
“Gimana jalan-jalannya, Sur? Menyenangkan?”
Dewa duduk di atas sofa. Kedua tangannya terlipat di depan dada sementara kakinya dinaikkan ke atas meja. Wajahnya tampak sedikit jengkel.
“Mana ada pasien yang bertualang keluar rumah sakit meninggalkan kamarnya saat masih dalam perawatan,” lanjutnya lagi karena sepupunya tak merespon.
“Kepalamu itu terbentur keras, Sur. Butuh waktu untuk pulih total. Tapi kau sudah ke sana kemari. Menyetir pula. Bagaimana kalau terjadi ap-“
“Varsha sakit,” potong Surya sebelum Dewa menyelesaikan ceramahnya.
“Oh. Bagaimana keadaannya?” tanya Dewa tiba-tiba berubah haluan.
“Aku tidak tahu ….” jawab Surya pelan. “Tapi sejak kemarin siang hingga tadi pagi, rumahnya tampak tenang. Jadi kuharap dia baik-baik saja.”
Mata Dewa membelalak. “Kau menunggu di luar rumah Varsha dari kemarin siang??”
Surya memilih untuk tak menjawab sepupunya. Ia berjalan ke arah tempat tidur dan kembali berbaring di sana. Kemudian menutup wajahnya dengan satu lengan.
Melihat Surya tak merespon lagi, Dewa pun menghampirinya ke samping tempat tidur. Ia menatap sepupunya dengan ekspresi serius.
“Dia Varsha, kan?” tanya Dewa. “Gadis misterimu?”
Setelah jeda panjang, Surya akhirnya mengangguk. Kemudian ia menghela napas panjang. Satu lengannya masih menutupi kedua matanya.
“Apa … semua ingatanmu telah kembali?” tanya Dewa lagi.
“Hmmh. Sebagian besar,” jawab Surya.
“Bagaimana dengan kecelakaan lima tahun lalu? Kau ingat seluruhnya?”
“Maaf, Dewa. Aku sedang tidak ingin membicarakannya sekarang.”
Dewa mengangguk mengerti. “Aku yang harusnya minta maaf.”
“Baiklah, Cousin. Kau sebaiknya beristirahat,” ucap Dewa sambil menepuk bahu Surya. “Kau tidak tidur semalaman di tempat Varsha, kan?” tambahnya lagi dengan nada meledek.
Surya hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum mendengar gurauan Dewa. Tak lama sepupunya pun pamit pergi. Meninggalkan Surya sendirian di dalam kamar luasnya.
Dewa benar. Ia telah mendapatkan kembali seluruh memorinya. Setelah pergi meninggalkan Varsha di karavan lima tahun lalu, Surya mengalami kecelakaan. Kemudian dirinya koma selama kurang lebih enam bulan. Kemungkinan besar saat itulah Varsha menghubunginya sehingga nomornya tidak tersambung.
Begitu akhirnya tersadar, Surya kehilangan sebagian memorinya. Terutama yang terjadi berdekatan atau tepat sebelum kecelakaan. Dokter mengatakan Surya diduga menderita amnesia lakunar karena ia tak bisa mengingat suatu kejadian tertentu sementara ingatan lainnya masih ada.
__ADS_1
Dan semenjak hari itulah dia mulai mendapatkan potongan-potongan mimpi mengenai Rain. Surya tiba-tiba tersenyum sambil kembali menelusuri sepanjang jalan kenangan bersama gadis misterinya. Percakapan dengannya, kata-kata penyemangatnya, dukungannya, canda tawanya, tingkah lakunya, nyanyiannya, rahasianya, senyumannya …. Bukan, bukan Rain. Tapi Varsha.
Bidadari hujan Surya. Varsha Ametarka.
***
“... dan semua hewan pun menyambut kelinci dengan hangat.”
Varsha menutup buku dongeng di tangannya. Kemudian melirik Teja yang sudah terlelap di sampingnya. Mendengkur pelan dan dadanya naik turun.
Jarang sekali putra kecilnya itu tertidur di tengah dongeng. Biasanya bahkan mereka berdua akan mendiskusikan lagi ceritanya setelah selesai. Namun karena Teja sibuk merawatnya sejak kemarin, ia pasti merasa kelelahan sekarang.
Varsha mengusap kepala putranya yang sedang terlelap. Kemudian ia memperhatikan buah hatinya lekat-lekat. Alis tebalnya, bulu matanya yang panjang, matanya yang besar dan tajam, bentuk bibirnya ….
Jika ia perhatikan lagi, rupa putranya memang mirip sekali dengan Surya. Tiap kali Varsha dan Teja pergi ke suatu tempat, orang-orang akan memuji ketampanan buah hatinya dan mengatakan bahwa pastilah ia mirip dengan ayahnya. Varsha menghela napas panjang. Setidaknya Teja masih memiliki lesung pipitnya.
Tiba-tiba Varsha teringat dengan kejadian kemarin. Saat itu dia terlalu emosi dan tak bisa mengontrol perasaannya. Apa dia sudah terlalu kejam pada Surya? Tapi bagaimana dengan dirinya sendiri?
Seorang remaja yang baru lulus SMA dengan nilai terbaik. Mendapatkan beasiswa penuh ke luar negeri dengan prospek masa depan cerah. Tiba-tiba harus menjadi hujatan masyarakat dan menerima pandangan menghakimi dari ratusan pasang mata. Menjadi topik gosip dan dijadikan teladan untuk tidak dicontoh.
Jadi jawabannya, iya. Pria itu memang pantas menerimanya. Namun saat ia melihat putra kecilnya lagi, hati Varsha menjadi luluh. Tak ada penyesalan, tak ada kemarahan, yang ada hanyalah rasa syukur.
***
“Sudah nyaris seminggu tapi beritamu masih masuk sepuluh pencarian teratas,” ucap Dewa sambil menggeser-geser layar ponselnya di samping Surya.
“Dan pada kolom komentar di setiap media pasti ada saja yang menanyakan siapa perempuan misteri bergaun putih yang memangku kepala Surya Abhiyoga saat kecelakaan.”
Seketika ponsel Dewa sudah ada di tangan Surya. “Mereka membawa-bawa Varsha?”
Dewa melirik Surya lalu mengambil kembali ponselnya. “Tenang saja. Masalah itu sudah ditangani oleh tim Akasa Group.”
“Kerja bagus,” ucap Surya merasa lega. Ia tak mau gara-gara dirinya lagi, hidup wanita itu menjadi susah.
Surya kemudian berjalan ke lemari dan berganti pakaian. Berikutnya, ia mengenakan sepatu lalu meraih kunci mobil dan memasukkannya ke dalam saku celana. Surya sudah hendak menuju ke pintu namun sebuah tangan menghadangnya.
“Sur?”
“Dewa?”
“Kalau ada Tessa di sana titip salam,” ujar Dewa dengan senyum jail. “Anyway, aku juga harus kembali lagi ke kantor. Untuk apa aku menjenguk pasien yang tak pernah ada di kamarnya.”
__ADS_1
Surya memutar kedua bola matanya. Namun dia tahu kalau Dewa akan selalu ada untuk dirinya dan mendukungnya. Keduanya pun berjalan bersama menuju area parkir dan berpisah di sana. Untunglah Keluarga Abhiyoga merupakan salah satu pendonasi terbesar di rumah sakit tersebut. Kalau tidak, pasien bandel seperti Surya pastilah sudah diusir keluar.
Surya pun langsung menuju ke alamat Varsha dan Teja. Seperti biasa ia parkir di spot yang sama, tepat di depan rumah mereka. Namun kali ini, mobil Tessa tidak terlihat lagi.
Kemudian Surya menyipitkan matanya dan menempelkan wajahnya dekat-dekat ke kaca mobil. Dua tangannya membuat tempurung lalu ia apit wajahnya layaknya teropong, berusaha mencuri pandang ke dalam. Namun tentu saja tidak ada yang terlihat jelas.
Tiba-tiba pintu rumah Varsha terbuka. Seketika Surya pun langsung mengalihkan pandangannya ke depan. Ia lupa bahwa kaca gelap mobilnya tak bisa membuatnya terlihat dari jarak sejauh itu.
Seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun keluar dari dalamnya. Kemudian ia berjalan mantap menuju mobil Surya. Entah mengapa jantung Surya jadi berdetak keras. Tidak jelas karena takut ketahuan atau ingin ketahuan.
Akhirnya gadis kecil itu sampai dan berdiri tepat di sampingnya. Kemudian ia mengetuk pelan jendela mobilnya. Mengisyaratkan Surya untuk menurunkan kacanya. Pria itu pun menurutinya.
“Permisi, Om,” sapa anak perempuan itu.
“Ah, iya.”
“Mba Varsha menyuruhku memberi tahu Om jangan parkir mobil di sini. Karena jalannya jadi sempit dan kendaraan lainnya susah lewat,” jelas gadis kecil itu. “Sudah banyak tetangga yang protes juga Om. Jadi mohon kerja samanya, ya.”
“O … ke.”
Surya tersenyum canggung lalu dengan cepat memindahkan mobilnya ke spot parkir yang lebih luas. Jika Varsha berpikir ia bisa menyingkirkannya semudah itu, dia salah besar. Surya sudah bertekad takkan pernah lagi meninggalkan Varsha dan Teja. Ia mau menghabiskan waktu bersama dan menjadi bagian dari hidup mereka. Bagaimanapun caranya.
***
Curcol Author:
Author: Wkwkwk, kasian disuruh pindah parkir.
Surya: Yang penting sudah ada yang parkir di hatiku, Thor. Author ada ga?
Author: Diyam kamu nak, atau kudelete.
<3<3<3<3<3<3<3
Hihihi baiklah semoga suka ya guys. Jangan lupa love, komen, dan jempolnya ya ;D
Kerja bagus hari ini dan semoga harimu menyenangkan :))
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1