Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XLIV. Besok Malam (III)


__ADS_3

Tiba-tiba saja ruangan menjadi terang-benderang. Surya dan Varsha masih berada dalam posisi yang sama. Namun percikan romantis yang menyelimuti mereka sebelumnya mendadak tersapu bersama lampu yang menyala.


Pria tampan itu menghela napas panjang. Kemudian ia menoleh ke samping dengan jengkel. Ingin tahu siapa yang menjadi biang kerok penghancur momen mesranya bersama Varsha.


Rupanya Ardi yang tak sengaja menyalakan lampu di ruangan tersebut. Ia kini berdiri ternganga menatap pemandangan di depannya. Antara syok dan ingin melarikan diri dari tempat tersebut secara bersamaan.


“So … sorry, Boss. Saya hanya mau mengambil hard disk yang ketinggalan,” ucap Ardi cepat. “Silakan dilanjutkan.”


Ardi lalu menyusup kilat ke salah satu meja. Mengambil hard disk dari dalam laci. Kemudian bergegas untuk pergi lagi, namun suara Surya menghentikannya.


“Ardi,” panggil Surya sambil berjalan menghampirinya. “Sudah kau persiapkan yang kuminta?”


“Su … sudah, Pak Bos.”


“Good. Jangan selalu menghabiskan waktumu di kantor,” tambah Surya lagi. “Pulang dan beristirahatlah.”


“Baik, Pak Bos,” respon Ardi yang segera melesat meninggalkan ruangan tersebut.


Surya menunggu hingga Ardi sudah tak tampak lagi, lalu melirik ke arah Varsha. Tersenyum pada bidadari hujannya. Wanita cantik itu tertawa kecil lalu berjalan menghampirinya.


“Ruangan selanjutnya?” tanya Varsha.


“Yes.”


Keduanya pun meninggalkan Lighting Room dan melanjutkan tur mereka. Kini Surya membawa Varsha ke sebuah ruangan luas. Desainnya kosong seperti sebuah gimnasium dan ukurannya sedikit lebih kecil.


“Ini adalah Motion Capture Studio,” jelas Surya. “Kamu lihat jajaran kamera di atas sana?”


“Ehm mh.”


“Itu semua merupakan kamera yang memiliki high frame rate,” lanjutnya lagi. “Yang terhubung ke software canggih dalam komputer di sana.”


“Kamera itu nanti akan menangkap reflective markers yang terpasang pada baju spandeks yang dikenakan oleh para aktor laga. Kemudian akan menjadikan setiap aksi dan gerakan mereka dalam bentuk digital.”


Varsha menganggukkan kepalanya, merasa takjub dan kagum. Ia pernah melihat video mengenai pembuatan film aksi animasi yang juga menggunakan sistem ‘motion capture’. Hanya saja dulu tak terlintas dalam benaknya bahwa video game juga memakai teknik tersebut.


Begitu ia lebih memperhatikan sekelilingnya, barulah Varsha menyadari ada banyak perlengkapan untuk berakting laga di dalam sini. Matras-matras tipis, pedang serta pistol mainan, barang-barang dari stirofoam, sarung tinju, tongkat kasti, dan lain sebagainya.


Entah mengapa melihat itu semua, jadi mengingatkan masa-masa dirinya aktif mengikuti pencak silat saat SMA. Varsha bahkan pernah mendapatkan medali emas dalam kompetisi antar sekolah. Tiba-tiba saja muncul ide untuk menantang Surya beradu bela diri.


“Kamu tidak serius, ‘kan?” tanya Surya saat melihat bidadari hujannya berpose siap bertarung di atas matras.


“Kenapa? Kamu takut?” tantang Varsha. “Aku bisa mematikanmu dalam tiga langkah.”


Merasa tertantang, Surya mendengus kecil kemudian melepaskan jasnya. Membuka kancing pada pergelangan tangan kemejanya lalu menggulungnya hingga siku. Ia pun bergabung bersama Varsha naik ke atas matras.


“Ready?” tanya Surya.


“Always, Dear.”


Keduanya pun saling menatap dan mengawasi. Kemudian Varsha tersenyum manis yang otomatis membuat Surya terbuai. Dalam sekejap, Varsha meluncur di matras dan menjepit kedua betis Surya dengan kedua kakinya. Membuat pria tampan itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


Wanita cantik itu pun langsung menahan badannya dari atas dan mengunci pergerakannya. Ia memang tidak bercanda saat mengatakan bahwa dirinya bisa melumpuhkan Surya dalam tiga langkah. Bahkan jurus tersebut merupakan teknik andalannya saat SMA dulu.

__ADS_1


“Tadi aku memakai yang namanya teknik guntingan,” jelas Varsha lirih dari atas tubuh Surya. Wajah keduanya begitu dekat.


Pria tampan itu hanya terdiam menatapnya lalu tersenyum. “Wah, kekasihku rupanya juga jago bela diri. Super sexy.”


“Tiba-tiba jadi makin sayang ….”


Komentar pangeran mataharinya pun membuat kedua pipi Varsha merona merah. Tanpa sadar ia mengendurkan pegangannya pada Surya. Seketika pria tampan itu membalikkan posisi mereka dengan cepat. Mengunci pergerakan Varsha dari atas tubuhnya.


“Kalau ini namanya … jurus cinta.”


Sebuah kecupan lembut mendarat di pucuk hidung wanita cantik itu. Wajahnya pun kian memerah. Surya tertawa kecil melihat reaksi bidadari hujannya. Kemudian ia berdiri dan menarik Varsha bersamanya.


“Aku sudah tak sabar ingin membawamu ke tempat yang terakhir,” ucap Surya.


“Ruangan apa itu?”


“Kamu pasti akan menyukainya,” ujar Surya sambil menggandeng tangan Varsha keluar.


***


Akasa Tower Light Show.


Pertunjukan lampu cantik gedung ini memang begitu populer hingga menjadi salah satu spot favorit berswafoto ria di berbagai sosial media. Sejak dulu Varsha juga ingin menontonnya, namun selalu saja tidak sempat. Tak disangka, kini ia malah akan menikmatinya dengan pemiliknya sendiri.


Kedua sejoli itu kini sedang duduk bersila berdampingan di atas rerumputan beralaskan tikar. Di sekitar mereka juga sudah banyak pasangan, keluarga, atau grup-grup lainnya yang turut duduk di depan pencakar langit tersebut. Menantikan Light Show yang akan bermain sebentar lagi.


Surya lalu melirik ke arah bidadari hujannya. Kemudian ia mengarahkan kepala Varsha agar bersandar pada dada bidangnya. Sementara satu tangan pria itu memeluk pinggang kekasihnya dari belakang.


“Kita punya waktu sekitar setengah jam lagi sebelum pertunjukan Light Show-nya dimulai,” tutur Surya sambil mengecek arlojinya. “Sekarang jelaskan padaku.”


“Aku tipe orang yang banyak berpikir,” ungkap Varsha. “Sebelum hendak memutuskan sesuatu yang penting, biasanya aku akan membuat daftar pro dan kontra.”


Surya tersenyum. “Jadi Teja mencontoh itu darimu rupanya. Aku pernah melihatnya membuat daftar pro dan kontra sewaktu ia bekerja.”


Varsha ikut tersenyum dan mengangguk. “Ya, itu dariku.”


“Lalu bagaimana dengan hasil daftar pro dan kontra lamaranku?” tanya Surya.


Varsha yang masih bersandar pada pria tampan itu bisa mendengar detak jantung Surya semakin melaju. Seketika ia menjadi terharu sekaligus merasa bersalah pada pemuda di sampingnya.


“Aku tak bisa membuatnya,” papar Varsha. “Aku takut hasil dari daftar itu malahan akan mengecewakanku ….”


“Karena bagaimanapun juga aku ingin menjawab ‘iya’ ….”


Mendengar respon Varsha membuat hati Surya terenyuh. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya pada kekasihnya. Membawanya lebih dekat lagi pada tubuhnya.


“Namun tak bisa dipungkiri, memang ada banyak hal yang harus dipikirkan.”


Varsha terdiam sesaat lalu melanjutkan, “Aku juga ingin hubungan kita bekerja, Surya. Aku tak ingin yang ada di antara kita hanyalah emosi sesaat saja ….”


Wanita cantik itu lalu mengambil napas panjang dan mengeluarkannya. “Maka dari itu aku ingin kamu mundur selangkah dan memikirkannya kembali baik-baik.”


“Karena kini bukan hanya mengenai kita berdua saja. Teja juga ada di dalamnya.”

__ADS_1


“Mungkin kamu juga bisa mendiskusikannya dengan keluargamu,” tambah Varsha. “Aku pun juga akan melakukan hal yang sama.”


Surya terpaku sejenak kemudian mengangguk dan mengecup lembut kening Varsha. “Baiklah. Aku mengerti.”


“Kalau begitu mari kita mundur mengambil ancang-ancang layaknya sebuah per pegas ... lalu melaju kencang bersama-sama,” tambahnya lagi yang membawa senyum ke wajah Varsha.


“Tepat sekali.”


Tak lama kemudian, pertunjukan Light Show Akasa Tower pun dimulai. Berbagai macam lampu laser cantik tersorot ke sana-kemari membuat tarian elok. Merangkai formasi indah dengan ragam bentuk mengikuti alunan musik yang bermain.


Kaca-kaca gedungnya pun tidak mau kalah. Terus memainkan latar yang memesona dan memukau penikmatnya. Kedua mata Varsha tak henti-hentinya membesar memandang takjub pentas lampu di hadapannya.


Setelah lebih kurang 15 menit, pertunjukan Light Show Akasa Tower akhirnya usai. Seluruhnya meredup dan kembali normal seperti pencakar langit pada umumnya. Namun tiba-tiba saja pada sepanjang kaca gedung tersebut bermain lagi sebuah klip.


Tampak animasi siluet pria berlatar matahari dan siluet wanita berlatar hujan tampil di sana. Kemudian keduanya tampak berkencan bersama hingga akhirnya si siluet pria menekuk lututnya dan melamar si siluet wanita. Kemudian seluruh layar berganti menampilkan sebuah kalimat.


‘Rain, will you please marry me?’


Seketika teriakan iri dan raungan kencang terdengar dari sekeliling mereka. Hampir semua orang di sana juga bertepuk tangan keras sambil melihat ke kiri dan kanan mencoba mencari siapa pasangan yang dimaksudkan di layar. Ingin menjadi tim hore pemberi semangat pada pejuang cinta tersebut.


Varsha pun otomatis melirik tajam ke arah Surya dan melepaskan pelukannya. Kemudian berdiri dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu sementara pria tampan di belakangnya mengejar sambil mencoba menjelaskan.


“Varsha, tunggu. Hei! Sebentar biar kujelaskan …. Ini sudah diatur sebelum percakapan kita tadi ….”


Surya menarik tangan Varsha dan melihat wajah bidadari hujannya yang merah padam. Namun bukan kemarahan yang tampak di sana tetapi suatu emosi yang lain. Pemuda itu pun tak kuasa menahan senyumnya.


“Jangan-jangan … kamu malu, ya?” goda Surya.


Varsha sontak mengalihkan wajahnya. Lalu berjalan semakin cepat lagi, hingga nyaris berlari. Ia tak percaya Surya baru saja melakukan hal semacam itu di depan khalayak ramai. Memangnya mereka sedang berada dalam novel atau drama percintaan.


“Varsha! Hei tunggu aku! Aku masih ingin melihat wajah tersipumu!”


“Varsha!”


***


Curcol Author:


Ihihihihihi. Semoga suka dengan bab ini ya, guys. Maaf Author lamaan semedinya ><


Rekomendasi lagu saat membaca bab ini:


On the Night Like This by Mocca.


<3<3<3<3<3<3<3


Jangan lupa love, komen, jempol, hadiah, dan votenya ya biar makin semangat hehe ;D


Nuhun~


- Bawang


 

__ADS_1


 


__ADS_2