Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
IX. Elang Merah


__ADS_3

“Pak Surya, Ibu Chairman Tara sedang dalam perjalanan kemari.” Bisik Raka, asisten Surya, padanya.


“Oke.” Ucap Surya.


Seketika itu juga Ardi yang tak sengaja mendengarnya langsung mengirimkan pesan pada grup obrolan karyawan Akasa Game. Namun berita itu tidak berhenti sampai di sana, dalam sekejap tulisan itu telah tersambung menjadi sebuah rangkaian panjang jaringan komunikasi. Mulai dari grup obrolan, surel, pesan teks, telepon, dan lain sebagainya. Pesan itu menyebar ke seluruh Akasa Tower dengan beragam versi namun inti yang sama.


Ibu Chairman Tara akan berkunjung ke Akasa Tower.


“Sur.” Sapa Dewa yang tak sengaja bertemu Surya di elevator. “Kudengar ‘Elang Merah’ akan datang.” Lanjutnya kemudian.


“Mereka masih memanggilnya begitu?” Tanya Surya tersenyum.


“Nyaris seluruh pesan yang tersebar memakai nama itu.” Jawab Dewa.


Pintu elevator akhirnya terbuka dan menunjukkan lobi utama Akasa Tower. Tempat luas yang biasanya tidak terlalu ramai itu, kini terlihat banyak orang berlalu-lalang di dalamnya. Sekelompok direksi dan komisaris bahkan tampak sudah berjajar rapi di dekat pintu masuk. Dewa yang melihat pemandangan itu mendengus menahan tawa.


“Kurasa berita itu sudah sampai ke lobi utama.” Komentar Dewa.


“Semakin cepat rupanya jarkom Akasa Tower. Raka bahkan baru saja memberitahuku lima menit lalu.”


Keduanya pun ikut masuk ke dalam dua barisan para eksekutif tersebut. Sungguh sebuah pemandangan yang jarang sekali terlihat. Bos-bos besar yang biasanya sulit sekali untuk di temui, kini berkumpul bersama dalam satu tempat. Surya dan Dewa tampak paling muda di antara kebanyakan yang berada di sana.


Tak lama kemudian, sebuah mobil Rolls Royce putih mewah menepi di dekat pintu masuk. Pemuda berjas rapi berlari cepat dan membuka pintu belakangnya. Seorang wanita cantik berumur sekitar awal 50-an keluar dari dalamnya. Berpenampilan mahal dan sempurna dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.


Di belakangnya tampak juga seorang wanita yang tak kalah rupa dan parasnya. Namun dengan wajah lebih lembut dan keibuan. Jika mau dibandingkan, wanita pertama tampak bagaikan elang merah cantik dengan wajah angkuh sementara wanita kedua layaknya merpati putih simbol kedamaian.


“Selamat datang Ibu Chairman Tara. Selamat datang Ibu Santika.” Sapa salah satu direksi senior yang berdiri di dekat pintu masuk.


“Kulihat profit Akasa Tech menurun dibandingkan tahun lalu.” Ucap wanita cantik bermata tajam tanpa berbasa-basi.


“Ah iya Bu. Kami kebetulan sedang mengembang-“


“Cukup. Aku hanya perlu melihat laporan akhir tahunmu nanti.” Responnya kemudian dengan elegan sekaligus menusuk.


“Baik, Bu.”


Satu demi satu direksi dan komisaris pun melakukan hal yang sama. Menyapa dua wanita di hadapan mereka lalu menunggu untuk diberi komentar pedas atau pujian yang disertai kritikan tajam oleh si ‘Elang Merah’. Hingga akhirnya tiba giliran Surya dan Dewa.


“Kau kemari berpakaian seperti ini ke kantor? Di mana dasimu?”


“Tara, gaya seperti ini sedang tren di kalangan CEO muda…” Ucap wanita yang satunya lagi dengan lemah lembut, mencoba membela pria tampan dan tinggi di depannya.


“Sebagai seorang Abhiyoga kau harus memberikan contoh bagi yang lain.”


“Baik, Bu Chairman Tara.” Ucap Surya menundukkan kepalanya.


“Kau sedang bercanda?”


“Baik, Mom.” Kata Surya lagi, kali ini sambil tersenyum.


“Dan Dewa, rapikan rambutmu.”


“Baik, Tante Tara.” Ujar Dewa ikut tersenyum menunjukkan barisan gigi putihnya yang rapi.


“Dewa, Mama sudah bilang untuk potong rambutmu dari minggu lalu.” Ucap wanita berwajah lembut dengan nada sayang.


“Iya, Mom. Segera akan Dewa rapikan.”


“Mama dan Tante Santika mau melihat-lihat Akasa Game Studio? Sudah lama Mama dan Tante tak berkunjung ke sana.” Tanya Surya menawarkan.

__ADS_1


“Tentu saja. Mama mau lihat kekacauan apa yang kau buat di sana.” Komentar Mama Surya, Ibu Chairman Tara.


“Dengan senang hati, Surya.” Jawab Mama Dewa dengan lembut.


Mereka pun berjalan bersama menuju elevator untuk naik ke kantor Surya. Begitu keempat orang tersebut sudah tidak tampak lagi, suara helaan napas lega terdengar dari seluruh penjuru lobi utama Akasa Tower.


***


Setelah selesai mengelilingi Akasa Game Studio dan beberapa departemen lainnya, Surya pamit karena harus menemui klien. Dewa memasang ekspresi minta tolong dan memelas pada Surya, yang tidak digubris oleh sepupunya itu. Akhirnya Dewa sendiri yang harus menemani mamanya serta Tante Tara tercintanya.


Surya segera bergegas menuju ke kantornya, tak ingin klien pentingnya menunggu lama. Sebuah studio animasi besar kebetulan tertarik untuk membuat film dari salah satu game Surya. Tentu saja itu merupakan sebuah kesempatan yang tak bisa disia-siakan.


Surya membuka pintu kantornya, seorang pemuda tampan dan tinggi sudah duduk di sofanya. Pria itu lalu berdiri menghadap Surya. Kemudian mengetuk-ngetuk pelan jam tangannya.


“Ck, ck, ck. Pak Surya, CEO Akasa Game, kau tiba lima menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan.”


Ia menatap Surya sambil menyeringai manis, seperti sudah lama mengenalnya. Surya tampak terkejut sejenak, namun akhirnya segera menghampiri pria di depannya itu. Keduanya lalu berpelukan dengan bersahabat.


“Axel! Kapan kau kembali ke sini?”


“Sekitar dua minggu lalu.” Jawab pria berlesung pipit itu.


“Kita harus makan bersama dan merayakan kedatanganmu.” Ucap Surya.


“Tentu saja. Aku sangat menantikannya.”


“Okay. Let’s talk business now.” Ujar Surya dengan wajah lebih serius.


“Setelah sekian lama. Tak pernah berbasa-basi, Surya tetaplah Surya.” Kata Axel sambil menepuk punggung sobatnya.


Kedua sahabat itu pun tampak fokus berdiskusi di kantor Surya. Sesekali terdengar tawa dan ledekan di sana-sini dari ruangan tersebut.


***


Ibu Santika atau Mama Dewa adalah kakak ipar dari Mama Surya atau yang lebih dikenal dengan nama Ibu Chairman Tara alias Si Elang Merah. Kedua suami mereka merupakan saudara kandung. Papa Dewa sebagai kakak sementara Papa Surya adalah adiknya.


Begitu Papa Surya wafat, Mama Dewa lah yang naik posisi menggantikan suaminya. Ibu Tara sendiri merupakan seorang CEO sukses sebelum menjadi Nyonya Abhiyoga. Sesudahnya pun ia juga turut mendukung suaminya sebagai ‘orang kedua’ di Akasa Group. Dengan adanya pasangan pebisnis sukses tersebut, tidak heran Akasa Group tumbuh dengan begitu pesat hingga sampai pada kejayaannya.


“Tidak perlu Kak. Sebentar lagi mobilku juga akan datang.” Jawab Mama Surya.


“Baiklah kalau begitu, Kakak duluan ya.” Ucap Mama Dewa yang direspon dengan anggukan dari Mama Surya.


Mama Dewa pun pergi menuju mobil Marcedes-Benz hitam yang sudah menepi di depan pintu masuk Akasa Tower. Seorang pemuda berpakaian rapi dengan sigap membuka pintu belakang mobil untuknya sebelum dirinya masuk.


Mama Surya melihat mobil kakak iparnya pergi, lalu kembali menatap ponselnya. Ia mengernyitkan dahi sambil menekan-nekan layar ponselnya. Kemudian ia menghela napas panjang.


“Maaf Tante, ada yang bisa aku bantu?”


Sebuah suara imut terdengar dari samping kanan Ibu Tara. Ia pun menoleh dan melihat seorang anak laki-laki kecil sedang duduk di sofa di sebelahnya.


“Pria kecil, sepertinya aku terlalu tua untuk dipanggil Tante oleh anak seusiamu. Panggil Nenek saja.” Respon Ibu Tara. “Dan apa aku terlihat membutuhkan bantuan?” Tambahnya lagi.


“Baiklah, tapi Nenek masih terlihat muda kok.” Jawab pria kecil di depannya. “Dan maaf Nenek, tapi tampaknya Nenek memang membutuhkan bantuan.”


Anak laki-laki itu lalu berjalan mendekati Ibu Tara. Lalu menunjuk ponsel di tangannya. Kemudian ia beralih ke sisi kanan Ibu Tara dan berbisik pelan di telinganya.


“Nenek sedang kesulitan membaca huruf kecil di layar ponsel, kan?”


Ibu Tara tersenyum kecil. Tak menyangka anak seusia itu memiliki sopan santun yang begitu baik. Berbisik pelan karena ia tidak mau menyinggung kekurangannya di depan banyak orang.

__ADS_1


“Pengamatan yang baik. Apa kau bisa membantuku, Pria kecil?” Tanya Ibu Tara sambil menyodorkan ponselnya.


Anak laki-laki itu mengangguk lalu menekan layar sentuh pada ponselnya. Jari-jari kecilnya menari dengan lincah di atas layar ponsel. Ibu Tara tersenyum mengamati pria kecil yang usianya mungkin tak lebih dari lima tahun itu. Entah mengapa ia jadi teringat dengan kedua putranya, Bumi dan Surya, saat mereka masih kecil. Tiba-tiba matanya sedikit berkaca-kaca, namun dengan cepat ia menyekanya.


“Bagaimana pria kecil? Bisa kau atasi?”


“Tentu saja. Ini masalah mudah. Ukuran fontnya sudah kuubah jadi lebih besar sekarang.” Jawab anak laki-laki itu tersenyum sambil menyerahkan kembali ponselnya.


“Terima kasih pria kecil. Siapa namamu?”


“Dengan senang hati. Dan hmm… sebenarnya aku tidak boleh bicara dengan orang asing. Tapi Nenek sepertinya membutuhkan bantuan tadi…” Jawab laki-laki kecil di depannya dengan ragu-ragu.


“Anak pintar. Baiklah kalau begitu, Pria Kecil. Mari berkenalan dengan resmi saat kita lebih akrab nanti.” Ucap Ibu Tara dengan nada serius sambil menawarkan tangan kanannya.


“Oke.” Jawab anak laki-laki itu sambil menjabat tangannya.


Secara bersamaan sebuah mobil Rolls Royce putih berhenti di depan pintu masuk. Ibu Tara pun berpamitan dengan pria kecil di depannya lalu pergi menuju mobil tersebut. Begitu mobil Ibu Tara meninggalkan Akasa Tower, anak laki-laki itu kembali duduk di sofa, mengambil buku tebal di dalam tasnya dan mulai membaca.


“Teja belum pulang?” Tanya sebuah suara familier.


“Aku sedang menunggu Mama menjemputku, Om Surya.”


“Oh, jangan lupa mengabari mamamu tentang acara team building Akasa Game.” Ucap Surya.


“Oke, Om Surya.” Kata Teja sambil tersenyum.


Sebuah motor tiba-tiba berhenti di luar, tidak jauh dari mereka. Seorang wanita yang duduk di belakang membuka helmnya. Rambut sebahunya terurai dengan indah. Lalu ia mengusap rambutnya ke belakang, berusaha merapikannya. Wanita cantik itu tersenyum pada Teja dari balik kaca Akasa Tower dan mengangguk pelan pada Surya.


Teja pun langsung berlari keluar menghampiri mamanya yang diikuti Surya di belakangnya.


“Mama!”


Teja menyapa mamanya dan memeluknya erat. Varsha mengelus pelan kepala dan punggung anaknya. Pria yang di depan turun lalu mengambil helm kecil dari bagasi di balik kursi. Kemudian ia menyerahkannya pada Varsha. Pria itu melihat Surya lalu keduanya saling mengangguk sopan sebelum dia kembali lagi duduk di atas motornya.


“Mama, pekan depan ada acara team building Akasa Game. Teja boleh ikut?”


“Hmm… Nanti Mama lihat dulu ya, Sayang.” Ucap Varsha sambil memakaikan helm kecil pada Teja lalu menaikkannya ke atas motor.


“Oke Mama.” Ucap Teja sambil memeluk pria di depannya.


“Om Mario!”


“Hei Teja!”


Surya tidak bisa dengan jelas melihat pria yang duduk di depan karena wajahnya tertutup helm. Varsha berpamitan dengan Surya lalu mengenakan helmnya. Kemudian ia pun duduk di belakang Teja. Tak lama, mereka pun pergi meninggalkan Akasa Tower.


Surya masih menatap ketiganya hingga mereka tak tampak lagi. Sebuah sensasi panas terasa di dadanya, menusuk-nusuk. Dia tidak mengerti apa yang terjadi tapi dia jelas tahu dirinya tidak menyukai pemandangan yang barusan ia lihat.


***


Curcol Author:


Hareudang, hareudang ;D


Jangan lupa love, komen, dan jempolnya ya men-temen XDD


Nuhun\~


- Bawang

__ADS_1


__ADS_2