Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XLVII. Merpati Putih


__ADS_3

Beberapa Jam Sebelumnya.


“Saya rasa situasinya semakin buruk, Bu Santika.”


Sebuah tamparan keras seketika melayang ke arah wajah Raka. Namun, ia hanya berdiri diam saja siap menerima pukulan tersebut. Sementara pipi kirinya langsung merona merah dan tergores cincin-cincin berlian mewah.


“Kerjamu tidak pernah becus!” maki Ibu Santika.


Ekspresi ramah dan damai menenangkan bak seekor merpati putih yang biasa terlihat pada wajah wanita itu kini tak tersisa sama sekali. Seluruh mukanya mengerut dan napasnya tak beraturan. Emosinya begitu tak terbendung sekarang.


“Lima tahun lalu kau tak berhasil menyingkirkan Surya dan aku masih memberimu kesempatan!” ujar Ibu Santika. “Setelah kita menanti dan menunggu lama kesempatan untuk datang, kau hancurkan juga momen di Akasa Hotel!!"


“Begitu sulitkah untuk mengeliminasi keponakanku?! Kau bahkan adalah asisten kepercayaannya!!”


Ibu Santika lalu berjalan mondar-mandir sambil meremas kedua tangannya. Ia menggigit bibirnya sambil berusaha berpikir keras. Kemudian ia melirik tajam ke arah Raka.


“Kabar buruk apa lagi yang kau punya untukku?”


Raka terdiam sejenak. Kepalanya masih menghadap ke lantai, tak berani menatap lawan bicaranya. Lalu ia menarik napas panjang sebelum akhirnya merespon.


“Tim penyidik kepolisian bekerja begitu berhati-hati dalam menangani kasus di Akasa Hotel,” lapor Raka.


“Pergerakan mereka begitu halus dan tak kentara. Setiap hasil temuan dikunci rapat dan begitu dijaga kerahasiaannya,” tambahnya lagi.


“Sama sekali tak ada celah untuk bisa ditembus.”


Raka menelan ludahnya. “Tampaknya mereka telah menemukan bukti kuat untuk kasus tersebut.”


PRANGG!!


Ibu Santika baru saja membanting sebuah hiasan kaca ke dekat Raka. Serpihannya bertebaran ke mana-mana dan beberapa berhasil menggores wajah pemuda itu. Menambahkan koleksi luka lain pada mukanya yang sudah babak belur.


Raka tetap tak bergeming. Ia merasa dirinya memang layak mendapat perlakuan tersebut. Ibu Santika adalah malaikat penolongnya di saat ia dan tiga adiknya nyaris mati kelaparan. Hanya wanita itu lah satu-satunya yang peduli akan nasib mereka.


Ibu Santika menaungi dia dan adik-adiknya. Memberi keempatnya makan, pakaian, dan tempat tinggal. Tak hanya itu, wanita itu juga menyekolahkan dirinya dan semua adiknya hingga ke perguruan tinggi. Dan kini bukannya membalas semua kebaikan itu, ia malah mengecewakan Ibu Santika.


“Bukankah kau bilang seluruh CCTV sudah diatasi?! Bahkan tak ada satu sidik jari atau kejanggalan apa pun yang bisa ditemukan pada tiang penerangan lampu panggung!!”


Dahi Raka mengerut. Sejujurnya ia juga tidak yakin bagaimana pihak penyidik bisa menemukan bukti pada kejadian di Akasa Hotel. Padahal dirinya telah berulang kali memastikan seluruh kamera pengawas telah disetel untuk menampilkan gambar berulang saat ia sedang menjalankan aksinya.


“Maaf, Ibu Santika. Saya tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Ibu.”


Ibu Santika memejamkan matanya dan mendengus kesal. Mengapa ia begitu sial sekali dalam memilih algojo pengeksekusi. Rencananya tiap kali selalu saja gagal.


“Ada … lagi?” tanya Ibu Santika dengan suara serak tertahan.


Bibirnya bergetar hebat menekankan setiap katanya. Jari-jarinya mengepal keras hingga telapaknya memutih. Sementara darahnya mendidih hebat di dalam.


“Pak Surya meminta penyidikan ulang pada kasus kecelakaannya lima tahun lalu,” lapor Raka. “Investigasinya sedang berjalan dan tampaknya telah menemui titik terang.”


Seketika Ibu Santika merasa kepalanya berputar. Ia pun kehilangan keseimbangan dan teroleng ke samping, namun Raka dengan sigap menangkapnya. Tak lama, Ibu Santika mendapatkan kembali ketenangannya dan berdiri tegak.


“Kita harus segera meninggalkan tempat ini,” tegas Ibu Santika. “Persiapkan semua secepatnya.”

__ADS_1


“Baik,” respon Raka cepat.


“Hubungi putraku. Beri tahu dia untuk segera kemari,” tambahnya lagi.


“Baik, Ibu Santika.”


Wanita itu lalu menatap sekelilingnya. Keadaan di sekitarnya begitu berantakan. Pecahan hiasan kaca yang tadi ia lempar tampak berceceran di mana-mana.


“Dan bereskan semuanya sebelum Dewa datang.”


“Baik, Bu Santika.”


***


“Hi, Mom.”


Dewa membungkuk, memeluk ibunya dari belakang sofa. Kepalanya ia sandarkan pada bahu wanita itu. Sementara rambutnya diusap lembut.


“Bagus, kamu sudah datang,” ujar Ibu Santika. “Mama punya kejutan.”


Dewa melepaskan rangkulannya lalu kembali berdiri. “Kejutan?”


“Ya. Kita akan pergi berlibur.”


Ibu Santika tersenyum lebar. Satu tangannya mengisyaratkan putranya agar duduk di sebelahnya. Dewa pun menurutinya dan berjalan menghampiri.


Begitu buah hatinya duduk, Ibu Santika langsung meraih kedua tangan Dewa. Meremasnya pelan seolah sudah tak sabar ingin memberi tahu tujuan mereka. Wajahnya juga tampak ramah dan berseri-seri, begitu berbeda dari sejam sebelumnya.


Surya tersenyum dan mengangguk. “Oke. Kapan, Mom?”


“Malam ini.”


“Malam ini?” ulang Dewa lagi memastikan. “Sekarang?”


“Ya. Ini bukan kali pertama Mama mengajak untuk liburan spontan, ‘kan?”


Mama Dewa benar. Ini bukan kali pertama ibunya mengajak dirinya pergi berlibur ke suatu tempat secara mendadak. Namun saat ini, pemuda itu tahu benar mengapa mamanya ingin mengajaknya pergi.


Yaitu untuk melarikan diri ....


“Mama juga sudah hampir selesai mengemasi pakaian dan barang-barang yang akan kita butuhkan di sana,” tutur Ibu Santika. “Termasuk milikmu.”


“Baiklah,” ujar Dewa setuju. “Tetapi sebelumnya ada hal yang harus kuurus terlebih dulu.”


“Mama memberi tahu kabar ini terlalu mendadak. Aku perlu mengatur ulang jadwalku sebelum pergi,” jelas Dewa.


“Hmm … tapi kamu tetap akan ikut pergi bersama Mama, ‘kan?” Kedua mata Ibu Santika menyipit, meragukan putranya.


“Tentu saja. Mama pergi terlebih dahulu, kemudian aku akan menyusul segera setelah semua urusan selesai,” janji Dewa sambil meremas pelan kedua tangan ibunya.


“Baiklah kalau begitu,” respon mama Dewa tersenyum. “Mama akan kembali bersiap-siap.”


Ibu Santika pun berdiri dan melenggang pergi untuk mempersiapkan segalanya, sebelum meninggalkan tempat ini dalam jangka waktu lama. Ia hanya perlu memastikan bahwa buah hatinya juga aman dan ikut bersamanya. Tiba-tiba entah mengapa ia jadi ingin melihat putranya sekali lagi. Ibu Santika pun membalikkan badannya sesaat ke arah Dewa.

__ADS_1


“See you soon, Son,” ucap mama Dewa sambil tersenyum.


“See you soon, Mom.”


Begitu mamanya menghilang dari pandangan, ekspresi Dewa berubah total. Semua senyum dan antusiasme palsu miliknya berubah menjadi ekspresi sendu. Ia pun menghela napas panjang.


Mamanya memang selalu seperti ini sejak dulu. Senantiasa memastikan bahwa seluruh kebutuhan Dewa terpenuhi lahir dan batin. Terus berusaha melindunginya dengan cara apa pun. Tak peduli jika metode yang digunakan salah atau tidak.


Ia pertama kali mengetahui sifat ‘unik’ ibunya saat dirinya berumur 12 tahun. Waktu itu, Dewa mengikuti kompetisi sains dan mendapat peringkat ke-satu. Tentu saja, ia sangat senang dan bangga pada hari itu. Padahal Dewa awalnya sama sekali tidak yakin akan menang, begitu melihat karya-karya rivalnya.


Namun tepat keesokan harinya, ia melihat mamanya melakukan pertemuan diam-diam dengan para juri kompetisi sains tersebut. Lalu memberikan amplop tebal berisi uang pada mereka. Dewa pun begitu terkejut, sekaligus merasa kecewa.


Seketika seluruh memorinya saat mengikuti berbagai ajang perlombaan terlintas dalam benaknya. Ia selalu mendapatkan titel juara, tanpa absen. Namun, apakah itu murni hasil kerjanya atau sokongan ibunya, Dewa takkan pernah tahu.


Pria tampan itu menghela napas panjang lagi. Apa pun yang telah diperbuat ibunya, kini juga merupakan tanggung jawabnya. Selama ini, wanita itu telah melindungi dirinya dengan segenap jiwa dan raga. Kali ini biarlah dia yang melakukannya.


“Raka, apa kau tahu Surya di mana sekarang?”


“Pak Surya tak bisa saya temukan di mana pun. Kemungkinan beliau sedang berada di shooting range milik mendiang Pak Bumi,” lapor Raka.


“Baik. Terima kasih, Raka,” respon Dewa.


“Raka, pastikan mamaku bisa keluar dari tempat ini dengan aman dan selamat,” tambahnya lagi.


“Baik, Pak Dewa.”


Dewa pun berjalan menuju garasi untuk mengambil mobilnya. Tak lama, sebuah sedan hitam tampak melaju kencang ke sebuah daerah yang jauh dari pemukiman dan keramaian. Tempat di mana hanya dirinya dan sepupunya yang tahu. Shooting range milik Bumi.


***


Curcol Author:


Hix. Sedih Authortu ....


Jadi kangen nulis hepi2 wkwkwk xD


PS: Siapa yang sukses menebak pelaku sebenarnya? 0_0


<3<3<3<3<3<3<3


Halo semua, semoga menikmati bab ini :)


Jangan lupa terus dukung dengan memberi love, komen, jempol, hadiah dan votenya ya ;D


Selamat malming dan semoga mimpimu indah!


Nuhun~


- Bawang


 


 

__ADS_1


__ADS_2