
“Lagi good mood, Sur?”
Surya melepaskan airpod-nya dari telinga. Di sebelahnya, Dewa sudah ikut berlari di atas treadmill seperti dirinya.
“Hm.” Surya mengangguk lalu menaikkan lagi kecepatan level larinya.
Melihat Surya menaikkan kecepatan larinya, Dewa tidak mau kalah. Ia pun ikut meningkatkan kesulitan treadmill-nya. Surya hanya menggelengkan kepala dan tersenyum simpul melihat tingkah sepupunya itu.
Hari ini Surya merasa seperti kelinci energizer yang tak pernah kehabisan tenaga. Sejak pagi sampai sore dia begitu produktif. Bahkan sudah menjelang malam begini pun, Surya belum merasa lelah. Sebenarnya sih juga ada alasan lain mengapa Surya berusaha menyibukkan diri.
Karena Ia tidak bisa berhenti memikirkan Varsha.
“Bagaimana dengan gamer yang mau kamu rekrut?” Tanya Dewa di sela-sela napasnya, membuyarkan lamunan Surya.
Surya mengacungkan jempolnya.
“Nice.” Kata Dewa.
“Bagaimana dengan perjodohanmu?” Surya balik bertanya.
Dewa menghela napas panjang, “Sudahlah lupakan saja topik itu. Bagaimana denganmu? Ada wanita menarik?”
“Hmm…”
“Hm??”
Dewa mematikan mesin treadmill-nya. Kemudian menatap Surya layaknya seekor hyena kelaparan yang menemukan mangsa empuk.
“What is this… ada rupanya…”
Surya menggeleng.
“Suryaaaaaa?”
Dewa memanggil keras Surya dengan nada sayang yang berlebihan. Membuat sebagian orang di gym melihat ke arah mereka. Surya pun akhirnya menjawab, khawatir dengan kehebohan yang akan dibuat sepupunya itu kalau tidak.
“Ugh... Okay. Kau ingat gamer yang aku ingin sekali rekrut?”
“Yaaaaa..”
“Ibunya gamer itu-”
“Wait. Sebentar.” Potong Dewa. “Oooh jadi tipemu yang seperti itu. Pantas saja para gadis muda itu tak berhasil menaklukkanmu.” Tambahnya lagi.
“Bukan begitu.” Respon Surya sebelum Dewa lebih melantur kemana-mana lagi.
“Gamer yang ingin kurekrut itu seorang jenius berusia empat tahun. Ibunya mungkin seumuran… Tessa. Pemilik kafe favoritmu itu.”
“Ooooh. Jadi tipemu ibu-ibu muda… Pantas saja para gadis lajang itu tak berhasil menaklukkanmu.” Ledek Dewa lagi.
Surya melirik tajam ke arah Dewa lalu menyeringai, “Private Cafe… Kau sebenarnya lebih suka kopinya atau pemiliknya?”
Dewa langsung terbatuk mendengar kalimat Surya. Surya pun akhirnya turun dari treadmillnya lalu menepuk-nepuk punggung Dewa.
“Pikirkan lagi baik-baik jika kau mau meledekku, Cousin.” Ucap Surya tersenyum sambil meninggalkan gym.
Batuk Dewa masih belum selesai saat tiba-tiba ponselnya bergetar. Tulisan ‘Mom’ terpampang pada layar sentuhnya.
“Halo, Ma.”
“Dewa Sayang, jangan lupa besok kamu ada janji makan siang dengan putri Keluarga Wardana ya.” Sebuah suara lemah lembut terdengar dari ponsel Dewa, begitu keibuan.
Dewa menghela napasnya sebelum menjawab, “Ya, Ma.”
Mereka berbicara lagi sebentar hingga akhirnya Dewa menutup teleponnya. Entah mengapa, Dewa jadi teringat perkataan Surya barusan. Sebenarnya ada alasan lain Dewa mengajak Surya menemaninya ke kafe Tessa beberapa hari lalu.
Ia sangat yakin kalau rasa kopi Tessa itu enak. Tapi dia jadi tidak semantap sebelumnya begitu menyadari ada perasaan spesial yang ia miliki terhadap Tessa. Ia takut kalau semua itu mempengaruhi penilaiannya terhadap kualitas produk Tessa. Itulah sebabnya Dewa butuh pendapat objektif Surya.
Dewa kemudian membuka pesan teksnya lalu mengetik.
Tessa, besok mau makan malam bersama sambil mendiskusikan retail kopi?
Namun beberapa detik kemudian Dewa menghapusnya. Lalu mengganti pesannya.
__ADS_1
Tessa, besok sore aku akan datang untuk mendiskusikan retail kopi denganmu.
Kemudian ia menekan ‘kirim’.
***
“Oooh. Terus, terus?”
Tessa sedang menelepon Varsha karena ia ingin tahu bagaimana kabar Teja dan sahabatnya itu setelah akhirnya meneken kontrak dengan Surya. Sejujurnya kondisi Varsha beberapa hari lalu masih membuatnya sedikit khawatir.
“Tidak ada lagi terus-terus. Lagipula pria itu juga sudah menikah.” Ucap suara di balik speaker.
“Surya bilang begitu?” Tanya Tessa penasaran.
“Tidak. Aku melihat dia memakai cincin di jari manisnya.”
“Tapi Surya belum menikah, Var.” Respon Tessa cepat.
“Hmm… Sejujurnya begitu aku tahu kalau pria misterius itu adalah Surya Abhiyoga, aku langsung kepo Var…” Ujar Tessa pelan takut menyinggung sahabatnya.
“Okay…”
“Dan menurut hasil pencarianku. Surya bersih. Berita yang muncul hanya tentang Akasa Game, Akasa Group, penghargaan, donasi, dan hal positif lainnya. Oh mungkin satu skandal...”
“Hm?” Suara di balik speaker terdengar sedikit penasaran.
“Dalam satu majalah ia terpilih menjadi The Hottest Konglomerat of The Year. Bahkan ada satu tabloid yang membicarakan spesifik mengenai perut kotak-kotak keluarga Abhiyoga.”
Suara dengusan terdengar dari balik speaker. Lalu lama-lama berubah menjadi tawa renyah. Tessa yang mendengar tawa sahabatnya pun juga jadi ikut cekikikan. Ia baru menyadari betapa absurd-nya bunyi artikel yang ia baca.
“Berarti Dewa juga ada di sana?” Suara Varsha terdengar meledek.
Sejujurnya Tessa bukan baru saja mengenal Dewa. Dewa adalah kakak kelas Tessa saat kuliah dulu. Dan Tessa sempat suka padanya. Namun tentu saja ia pendam baik-baik. Hanya Varsha yang tahu mengenai perasaannya itu. Tessa tahu kalau seorang Dewa Abhiyoga di luar jangkauannya.
Tessa memang bukan orang yang rendah diri, tapi dia tahu diri saja. Meskipun keluarganya bisa dibilang cukup kaya, levelnya jauh berbeda dengan Keluarga Abhiyoga. Ditambah lagi juga banyak wanita cantik lainnya yang selalu mengelilingi Dewa. Membuat Tesa perlahan-lahan mundur dan melupakan perasaannya.
“Yeah… dia juga ada di situ.” Ucap Tessa getir.
“Sorry, Tess…”
“Jadi perut Dewa kotak-kotak, enggak?” Ledek suara di speaker itu lagi sambil menahan tawa.
“Varshaaaaaaa!!”
Ding!
Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk di ponsel Tessa. Sebuah pesan dari Dewa. Tessa membacanya dan mendengus kesal. Merasa jengkel dengan Dewa yang begitu terobsesi dengan kopinya.
***
Rain masih terbaring di atas karavan, di sampingku. Aku dan Rain baru saja menghabiskan bungkus ketiga camilan marshmallow. Dan entah siapa yang memulai, tapi Aku dan Rain bergantian bertanya jawab dengan satu sama lain.
“Minuman favorit?” Tanya Rain.
“Milkshake cokelat. Itu minuman favorit kakakku, tapi aku jadi menyukainya juga sekarang.” Ucapku.
Tiba-tiba sebuah memori terlintas di kepalaku. Senyum Bumi kecil yang tampak tiap kali ia meneguk habis minuman favoritnya, milkshake cokelat. Sementara Surya kecil hanya bisa mengernyitkan dahi karena tak tahan dengan rasa manisnya.
“Bunga favorit?” Tanyaku pada Rain sebelum kembali terhanyut dalam kenangan itu.
“Bunga matahari.” Jawab Rain tanpa ragu.
“Dulu ibuku dilamar dengan bunga matahari oleh ayahku. Dan setiap hari ulang tahun pernikahan mereka, ayahku akan selalu memberi ibuku setangkai bunga matahari...”
Aku bisa melihat mata Rain menjadi sendu, meski wajahnya masih tidak tampak begitu jelas di penglihatanku. Tapi tak lama, kedua mata itu berbinar lagi.
“Makanya saat kecil dulu, aku punya impian untuk dilamar juga dengan bunga matahari. Seribu bunga matahari bahkan. Tapi setelah agak besar, aku pikir-pikir lagi bagaimana tanganku bisa memegang seribu bunga matahari.” Kata Rain sambil tersenyum.
Jantungku berhenti berdetak. Senyum itu begitu indah. Dua lesung pipit terhias manis di kedua pipinya. Cantik sekali.
Tapi mengapa senyum itu terlihat begitu familier…
…
__ADS_1
...
Aku tiba-tiba terduduk di sebuah restoran. Di depanku ada Rain dan seorang anak laki-laki.
“Teja suka semuaaaaaanya.” Ucap anak yang duduk di depanku. Lalu ia berusaha membuat lingkaran sebesar mungkin dengan kedua tangan kecilnya.
Begitu menggemaskan hingga membuatku tertawa. Tiba-tiba aku mendengar suara tawa renyah yang menawan. Rupanya Rain juga tak kuasa menahan senyumnya.
Senyumnya begitu lepas dan cantik. Dua lesung pipit terhias manis di wajahnya.
...
Tunggu.
Wanita itu seharusnya bukan Rain.
Itu… Varsha.
…
…
Surya tiba-tiba membuka matanya, ia terbangun. Bulir-bulir keringat tampak di pelipisnya yang basah. Surya lalu memijat-mijat keningnya. Sudah lama dia tidak mendapatkan mimpi baru mengenai Rain. Biasanya yang muncul hanyalah mimpi-mimpi sama yang terus berulang. Bahkan kali ini dia menemukan ciri Rain yang baru...
Surya langsung bergegas menuju ke ruang belajarnya. Ia duduk di kursi kerjanya lalu mengambil jurnal hitam dari dalam laci meja. Ia membuka jurnal tersebut, menggeser lembar demi lembar hingga ia mencapai halaman yang kosong.
Kemudian Surya mengambil penanya dan menuliskan tanggal hari ini di bagian atas. Selanjutnya tangannya menari dengan cepat di atas kertas, mendeskripsikan mimpinya tadi. Terutama ciri Rain yang baru. Gadis misterinya itu rupanya juga mempunyai lesung pipit, yang entah kebetulan sangat mirip dengan milik Varsha.
***
Hari ini adalah hari pertama Teja bekerja di Akasa Game. Sehabis makan siang, Varsha mengantarkan Teja ke Akasa Tower. Meskipun jarak yang ditempuh cukup jauh, transportasinya sangat mudah. Varsha dan Teja hanya cukup naik bus trans satu kali dari halte bus dekat rumah mereka dan dalam 30-60 menit akan langsung sampai tepat di depan menara Abhiyoga itu.
Jedar!!
Mendengar suara petir, Varsha melihat keluar jendela bus. Langitnya mendung, tampaknya akan segera hujan. Ia lalu menekan tombol stop di dekat pintu bus. Sebentar lagi Varsha dan Teja akan sampai di halte bus Akasa Tower. Begitu bus parkir untuk berhenti, pasangan ibu dan anak itu pun langsung turun.
Namun hujan tiba-tiba saja sudah menjadi deras. Dari halte bus, mereka harus berjalan sekitar 500 meter lagi untuk sampai ke gedung. Varsha pun menimbang-nimbang opsi yang dia punya. Akhirnya ia putuskan untuk lari menembus hujan saja. Varsha tidak mau Teja terlambat di hari pertamanya. Dan ia sendiri pun harus segera ke kampus untuk menghadiri kelas.
Varsha mengencangkan tali sepatunya lalu memakaikan tudung jaket Teja ke kepala buah hatinya itu. Kemudian dia mengangkat Teja, menggendongnya. Tas selempang miliknya pun ia letakkan juga di atas kepala putra kecilnya untuk melindunginya dari hujan.
Varsha baru saja berlari dan bersiap kebasahan tapi tidak ada air yang menetesi baik Teja maupun dirinya. Sebuah payung merah melayang di atas kepala mereka. Varsha melirik ke sampingnya. Tampak seorang pria tampan dan tinggi dengan setelan jas lengkap sedang memegang payung merah tersebut.
“Om Surya!” Sapa Teja bersemangat.
“Hai Teja.” Jawab Surya tersenyum.
“Kok Om ada di sini?” Tanya Teja.
“Kebetulan ada urusan di dekat sini, jadi Om berjalan kaki saja.” Jelas Surya.
Melihat tubuh langsing Varsha tampak keberatan menggendong Teja, Surya jadi ingin membantunya.
“Mama Teja, biar saya saja yang menggendong Teja sampai ke gedung.”
“Tidak perlu repot-repot Pak Surya, biar saya saja.” Tolak Varsha cepat. “Terima kasih untuk payungnya.” Tambah Varsha kemudian sambil tersenyum.
“Dengan senang hati, Mama Teja.”
Ketiganya pun berjalan bersama di tengah hujan di bawah payung merah. Bahkan dari jauh pun jelas sekali terlihat Surya lebih mencondongkan payungnya ke arah Varsha dan Teja. Pria itu bisa merasakan tetesan-tetesan hujan pada bahunya yang tidak terpayungi. Tapi bukannya merasa kedinginan, ia malah merasa kehangatan manis menjalar ke seluruh tubuhnya.
***
Curcol Author:
Sementara itu di suatu sudut di dekat halte bus.
Asisten Surya: Kemana si Pak Surya? Katanya cuma keluar sebentar… Ini mobil jadinya mau diparkir atau gimana ya…
<3<3<3
Aaah akhirnya nulis adegan manis-manis sedikit hihihihi. Semoga suka ya men-temen.
Jangan lupa love, komen, dan jempolnya biar Author makin semangat xD
__ADS_1
Nuhun\~
- Bawang