
“OMG, Jimin kenapa kamu, Sayang?”
Suara Tessa terdengar panik di sebelah Varsha. ‘Jimin’ adalah nama yang diberikan Tessa pada mobilnya karena kecintaannya terhadap salah satu boyband Korea. Dan saat ini tampaknya Jimin sedang bermasalah.
Tessa buru-buru menepikan mobilnya ke pinggir sebelum mesinnya mati total. Kebetulan di dekat mereka ada supermarket besar, jadi sahabatnya itu segera memarkirkan Jimin* ke dalam halamannya.
Rencananya hari ini Varsha, Teja, dan Tessa akan pergi piknik di taman kota. Sehabis Tessa menonton adegan piknik di drama Korea favoritnya, ia langsung mengusulkan ide itu pada sahabatnya. Varsha pun langsung setuju mengingat Teja yang pasti akan senang mendapat pengalaman tersebut.
Sejak pagi Varsha mempersiapkan bekal mereka dengan bersemangat. Dari jajanan pasar khas negeri, seperti risoles, pastel, dan lemper sampai ke menu ala-ala Korea, kimbap dan tteokpokki, semuanya sudah Varsha bungkus ke dalam keranjang pikniknya. Tessa pun juga sudah mengemas perlengkapan badminton dan board game menarik lainnya untuk mereka mainkan di sana.
Sayangnya, hanya Jimin sepertinya yang tidak antusias dengan rencana piknik mereka. Meskipun Tessa sudah mencoba menstarternya beberapa kali, tidak ada tanda-tanda kehidupan dari mobil tersayangnya. Kini mesin Jimin sudah benar-benar mati total.
“Tante Tessa minta maaf ya, Teja. Sepertinya Jimin sedang sakit.” Ucap Tessa pelan pada Teja.
“Enggak apa-apa, Tante. Kita sembuhin aja dulu si Jimin.” Jawab Teja berusaha menghibur Tessa.
“Sorry ya, Var.” Katanya lagi pada Varsha.
“Enggak apa-apa, Tes.”
Tessa memasang senyum penuh rasa bersalah pada dua orang favoritnya itu. Seharusnya hari ini menjadi hari yang menyenangkan bagi mereka bertiga. Namun sepertinya nasib berkata lain.
Tessa menghela napas panjang. Kemudian ia segera menghubungi asuransi dan melaporkan keluhannya. Tak lama, sebuah bengkel pun sudah menghubunginya lagi dan mengabarkan bahwa mereka akan segera mengirimkan derek ke sana.
“Katanya dereknya kemungkinan akan tiba sekitar 30 - 60 menit lagi karena jalanan macet.” Jelas Tessa pada Varsha.
“Teja, mau Tante traktir milkshake cokelat?”
“Mau Tante! Terima kasih.” Jawab Teja mengangguk bersemangat.
Ketiganya pun memutuskan untuk masuk ke dalam supermarket. Hitung-hitung sambil berteduh dari panasnya matahari. Tessa mentraktir Teja segelas milkshake cokelat serta es kopi untuk Varsha dan dirinya.
“Err… rasa kopi kita jauh lebih baik, Var.” Bisik Tessa pada Varsha. Tidak heran Dewa kekeh sekali untuk meretail kopi miliknya.
“Setuju.” Respon Varsha tersenyum.
Mereka pun menghabiskan waktu di dalam supermarket sambil menunggu derek Tessa datang.
***
“Hari Minggu begini, kau mengajakku untuk survei ke Supermarket AF, Sur???”
Dewa berjalan di sebelah Surya si gila kerja. Ia masih tak percaya, sepupunya itu berhasil menariknya dari tempat tidur dan membawanya kemari untuk melakukan survei. Dia pun tak henti-henti mengeluh di telinga Surya hanya untuk membuatnya jengkel.
Supermarket AF merupakan jebolan dari Akasa Food yang tentu saja dimiliki oleh Akasa Group. Sebagai calon pewaris Akasa Group, Surya seringkali memeriksa laporan dan melakukan survei lapangan ke seluruh produk AG secara bergantian. Hotel, hardware, elektronik, kosmetik, developer dan lainnya, semuanya ia cek tanpa terkecuali. Dan kali ini Supermarket AF yang menjadi giliran.
“Kita sudah hampir selesai dan kau masih mengeluh juga.” Komentar Surya pada Dewa.
“Supaya kau belajar lain kali, jangan menjaili sepupumu ini di akhir pekan, atau kau harus mendengar ocehan darinya tanpa henti.” Ucap Dewa masih jengkel.
“Haaah. Aku butuh kopi...” Tambahnya lagi.
Dewa memanglah penggila kopi. Tanpa kafein cair itu dia tidak bisa berfungsi dengan baik dan mood-nya juga menjadi buruk. Seperti saat ini.
Kedua pria tampan itu pun akhirnya pergi ke kafe kecil di dalam supermarket. Namun tiba-tiba Surya dan Dewa terdiam di tempat. Di hadapan mereka sudah ada tiga orang yang akhir-akhir ini mengisi tempat spesial di hati keduanya.
“Tessa!”
__ADS_1
Dewa terlebih dahulu menyapa dan menghampiri wanita cantik di depannya. Ia lalu tersenyum sopan pada pasangan ibu dan anak yang duduk di sebelah Tessa.
“Varsha, Teja. Hai!”
“Halo, Om Dewa.”
Varsha dan Teja sebenarnya belum terlalu lama mengenal Dewa, meskipun Varsha sudah pernah melihat foto Dewa di masa-masa Tessa masih naksir padanya. Mereka cukup akrab karena karena pria itu sering mengunjungi kafe Tessa untuk bicara bisnis dengan sahabatnya itu.
“Hai, Kak Dewa.”
Varsha merespon sambil tersenyum sementara Tessa hanya menganggukan kepalanya.
“Om Surya!” Sapa Teja bersemangat.
“Pak Surya.” Kata Varsha sopan.
Ulu hati Surya terasa tersentil begitu mendengar panggilan Varsha untuk Dewa. Apalagi ditambah dengan cara Varsha menyebut namanya yang begitu resmi. Tiba-tiba saja terasa ada yang memanas di dadanya.
“Hai Teja. Halo Mama Teja.” Jawab Surya akhirnya, berusaha tenang.
“Oh Varsha dan Teja sudah mengenal Surya rupanya.”
“Aku sekarang salah satu pengembang di Akasa Game, Om.” Kata Teja tersenyum.
“Ooooh, begitu.” Dewa melirik cepat Surya, menyunggingkan senyum penuh arti yang hanya direspon Surya dengan ekspresi poker face.
“Tapi ngomong-ngomong, kalian sedang apa di sini?” Tanya Dewa.
“Kami sedang menunggu derek untuk mobil Tante Tessa, Om.”
Teja pun dengan polos menjelaskan bagaimana mereka yang tadinya berencana untuk piknik akhirnya tidak jadi karena mobil Tante Tessa tiba-tiba mogok. Kemudian berlanjut sampai bagaimana mamanya sudah menyiapkan bekal yang banyak. Serta tentang Tante Tessa dan dirinya yang bersemangat untuk menghabiskan waktu bersama di taman kota.
***
“Mereka Varsha dan Teja, kan? Yang pernah kau ceritakan di gym?”
“Kau senang kan, aku sudah mengundang kita berdua ke acara piknik mereka?” Bisik Dewa pada sepupunya.
“Kau senang kan, sudah aku seret ke supermarket pada Hari Minggu?” Balas Surya.
Keduanya saling memandang lalu tertawa. Sejak dulu Dewa dan Surya memang selalu seperti itu. Tanpa harus mengatakan dengan detail, mereka langsung tahu isi hati masing-masing layaknya dua orang kembar yang memiliki telepati.
Surya dan Dewa baru saja selesai menyantap bekal yang Varsha buat dan sekarang sedang membangun net badminton portable milik Tessa. Tidak membutuhkan waktu lama bagi kedua pria tampan itu untuk menyelesaikannya. Karena jumlah mereka ganjil, Varsha memutuskan untuk tidak bermain dan menonton mereka saja.
Teja satu tim dengan Surya sementara Dewa bersama Tessa. Keempatnya pun bermain double dengan seru, saling mengoper kok dan menyerang. Meskipun Teja masih kecil, ia cukup jago bermain badminton serta sangat kompetitif. Melihat putra kecilnya bersenang-senang, membawa senyum di wajah Varsha.
Kemudian ia mengambil sebuah buku sketsa dari dalam tasnya. Lalu mulai menggambar adegan di depannya, empat orang yang sedang bermain badminton dengan gembira. Varsha mensketsa kasar lalu menyempurnakan gambarnya. Tangannya dengan lihai mengarsir dan memberikan garis tebal-tipis di bukunya.
Saking fokusnya Varsha, ia tidak menyadari hanya tinggal Teja dan Dewa yang bermain. Tessa sudah duduk bersila kecapekan sementara Surya tidak terlihat. Tiba-tiba saja sebuah sensasi dingin terasa di pipi kanannya.
Varsha terkejut dan menolehkan kepalanya dengan cepat. Di sampingnya, Surya tersenyum. Satu tangannya menempelkan es krim dingin ke pipi Varsha. Seketika sebuah memori bermain di kepalanya.
“Dingin, kan?” Sun baru saja meletakkan telapak kanannya yang dingin ke pipiku.
Wajahku memanas lalu cepat-cepat merespon Sun, “Salahmu sendiri. Tadi sudah kutawari baju kering, tapi kau tidak mau.” Ledekku.
“Ya, seharusnya kuterima saja tadi. Aku pasti akan terlihat tampan memakai dastermu.”
__ADS_1
Kemudian Sun tersenyum lalu tertawa kecil.
Persis seperti saat ini.
“Rasa stroberi untuk Mama Teja.”
Suara Surya langsung mengembalikan kesadaran Varsha. Ia menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri.
“Teja bilang, Mama Teja suka rasa stroberi.” Kata Surya lagi.
Melihat ekspresi kaget Varsha, Surya rasanya ingin mengutuk dirinya sendiri. Menempelkan es krim ke pipi Varsha? Apa yang dia pikirkan sampai tangannya berani-beraninya melakukan hal itu??
Namun kepanikan Surya seketika pupus, saat melihat dua lesung pipit cantik yang memutuskan untuk berkunjung ke pipi Varsha sekarang. Wanita cantik itu tidak marah. Ia bahkan sedang tersenyum ke arahnya.
“Terima kasih.” Kata Varsha sambil mengambil es krim dari tangan Surya.
“Gambar yang bagus.” Puji Surya.
“Ah, terima kasih, Pak Surya.”
Varsha tersenyum lagi, memperdalam lesung pipitnya yang manis. Kemudian dia menutup buku sketsanya dan meletakannya kembali ke dalam tas. Entah kenapa dia merasa malu karyanya dilihat oleh Surya. Varsha pun akhirnya membuka bungkus es krim dan mulai memakannya.
Surya melirik wanita cantik yang sedang duduk di sampingnya. Apa sebenarnya yang begitu berbeda dari Varsha dibandingkan dengan wanita lainnya. Mengapa wanita berlesung pipit di sebelahnya begitu…
Mengusik pikirannya…
Menghangatkan hatinya…
Membuatnya merasa nyaman...
“Varsha, kau mau pergi ke festival game yang akan diadakan Akasa Game sebentar lagi?”
Seketika pertanyaan itu terlontar dari mulut Surya. Meluncur cepat tanpa formalitas. Dan ia ingin Varsha melakukan hal yang sama. Menanggalkan panggilan sopan mereka masing-masing dan mulai menyebut namanya tanpa emblem apapun.
***
*Memarkir Jimin \= Park Jimin ;D
Maaf enggak lucu ya, Author kabur lagi kalau gitu 👀
Curcol Author:
Sore hari di lapangan parkir Supermarker AF
Petugas Derek: “Atas nama Varsha kan, Pak?”
Raka, Asisten Surya: “Iya Pak.”
Petugas Derek: “Mba Varshanya kemana, Pak?”
Raka, Asisten Surya: “Sedang piknik, Pak.”
Petugas Derek: “Ooh, oke…”
Semoga suka ya guys. Jangan lupa love, komen, dan jempolnya.
Nuhun\~
__ADS_1
- Bawang