
“Teja.”
“Siap, Om Ardi.”
“Dania.”
“Apa sih, Di. Kelakuan makin minus aja. Buruan langsung ke intinya.”
Ardi mendelik tajam ke arah Dania. Sahabatnya itu memang paling tidak sudi diajak berbasa-basi. Padahal dia hanya mau bergurau sebentar untuk mencairkan suasana.
“Oke. Di tanganku sudah ada dua objek penting untuk penyelidikan kita,” mulai Ardi sambil meletakkan dua kotak ke atas meja.
“Di dalam kotak kecil, ada Lebah 11. Sementara di dalam kotak besar ada kaca spion tengah dari mobil Pak Surya lima tahun lalu,” jelasnya lagi.
Lebah 11 merupakan bagian dari proyek ‘Honey Bee’ yang Ardi dan Teja sedang kerjakan. ‘Honey Bee’ merupakan kelompok nano drone canggih yang ukuran dan bentuknya dibuat persis seperti lebah asli. Alat canggih tersebut juga dilengkapi dengan kamera beresolusi tinggi, memori besar, serta baterai tahan lama.
Entah karena keberuntungan atau takdir, tetapi Ardi dan Teja tidak sengaja membuat Lebah 11 tersangkut pada plafon di atas panggung saat sedang melakukan peninjauan. Tepatnya seminggu sebelum kecelakaan di Akasa Hotel. Berkat ingatan Teja yang kuat, akhirnya Ardi pun mengambil Lebah 11 yang sempat terlupakan itu.
“Aku tidak yakin bagaimana kondisi Lebah 11 saat ini. Namun, sepertinya cukup bisa diandalkan jika sistemnya bekerja seperti Teja dan aku inginkan.”
Ardi kemudian mengambil spion tengah mobil yang sudah tampak usang. “Yang menjadi masalah adalah kamera black box di dalam sini.”
“Sudah tidak berfungsi kurang lebih lima tahun akibat kecelakaan. Serta tidak memiliki microSD card. Aku sudah mencoba mengutak-atiknya namun tidak mendapatkan hasil apa pun. Jadi, kondisinya bisa dibilang sangat buruk,” papar Ardi panjang lebar pada kedua rekannya.
“Boleh aku mengeceknya sebentar, Om Ardi?” tanya Teja meminta izin.
Ardi pun mengangguk lalu menyodorkan spion tengah tersebut pada anak laki-laki itu. Pola pikir Teja seringkali sangat berbeda dan unik dari yang lain. Otak jeniusnya mampu menangkap detail yang jarang diperhatikan.
Kemudian Teja memutar-mutar benda usang itu di tangannya. Kalau Om Ardi saja tidak bisa membobol sistemnya, mungkin dia bisa mengecek bagian luarnya. Mungkin dengan begitu, ia bisa menemukan sesuatu.
“Apa Om Ardi tahu siapa pencipta black box ini?”
“Itu dia masalahnya. Demi menjaga kerahasiaan, hanya Pak Bima Abhiyoga lah yang tahu siapa penciptanya,” jawab Ardi. “Sayangnya beliau telah tiada sebelum memberitahukannya pada siapa pun.”
Teja mengangguk. Rupanya kakeknya yang memiliki ide untuk menginstal black box kedua pada mobil anggota Keluarga Abhiyoga. Anak laki-laki itu pun terus mengamati dan meraba permukaannya dengan lebih teliti.
Tiba-tiba dia melihat suatu simbol kecil di dekat sudut yang tersembunyi. Teja mengerutkan keningnya. Sepertinya tanda tersebut begitu akrab.
“Ah!” seru Teja cukup keras hingga mengagetkan dua rekannya.
__ADS_1
Putra Varsha tersenyum lebar. Dia baru saja mendapatkan sebuah pencerahan. Rupanya simbol yang terasa familier itu pernah ia lihat di salah satu buku bacaannya. Autobiografi Putera Narendra. Pemilik Narendra Group yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang IT dan Computer Security.
Kebetulan sekali Om Surya pernah mengenalkan Teja dengan Bapak Putera Narendra di pesta peluncuran mobile game DRF. Seingat anak laki-laki itu, ia bahkan meninggalkan kesan yang baik pada Pak Putera. Hingga dirinya ingin direkrut oleh beliau.
“Kenapa kamu, Teja?” tanya Dania yang bingung melihat ekspresi rekan kecilnya.
“Om Ardi, Tante Dania. Sepertinya kita harus mengunjungi Narendra Group.”
“Oh, apa kau menemukan sesuatu?” Kini giliran Ardi yang bertanya.
Teja mengangguk. “Om dan Tante lihat simbol ini?”
“Iya,” jawab Ardi dan Dania berbarengan.
“Ini mirip sekali dengan paraf Putera Narendra, pemilik Narendra Group. Aku pernah melihatnya di buku autobiografi miliknya,” jelas Teja.
Dania dan Ardi saling berpandangan. Masih tidak percaya bahwa anak laki-laki jenius di depan mereka bahkan bisa mengingat sedetail itu akan isi suatu buku. Bahkan hal kecil seperti sebuah paraf yang biasanya langsung dilewatkan saja.
Ardi lalu mengacungkan dua jempolnya pada Teja. Sementara Dania langsung mengambil ponselnya, untuk menghubungi Narendra Group. Setelah beberapa saat mendengar nada sambung, akhirnya teleponnya pun diangkat.
“Narendra Group, ada yang bisa kami bantu?” Sebuah suara wanita terdengar merdu menyapa Dania.
“Baik, Mba Dania. Saya akan mengkonfirmasi dengan Bapak Putera terlebih dahulu sambil mengatur jadwalnya. Lalu saya akan menghubungi Anda kembali.”
“Baik, terima kasih.”
Selesai melakukan panggilan tersebut, Dania pun menoleh ke arah dua laki-laki di belakangnya. Lalu tersenyum lebar. Tampaknya misi mereka kali ini akhirnya menemui sebuah titik terang.
Semoga saja.
***
Ding!
Sebuah bunyi ponsel memecah konsentrasi Varsha. Wanita cantik itu sebelumnya sedang mengerjakan warna dasar pada komik online Mario. Ia pun merogoh tasnya dan mengambil alat komunikasi pintar itu.
Begitu ia menyalakan layarnya, nama seorang pria terpampang jelas pada jendela notifikasi. Rupanya Surya mengirimkan pesan padanya. Varsha pun membuka teks tersebut.
Ini tautan foto dan video Teja akhir pekan kemarin.
__ADS_1
Kalau-kalau kamu mau mengeceknya.
🗎 Teja and Dad’s Weekend
Varsha memutar kedua bola matanya saat melihat judul tautan yang diberikan Surya. Sebenarnya putranya sudah melaporkan seluruh acara jalan-jalannya dengan pria itu. Bahkan saking serunya Teja bercerita, sedikit kecemburuan jadi merasuki Varsha.
Namun tentu saja wanita cantik itu tetap mengeklik alamat tersebut. Bagaimanapun juga ia ingin melihat isi fail dan semua keseruan Teja selama menghabiskan waktu bersama Surya. Setelah beberapa saat, seluruh foto dan video pun akhirnya termuat.
Tampaklah puluhan gambar Teja tampil di layar. Ia pun mulai mengecek foto dan videonya satu per satu. Buah hati Varsha tampak tersenyum bahagia nyaris di seluruhnya. Bahkan di beberapa foto yang diambil secara candid pun, putranya tampak sangat tampan.
Deg.
Tiba-tiba kedua mata Varsha terasa berair. Pada layar ponselnya tampil gambar Teja dan Surya sedang tersenyum lebar sambil berparalayang. Kedua orang spesial di kehidupan Varsha tampak bersanding bersama dan terlihat gembira.
Varsha sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang sedang ia rasakan sekarang. Ia tidak yakin apakah itu kebahagiaan, tetapi yang jelas bukanlah kesedihan. Namun ada satu hal yang pasti, ia tidak membenci kedekatan Surya dan Teja.
Sekarang Varsha jadi semakin bingung, bagaimana ia akan menjelaskan identitas Surya yang sebenarnya pada Teja. Ia tidak ingin perasaan buah hatinya terluka. Apalagi tampaknya putranya sangat menyukai dan mengidolakan Surya.
Varsha menghela napas panjang. Cepat atau lambat ia tetap harus memberi tahu Teja. Kini ia hanya perlu memikirkan caranya.
***
Curcol Author:
Wkwkw, Teh Varsha ketinggalan kereta nih ah xD
<3<3<3<3<3<3<3
Halo semua terima kasih sudah mampir di novel KAHM ^^
Jangan lupa love, komen, jempol, dan hadiahnya, ya ;D
Semoga akhir pekanmu menyenangkan!
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1