
Sudah beberapa hari belakangan ini, Surya berusaha mencocokkan jadwalnya dengan mamanya. Namun, Ibu Chairman Tara rupanya terlalu sibuk bahkan untuk menghabiskan waktu bersama putranya. Sebagai pimpinan tertinggi di Akasa Group, beliau harus memastikan seluruh perusahaannya berjalan dengan sempurna.
Apalagi dengan adanya krisis yang menimpa Akasa Group sebulan kemarin. Jangankan bertemu Surya, untuk tidur atau sekadar menghubungi putranya saja ia tidak sempat. Namun untung saja, berkat buah hatinya pula, kini dirinya bisa sedikit bernapas lega. Meskipun masih ada beberapa sisa masalah yang perlu ditangani.
Sesungguhnya, Surya memang ada agenda khusus ingin pergi menemui mamanya. Tentu saja ada kaitannya erat dengan hubungan spesialnya dengan Varsha dan Teja. Untuk itulah ia ingin segera buru-buru menjumpai ibunya untuk memberitahukan perihal tersebut.
“Besok pagi, Ibu Tara ada jadwal golfing dengan Ibu Chairman Hera Kemal, Pak Surya,” ujar Sherry via telepon. “Setelahnya, beliau akan ada rapat dengan Akasa Food.”
“Kalau saya boleh menyarankan. Mungkin Pak Surya bisa berbicara dengan Ibu Chairman saat beliau dalam perjalanan dari golf course menuju Akasa Food Headquarters.”
“Baik. Terima kasih banyak, Sherry,” respon Surya. “Kurasa aku akan melakukan itu.”
“Dengan senang hati, Pak Surya.”
Malam itu, pria tampan tersebut berusaha memainkan segala skenario di dalam kepalanya. Sambil berbaring di atas tempat tidur, ia membayangkan bagaimana ibunya akan menerima kabar mengejutkan darinya. Bahwa dia telah menemukan Rain dan bagaimana mamanya sebenarnya sudah memiliki seorang cucu ….
Surya menghela napas panjang. Ia sama sekali tidak tahu apa yang akan menjadi respon ibunya. Selama ini Ibu Tara adalah seseorang yang logis, jadi ia sedikit berharap mamanya bisa menerima kenyataan tersebut dengan baik. Ditambah lagi, sudah lama sekali mamanya menginginkan seorang menantu dan cucu.
Namun di sisi lain, belum ada satu pun keturunan Abhiyoga yang menikah dengan seseorang yang berstatus non-konglomerat. Bahkan ayah dan ibunya saja dijodohkan demi menguatkan relasi antar dua keluarga ningrat. Sama halnya juga dengan keluarga Dewa.
Meskipun, Surya tentu saja tidak memedulikan hal tersebut. Masih ada keraguan dalam hatinya bahwa ibunya akan tetap memandang kedudukan keluarga kekasihnya. Walau setelah pria tampan itu ingat-ingat lagi, pertemuan pertama ibunya dengan Varsha saat malam peluncuran mobile game DRF, tampaknya baik-baik saja. Plus, mamanya juga sepertinya menyukai Teja.
Surya kembali menghela napas panjang. Ia memutuskan untuk memejamkan mata saja daripada pikirannya melantur ke mana-mana. Sebaiknya ia lekas tidur, agar tubuhnya dalam kondisi prima untuk menghadapi mamanya besok.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Surya sudah bangun. Kemudian ia segera meluncur menuju golf course, tempat mamanya bermain bersama rekannya. Menurut Sherry, asisten ibunya, mungkin mereka akan selesai sekitar satu sampai dua jam lagi.
Begitu sampai, ia bisa melihat mobil Rolls-Royce putih milik ibunya sudah terparkir manis di sana. Tak lama kemudian sudah terlihat Ibu Tara dan Sherry, bersama dua orang lainnya yang tampak akrab, sedang berjalan ke arahnya. Mereka adalah Ibu Hera Kamal beserta putrinya, Vera Kamal. Rekanan lama Keluarga Abhiyoga.
“Hai, Mom,” sapa Surya. Ibu Tara tersenyum mengangguk.
“Hei, Sherry.”
“Selamat pagi, Pak Surya,” jawab Sherry sambil menundukkan kepalanya. Kemudian ia segera pamit dengan sopan menuju ke arah mobil Ibu Tara terparkir.
“Selamat pagi, Tante Hera dan Vera,” sapa pria tampan itu lagi. Kini pada dua orang yang berdiri di samping mamanya.
“Selamat pagi, Surya. Sudah lama sekali rasanya Tante tidak melihatmu,” ujar seorang wanita anggun berwajah cantik.
“Melihat orangnya langsung, tentu saja jauh lebih tampan daripada versi video viral Surya saat di pantai itu. Benar kan, Vera?”
__ADS_1
“Benar, Ma,” jawab wanita muda di sebelah Tante Hera. “Apa kabarmu, Kak Surya? Terakhir kita bertemu, sepertinya saat malam peluncuran mobile game DRF.”
“Justru aku masih kalah dengan Tante Hera yang selalu tambah cantik dan rupawan tiap kalinya,” puji Surya yang langsung disambut dengan tepukan pelan hangat pada lengannya oleh Ibu Hera.
“Ya. Kamu benar, Vera. Sepertinya kita bertemu terakhir kali pada saat itu,” respon pria tampan tersebut.
“Kabarku baik-baik saja. Bagaimana dengan bisnis event management milikmu? Aku dengar kamu sedang memperluasnya.”
“Memang tak pernah ada kabar yang terlewatkan dari Kak Surya,” ujar Vera tersenyum. “Kami memang sedang mencoba mengembangkan Kemal Co. ke beberapa negara tetangga.”
“Lihat putra-putri kita ini, Tara,” timpal Ibu Hera. “Tampak sangat serasi sekali.”
Namun sebelum Surya dan mamanya sempat merespon, Vera sudah terlebih dahulu menggaet lengan Ibu Hera. “Sebaiknya aku cepat-cepat membawa mamaku pulang sebelum Ibu Chairman ini mengusulkan ide macam-macam.”
“Mama, kita tidak boleh berlama-lama,” kata Vera mengingatkan. “Masih ada rapat dengan para dewan direksi sejam lagi.”
“Ah. Kamu benar, Sayang,” tutur Ibu Hera. “Baiklah, Tara dan Surya. Sampai ketemu lagi, ya.”
“Tante Tara dan Kak Surya, kami duluan, ya.”
Pasangan ibu dan anak itu pun melambaikan tangan mereka pada Ibu Hera dan Vera. Begitu keduanya tak tampak lagi, Surya dan mamanya juga segera menyusul masuk ke dalam mobil Rolls-Royce putih yang terparkir tak jauh dari sana. Ibu Tara menatap anak laki-lakinya dengan ekspresi tak terbaca, saat putranya itu tiba-tiba saja duduk di sampingnya.
“Mama tahu kamu ingin membicarakan sesuatu,” tutur wanita anggun itu. “Namun, ada hal mendesak dari tim Australia. Jadi Mama akan segera melakukan telekonferensi dengan mereka sepuluh menit lagi.”
Hati Surya seakan mencelus mendengar perkataan ibunya. Namun, ia sudah menetapkan hati untuk memberitahukan semua pada mamanya hari ini. Ia tak ingin lagi menunda-nundanya.
“Sepuluh menit cukup untukku,” tegas Surya.
“Baiklah. Apa yang ingin kamu diskusikan?”
Surya menarik napas panjang lalu menhempaskannya. “Mama … aku telah menemukan Rain. Wanita yang selama ini selalu kunantikan.”
“Maksudmu Varsha?”
Sontak pria tampan itu terkesiap. Ia sama sekali tak menyangka ibunya sudah tahu terlebih dahulu sebelum ia mengatakannya. Ia pun tak bisa merespon apa-apa lagi selain menganggukkan kepalanya.
“Ya ….”
“Ada lagi?” tanya Ibu Tara.
Entah mengapa Surya jadi kehilangan kata-kata. Padahal tadi dirinya sudah mempersiapkan seluruh penjelasan yang akan ia sampaikan pada ibunya. Namun, pikirannya tiba-tiba saja jadi kosong saat melihat ekspresi mamanya yang tampak tak acuh.
__ADS_1
“Ah, selain itu ... putra dari Varsha. Teja, dia-”
“Dia adalah cucu kandungku,” potong Ibu Tara sebelum Surya menyelesaikan kalimatnya.
“Ya ….”
“Ada lagi yang lain?” tanya Ibu Tara lagi sambil mengecek arlojinya. “Kita hanya punya waktu sekitar tiga menit lagi.”
“Kurasa … itu saja untuk saat ini, Mom.”
“Baiklah. Kamu bisa turun dari mobil sekarang,” ujar Ibu Tara singkat. “Telekonferensi Mama akan segera dimulai.”
Surya pun menuruti ibunya dan keluar dari sedan putih tersebut. Kemudian dirinya hanya terdiam terpaku menatap kendaraan mewah milik mamanya perlahan pergi meninggalkan pelataran parkir. Pria itu tidak yakin apa yang sebenarnya baru saja terjadi, tapi tampaknya Ibu Tara tak sepenuhnya menyambut baik fakta tersebut.
Namun yang tidak Surya tahu, di dalam benak mamanya sudah banyak sekali hal yang dipikirkan. Terutama mengenai dua orang bernama Varsha dan Teja. Wanita anggun itu lalu melirik pada asistennya yang duduk di sebelahnya.
“Sherry, apa agenda rapat di Akasa Food Headquarters?”
“Agenda rapat hari ini untuk menentukan CEO Akasa Food selanjutnya menggantikan Pak Dewa, Ibu Chairman,” jawab Sherry.
Ibu Tara tampak terdiam sejenak lalu akhirnya berkata, “Batalkan rapat itu. Ada tempat lain yang ingin kutuju.”
“Baik, Ibu Chairman. Boleh saya tahu tujuan kita selanjutnya?”
“Kediaman Varsha.”
***
Curcol Author:
Jeng jeng jeng jeng~ Hayolo ....
<3<3<3<3<3<3<3
Hi, jangan lupa terus dukung Author dengan memberi love, like, jempol, hadiah, dan vote kalian, ya! Biar makin semangat nih hehe.
Semoga harimu tadi menyenangkan! Selamat mimpi indah!
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1