Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XXXIX. Saat Hujan Bersama Matahari


__ADS_3

Jantung Varsha berdegup kencang dan kedua pipinya terasa memanas. Ia bisa merasakan perut kekar Surya di bawah tubuhnya. Sejujurnya, ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Berjarak sedekat ini bersama satu-satunya pria yang pernah menghabiskan malam bersamanya.


Namun setelah beberapa saat penuh dilema, pria tampan yang memeluknya tidak melakukan apa-apa. Varsha menunggu lagi sejenak, namun tetap tak ada respon. Tubuhnya pun jadi terasa sedikit kaku karena berlama-lama dalam posisi canggung.


Tiba-tiba Varsha tersentak kaget. Surya baru saja mengeluarkan sebuah dengkuran keras. Wanita cantik itu pun mendengus kecil. Lalu menggigit bibir bawahnya berusaha menahan tawa.


Kemudian perlahan-lahan ia lepaskan pelukan pria atletis itu dari tubuhnya. Menjaga agar pria tampan tersebut tidak terbangun. Setelah meletakkan kembali tangan Surya ke atas tempat tidur, Varsha menatap pemuda itu lagi.


Tentu saja si Tuan Muda Abhiyoga sedang terlelap. Dokter Hilman bilang ia telah memberikan Surya obat tidur dosis kecil untuk beristirahat. Tanpa sadar Varsha menghela napas panjang. Mengapa pikirannya jadi melantur ke mana-mana tadi.


Wanita cantik itu lalu duduk di sebuah sofa abu-abu yang diletakkan dekat tempat tidur Surya. Kemudian mengamati pria itu dari sana. Wajahnya masih sedikit pucat, namun tampaknya ia sudah tak bermimpi buruk lagi.


Entah mengapa menatap Surya yang tidur dengan damai membuatnya jadi rileks hingga memejamkan mata dan akhirnya ikut terlelap.


***


Varsha membuka kedua matanya. Sebuah selimut panjang menutupi tubuhnya. Saat ia menatap ke tempat tidur dan sekelilingnya, ia tak dapat menemukan Surya. Ia pun menaikkan kedua tangannya ke atas, mencoba meregangkan seluruh ototnya.


Sejujurnya semalam, Varsha nyaris tidak bisa memejamkan mata karena terlalu bersemangat dengan acara wisudanya. Jadi tidak heran ia jadi ikut tertidur juga. Ia pun akhirnya bangkit dari sofa dan mengenakan tasnya. Gantungan kunci besar ‘Cloudy’, karakter DRF ciptaan Teja, tergantung manis di sana.


“Surya,” panggil Varsha.


Wanita cantik itu berjalan mengelilingi kamar luas Surya. Membuka tiap pintu dan mengecek ruangan yang ada di sana. Sambil terus bertanya dalam hati untuk apa satu orang memerlukan kamar sebesar rumah.


“Surya!”


Pintu pertama yang ia buka rupanya adalah walk-in closet. Tempat di mana Surya meletakkan seluruh pakaian dan aksesorisnya. Penampakannya sudah seperti sebuah toko baju pria mahal di dalam mal. Disusun rapi dengan penerangan lampu LED kuning terang.


“Sur … Surya!”


Kemudian di pintu kedua, terlihat sebuah kamar mandi mewah ala hotel bintang lima. Bak mandi putih besar bercorak alami tampak bertengger kokoh di tengah-tengahnya. Varsha sendiri tidak yakin dibuatnya dengan batu apa.


“Surya,” panggil Varsha lagi untuk kesekian kalinya.


Pintu terakhir mengarahkan wanita cantik itu ke sebuah ruang belajar. Desainnya anggun dengan dominan kayu dan baja. Lemari-lemari penuh buku memenuhi sepanjang tembok dari plafon hingga ke lantai.


Tiba-tiba saja ia merasa seperti tokoh ‘Belle’ pada dongeng ‘Beauty and the Beast’. Sebagai seorang pecinta buku, ruangan tersebut bagaikan surga tersembunyi bagi Varsha. Putranya, Teja, juga pastilah akan mencintai tempat ini.


Wanita cantik itu pun berjalan mendekat ke salah satu lemari. Merasa terpanggil untuk mengecek judul-judul buku di sana. Namun, mendadak kedua matanya tertuju pada dua buah bingkai cantik di atas meja kerja si pemilik kamar.


Satu bingkai berisi potret Surya dan Teja waktu berparalayang. Sementara pada bingkai kedua tampak foto Varsha, Teja, dan Surya sedang tersenyum manis saat perayaan ulang tahun buah hati mereka yang ke-lima.


Seketika Varsha merasakan perasaan aneh yang merasuki hatinya. Ia pun berusaha mengontrol emosi tersebut. Mencoba mengalihkan pandangannya yang kini malah terjatuh pada sebuah buku jurnal hitam yang tergeletak di atas meja. Empat huruf sambung bertinta emas tertulis di atasnya. Rain.


Ragu-ragu Varsha mengambil buku tersebut dan membuka sampulnya. Kemudian perlahan ia membaca halaman demi halaman. Kedua bola matanya bergetar dan berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak.


11 Januari  20xx


Aku terus mendapatkan mimpi itu. Tentang seorang gadis bernama Rain.


...


28 Februari 20xx


Aku dan Rain bertemu di sebuah tebing. Rain memanggilku dengan nama Sun.



20 Mei 20xx


Rain memberiku sebuah gambar penyemangat di ponsel sebagai hadiah ulang tahun. Kurasa aku akan mencetak dan membingkainya.



9 Juli 20xx


Akhirnya kutemukan alasan mengapa kini aku menyukai marshmallow. Rupanya Rain suka memakannya.



27 September 20xx


Rain pernah menyanyi untukku. Sebuah lagu berjudul ‘Blackbird' dari grup band ‘The Beatles’.



__ADS_1


4 Desember 20xx


Mimpi Rain terus berulang. Namun, tidak ada memori yang baru.



22 Januari 20xx


Rupanya Rain punya dua lesung pipit cantik di pipi. Yang mirip sekali dengan milik seorang wanita yang baru-baru ini kukenal.



10 Mei 20xx


Mengapa kau tak lagi hadir di mimpiku Rain?


Aku menemukan seorang pengembang game jenius beberapa bulan lalu. Seorang anak laki-laki berusia empat tahun bernama Teja. Pola pikir dan kebiasaan kami sangat mirip.



4 Juli 20xx


Rain, tak bisakah kau hadir lebih cepat ….


Seorang wanita membuat hatiku semakin goyah.



17 Agustus 20xx


Rain, wanita itu bernama Varsha.



9 September 20xx


Teja bilang padaku bahwa Varsha dalam Bahasa Sansekerta artinya hujan.


Apakah itu pertanda darimu, Rain?



Rain adalah ....




“Varsha?”


Suara Surya membuat wanita cantik itu tersentak kaget. Jurnal hitam di tangannya terjatuh ke lantai. Tangannya gemetar. Kedua pipinya basah dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.


Varsha memang sudah mendengar bahwa Surya terus mencari dirinya selama lima tahun dari pembicaraan Tesa dengan Dewa. Namun, melihat sendiri isi hati pemuda itu tertulis penuh di dalam sebuah jurnal menghancurkan hatinya.


Seolah ia bisa merasakan kerinduan mendalam pria itu dalam setiap kata yang ia goreskan di atas kertas. Tiba-tiba Varsha merasa sangat bersalah pada Surya. Apa yang telah ia lakukan selama ini … selalu membenci dan menyulitkan seorang pria yang begitu tulus padanya ….


“Varsha ….”


Surya memanggil nama wanita cantik itu lagi dengan lembut. Sambil berjalan semakin mendekatinya. Raut wajahnya tampak begitu khawatir.


Seketika Varsha merasa oksigen di sekitarnya menipis. Kepalanya terasa pusing dan berputar. Pandangannya buram. Mungkin ia bisa bersandar pada pundak tegap pria di depannya ….


Tidak.


Pria itu terlalu baik untuk dirinya. Derajat mereka bagaikan langit dan bumi. Dunia mereka begitu berbeda ….


“Varsha!”


Varsha melesat melewati Surya dan berlari keluar ruangan. Ia terus menggerakkan kakinya sekuat tenaga menjauhi pria di belakangnya. Hingga akhirnya ia tiba di luar, di sebuah taman lapang berumput.


Ia tahu kalau dirinya masih berada di halaman rumah Surya. Namun, napasnya sudah terengah-engah. Ia tak lagi sanggup mencapai gerbang dan kabur dari tempat ini.


“Bukankah sudah kubilang padamu untuk jangan pergi, Rain. Mengapa kau terus meninggalkanku ….”


Sebuah suara berat dan serak terdengar dari belakang Varsha. Wanita cantik itu pun menolehkan kepalanya. Pangeran Mataharinya tampak berdiri di seberang taman.


“Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu,” kata Surya lantang. Ia masih diam tak bergerak pada jarak yang sama. Takut bidadari hujannya menghilang lagi jika dikejar.

__ADS_1


Surya mengambil napas dan melepaskannya. “Saat itu, di tebing tempat kita bertemu. Sesungguhnya aku ingin mengakhiri hidupku ….”


“Namun, tiba-tiba kau datang mengajakku bicara. Menggandeng tanganku dalam hujan. Memberiku semangat dan harapan … untuk mencoba hidup sekali lagi.”


“Terima kasih, Rain.” Surya tersenyum sambil mendekat beberapa langkah.


“Terima kasih telah menghabiskan hari itu bersamaku. Terima kasih telah hadir di setiap mimpiku, memberiku kepercayaan serta dukungan ….” Surya kembali berjalan mendekat.


“Terima kasih, Varsha.”


Kini jarak keduanya hanya tinggal selangkah lagi. “Terima kasih telah menjadi kuat dan tegar. Telah menjadi seorang wanita yang hebat. Terima kasih telah melahirkan Teja dan merawatnya dengan baik ....”


“Terima kasih telah membuatku menjadi seorang ayah.”


Tepat saat kalimat Surya berakhir, hujan pun turun. Namun, keduanya masih berdiri di tempat yang sama. Tak mencoba menepis hujan ataupun mencari tempat berteduh. Kemudian, pemuda itu tersenyum pada bidadari hujannya. Setitik air mata tampak mengalir jatuh ke wajahnya bercampur bersama gerimis dari atas.


Lalu ia pun melangkah sekali lagi. Membuat ruang di antara Varsha dan dirinya semakin sempit dan tak berjarak.


“Aku mencintaimu, Varsha,” ungkap Surya sungguh-sungguh. “Aku sangat mencintaimu.”


Keduanya saling bertatapan selama beberapa saat. Seolah sedang menunjukkan perasaan masing-masing tanpa suara. Perlahan Surya pun mendekatkan wajahnya pada Varsha. Kemudian ia kecup lembut keningnya.


“Aku suka bagaimana kedua matamu selalu membesar saat kau terkejut ….” Surya mencium kelopak mata Varsha. Bibirnya masih melayang di dekat wajah pujaan hatinya.


“Aku suka saat lesung pipit cantikmu muncul dan membuat seluruh hariku terasa bahagia ….” Surya mengecup pipi Varsha.


Kemudian bibirnya ia dekatkan pada telinga wanita cantik itu seraya berbisik, “Aku suka bagaimana kau menghela napas panjang saat melihat tingkahku yang kurang menyenangkan ….”


Seketika Surya pun meraih wajah Varsha dan mencium bibirnya dengan lembut. Mengulum setiap tepi mulutnya dengan gejolak tertahan. Berusaha keras mengontrol emosinya yang meluap agar tak melukai bidadari hujannya.


Namun, Varsha juga sudah lama menantikan Pangeran Mataharinya. Ia membalas kecupan Surya dengan kehausan yang mendalam. Seolah ingin membayar lima tahun kehampaan yang ia terus rasakan.


Setelah beberapa saat saling melepas kerinduan di bawah hujan, keduanya pun memisahkan bibir mereka. Varsha dan Surya lalu saling memandang dengan dahi masih saling menempel, kemudian sama-sama tertawa kecil. Layaknya menyadari bahwa seharusnya mereka melakukan hal tadi sejak awal.


Surya kemudian mengambil gantungan kunci pada tas Varsha dan membuka penutupnya. Sebuah payung transparan pun muncul dari dalam. Kemudian ia buka payung tersebut dan menggenggam pegangannya. Melindungi mereka berdua dari hujan.


“Aku juga suka bagaimana kau selalu kehujanan sehingga aku punya alasan untuk selalu memayungi dan melindungimu.”


Varsha tersenyum. Kedua lesung pipit manisnya muncul di kedua pipi. Lalu ia menanti pangeran tampannya untuk mengucapkan kalimat selanjutnya, namun tidak terjadi. “Sudah selesai alasannya? Itu saja?”


“Hm mh. Itu saja. Tak ada lagi,” jawab Surya cepat.


Dahi Varsha pun mengernyit dan matanya menyipit. Namun tiba-tiba sebuah cincin emas putih cantik muncul di depan matanya. Tergantung pada tali pegangan payung yang awalnya tersembunyi dalam kepalan tangan Surya.


“Tapi mungkin aku bisa menemukan alasan lainnya saat kau menjadi istriku.” Surya menatap bidadari hujannya dengan segenap hati dan jiwa raga.


“Varsha Ametarka. Maukah kau menikah denganku?”


***


Curcol Author:


Author: Ssst Var. Jawab apa Var?


Varsha: Hmm ....


Author: Apa? Janji deh ga bakal kasih tahu yang lain.


Varsha: Tapi Thor ....


Author: Tapi apa?


Varsha: Kan cuma Author yang tahu ....


Author: ....


Ps: rekomendasi lagu saat membaca bab ini, Only by Lee Hi :)


<3<3<3<3<3<3<3


Hi! Jangan lupa love, komen, jempol, dan hadiahnya, ya ;D


Semoga mimpimu indah malam ini! Sweet dreams~


Nuhun~


- Bawang

__ADS_1


 


 


__ADS_2