Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XXXVI. Hari Hujan Wisuda


__ADS_3

Surya menatap pantulan dirinya pada jendela mobil Axel. Ia mengenakan kemeja putih serta celana bahan dan jas berwarna navy blue. Syukurlah ia selalu mengemasi setelan ekstra di dalam mobilnya untuk berjaga-jaga. Terbukti berguna sekarang di momen dadakan seperti ini.


“Bunganya, Kak?”


Seorang gadis muda tampak menawarkan serangkaian bunga berwarna-warni pada Surya. Tanpa sadar ia mendengus kecil. Tentu saja. Bagaimana dirinya bisa melupakan detail ini.


Pria tampan itu pun menunjuk ke arah bunga mawar putih pada wadah besar di sebelah gadis muda itu. Masing-masing tangkainya telah dihiasi dengan tanaman kecil cantik dan dibungkus dengan kertas minyak.


“Saya ingin mawar putih itu.”


“Satunya dua puluh ribu ya, Kak. Terima kasih,” ucap gadis muda itu sambil menyerahkan setangkai mawar putih pada Surya.


“Bukan ini. Maksudnya, saya benar-benar ingin seember besar mawar putih di sana,” respon Surya tersenyum.


“Aaah. Baik, Kak! Terima kasih banyak! Mohon ditunggu,” ujar gadis itu lagi dengan cepat. Merasa bersyukur bunganya langsung ludes habis diborong oleh pria tampan berjas rapi di hadapannya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Surya mendapatkan buket bunga mawar putih cantiknya. Ia pun mengangguk puas dan membayar pada gadis muda tadi. Pria tampan itu lalu mencoba menghubungi Teja namun tidak tersambung. Ia pun menghela napas panjang. Berharap Varsha belum pulang dan ia tidak terlambat.


Tiba-tiba saja serombongan orang serempak keluar tanpa henti dari gedung aula besar. Tampaknya acara wisuda baru saja usai. Jantung Surya pun serasa mencelus. Entah bagaimana dia akan menemukan Varsha di tengah lautan manusia begini namun dia tak akan menyerah.


Surya menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mencoba mencari bidadari hujannya. Tubuhnya yang tinggi menjulang di antara kerumunan wisudawan serta kerabat dekat mereka. Sementara kedua tangannya mengamankan sebuket besar mawar putih.


Sesekali para kaum hawa di dekatnya tak kuasa menoleh dan berbisik-bisik. Merasa iri pada wanita yang memiliki pendamping wisuda rupawan seperti pria tinggi itu. Meskipun Surya datang tanpa persiapan, penampilannya kelihatan seperti model yang baru saja keluar dari pagelaran busana.


“Varsha!”


Surya pun otomatis menolehkan kepala begitu mendengar nama wanita pujaannya disebut. Tidak jauh darinya berdiri seorang wanita cantik dengan kebaya merah jambu. Di sepanjang tubuhnya bergantung selempang satin bertuliskan ‘CUM LAUDE’. Sementara di bawah pinggangnya, kain batik apik membalut erat kedua kaki Varsha dan memberi aksen pada lekuknya.


Wanita bersanggul rapi itu kini sedang memberi tos pada rekan-rekan wisudawannya. Berbicara sesaat lalu tertawa kecil. Senyum indahnya merekah lebar, memunculkan dua lesung pipit manis di pipi.


Seketika Surya merasa oksigen di sekitarnya berkurang. Ritme jantungnya pun tampak tidak stabil. Segalanya seolah bergerak dengan kecepatan lambat. Pandangan di sekitarnya mengabur dan hanya terfokus pada bidadari hujannya. Layaknya hanya ada mereka berdua di muka bumi ini.


Surya lalu tersenyum kecil. Jika ini yang dirasakan Jaka Tarub saat melihat Dewi Nawang Wulan. Ia tak bisa menyalahkan pemuda tersebut meskipun telah mencuri selendang seorang bidadari kayangan. Sebab itulah yang dialami Surya sekarang. Ia ingin melarikan Varsha dan hidup bersamanya.


“Om Surya?”


Tiba-tiba saja pria tampan itu merasakan tarikan halus pada celananya. Rupanya Teja sudah berdiri di sebelahnya. Surya pun mengusap lembut kepala buah hatinya.

__ADS_1


Wajah Teja tampak berseri-seri. “Ayo, Om. Kita ke tempat mama.”


Pria tampan itu mengangguk. Kemudian tangan Surya digandeng putra kecilnya. Mereka pun berjalan bersemangat menghampiri Varsha. Begitu melihat keduanya mendekat, mata wisudawan ayu itu seketika membesar.


“Happy graduation.”


Suara bas Surya melantun dengan merdu mengucapkan selamat pada Varsha. Satu tangannya menyodorkan buket besar bunga mawar putih. Mendadak wanita cantik itu merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia sama sekali tak menyangka bahwa pria masa lalunya akan datang ke acara wisudanya.


“Terima kasih,” ucap Varsha tersenyum mengambil buket bunganya.


Tak sengaja, jemari kedua sejoli itu bersentuhan. Selama beberapa saat atmosfer di antara mereka terasa begitu berat dan canggung. Tak ada satu pun yang berbicara, hanya saling menatap tanpa tahu harus berbuat apa. Varsha tanpa sadar menggigit bibirnya, membuat Surya otomatis fokus menatap ke sana.


“Ealah. Ini Mas Surya, kan?” Suara sopran Bulik Ajeng seketika melerai keduanya.


“Mas Surya yang datang saat ulang tahun Teja?” tanya Paklik Haris memastikan.


“Benar Bulik Ajeng, Paklik Haris. Saya Surya yang waktu itu datang ke rumah Teja,” ujar Surya tersenyum sopan menyapa kerabat Varsha.


“Kalau begitu kemari Mas Surya. Berdiri di sebelah Varsha. Nanti Bayu yang akan foto buat kenang-kenangan.” Bude Rumi tiba-tiba saja sudah menarik tangan pria tampan itu dan menggiringnya ke samping keponakan cantiknya. Kemudian ia membawa Teja untuk berdiri agak menjauh.


Surya melirik bidadari hujannya yang elok. Entah mengapa menatapnya dari jarak sedekat ini malah semakin memperkuat kerinduan Surya pada Varsha. Ia pun mengepalkan satu tangannya dengan keras, berusaha menahan keinginan untuk membawa kabur wanita cantik itu ke mobilnya.


Cekrek!


“Sekali lagi!”


Tiba-tiba Teja berseru sambil berlari ke arah Surya dan Varsha. Keduanya pun tersenyum kecil menatap buah hati mereka begitu antusias menghampiri. Surya lalu dengan sigap menangkap putranya dan menggendongnya.


Varsha mencuri pandang ke arah dua laki-laki spesial dalam hidupnya. Kehangatan manis tiba-tiba saja mengalir lembut ke sekujur tubuhnya. Layaknya sebuah marshmallow panggang yang baru saja disuapkan ke dalam mulutnya.


“Ready?”


Varsha, Surya, dan Teja pun menghadap ke arah kamera.


“Satu ….”


Posisi mereka begitu dekat dan tampak akrab.

__ADS_1


“Dua ….”


Ketiganya tersenyum semringah dan memberikan pose terbaik.


“Tiga!”


Sebuah foto indah langsung terpampang pada layar ponsel Bayu. Menampakkan ketiga orang yang terlihat layaknya sebuah keluarga harmonis dan bahagia. Tetapi begitu melihat hasil jepretannya, Bayu tiba-tiba saja jadi mengernyitkan keningnya.


Entah mengapa semakin lama ia menatap Mas Surya, semakin mirip juga wajah Teja dengan pria tampan itu. Seolah laki-laki di samping kakaknya itu adalah ayah dari keponakannya. Bayu seketika menggeleng. Mungkin ia terlalu lama begadang semalam sehingga otaknya jadi jalan ke mana-mana.


Namun, rupanya bukan hanya adik Varsha saja yang merasakan perasaan janggal itu. Bude Woro dan Pakde Marta yang sudah seperti orang tua bagi Varsha dan Bayu, kini sedang mengamati Surya dari jauh. Berusaha menepis kemiripan pria tampan itu dengan Teja, cucu mereka.


“Untuk merayakan kelulusan Varsha, saya sudah memesan tempat di sebuah restoran di dekat sini. Nanti kita semua bisa makan siang bersama di sana,” ucap Surya pada saudara dan kerabat Varsha.


Wanita berkebaya anggun di sampingnya pun langsung menoleh ke arahnya. Varsha sudah hendak menolak dan mendebat pria tampan itu. Namun, Surya tiba-tiba meresponnya dengan satu kedipan mata berbahaya.


Melihat reaksi tak terduga itu, Varsha memutar kedua bola matanya di depan Surya. Sambil diam-diam berusaha menenangkan denyut jantungnya yang semakin tak terkontrol. Sementara Teja yang dari tadi mengamati tingkah kedua orang tuanya, hanya tersenyum manis dan menampilkan barisan giginya yang bolong-bolong.


***


Curcol Author:


Ku hepi dan girang sekali menulis bab ini huhuhuhu ><


<3<3<3<3<3<3<3


Halo semua, terima kasih sudah mampir ke KAHM. Semoga betah-betah ya, hehe.


Jangan lupa love, komen, jempol, dan hadiahnya ya ;D


Semoga harimu menyenangkan!


Nuhun~


- Bawang


 

__ADS_1


 


__ADS_2