
“Mama, sudah siap?”
Kepala kecil Teja tampak melongok dari balik pintu. Wajahnya begitu berseri-seri dan senyumnya merekah lebar. Rambutnya tertata rapi dan pakaiannya juga sudah diganti dengan baju pergi.
“Sudah, Sayang,” jawab Varsha. “Sebenarnya Teja mau bawa Mama ke mana, sih?”
“Rahasia. Hehe.”
Wanita muda itu hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar respon putranya. Semalam, tiba-tiba saja Teja mengatakan bahwa dia ingin berjalan-jalan ke suatu tempat bersama dirinya. Selain itu, ia juga meminta Varsha untuk mengenakan pakaian yang bagus tanpa memberitahukan tempat tujuan mereka.
Keduanya kini bergandengan tangan dan pergi keluar rumah. Setelah kurang lebih lima belas menit berjalan kaki, Varsha memperkirakan bahwa mereka akan menuju TK Teja. Sebab rute perjalanannya memang persis sama.
Hanya tinggal berbelok ke kiri, maka keduanya akan sampai di taman kanak-kanak tersebut. Namun, ternyata putranya malah menggiringnya untuk membelok ke kanan. Hingga mereka akhirnya tiba di depan jajaran tembok seng panjang.
“Kita sudah sampai?” tanya Varsha saat putranya berhenti berjalan.
Teja tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Namun, wanita cantik itu sama sekali tak melihat ada apa pun di dekat mereka. Selain tentunya tembok dan jalan raya. Atau mungkin akan ada seseorang yang menjemput mereka dari sini?
Tetapi tiba-tiba anak laki-laki itu mendorong salah satu sisi tembok seng yang rupanya merupakan sebuah pintu. “Ayo, Ma. Kita masuk.”
“Kurasa kita tak boleh masuk ke sana, Sayang,” respon Varsha khawatir.
Wanita itu tahu kalau di balik dinding tersebut merupakan tanah kosong yang luas. Sebab ia sendiri sering melihatnya saat kebetulan melewati area itu. Namun beberapa bulan sebelumnya, pagar seng pembatas mulai dibuat untuk menutupi sekelilingnya. Jadi Varsha asumsikan bahwa pembelinya akan membangun sesuatu di sana. Kemungkinan apartemen, restoran, atau lain sebagainya.
“Ayo, Ma. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan pada Mama,” ajak Teja lagi.
Kini putranya menarik tangannya dengan keras, memaksa agar Varsha mengikutinya masuk. Akhirnya, ia pun menuruti Teja dan pasrah dituntun berjalan melewati tembok seng tersebut. Begitu wanita cantik itu menapakkan kakinya di dalam, kedua matanya seketika membesar.
Di sekelilingnya tampak hamparan ratusan bunga matahari yang mekar dengan elok. Batangnya menjulang ke atas hingga Varsha dan Teja nyaris tenggelam tak terlihat karena kalah tinggi. Wanita cantik itu meletakkan satu tangannya menutupi mulut. Ia sama sekali tak menyangka akan disuguhi dengan pemandangan seindah ini.
Teja melirik mamanya dan tersenyum puas. Lalu perlahan ia tuntun wanita cantik itu melewati jalan setapak di sela-sela bunga. Sementara Varsha tak hentinya menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan, masih mengagumi pesona bunga favoritnya.
Dulu ibunya pernah bercerita bahwa dirinya dilamar dengan bunga matahari oleh ayah Varsha. Lalu setiap hari ulang tahun pernikahan mereka, ayahnya akan memberi setangkai bunga matahari pada ibunya. Kenangan tersebut begitu membekas hingga saat kecil Varsha terus memimpikan untuk dilamar dengan seribu bunga matahari.
Meski tentu saja, semakin dirinya besar, semakin ia kubur dalam-dalam impian kekanakan tersebut. Bagaimanapun juga fantasi semacam itu hanya akan terjadi dalam cerita dongeng, bukann di dunia nyata. Namun kini tampaknya ada seseorang yang mencoba membuktikan pada Varsha, bahwa tak semua khayalan hanyalah sekadar angan-angan belaka.
“Kerja bagus, Teja,” ucap Surya. “Terima kasih, Sayang.”
Anak laki-laki itu tersenyum lalu berlari menghampiri papanya. Meninggalkan Varsha yang masih berdiri beberapa langkah di belakang. Ekspresinya wajahnya percampuran antara terharu, takjub, dan bingung.
Pangeran mataharinya kini tampak berdiri tepat pada ruang kosong di tengah-tengah taman. Terlihat tinggi dan rupawan dalam setelan jasnya meski berada di antara bunga matahari yang elok. Kemudian pria tampan itu menggendong putranya lalu berjalan ke arah Varsha.
“Aku telah mendapatkan restu dari pakde dan budemu,” ucap Surya. “Mamaku juga sangat menyukaimu. Sampai-sampai putranya sendiri sepertinya kalah bersaing.”
__ADS_1
“Bahkan Teja pun sudah memberikan izinnya,” tambahnya lagi yang dibarengi dengan anggukan antusias dari anak laki-laki itu.
“Kini tinggal satu orang lagi yang belum memberikan jawaban pasti … dan sekarang dia sedang berdiri di hadapanku.”
Teja kemudian mengeluarkan kotak satin elegan berwarna biru tua dari dalam sakunya. Lalu dengan hati-hati membukanya di depan mamanya. Tampaklah sebuah cincin emas putih dengan hiasan batu berlian besar dan kecil yang dibentuk serupa dengan bunga matahari.
“Maukah Mama menerima Papa menjadi suami Mama? Dan membuat Teja serta Papa menjadi dua orang laki-laki paling berbahagia di muka bumi?”
Varsha tersenyum sambil mengusap kepala putranya lalu menyipitkan kedua matanya pada Surya. “Kamu bahkan memanfaatkan putramu sekarang, ya?”
Surya menaikkan bahunya dan memasang muka cemberut. “Kamu terus menolakku. Aku putus asa dan tak punya pilihan lain.”
“Papa sendiri yang menanam semua bunga matahari ini untuk Mama. Aku sendiri yang melihatnya,” tambah Teja membela papanya.
Varsha tersenyum pada buah hatinya lalu mencubit pelan pipinya. Kemudian ia mengalihkan kembali pandangannya pada Surya. “Benarkah?”
“Benar,” pria tampan itu mengangguk. “Aku menanam 999 bunga matahari dengan kedua tanganku sendiri. Syukurlah semuanya tumbuh dengan baik dalam tiga bulan.”
“Seingatku aku ingin seribu,” timpal wanita cantik itu setengah bergurau.
“Jika kamu menginginkan seribu bunga matahari, kamu harus menerima lamaranku Varsha. Karena aku lah ... bunga matahari yang ke-1000.”
Bidadari hujan Surya mendadak menggigit bibirnya. Seolah sedang berusaha menyembunyikan senyum yang tak kuasa ingin keluar. Setengah terharu dan sebagian menahan pingkal.
Tentu saja sontak jantung Surya mencelus. Dalam benaknya terus muncul berbagai skenario di mana kekasihnya akan sekali lagi menolak lamarannya. Kali ini dengan menggunakan permintaan tersebut. Pemuda itu pun terdiam dengan tegang sambil menunggu kalimat selanjutnya dari bidadari hujannya.
“Aku ingin tetap memiliki pilihan untuk meniti karirku. Baik itu bersekolah lagi atau tetap sebagai penulis komik online ataupun sebagai ibu rumah tangga," mulai Varsha.
Akhirnya, pria tampan itu tersenyum dan mengangguk. Tampaknya, ia bisa bernapas lega sekarang.
“Ada kalanya aku ingin waktu sendiri entah karena alasan apa pun dan kuharap kamu bisa mengerti serta membiarkanku sejenak.”
Surya terdiam sesaat lalu kembali mengangguk.
“Aku juga ingin saat aku memasak, kamu yang mencuci piringnya," tambah wanita cantik itu lagi.
Pemuda itu pun tertawa kecil dan dengan cepat mengangguk setuju.
“Aku ingin Teja dan anak-anak kita nantinya bebas memilih karir mereka. Tanpa harus dibebani titel penerus Akasa Group,” papar Varsha. “Kecuali kalau mereka memang tertarik dan ingin menjalaninya.”
Surya meraih tangan Varsha lalu meremasnya pelan. Kemudian menatap kekasihnya dengan sungguh-sungguh seraya mengangguk.
“Aku ingin kamu membagi keluh kesahmu dan suka dukamu bersamaku. Tanpa ada yang disembunyikan.”
__ADS_1
Pangeran matahari Varsha mengecup lembut punggung tangannya dan kembali menganggukkan kepala.
“Jika kamu menyanggupi itu semua, maka hanya ada satu hal lagi yang perlu kukatakan,” ujar Varsha sambil tersenyum lebar. Kedua lesung pipit manisnya muncul dengan cantik.
“Surya Kingkin Abhiyoga, aku ingin menjadi istrimu.”
Dalam sekejap, Varsha menutup kedua mata Teja dengan satu tangannya lalu mencium lembut bibir Surya. Mengulumnya sesaat lalu memisahkan diri lagi sebelum hasrat mereka menggebu dan tak mampu lagi ditahan. Perlahan, tangan wanita cantik itu pun turun dari wajah putranya yang kini tengah menyengir lebar.
Pangeran matahari Varsha lalu mengambil sebuah cincin berlian pada kotak satin biru tua yang masih dipegang erat oleh Teja. Kemudian dengan hati-hati ia memakaikan lingkaran emas cantik tersebut pada jari manis kekasihnya. Keduanya pun saling memandang dan bertukar senyum. Tentu saja dengan disaksikan oleh buah hati kecil mereka.
Surya kemudian menggandeng tangan Varsha lalu berlari menembus taman bunga matahari. Teja juga masih berada dalam gendongannya. Wanita cantik itu pun terpaksa mengikuti kekasihnya dengan ekspresi penuh tanda tanya.
“Kita mau ke mana buru-buru begini?”
“KUA,” jawab pria itu cepat.
“Hah?? Surya sebentar … tunggu dulu. Surya!!
***
Curcol Author:
Congrats Surya, Varsha, & Teja <3
Siapa yang masih ingat impian Varsha dilamar dengan 1000 bunga matahari? hihihi (ada di Bab 8 buat yang mau inget2 xD)
Untuk taruhan Varsha sama Surya juga bisa dicek di bab 43 buat yg mau napak tilas hehe
<3<3<3<3<3<3<3
Hanya tinggal beberapa bab lagi nih sebelum KAHM berakhir hix ....
Jangan lupa terus dukung author dengan memberi love, jempol, komen, hadiah, dan votemu ya ;D
Selamat berakhir pekan dan semoga mimpi indah!
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1