Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
LVI. Almost


__ADS_3

Surya berjalan mondar-mandir di dalam kantornya. Satu tangannya terlipat di depan dada, sementara yang lain menumpu dagu. Segala macam skenario yang dia pikirkan semalam mengenai reaksi mamanya, sama sekali salah sasaran.


Ibunya tidak menunjukkan rasa marah, kesal, sedih, ataupun senang. Namun, justru lebih buruk lagi. Sebab mamanya sama sekali tak terlihat peduli. Surya berdecak, ia tak bisa membiarkan situasinya terus seperti ini.


Pria tampan itu lalu mencoba menghubungi Sherry, namun tidak ada balasan. Tampaknya, Ibu Tara telah memerintahkan asistennya untuk tak menggubris putranya. Surya pun menghela napas panjang. Sepertinya ia harus menyusul mamanya ke Akasa Food Headquarters.


Namun, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Pria itu lalu merogoh saku celana untuk meraih benda pipih tersebut. Begitu melihat nama yang tertera di layar, Surya tersenyum dan langsung mengangkat teleponnya.


“Halo, Sayang.”


“Papa … apa mama sedang bersama Papa?” tanya Teja dengan nada khawatir.


“Tidak, Sayang,” jawab Surya. “Bukannya mama mau pergi ke studio Om Mario?”


“Itu dia, Pa. Tadi aku menghubungi Om Mario, tapi katanya mama izin dadakan untuk tidak masuk hari ini,” jelas Teja. “Selain itu, ponsel mama juga mati dan tak bisa dihubungi ….”


Surya tampak berpikir sejenak. “Apa Teja sudah mencari di sekitar rumah? Atau mungkin mama sedang berada di rumah saudara yang lain?”


“Sudah, Pa. Tapi mama tidak ada,” jawab Teja cepat. “Tapi tadi ada tetangga yang bilang kalau dia melihat mama masuk ke dalam sebuah sedan putih mewah.”


“Makanya Teja pikir itu Papa awalnya ….”


Sontak Surya menelan ludahnya. Jika benar kendaraan yang membawa kekasihnya sesuai penjelasan tersebut, berarti kemungkinan besar itu adalah mobil milik Ibu Tara. Tapi bukankah seharusnya mamanya sedang rapat di Akasa Food Headquarters?


“Sepertinya Papa tahu mama sedang bersama siapa,” respon Surya akhirnya. “Meskipun Papa belum yakin lokasi mama di mana sekarang.”


“Tapi Teja tenang saja. Papa akan segera mencari tahu keberadaan mama secepatnya dan mengabari Teja, oke?”


Ada jeda pada suara Teja lalu anak laki-laki itu berkata, “Apa Teja boleh ikut Papa mencari mama?”


“Tentu saja boleh, Sayang," ucap Surya lembut. "Tunggu Papa, ya. Papa akan segera menjemput Teja.”


“Oke, Papa."


***


Dalam perjalanan ke rumah Varsha untuk menjemput putranya, Surya memastikan bahwa Ibu Tara telah membatalkan rapat dengan Akasa Food. Yang artinya, prediksinya bisa dibilang seratus persen benar. Bahwa kekasihnya kini sedang bersama mamanya.


Tak lama kemudian, pria tampan itu pun sampai di depan rumah bidadari hujannya. Buah hatinya sudah terlihat berdiri di depan teras tampak sedang menunggunya. Surya pun menghentikan mobilnya lalu segera turun dan membantu Teja memasangkan sabuk pengamannya di jok belakang.


“Papa,” ucap Teja. “Sebenarnya ponsel Teja dan mama saling terhubung melalui suatu aplikasi GPS yang Teja sedang kembangkan.”


“Tapi karena masih belum sempurna, saat ponsel mama mati, Teja jadi juga tidak bisa melacaknya.”


Surya mengusap kepala putranya dan tersenyum. Dalam hati merasa sangat bersyukur karena telah dikaruniai seorang buah hati yang genius. “Boleh Papa lihat aplikasinya, Sayang?”


Teja menganggukkan kepala dan memberikan ponsel miliknya. Surya pun segera membuka aplikasi tersebut dan memeriksa titik koordinat terakhir ponsel Varsha. Ia lalu mengernyitkan dahinya. Mencoba mengira-ngira ke mana tujuan mamanya membawa kekasihnya.


Surya merasa jalur yang ditempuh mereka tampak familier. Namun, masih banyak kemungkinan tempat untuk dikunjungi dari spot tersebut. Akhirnya, pria itu memutuskan untuk pergi saja terlebih dahulu dan melihat lagi nanti bagaimana kelanjutannya.


Keduanya pun segera meluncur untuk mencari keberadaan Varsha. Surya dengan hati-hati dan teliti terus mengikuti petunjuk GPS menggunakan ponsel Teja. Hingga akhirnya mobilnya mencapai titik terakhir dari hasil pelacakan.


Surya menatap jalanan di sekelilingnya sambil berusaha menggali memori setiap sel pada otaknya. Kemudian layaknya habis tersambar geledek, tiba-tiba saja sebuah kenangan terlintas dalam benaknya. Pria itu pun tersenyum. Tampaknya ia tahu ke mana mamanya telah membawa pergi bidadari hujannya.

__ADS_1


Yaitu ke sebuah mansion cantik yang berada tidak jauh dari sini. Tempat ayah dan ibunya dulu melangsungkan pernikahan.


***


“Mama!”


Varsha dan Ibu Tara seketika menengok ke arah sumber suara. Seorang anak laki-laki tampak berlari cepat menghampiri mereka. Sementara sesosok pria tampan terus mengikuti tepat di belakangnya.


“Nenek Tara! Jangan marahi mama!” seru Teja sambil berdiri di depan Varsha. Menjadi tembok pembatas di antara Nenek Tara dan mamanya.


“Teja mohon jangan buat mama bersedih. Mama tidak bersalah apa-apa,” ratap anak laki-laki itu lagi.


“Mom, ini semua salah Surya ….”


“Tentu saja ini salahmu. Memangnya salah siapa lagi,” kecam Ibu Tara pada putranya.


Wanita anggun itu lalu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Lalu ia berjongkok hingga tingginya sejajar dengan Teja. Kemudian menatap lekat-lekat anak laki-laki tersebut.


“Memangnya apa alasan Nenek untuk memarahi mamamu?”


Teja tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Sebenarnya Teja juga tidak mengerti … tapi dalam film dan drama yang Tante Tessa suka tonton, biasanya ibu mertua protagonis wanita sikapnya kejam.”


“Belum lagi jika tokoh utama pria dan wanitanya memiliki status yang berbeda. Kemungkinan besar sang calon ibu mertua pasti tak akan menyetujui hubungan mereka.”


Seketika Ibu Tara meletakkan satu tangannya menutupi mulut. Ia sedang mencoba menahan tawanya yang terbahak-bahak akibat penjelasan Teja. Bahkan Surya pun juga jadi ikut tersenyum lebar. Ini kali pertama ia bisa mendengar suara tawa mamanya lagi setelah sekian lama.


Senyum tulus dan tawa lepas ibundanya memang perlahan menghilang sejak kepergian Bumi dan ayah Surya. Semua itu telah tergantikan dengan ekspresi poker face yang selalu terpasang sebagai tameng luka di dalam hatinya. Namun pada detik ini, mendadak seluruh tembok pertahanan mamanya telah sirna dan hancur berkeping-keping.


Setelah beberapa saat, akhirnya tawa Ibu Tara pun berhenti. Ia lalu menyeka sedikit air mata yang keluar karena begitu geli dengan komentar putra Varsha tadi. Kemudian ia ketuk pelan pucuk hidung anak laki-laki itu.


“Justru yang Nenek belum punya adalah seorang menantu. Jadi buat apa Nenek Tara mengomeli mamamu di saat Nenek menginginkannya menjadi mantu?”


“Sungguh, Nek?” tanya Teja memastikan.


“Iya, Sayang.”


Kemudian Nenek Tara pun memeluk erat anak laki-laki itu. Seorang cucu yang sudah lama ia dambakan akhirnya muncul di hadapannya. Meskipun terlambat lima tahun, ia begitu bersyukur Varsha telah merawat Teja dengan baik hingga menjadi anak yang luar biasa.


Rupanya insting Ibu Tara juga tidak salah. Sejak awal ia selalu merasakan kemiripan anak laki-laki itu dengan Surya dan Bumi. Kini terbuktilah bahwa Teja memang merupakan cucu dan keturunannya sendiri.


“Baiklah,” ujar Ibu Tara usai memeluk sang cucu. “Kini segalanya telah terungkap dan jelas. Berarti kita tinggal meresmikannya saja, bukan?”


“Surya? Varsha?” panggil Ibu Tara.


“Ya, Mom.”


“Ya, Tante.”


Kedua sejoli itu serempak menjawab Ibu Tara dengan sigap. Kemudian mereka saling bertukar pandangan sambil berusaha melakukan komunikasi tanpa suara. Terutama Surya yang tampaknya masih belum bisa mencerna keseluruhan peristiwa di depannya.


“Kapan kalian akan menikah?”


Raut wajah Surya dan Varsha seketika menjadi canggung. Setelah beberapa saat Ibu Tara menanti, tetap masih tak ada jawaban baik dari putranya maupun calon menantunya. Ekspresi wanita anggun itu pun sontak berubah masam. Ia berjalan mendekat ke arah sepasang kekasih tersebut.

__ADS_1


“Jangan bilang kalau Varsha menolak lamaranmu?” tanya Ibu Tara tajam pada putranya.


“Sebenarnya aku dan Varsha … hmm kami masih-”


Tiba-tiba saja sebuah tepakan keras meluncur pada lengan Surya. “Apa yang kamu lakukan sampai lamaranmu ditolak wanita sebaik Varsha?”


“Ouch, Mom! Sebentar biar kujelas-”


Sebuah tepakan kembali lagi mendarat pada tubuh pria itu. “Pasti sikapmu yang arogan membuat Varsha jadi tidak mau menerima lamaranmu, ‘kan?”


“Ouch, Mom! Tunggu! Varsha tolong aku.”


“Tante Tara, bukan begitu. Surya tidak bersalah ….” bela Varsha sambil berdiri di depan kekasihnya. Sementara pria itu memeluknya dari belakang.


“Varsha minggir. Biar Tante beri pelajaran anak ini.”


“Nenek Tara! Jangan pukuli, Papa!” seru Teja sambil berusaha menahan tangan neneknya lalu mengikuti jejak mamanya untuk menjadi tameng.


“Tante Tara tolong bersabar. Justru saya lah yang-”


“Surya, cepat kemari!” potong Ibu Tara sambil berusaha menggapai putranya yang sedang berlindung di belakang keluarga kecilnya.


“Ampun, Mom!”


***


Curcol Author:


Tante Tessa ... kau ajari apa si Teja sebenarnya xDD


Surya: Thor, kenapa dirimu kejam sekali pada diriku


Author: Syalalala~


Surya: Thor, dulu aku kena bogem, sekarang kena tepak


Author: Syukurilah. Anggap saja kesempatan buat backhug.


Surya: ....


Surya: Varsha lindungi akangmu!


<3<3<3<3<3<3<3


Halo reader KAHM!


Jangan lupa terus dukung author dengan memberi love, jempol, komen, hadiah, dan votemu terus ya!


Selamat malam dan selamat mimpi indah!


Nuhun~


- Bawang

__ADS_1


 


 


__ADS_2