti yang dulu ia lakukan di karavan lima tahun lalu.
__ADS_1
“Kau harus bangun Surya. Kau harus bangun… agar aku bisa terus menyalahkanmu…” Ucap Varsha pelan.
Wanita cantik itu tidak mau mengakui bahwa dia masih ingin melihat senyuman manis pria itu. Atau sikap gentleman-nya tiap kali ia bersama Varsha. Cara ia berbicara pada Teja dan mengajarinya banyak hal. Dan bagaimana Surya memanggil lembut namanya…
“Kau harus bangun agar…”
Tiba-tiba lidah Varsha terasa kelu. Tak sanggup mengatakan kalimat selanjutnya. Kemudian wanita itu menghela napas panjang.
“Agar aku bisa berterima kasih karena telah mengorbankan keselamatanmu…” Lanjut Varsha kemudian setelah berhasil menemukan kata-kata.
“Untuk Teja... ”
Setitik air mata terjatuh di pipinya. Mengalir pelan hingga ke bawah wajahnya.
“Anak kita.”
***
Curcol Author:
TT TT TT TT ** hiks
<3<3<3<3<3<3<3
Maaf ya, kemarin Author belum sempat up huhuhu. Tapi hari ini doakan saja Author bisa up lagi buat bayar utang kemarin hehe. Semangat!!
Jangan lupa love, komen, dan jempolnya ya teman-teman ;D
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1