Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XXVIII. Bumi


__ADS_3

“Kalau yang ini?”


Tessa menggeleng. “Terlalu asam. Rasa gurih naturalnya hilang.”


Hari ini Dewa membawakan Tessa beberapa sampel kopi untuk dicoba. Keduanya sedang mencari profil rasa yang tepat untuk produk ritel kopi Tessa. Namun sejauh ini tampaknya tak ada yang berhasil memuaskan wanita cantik itu.


“Sudah semua, Kak Dewa?”


“Untuk hari ini, ya,” ujar Dewa sambil mengedipkan satu matanya.


“Bagus,” respon Tessa.


Kemudian wanita berambut panjang itu menarik tangan Dewa untuk duduk di salah satu sofa besar. Lalu ia menatap pria di depannya dengan wajah serius.


“Kalau lagi mood mau disayang bilang aja, Cantik. Sini mendekat sama Abang.”


Tiba-tiba sensasi nyeri terasa di tangan Dewa. Ia baru saja dihadiahkan tepakan keras dari Tessa. Pria itu lalu meringis berpura-pura kesakitan.


Tessa yang melihat sikap dramatis Dewa langsung memutar kedua bola matanya. Namun setelah beberapa saat, ia mengambil tangan Dewa dan mengusapnya pelan.


“Kak Dewa, kamu sudah tahu hubungan Surya dan Varsha, kan?” tanya Tessa.


Dewa mengangguk pelan. “Surya sungguh tak tahu kalau Varsha itu adalah … Rain,” ucapnya secara insting membela sepupunya.


“Aku menyaksikan sendiri bagaimana ia berusaha mencari Rain ke mana-mana selama bertahun-tahun. Tapi karena saat itu memorinya tidak lengkap, sangat sulit untuk menemukannya,” tambahnya lagi.


“Kalau begitu … apa Kak Dewa bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Tessa lembut.


“Aku tak yakin akulah orang yang tepat untuk menceritakan semuanya,” respon Dewa.


“Bukankah Kak Dewa adalah orang terdekat Kak Surya?”


“Ceritanya … cukup panjang,” kata Dewa ragu-ragu.


“Untunglah kita punya banyak waktu,” ucap Tessa sambil meremas pelan kedua tangan pria di sampingnya, mencoba membujuknya.


Ekspresi Dewa tak bisa dibaca, namun tak lama ia tersenyum simpul. Tampak sedikit kesedihan pada raut wajahnya. Kemudian ia menghela napas panjang.


“Pertama, aku harus menceritakan dulu mengenai kakak Surya,” mulainya.


“Bumi.”

__ADS_1


***


Kehadiran Bumi dalam keluarga Abhiyoga merupakan sebuah berkat besar. Berwajah tampan dengan otak cemerlang. Begitu santun dan berbudi pekerti luhur. Ditambah lagi ia sangat menyayangi adiknya, Surya.


Keduanya tumbuh menjadi pemuda yang luar biasa dengan prestasi yang membanggakan. Hubungan mereka pun sangat dekat dan nyaris tak terpisahkan. Bahkan Dewa selalu merasa iri dengan kedekatan keduanya. Akhirnya, ia pun jadi sering bergabung dan bermain bersama Bumi dan Surya.


Namun rupanya kian tahun kemampuan Surya dan Dewa semakin melesat jauh dibandingkan dengan Bumi. Ia pun menyadari hal tersebut. Dirinya merasa minder dan menjadi depresi berat. Hingga akhirnya melenceng dari jalur rotasinya yang sudah diatur dengan baik.


Bumi mulai minum-minum untuk melupakan stresnya. Lama-kelamaan, ia pun jadi semakin menjauh dari keluarganya. Namun tentu saja Surya tak membiarkan kakaknya tertinggal sendirian.


“Sini, Sur coba ini. Habiskan gelas ini dan duduklah bersama Kakak,” ajak Bumi setengah sadar.


“Surya, ayo pergi!” kata Dewa tegas.


Bumi tertawa. “Surya, bukankah kita berdua selalu dekat. Cepat tenggak habis gelas ini dan duduk di sampingku.”


“Surya! Lekas kemari!” teriak Dewa tak mau kalah.


Ekspresi Surya tampak bingung. Kala itu dirinya masih sangat muda dan polos. Sejak kecil, Bumi dan Surya seringkali ditinggal oleh orang tua mereka untuk mengurus Akasa Group. Oleh karena itu, hanya Bumi lah yang selalu ada untuk Surya. Bagi Surya muda, kakaknya menempati peringkat pertama di hidupnya.


Akhirnya Surya menapakkan kakinya mendekati Bumi. Melangkah pelan menghampiri gelas yang ada di tangan kakaknya. Namun sebuah tangan tiba-tiba menahannya.


“Ayo pergi!”


“Aku mau tinggal bersama Kak Bumi di sini,” ucap Surya nyaris berbisik. Lalu ia raih gelas berisi minuman keras di tangan Bumi dan meneguknya habis dengan cepat.


Seketika sensasi terbakar menghantam Surya di tenggorokan, membuatnya terbatuk-batuk. Kemudian Bumi tersenyum seraya menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Dewa.


“Kau lihat itu Dewa? Biarkan kami kakak beradik menghabiskan waktu bersama tanpa gangguan orang luar,” tegas Bumi.


Dewa sebenarnya masih ingin mengajak Surya meninggalkan bar ini. Namun sepupunya itu sudah duduk di sebelah Bumi dan terus menghindari pandangannya. Akhirnya Dewa pun pergi dengan perasaan campur aduk.


Setelah kejadian itu, Surya pun jadi mengikuti pola hidup Bumi. Keduanya selalu menghabiskan waktu minum-minum sampai pagi hingga mabuk dan tak sadarkan diri. Kemudian bangun dengan kepala pengar lalu mengulangnya kembali.


Namun lambat laun, Bumi merasa minuman keras tidak lagi cukup ampuh untuk menghilangkan penat dan stresnya. Ia pun mulai mencoba sesuatu yang lebih kuat lagi. Obat yang bisa membuatnya melupakan segala hal dan terbang ke awang-awang.


Tak memakan waktu lama bagi Bumi berakhir menjadi seorang pecandu. Meskipun begitu, ia tak pernah membiarkan Surya berada dekat-dekat dengan obat-obatannya. Seakan masih ada sisa rasa protektif sebagai kakak untuk melindungi adiknya. Tetapi karena Bumi terlalu sering mengkonsumsi zat berbahaya tersebut, ia kerap ditemui dalam keadaan teler dan setengah sadar daripada normal.


Hingga suatu hari saat Bumi sedang minum-minum dengan Surya, tanpa sadar ia menawarkan obat tersebut pada adiknya. Memasukkan bubuk halus pada gelasnya dan gelas Surya. Kemudian menyuruh adiknya itu untuk mencobanya.


Namun siapa sangka perbuatan itu disaksikan langsung oleh ayah mereka. Pak Bima dan Ibu Tara sudah dua tahun belakangan ini menetap di Australia untuk memperlebar sayap Akasa Group. Namun karena kebetulan ada rapat di Indonesia, ia pun menyempatkan untuk mengunjungi kedua putranya. Siapa sangka, ia justru melihat keadaan putra-putra briliannya jadi seperti itu.

__ADS_1


“Bumi! Apa yang kamu lakukan?!” teriak Pak Bima sambil menepis keras tangan Bumi. Seketika membuat dua gelas kaca jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.


“Kamu sudah menghancurkan hidupmu. Sekarang kamu mau menyeret adikmu juga?!” bentak Pak Bima. “Apa yang ada dipikiranmu, Bumi?!”


Saat itu keadaan Surya juga setengah sadar karena sudah menenggak beberapa gelas minuman keras sebelumnya. Jadi ia tidak begitu bisa memproses apa yang sedang terjadi di hadapannya.


Di tengah kekacauan itu, tiba-tiba Bumi tertawa. Semakin lama semakin kencang. Lalu ia berdiri dan berjalan menuju ayahnya.


“Kenapa, Pa?” tanya Bumi dengan nada menantang. “Papa takut aku merusak aset Papa yang berharga?”


Sebuah tamparan mendadak mendarat di pipi kanan Bumi.  Membuatnya terhuyung lalu terjatuh duduk di lantai. Sebenarnya bukan karena pukulan ayahnya terlalu keras, namun memang karena Bumi sedang kehilangan keseimbangannya akibat pengaruh obat-obatan.


Sementara itu, Pak Bima berusaha memapah Surya di tangannya dan mengeluarkannya dari sana. Sebelum ia pergi, Pak Bima menolehkan kepalanya ke arah Bumi lalu berkata, “Papa malu punya anak seperti kamu.”


Siapa yang mengira itu adalah hari terakhir Surya dan ayahnya melihat Bumi. Keesokan harinya tubuh Bumi ditemukan tewas akibat overdosis. Semenjak itu pun, Surya terus menyalahkan ayahnya atas kematian Bumi.


Hubungan ayah dan anak yang awalnya memang tidak terlalu dekat menjadi lebih renggang lagi karena peristiwa Bumi. Surya membenci ayahnya karena telah membuat Bumi stres dan tertekan hingga menjadi pecandu dan akhirnya tewas. Sementara Pak Bima juga tidak mendebat Surya dan hanya diam saja.


Setahun kemudian, seluruh keluarga Abhiyoga pergi mengunjungi makam Bumi untuk melayat. Entah mengapa, pada hari itu Pak Bima dan Ibu Tara tiba-tiba ingin menyetir ke sana berdua saja tanpa ditemani supir. Namun nasib naas kembali menimpa keluarga Surya.


Di dalam perjalanan, ayahnya mendadak terkena serangan jantung dan langsung tewas. Menyebabkan mobil orang tua Surya tak terkendali hingga terguling dan menabrak tiang pembatas jalan. Sementara, ibunya sendiri jatuh koma akibat kecelakaan tersebut.


Beberapa hari sesudah peristiwa mengerikan tersebut, Surya pun memakamkan ayahnya. Ia merasa sangat menyesal dan terpukul karena tidak bisa memperbaiki hubungan mereka sebelumnya. Meskipun Surya membenci ayahnya, bukan berarti ia juga tidak menyayanginya.


Surya pun mulai menyalahkan dirinya sendiri atas seluruh kejadian yang menimpa keluarganya. Seandainya saja dia bisa membujuk Bumi untuk tidak beralih ke minuman keras dan obat-obatan. Seandainya saja dia tidak terus menyalahkan ayahnya atas kematian Bumi. Seandainya ia melarang orang tuanya untuk menyetir sendiri ke tempat peristirahatan Bumi ….


Namun, semuanya sudah terlambat. Tanpa ia sadari, Surya pun menyetir tanpa tujuan. Di dalam pikirannya saat itu hanyalah ia ingin pergi ke atas. Semakin tinggi semakin baik. Hingga ia akhirnya tiba di suatu tebing.


Tebing Purwa. Tempat Sun bertemu Rain.


***


Curcol Author:


Tiba-tiba rasanya jadi ikutan depresi. Author ingin makan yang manis-manis ah ...


<3<3<3<3<3<3<3


Jangan lupa love, komen, dan jempolnya ya teman-teman ;D


Semoga akhir pekanmu menyenangkan.

__ADS_1


Nuhun~


- Bawang


__ADS_2