
Jadwal team building Akasa Game hari ini sangat padat. Dimulai dari tadi pagi, mereka hiking bersama menyusuri kebun teh. Lalu beristirahat sebentar, disuguhi kudapan hangat. Kemudian dilanjutkan siang ini dengan acara pertandingan antar tim.
Teja, Varsha, dan Surya menatap bakiak di depan mereka. Rupanya kemarin sudah dilakukan pengundian pembagian kelompok. Berhubung hanya mereka yang datang terlambat, ketiganya pun berakhir menjadi satu tim.
“Om Surya di depan, Mama di tengah, dan Teja di belakang?” Tanya Teja memastikan strategi pada Varsha dan Surya.
“Sepertinya itu paling bagus.” Jawab Surya.
Kedua laki-laki di samping Varsha sama-sama meletakkan satu tangannya di dagu dan berpose seolah mereka sedang memecahkan persoalan sulit. Kemudian mereka menoleh serempak, menatap Varsha. Wanita cantik itu pun mengangguk setuju.
Surya yang pertama memasangkan bakiak pada kakinya. Lalu Varsha pun mengikutinya namun dia sedikit kesulitan.
“Mama, pegang Om Surya agar seimbang.”
“Ah, iya.”
Ragu-ragu, Varsha akhirnya memegang jaket Surya di bagian pinggang. Tak lama, Teja pun bergabung dengan mereka. Begitu peluit ditiup, ketiganya langsung melaju dengan serempak ke depan.
Kekompakan Surya, Varsha, dan Teja ternyata tidak buruk. Sambil meneriakkan aba-aba bersama, mereka menyusul lawannya satu per satu. Bahkan sekarang ketiganya merupakan salah satu yang tercepat di antara sepuluh tim.
Hanya tinggal beberapa langkah lagi saja mereka akan sampai ke garis finis. Namun tiba-tiba Teja kehilangan keseimbangannya dan jatuh mendorong Varsha. Dan seperti sebuah efek domino, Varsha pun akhirnya ikut membuat Surya oleng ke depan.
Dalam sekejap ketiganya terjatuh saling menumpuk dengan tubuh Surya, yang syukurnya atletis, berada di paling bawah. Teja cekikan geli, membuat Surya dan Varsha juga ikut tertawa. Sayangnya, karena itu mereka tak lagi menjadi juara lomba bakiak.
“Next time.” Kata Surya.
“Iya, Om Surya. Next time kita akan rebut semua pialanya.” Respon Teja tak kalah kompetitif.
Tim kompak itu pun berdiri sambil berusaha membersihkan rumput yang menempel pada tubuh mereka. Surya yang kini merasa kepanasan, memutuskan untuk membuka jaketnya. Seperti biasa, Ia gigit sisi kerahnya sambil satu tangannya lagi membuka ritsleting.
“Whoa, cara Pak Bos dan Teja melepaskan jaket kok bisa sama persis…” Komentar Ardi yang tak sengaja lewat di depan mereka. “Pak Bos yang mengajarimu Teja?”
Teja menggeleng, “Dari dulu Teja selalu membuka jaket dengan cara begini. Iya kan, Mama?”
Varsha yang awalnya membeku sejenak, akhirnya mengangguk merespon Teja. Bukan hanya selera makan, bahkan kebiasaan mereka juga sama. Varsha pun tak kuasa menghela napas panjang.
Di saat bersamaan, Surya merasa lucu sekali Teja juga memiliki gaya yang sama dengannya. Dulu ia selalu diolok-olok oleh Dewa dan Bumi karena cara membuka jaketnya yang berlebihan itu. Sok keren kata mereka. Seketika dia jadi merindukan Bumi, kakaknya...
Tiba-tiba sebuah tangan kecil menggenggam tangan Surya. Ia pun melirik ke samping dan senyum manis Teja menyapanya. Di sebelah anak laki-laki itu sudah ada Varsha yang menatapnya dengan ekspresi… khawatir?
“Ayo Om, kita ke lomba selanjutnya.”
Surya tersenyum dan mengangguk. Ketiganya pun berjalan bergandengan bersama menuju aktivitas berikutnya.
***
Tak terasa hari sudah semakin sore. Tim Teja, Varsha, dan Surya yang sangat kompetitif berhasil mengantongi beberapa peringkat satu sampai tiga besar. Dengan puas akhirnya mereka kembali ke kamar masing-masing untuk mandi.
Pada malam hari akan diadakan acara api unggun. Setiap departemen Akasa Game diminta untuk menunjukkan kebolehan mereka masing-masing. Keahlian apapun bisa mereka perlihatkan. Dari bernyanyi sampai sketsa komedi, semuanya oke.
Varsha tidak tahu apa yang akan Teja tampilkan tapi putra kecilnya bilang ia akan satu tim dengan Surya. Buah hatinya sengaja merahasiakannya, beralasan agar Varsha lebih menikmati pertunjukannya nanti.
__ADS_1
Sehabis makan malam, seluruh rombongan Akasa Game pun akhirnya berkumpul mengelilingi api unggun besar yang sudah dipersiapkan. Varsha, Teja, dan Surya duduk bersebelahan, bersila di atas rumput. Sambil memakan jagung bakar, ketiganya menonton hiburan di depan mereka.
Satu per satu departemen pun tampil hingga akhirnya sampai pada giliran Surya dan Teja. Surya mengambil gitarnya di samping dan berjalan berdua bersama Teja ke dekat api unggun. Varsha langsung cepat-cepat meraih ponselnya, bersiap merekam momen tersebut.
Tak lama kemudian, Surya memetik gitarnya. Mengalunkan nada-nada cantik mengisi keheningan malam. Iramanya sangat tidak asing terdengar di telinga Varsha. Dulu, lagu ini adalah lagu favoritnya. Tapi ia tak pernah lagi memainkannya karena takut teringat dengan memorinya bersama Surya lima tahun lalu…
“Aku enggak tahu lagi mau ngomongin apa…” Kataku pada Sun sambil tertawa kecil. “Rasanya aku sudah cerita semuanya padamu…”
Entah karena mengantuk atau perasaan nyaman bersama pria di sebelahku, semuanya terasa begitu lucu. Bahkan menatap langit tak berbintang pun membuatku tersenyum.
“Hmm.. bagaimana kalau bernyanyi?”
Jawab Sun dengan suara beratnya, masih sambil berbaring. Kemudian Ia tersenyum lalu membalikkan tubuhnya menghadapku. Satu tangannya menumpu kepala sebagai bantalan.
“Hm?”
“Menyanyilah untukku Rain.” Kata Sun lagi.
“Aku ingin mendengar nyanyianmu…”
Mata Sun tampak berbinar sekaligus sendu saat dia mengucapkan kalimat itu. Entah mengapa hatiku terasa bergetar dan wajahku memanas. Aku mengulum bibirku, merasa bimbang.
Setelah terdiam sejenak, akhirnya kuputuskan untuk menyanyikan lagu kesukaanku. Blackbird dari The Beatles. Sebenarnya lagu ini merupakan penyemangatku saat sedang merasa sedih atau kurang bersemangat. Jadi kupikir lagu ini akan cocok juga untuk menghibur Sun.
♫ Blackbird singing in the dead of night ♫
Burung hitam bernyanyi di kesunyian malam
♫ Take these broken wings and learn to fly ♫
♫ All your life ♫
Seumur hidupmu
♫ You were only waiting for this moment to arise ♫
Kamu telah menantikan momen ini untuk bangkit
…
...
“Indah sekali Rain...” Ucap Sun pelan.
Plok, plok, plok!
Suara tepukan tangan ramai di sekelilingnya membawa Varsha kembali ke acara api unggun. Rupanya Surya dan Teja sudah selesai tampil dan sekarang sedang berjalan menuju tempatnya duduk. Dalam hati Varsha menegur dirinya sendiri karena ia tadi tidak fokus dengan penampilan putra kecilnya.
Namun begitu melihat ponselnya, Varsha merasa lega sedikit. Setidaknya ia sudah merekam semuanya dan bisa menontonnya nanti. Teja tersenyum ke arah Varsha dan memeluknya.
“Bagaimana tadi penampilanku, Mama?”
__ADS_1
“Bagus sekali, Sayang.” Puji Varsha sambil mengelus punggung putranya.
“Om Surya yang mengajariku lagu itu. Begitu Teja mendengarnya pertama kali, Teja langsung berpikir Mama pasti akan suka.” Jelas buah hatinya bersemangat.
“Terima kasih, Pak Surya.” Ucap Varsha pada pria tampan di sebelah Teja.
“Dengan senang hati, Mama Teja. Saya juga berterima kasih Teja mau berkolaborasi dengan saya.” Respon Surya mengedipkan matanya pada Teja.
Putra kecilnya itu lalu memberi tos pada Surya. Kemudian ketiganya pun kembali menikmati pertunjukkan dan api unggun di depan mereka hingga malam semakin larut.
***
Varsha menemani Teja di tempat tidur hingga putra kecilnya terlelap. Kemudian ia pelan-pelan keluar kamar menuju beranda. Ia pun duduk di sana lalu mengambil ponselnya, siap untuk menonton klip Teja bernyanyi.
Varsha menekan tombol ‘play’ dan alunan irama akrab itu pun sekali lagi bermain di kesunyian malam. Suara buah hatinya begitu indah dan menggemaskan sementara iringan gitar di latar dimainkan dengan elok dan apik.
Ekspresi wajah buah hatinya begitu senada dengan lagu yang ia dendangkan. Melihat itu pun, membuat Varsha tersenyum. Menampakkan lesung pipit manis di kedua pipinya.
Yang wanita cantik itu tidak sadari, ada seorang pria tampan yang juga sedang menikmati pemandangan indah malam ini. Merasa bersyukur dirinya memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi komplek vila, bukannya tidur. Tiba-tiba pria itu meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu.
Selamat malam, Mama Teja. Maaf sebelumnya mengganggu.
Apa besok Teja dan Mama Teja juga akan pulang bersama saya?
Ponsel Varsha bergetar. Wanita cantik itu lalu tampak terdiam, berpikir sejenak. Sesungguhnya ia ingin menolak Surya. Namun ia jadi tidak enak hati mengingat pria itu akan menyetir jauh sendirian, jika dirinya dan Teja tidak ikut bersamanya. Bagaimanapun juga Surya adalah bos Teja, jadi mereka harus memberi kesan bagus padanya.
Varsha pun tampak sedang mengetikkan pesan balasan pada Surya.
Selamat malam, Pak Surya.
Besok sepertinya kami akan merepotkan Pak Surya lagi dengan pulang bersama.
Terima kasih sudah menawarkan.
Surya tersenyum kecil membaca kalimat-kalimat pada layar ponselnya. Ia merasa sepertinya dia akan bermimpi indah malam ini.
***
Curcol Author:
(Masih Jumat Pagi, Lanjutan Sebelumnya...)
Dewa: "Lho Raka, kamu ga ikut anterin si Surya ke villa?"
Raka, Asisten Surya: "Kata Pak Surya, saya tidak perlu ikut, Pak Dewa. Pak Surya sendiri yang akan menyetir ke sana."
Dewa: "Oh begitu oke deh."
Dewa: 'Sepupu yang aneh... kenapa juga dia mau capek-capek nyetir sendiri..'
Hihihi, semoga suka sama bab ini ya teman-teman. Jangan lupa love, komen, dan jempolnya <3
__ADS_1
Nuhun\~
- Bawang