
Surya memarkirkan mobilnya di depan rumah Varsha. Namun, ia masih belum membuka kunci pintunya. Sebenarnya ada satu hal yang sejak tadi ia pikirkan di sepanjang perjalanan.
Ia sedang bimbang apakah dirinya ingin memberitahukan Varsha mengenai kebenaran dari dua kecelakaan yang menimpanya. Di satu sisi ia tidak ingin bidadari hujannya khawatir. Sementara di sisi lain, ia juga tidak mau menyimpan rahasia dari kekasihnya.
Belum lagi mengenai pelakunya … yang merupakan salah satu dari orang terdekatnya sendiri. Bagaimana Varsha akan memandang keluarganya nanti. Apakah wanita cantik itu bersedia menerima dirinya dengan keluarga yang tak sempurna ….
“Surya?” tegur Varsha lembut.
Suara kekasihnya seketika membuyarkan lamunan Surya. Pria tampan itu kemudian tersenyum dan mengambil satu tangan Varsha dalam genggamannya. Lalu ia meremasnya pelan.
“Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin aku katakan padamu.”
Akhirnya Surya memutuskan untuk bicara. Apa pun keputusan Varsha nanti, ia akan menerimanya. Ia hanya berharap bidadari hujannya tidak sedih dan terlalu khawatir.
“Mengenai kecelakaan mobilku lima tahun lalu, setelah kita bertemu,” papar Surya. “Serta kejadian di Akasa Hotel.”
Dahi Varsha tampak mengernyit. Seolah masih bingung akan dibawa ke mana topik pembicaraan tersebut oleh Surya. Apakah ada misteri di balik dua kecelakaan itu ….
“Rupanya ada dalang yang sama di balik dua peristiwa tersebut,” ujar Surya tersenyum sendu. “Dan orangnya merupakan salah satu kerabat terdekatku.”
“Ia sengaja mengincar nyawaku … dan hampir mencelakai Teja karena itu.”
Seketika satu tangan Varsha yang tak dipegang Surya terangkat ke mulutnya. Ia begitu terkejut dan masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Orang seperti apa yang tega mengincar hidup kerabatnya sendiri, bahkan sampai nyaris melukai seorang anak tak berdosa … buah hatinya, Teja.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Varsha setelah pulih dari syoknya.
“Sejujurnya tidak,” jawab Surya. “Namun, aku akan mencobanya.”
“Apa Teja baik-baik saja?” tanya wanita cantik itu lagi menekankan setiap katanya. Ekspresi wajahnya pun jauh lebih serius.
“Tak akan kubiarkan siapa pun ‘menyentuh’ Teja,” ucap Surya bersungguh-sungguh.
Varsha mengangguk. Meskipun masih ada kekhawatiran besar, ia memercayai pria di sampingnya dengan segenap hatinya. Surya sudah membuktikan itu pada malam ia mengorbankan dirinya demi melindungi buah hati mereka. Padahal saat itu ia belum tahu Teja adalah putranya.
“Lalu apa rencanamu sekarang?”
“Aku sudah mengatur semuanya dengan tim penyidikku,” jelas Surya. “Aku akan memastikan dia tertangkap dan menerima hukuman yang setimpal.”
“Berhati-hatilah,” tutur Varsha sambil meremas pelan tangan Surya. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir.
Surya tersenyum simpul lalu mengangguk. Ia begitu bersyukur telah dipertemukan kembali dengan bidadari hujannya. Kemudian pria tampan itu membawa tangan kekasihnya ke tepi mulutnya dan mengecupnya lembut.
***
__ADS_1
Dewa menyandarkan punggungnya pada kursi kerja dan memejamkan mata. Meskipun rasanya otaknya mengepul kelelahan, ia tersenyum lebar. Pria itu baru saja menyelesaikan rapat panjang mengenai kopi milik Tessa dan hasilnya sangat memuaskan.
Kini setiap aspek telah terpenuhi dan produk siap untuk diluncurkan kapan saja. Dewa jadi tidak sabar untuk segera memberi tahu Tessa kabar baik itu. Ia pun mengambil ponselnya dari dalam saku celana.
Namun sebelum ia menghubungi wanita itu, sebuah panggilan telepon tiba-tiba masuk. Begitu melihat nomor di layar, dahinya mengernyit. Ia pun menjawab ponselnya.
Dewa hanya diam saja mendengarkan lawan bicaranya. Setiap detik berlalu, raut wajahnya tampak semakin serius dan menegang. Senyuman manis yang tadi ada di sana sebelum dirinya ingin menelepon Tessa kini sudah tersapu habis semua.
“Kau yakin?”
Akhirnya Dewa bersuara. Satu siku tangannya bertumpu di atas meja, sementara jemarinya memijat kening. Kemudian ia menghela napas panjang.
“Baik, kerja bagus,” ucap Dewa. “Hubungi aku secepatnya jika ada perkembangan terbaru.”
Pria itu kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu ia telungkupkan kedua tangannya menutupi seluruh wajah. Ia harus segera memutar otaknya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Namun kepalanya justru terasa kosong. Seakan sudah dipakai bekerja melampaui batasnya.
Tiba-tiba saja ia jadi sangat merindukan Tessa. Sekadar suaranya saja kini tidak cukup. Ia ingin menemui wanita pujaannya langsung.
Dewa pun bergegas mengambil kunci mobilnya dan melesat pergi menuju rumah Tessa. Tidak memakan waktu lama bagi pria itu untuk tiba di sana. Rumah Tessa berada tidak jauh dari Private Cafe sehingga ia hapal betul jalannya.
Ia kemudian mengambil ponselnya lalu menekan kontak wanita cantik itu. Dalam beberapa detik, teleponnya sudah tersambung dan diangkat. Suara merdu Tessa pun langsung menyapanya.
“Bisakah kita bertemu?”
“Ya. Masalah yang sangat besar,” jawab Dewa.
“Ada apa? Kamu tidak terluka, ‘kan?”
“Aku merindukanmu.”
Seketika suara terbatuk terdengar dari ponselnya. Tampaknya Tessa baru saja tersedak. Dewa pun jadi merasa sedikit bersalah.
“Tes, kau tak apa?”
“Kamu di mana?” tanya Tessa lagi segera setelah batuknya reda.
“Di depan rumahmu.”
Tiba-tiba salah satu tirai pada jendela lantai dua rumah bernuansa putih itu terbuka. Tak lama, tampak kepala pujaan hatinya menyembul di sana. Raut wajahnya terlihat begitu terkejut.
Setelah beberapa menit berlalu, seorang wanita cantik pun keluar dari balik pagar. Ia mengenakan piyama merah jambu dengan tulisan ‘i love coffee’ yang memenuhi seluruh kainnya.
Seketika senyum Dewa tersungging. Apa pun yang dikenakan Tessa, ia selalu terlihat memesona. Membuat jantungnya tak pernah absen berdebar keras.
__ADS_1
Begitu Tessa sudah berada di dekatnya, Dewa langsung meraihnya ke dalam dekapan erat. Ini pertama kalinya pria tampan itu memeluk wanita pujaannya. Rasanya begitu nyaman dan menenangkan.
Meskipun awalnya Tessa kaget, ia pun akhirnya membalas rangkulan Dewa. Entah mengapa ia merasa pria itu sedang mengalami hari yang berat dan melelahkan. Wanita cantik itu lalu mengusap-usap pelan punggungnya.
“Tessa … jika aku telah berbuat suatu kesalahan. Apakah kamu akan terus berada disisiku?” tanya Dewa dengan suara lirih.
Seandainya pria tampan itu bersikap seperti hari biasanya. Dengan senyum dan tawa yang selalu terpasang pada wajahnya. Pasti Tessa akan segera membalas pertanyaan itu dengan kata ‘tidak’ sambil setengah bergurau. Namun kali ini berbeda, Dewa yang selalu tampak tangguh kini terlihat begitu terkalahkan.
“Ya, aku akan selalu mendampingimu,” jawab Tessa akhirnya.
“Meskipun itu kesalahan yang sangat besar?”
Wanita cantik itu terdiam sejenak lalu mengangguk. “Ya.”
Dewa mengeratkan lagi pelukannya pada pujaan hatinya. Tangan besarnya mengusap lembut kepala Tessa. Seraya menghirup aroma harum wanita cantik itu yang menenangkan. Setelah waktu yang cukup panjang, pria itu pun akhirnya melepaskan pelukannya.
“Tidak boleh begitu,” ujarnya sambil menyentil sayang hidung Tessa.
Kemudian ia menatap lekat-lekat wanita cantik yang berdiri di hadapannya. Kedua tangannya lalu memegang lengan Tessa dan meremasnya pelan. Pada wajahnya tersungging senyum namun ekspresi yang diperlihatkan Dewa begitu sendu.
“Jika aku melakukan kesalahan fatal kamu harus pergi jauh-jauh dariku. Tinggalkan diriku dengan cepat dan jangan berbalik lagi,” papar Dewa. “Mengerti?”
Lalu pria itu sekali lagi menarik pujaan hatinya ke dalam pelukannya. Entah apa yang terjadi pada Dewa namun Tessa jadi memiliki firasat tidak baik. Ia kini hanya berharap bahwa sesuatu yang buruk tak akan menimpa mereka.
Keduanya pun terus berdekapan erat hingga ponsel Dewa tiba-tiba berdering. Kemudian pria itu pun pergi.
***
Curcol Author:
Hummm ....
<3<3<3<3<3<3<3
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan love, komen, jempol, vote dan hadiahnya ya ;D
Semoga harimu menyenangkan!
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1