
Aku harus ke studio Mario untuk mengejar deadline. Rupanya ada beberapa bab komik yang belum terselesaikan.
Maaf :(
Surya otomatis depresi dan menghela napas panjang begitu membaca pesan dari kekasihnya. Kini dia harus berjuang menghadapi Pakde Marta dan Bude Woro sendirian. Entah mengapa ia begitu tegang menemui wali Varsha. Padahal dirinya tak pernah sepanik ini saat ada rapat dengan klien-klien besar perusahaan.
Surya mengecek kembali penampilannya pada refleksi kaca mobil. Ia sedang mengenakan setelan jas abu muda dengan kemeja putih. Pria itu sengaja memilih pakaian bernuansa terang agar menimbulkan kesan baik dan ramah.
Usai puas dengan apa yang dilihatnya, Surya mengambil brownies cokelat dari jok belakang mobil. Semalam ia melakukan pencarian di internet dan kue itu merupakan salah satu opsi aman untuk dibawa saat menemui calon mertua. Semoga saja artikel online tersebut benar dan bisa dipercaya.
Pria tampan itu pun akhirnya berjalan menuju rumah Pakde Marta dan Bude Woro yang berada tepat di sebelah tempat tinggal kekasihnya. Ia menelan ludahnya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengetuk pintu cokelat tersebut. Setelah beberapa saat, seorang wanita berusia sekitar akhir 40-an keluar dari dalamnya.
“Selamat pagi, Bude,” sapa Surya sambil menunjukkan senyum terbaiknya.
“Ini ada oleh-oleh untuk Bude Woro dan Pakde Marta.”
“Terima kasih,” jawab wanita paruh baya itu seraya menerima tas cokelat berisi brownies dari Surya.
Bude Woro lalu menatap pria tampan tersebut dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian mempersilakannya masuk ke dalam rumah. Kedua mata Surya seketika langsung disambut dengan banyak baskom berisi berbagai sayuran dan buah-buahan.
“Besok Bude memiliki pesanan asinan sayur dan asinan buah. Masing-masing lima ratus porsi,” jelas wanita tersebut. “Jadi, Bude sedikit sibuk.”
“Biar saya bantu, Bude,” respon Surya cepat.
“Tidak perlu repot-repot. Bude juga merasa tidak enak meminta bantuan Mas Surya. Padahal Mas Surya sudah jauh-jauh datang kemari.”
“Sama sekali tidak merepotkan, Bude,” timpal Surya. “Apa yang harus saya kerjakan?”
Bude Woro mengernyitkan dahinya. “Dengan pakaian seperti itu?”
Surya melihat kembali apa yang ia kenakan lalu tersenyum. “Tidak masalah, Bude.”
“Baiklah, jika Mas Surya bersedia.”
Kemudian Bude Woro menggiring Surya ke arah belakang rumah. Rupanya di sana ada lebih banyak lagi baskom sayur dan buah. Wanita itu pun memberikan instruksinya dengan detail.
“Mas Surya bisa tolong cuci sayuran dan buah-buahannya terlebih dahulu,” papar Bude Woro. “Harap semuanya dicuci bersih secara menyeluruh, ya."
“Terutama untuk kolnya tolong dipisahkan satu per satu.”
Surya mengangguk. “Siap, Bude.”
“Kalau begitu, Bude tinggal dulu sebentar. Masih banyak pekerjaan yang harus diurus.”
__ADS_1
“Baik, Bude.” Pria tampan itu kembali menganggukkan kepalanya.
Usai wanita paruh baya itu tak terlihat lagi, Surya langsung menghela napas panjang. Kemudian ia buka jasnya serta menggulung lengan kemejanya hingga siku. Tampaknya, hari ini akan menjadi hari yang panjang.
Sebelum mulai mencuci, pria itu terlebih dahulu melakukan pencarian di internet mengenai cara membuat asinan sayur dan asinan buah. Mempelajari setiap prosesnya dengan saksama, agar ia tak membuat kesalahan dan malah mengacaukan pesanan bude Varsha.
Setelah merasa percaya diri, Surya meletakkan kedua tangannya di pinggang. “Oke, sayur dan buah! Kalian siap untuk mandi?”
***
"Mas Surya! Ayo, makan siang!”
Pria tampan tersebut sontak bernapas lega. Ia memang sangat membutuhkan istirahat sekarang. Perutnya pun sudah terasa keroncongan. Sudah nyaris lima jam dia berkutat dengan produk pertanian dan perkebunan di hadapannya.
Surya sebenarnya biasa berolahraga, namun kelihatannya kegiatan memasak jauh lebih berat dan memakan banyak tenaga daripada yang ia bayangkan. Pemuda itu pun berdiri dan hendak menyusul Bude Woro untuk makan siang, tetapi tiba-tiba seorang pria baya duduk di dekatnya.
“Kalau begitu, biar Pakde sendirian saja yang memotong semuanya di sini.”
Surya pun seketika terduduk kembali. “Saya juga akan tetap di sini kok, Pakde.”
Kemudian pria itu memberitahukan Bude Woro bahwa perutnya masih cukup kenyang karena menyantap sarapan besar. Padahal jangankan makan pagi, Surya sesungguhnya belum meminum setetes air pun lantaran terlalu tegang akan menemui kedua wali kekasihnya.
Tak lama kemudian, Pakde Woro dan pemuda tampan itu sudah sibuk memotong-motong sayuran dan buah ke dalam bentuk kecil-kecil. Sesungguhnya ini kali pertama Surya melakukannya. Namun setelah berjam-jam terus mengerdilkan bahan-bahan pangan di depannya, lama-lama ia jadi terbiasa juga.
Meskipun tentu saja kecepatannya jauh lebih lamban jika dibandingkan dengan pria paruh baya di sampingnya. Tetapi memang dasar Surya adalah seorang yang kompetitif, ia pun semakin mempercepat laju tangannya untuk mengimbangi Pakde Woro. Alhasil, tangannya kini sudah terasa sangat pegal dan kelu.
Tampaknya Surya benar-benar akan menghabiskan sepanjang hari di rumah kedua wali Varsha.
***
Varsha turun dari angkot dan langsung berjalan cepat menuju rumah pakde dan budenya. Ia begitu sibuk hari ini karena salah satu asisten magang tak sengaja menghapus beberapa fail bab komik yang harus diserahkan besok. Akibatnya tentu saja dia, Mario, dan seluruh tim harus kerja bakti bergegas menyelesaikan deadline.
Varsha sendiri jadi tak enak pada kekasihnya karena harus menemui pakde dan budenya seorang diri. Namun ia sungguh tak punya pilihan lain. Wanita cantik itu juga bingung mengapa sampai saat ini pangeran mataharinya belum juga menghubunginya. Padahal waktu sudah menunjukkan nyaris pukul 23:00.
Pertemuan ketiganya tak mungkin selama itu bukan ….
“Surya?”
Begitu suara Varsha terdengar, wajah Surya seketika itu juga berubah berseri-seri. Bidadari hujannya akhirnya datang dan ia tak bisa mengungkapkan betapa bahagianya dirinya sekarang. Pria tampan itu langsung meraih pinggang kekasihnya dan memeluknya.
Posisi Surya kini sedang duduk di bangku teras depan. Sementara Varsha berdiri di depannya. Sehingga kepala pemuda tersebut kini bertengger manis di perutnya. Wanita itu pun mengusap lembut kepala kekasihnya. Ia tak tahu apa yang terjadi tapi sepertinya Surya mengalami hari yang berat.
“Mau kubuatkan cokelat panas dengan marshmallow?” tanya Varsha.
__ADS_1
Surya yang masih berada dalam rangkulannya mengangguk tanpa suara. Tak lama, keduanya pun memisahkan diri. Lalu Varsha pamit sejenak untuk masuk ke dalam.
Betapa terkejut dirinya saat melihat keadaan rumah pakde dan budenya. Ratusan bungkus asinan sayur dan asinan buah sudah tampak tersusun rapi dalam dus-dus besar. Padahal seingat Varsha, mereka tak punya pesanan untuk akhir pekan ini.
Varsha mencium tangan pakde dan budenya lalu akhirnya bertanya, “Bude, siapa yang memesan asinan sebanyak ini?”
Bude Woro tersenyum. “Ah, sebagai ucapan syukur karena tahun ini telah diberikan rezeki yang cukup, Pakde dan Bude ingin membagikan asinan ini ke beberapa panti asuhan dan panti jompo di dekat sini."
“Oh, kenapa Bude tidak memberitahuku kemarin?”
“Kamu kan juga sibuk, Ndok,” respon Pakde Marta. “Lagipula kami mendapatkan tenaga tambahan yang bekerja lumayan baik.”
“Ya. Asisten yang cukup bagus,” tambah Bude Woro.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Varsha untuk tahu bahwa orang yang dimaksud pakde dan budenya adalah Surya. Wanita cantik itu pun hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Antara senang keluarganya bisa menerima Surya serta terharu sekaligus kasihan pada kekasihnya yang telah bekerja keras sendirian hari ini.
Ia pun segera membuatkan cokelat panas bertabur marshmallow spesial untuk pangeran mataharinya. Kemudian ia segera keluar untuk bertemu kembali dengan kekasihnya. Namun begitu sampai di teras, Surya sudah tampak bersandar di kursi dan memejamkan kedua matanya. Suara dengkur pelan terdengar dari hidung dan mulutnya.
Bidadari hujan Surya kini juga bisa melihat ada noda bumbu kacang dan sambal asinan pada kemeja putih kekasihnya yang biasanya licin dan bersih. Lalu ada sedikit sisa potongan kol yang menempel di dekat telinganya. Sementara beberapa biji ketimun tampak menghiasi punggung tangannya.
Varsha pun tak kuasa tersenyum melihat pemandangan tersebut. Dua lesung pipitnya mencuat keluar dengan manis. Wanita cantik itu lalu meletakkan cokelat panas Surya ke atas meja. Kemudian ia kecup lembut pipi ayah dari buah hatinya, seraya berbisik lirih.
“Aku mencintaimu, Surya Abhiyoga. Terima kasih sudah bekerja keras hari ini.”
***
Curcol Author:
Semangat ya, Sur! hihihi ;D
Sayangnya, lagi bobo ya. Kalau enggak, udah denger tuh :v
<3<3<3<3<3<3<3
Halo semua!
Jangan lupa terus dukung Author dengan memberi love, jempol, komen, hadiah, dan votemu, ya ;D
Selamat mimpi indah!
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1