Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XXI. Malam Penting (II)


__ADS_3

“Kamu tampak cantik sekali malam ini, Tessa.” Puji Dewa tersenyum.


Tessa memutar kedua bola matanya sebelum menjawab, “Memangnya hari biasanya enggak cantik?”


Entah mengapa di depan Dewa, Tessa jadi selalu tak bisa mengontrol kalemnya. Dia pasti akan menunjukkan taringnya duluan dan siap menyerang sebelum pria itu bahkan berbuat apa-apa. Padahal jelas sekali dirinya juga suka dengan pujian Dewa.


“Tentu saja hari biasanya juga cantik. Tapi malam ini lebih cantik lagi.” Ucap Dewa mantap.


“Jadi aku lebih cantik kalau memakai riasan berlebihan begini?”


Dewa tertawa kecil, “Sepertinya apapun yang aku katakan akan selalu salah, ya?”


“Kenapa kamu menarikku kemari?” Tanya Tessa. “Mau membicarakan retail kopi lagi?”


Dewa tersenyum lalu menggeleng, “Hmm… bagaimana kalau kamu yang memilih topiknya malam ini.”


Pria tampan itu menyandarkan punggungnya di pagar batu balkon hotel. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. Perhatiannya terfokus penuh pada wanita cantik di depannya. Namun Tessa masih tidak merespon.


“Tessa?” Panggil Dewa pelan.


Tessa kemudian berjalan mendekati Dewa lalu berdiri di sampingnya, “Bagaimana kalau… diam saja dan menikmati pemandangan?”


“Ehm. Begitu juga boleh.” Jawab Dewa mengangguk.


Keduanya pun berdiri di pinggir balkon dalam kesunyian. Menikmati kebersamaan masing-masing ditemani lampu-lampu indah dari mobil serta gedung yang menyala. Merasakan angin malam yang menyejukkan.


Tiba-tiba pandangan Dewa tertuju ke bawah. Ia mengenali mobil mewah yang baru saja datang. Seperti yang diduga, mamanya pun keluar dari pintu belakang sedan hitam tersebut. Kemudian Raka, asisten Surya, mengantarkannya masuk ke dalam hotel. Dalam hati Dewa bimbang apakah malam ini waktu yang tepat untuk mengenalkan Tessa pada mamanya.


Pria itu pun melirik wanita di sampingnya. Tubuh Tessa kelihatan sedikit menggigil. Dengan sigap, Dewa membuka jas lalu memakaikannya ke bahu wanita cantik itu.


“Thanks.” Ucap Tessa tersenyum.


“Anytime.”


***


“Hai Kak Surya.”


Seorang wanita jelita serta-merta memegang lengan Surya dengan akrab. Tampaknya hubungan keduanya cukup dekat. Tiba-tiba Varsha merasakan perasaan aneh. Seperti ada remasan pelan di ulu hatinya dan membuatnya nyeri.


“Hai Vera, senang kau bisa datang malam ini.”


“Terima kasih juga sudah mengundangku, Kak Surya.” Ucap wanita itu dengan suara manja.

__ADS_1


“Oh, perkenalkan ini Teja dan Mamanya, Varsha.” Kata Surya seraya mengarahkan tangannya pada pasangan ibu dan anak itu yang secara otomatis melepaskan pegangan Vera dari lengannya.


“Varsha, Teja, ini Vera Kamal. Keluarga Vera merupakan rekanan lama Keluarga Abhiyoga.” Jelas Surya.


Wanita itu mengangguk sopan pada Varsha dan Teja. Varsha tersenyum lalu melakukan hal yang sama. Di saat bersamaan, seorang pria tampak mendekati Vera dan berbisik di telinganya.


“Maaf. Sebenarnya aku ingin berbincang lebih lama lagi, tapi sepertinya aku harus pamit.” Kata Vera kemudian, sambil berjinjit menempelkan pipinya ke pipi Surya.


Varsha dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia juga tidak yakin kenapa dirinya melakukan hal tersebut. Yang Varsha tahu, ulu hatinya semakin terasa nyeri.


“Aku punya sesuatu untukmu.” Kata Surya tiba-tiba.


Ia lalu memasukkan tangannya ke saku dalam jas. Kemudian ia mengeluarkan satu gantungan kunci besar. Sebuah boneka parasut berbentuk awan.


“Ini Cloudy. Karakter baru mobile game DRF, ciptaan Teja.” Ucap Surya sambil memberikannya pada Varsha. “Gantungan kunci sekaligus merangkap sebuah payung.”


“Terima kasih.” Ucap Varsha tersenyum, dua lesung pipit manis tampak di pipinya.


“Karakter yang cute sekali, Teja.” Kata Varsha lagi, sambil mengelus kepala putranya. “Mama pasti akan memakainya.”


Sejujurnya, Surya memang menciptakan suvenir itu khusus untuk Varsha. Tiap kali ia melihat wanita cantik itu dibasahi hujan, rasanya Surya ingin berada di samping Varsha untuk memayunginya. Namun tentu saja tidak bisa selalu begitu. Jadi setidaknya dengan gantungan kunci yang merangkap payung, Varsha takkan lagi lupa membawa payung dan kehujanan.


“Nenek?”


Tiba-tiba suara Teja memecahkan momen manis ketiganya. Seorang wanita cantik nan elegan mendekati mereka. Cara jalannya begitu anggun dan memancarkan aura yang kuat.


Surya tersenyum, “Rupanya Mama sudah datang.”


“Tentu saja.”


“Oh. Nenek Tara adalah mamanya Om Surya?” Tanya Teja sedikit terkejut.


“Benar, Pria kecil.”


Entah mengapa Varsha tiba-tiba merasa tegang di depan ibunya Surya. Bibir dan tenggorokannya terasa kering. Ia bahkan bisa merasakan setetes keringat dingin yang mengalir di sepanjang punggungnya.


“Mama, perkenalkan. Ini Varsha, mamanya Teja.” Ucap Surya.


“Varsha, perkenalkan. Ini mamaku. Tara Abhiyoga, Chairman Akasa Group.”


“Senang akhirnya bisa berjumpa dengan Anda, Ibu Chairman Tara.” Kata Varsha tersenyum. “Teja juga banyak bercerita tentang Anda sebelumnya.”


Ibu Tara menganggukan kepalanya dengan anggun pada Varsha. Wanita muda itu pun tanpa sadar menelan ludahnya pelan. Ia masih bisa merasakan pandangan tajam Ibu Tara menembus kulitnya hingga ke tulang.

__ADS_1


“Sejak awal saya penasaran ingin bertemu dengan mamanya si pria kecil.” Ucap Ibu Tara akhirnya. “Mama pasti bangga sekali memiliki putra seperti Teja.” Lanjutnya kemudian.


“Ya, Ibu Tara. Saya selalu bersyukur memiliki Teja dalam hidup saya.” Jawab Varsha.


Tiba-tiba ia merasakan dua tangan kecil melilit pahanya, “Teja juga sangat bersyukur Mama ada di hidup Teja.”


Ibu Tara dan Surya pun tak kuasa menahan senyum melihat momen indah tersebut. Seketika Ibu Tara jadi merindukan masa-masa di kala Surya dan Bumi masih kecil. Ketika kedua putranya masih sebesar Teja dengan sikap mereka yang polos dan kekanakan.


Tak lama kemudian, asisten Surya datang dan mengarahkan keempatnya ke meja masing-masing. Ibu Tara semeja dengan Ibu Santika serta para jajaran direksi senior lainnya. Sementara Surya bersama dengan Dewa, Varsha, Tessa, dan Teja.


Acara pun akhirnya dimulai. Beragam hiburan dan pertunjukkan ditampilkan di atas panggung. Surya sesekali mencuri pandang ke arah Varsha. Menikmati setiap ekspresi yang dibuat oleh paras cantik wanita itu. Terutama dua lesung pipit manis yang malam ini sering sekali muncul.


Akhirnya, tiba giliran Surya dan Teja untuk mengenalkan mobile game DRF. Keduanya pun naik ke atas panggung dengan mantap. Varsha sebenarnya sudah berkali-kali menonton Teja melatih presentasinya, namun tentu saja saat ini terasa berbeda.


“Selamat malam hadirin sekalian. Saya Teja Ametarka, pengembang di Akasa Game. Terima kasih telah datang di acara peluncuran mobile game DRF.” Sapa Teja dengan suara imutnya yang langsung membuahkan decakan kagum dari penonton di depannya.


“Selamat malam semua. Saya Surya Abhiyoga, yang berhasil merekrut pengembang jenius di samping saya ini.” Kini giliran Surya yang memancing gelak tawa dari hadirin yang datang.


Kemudian secara bergantian, Surya dan Teja menjelaskan semua karakter dan fitur terbaru pada versi mobile game DRF. Penyajian mereka begitu menarik dan sama sekali tak membosankan. Kerjasama keduanya pun begitu kompak dan luar biasa. Mereka dengan lancar saling mengisi momen masing-masing.


Surya tersenyum menatap anak laki-laki di sampingnya. Teja kini sedang membahas materi terakhir mereka dengan antusias. Sebuah perasaan hangat dan bangga mendadak merasuki dirinya. Seolah Surya mengerti benar apa yang sedang Varsha rasakan saat ini. Layaknya perasaan orang tua yang bersukacita melihat kesuksesan putranya.


Setelah ini, Surya dan Teja hanya tinggal memainkan trailer mobile game DRF dan semuanya akan berjalan dengan sempurna. Namun tiba-tiba saja Surya melihat suatu benda kecil terjatuh dari atas dan memantul pelan di lantai. Ia pun spontan melihat ke langit-langit hotel.


Mata Surya seketika membelalak. Tepat di atas Teja dan dirinya, tiang-tiang lampu pencahayaan panggung sedang meluncur turun dengan cepat. Surya pun secara refleks langsung berlari ke arah Teja dan mendekap erat tubuh anak laki-laki itu. Badan Surya mengurung Teja dari atas, berusaha melindunginya.


Tiba-tiba Surya merasakan hantaman keras pada punggung dan kepalanya. Namun ia tetap bertahan, bersusah payah melawan segala rasa sakit yang ia terima. Setelah beberapa saat, Surya merasa tubuhnya semakin melemah dan akhirnya terguling ke samping.


Kondisi pria itu begitu buruk, bahkan napasnya pun terlihat sesak. Tetapi ia masih tetap memaksa mengernyitkan matanya untuk memeriksa keadaan Teja. Begitu memastikan anak laki-laki itu bernapas dengan normal dan bisa membuka matanya, mata Surya pun terpejam.


Dan tiba-tiba semuanya menjadi hening dan gelap.


***


Curcol Author:


-


notes: Author lagi nangis sesegukan di pojokan.


Semoga menikmati hiks... bab ini hiks... ya guys hiks... Jangan lupa hiks... love, komen hiks... dan jempolnya hiks....


Maaf ya update hari ini telat, hiks. Jadi hari ini akan ada update lagi nanti. Hiks.

__ADS_1


Nuhun\~


- Bawang.


__ADS_2