Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XL. Kepastian


__ADS_3

“No.”


“Why?”


Surya terus mengikuti Varsha dari belakang. Wanita cantik itu kini sedang sibuk menata tampilan produk di minimarket tempatnya bekerja. Namun, pria berjas rapi tersebut tak ada niat untuk meninggalkannya sekarang.


Sudah dua hari sejak Varsha menolak lamarannya dan ia ingin kejelasan. Surya melipat kedua tangannya di depan dada. Raut mukanya masam. Ia masih tak menyangka wanita pujaan hatinya akan berkata tidak saat itu.


“Bukannya kamu juga harus bekerja sekarang?” tanya Varsha tanpa melihat ke arah Surya.


Wanita cantik itu masih sibuk bolak-balik ke gudang penyimpanan dan lorong. Memperlengkapi barang-barang yang kosong di rak dan mengaturnya. Varsha tahu Surya ingin jawaban sedetail-detailnya mengenai hari itu. Namun, ia sendiri juga tak tahu harus berkata apa.


“Jelaskan padaku,” ucap Surya singkat.


“Semalam ‘kan sudah kujelaskan padamu.”


Surya mendengus kecil. Penjelasan yang dimaksudkan Varsha adalah sebuah pesan teks singkat berisikan kalimat ‘Maaf, aku belum siap’ padanya. Apalagi jawaban itu didapatkan setelah ia mendapat respon ‘Maaf, tapi boleh kupikirkan dulu’ dari lamarannya sebelumnya.


“Lalu, kapan kamu siap?” tanya Surya.


“Apa yang membuatmu tidak siap?” cecarnya lagi masih sambil menempel pada Varsha. Sama sekali tak membiarkan wanita cantik itu lepas dari kejarannya.


“Apa yang harus kulakukan agar kamu siap?”


Varsha menghela napas panjang. Rasanya ia seperti sedang berhadapan dengan seorang anak kecil yang tidak terima bahwa dirinya kalah dalam suatu perlombaan. Bahkan sikap Teja saja tidak sebegitunya.


“Surya, aku harus bekerja sekarang. Bisa kita bahas nanti?”


“Kapan?” balas pria tampan itu cepat.


Varsha menggigit bibirnya. Ia tak ada waktu untuk membahas permasalahan tersebut dengan Surya sekarang. Atau lebih tepatnya ia memang sedang menghindarinya.


“Jam makan siang?” Surya menyarankan. “Atau sore ini? Aku bisa menjemputmu.”


“Surya, sebentar lagi minimarket-nya akan buka. Aku harus melayani konsumen.”


Pemuda tampan itu menyipitkan matanya. Entah mengapa sulit sekali bagi Varsha untuk menjawab pertanyaan simpelnya. Seolah wanita cantik itu memang tidak berniat memberinya respon dari awal.


Tak lama kemudian, bel pada pintu depan minimarket pun berbunyi. Menandakan seseorang sedang masuk ke dalam. Rupanya rekan kerja Varsha sudah datang. Seorang gadis muda dengan wajah ceria.


“Pagi, Kak Varsha!” seru gadis semringah itu sambil menghampiri Varsha.


“Pagi, Meli!”


Namun begitu tiba di dekat Varsha, tubuh gadis itu mematung. Pandangannya tertuju pada pria di sampingnya. Varsha yang melihat situasi itu pun tiba-tiba jadi terbatuk kecil. Membuat kesadaran Meli kembali dengan seketika.


Varsha tahu bahwa Surya memang tampan. Tapi ia tidak menyadari bahwa pangeran mataharinya sampai ‘setampan’ itu hingga membuat kaum hawa terpaku dan berlutut lemas di hadapannya. Mendadak ia jadi merasa protektif akan Surya.


“Ini siapa, Kak?” tanya Meli akhirnya.


“Ah, perkenalkan saya Surya. Kekasih Varsha,” jawab Surya sebelum Varsha sempat merespon.


“Oooh.” Meli mengangguk-anggukan kepalanya. “Wah, Kak Varsha enggak pernah cerita-cerita nih, punya pacar ganteng. Sudah berapa lama jadiannya, Kak?”


“Dua hari.” Kini Varsha yang menjawab.


Surya pun langsung tersenyum mendengar jawaban Varsha. Meskipun lamarannya nikahnya ditolak, setidaknya status mereka kini naik menjadi sepasang kekasih.


“Wah! Selamat ya, Kak Varsha dan Kak Surya!” ujar gadis itu ceria. Kemudian ia pun pamit dan berjalan menuju ke meja kasir untuk mulai bekerja.


Begitu Meli sudah tak kelihatan lagi, Surya mendekatkan bibirnya ke telinga Varsha. Lalu berbisik menggoda, “Kamu lihat tadi, ‘kan? Begitulah efek ketampananku pada kebanyakan perempuan. Jadi kamu sebaiknya segera mengikatku erat-erat.”

__ADS_1


Akhirnya Varsha pun membalikkan badannya ke arah Surya dan menatap lurus padanya. Kemudian ia tersenyum manis, memastikan kedua lesung pipitnya muncul dengan sempurna. Lalu ia remas pelan lengan Surya yang berotot.


“Aku percaya padamu.”


Surya menghela napas panjang. Putus asa jurusnya tidak berhasil.


“Setidaknya beri tahu aku kapan kita akan benar-benar membahasnya,” tuturnya lembut nyaris berbisik. “Aku ingin hubungan ini bekerja …. Aku ingin kita bertiga bahagia.”


Mendengar perkataan dan ekspresi Surya yang begitu serius membuat hati Varsha terenyuh. Ia juga tidak tahu mengapa sulit bagi dirinya untuk langsung menerima Surya. Rasanya ada banyak sekali yang harus dipikirkan sebelum ia benar-benar bisa memutuskan.


“Besok malam,” ujar Varsha akhirnya. “Aku janji. Besok malam kita akan membicarakannya.”


“Oke, besok malam,” ulang Surya memastikan.


“Jadi kamu sekarang akan pergi bekerja, ‘kan?” tanya Varsha dengan nada memaksa sambil setengah bergurau.


Surya tersenyum kecil. “Iya, Kekasihku yang cantik. Akang akan pergi bekerja.”


Varsha membalas senyum Surya lalu menuju ke meja kasir untuk bekerja. Setelah melihat pujaan hatinya menghilang di balik lorong, ia tidak segera menuju pintu keluar. Justru yang dilakukan Surya malah mengambil troli lalu meletakkan banyak barang ke dalamnya.


Setelah puas dengan tumpukan belanjaannya yang menjulang, ia pun menuju ke kasir. Mengambil antrian di belakang konsumen yang sedang dilayani Varsha. Wanita cantik itu pun mengernyitkan dahinya melihat Surya dengan trolinya yang penuh.


“Kau bilang akan pergi bekerja tadi,” ucap Varsha lirih sambil memindai barang belanjaan Surya.


“Ya. Tapi tiba-tiba aku merindukanmu lagi,” papar Surya gamblang. “Setidaknya dengan membeli banyak barang aku bisa melihatmu dari dekat tanpa mengganggumu bekerja.”


Mendengar respon romantis Surya, Meli otomatis tertawa kecil sekaligus iri dalam hati. Sementara Varsha hanya bisa menghela napas panjang. Ia tidak tahu harus memuji atau menepak pria di depannya. Siapa yang menyangka seorang Surya Abhiyoga cukup bucin dalam percintaan. Bahkan pemuda tampan itu sendiri saja baru menyadarinya.


***


“Pagi, Bos!”


“Pagi, Pak Surya!”


Surya baru saja sampai di lantai 54 Akasa Tower, tempat kantornya berada. Kemudian ia menyerahkan empat tas besar penuh camilan pada Ardi untuk dibagikan ke semua pegawai. Orang kepercayaan Surya itu lalu mengikutinya hingga masuk ke ruangannya.


“Apa ada perkembangan dari penyelidikanmu?”


Ardi mengangguk. “Iya, Bos.”


Keduanya kemudian duduk di sofa di dalam kantor Surya. Ardi lalu mengeluarkan sebuah tablet dan menyerahkannya pada pimpinannya. Kemudian ia memberikan laporan ringkas pada Surya.


“Saya dan Teja kebetulan memiliki akses pada kamera tersembunyi yang terpasang pada plafon Akasa Hotel. Posisinya tepat berada di atas panggung,” jelas Ardi.


“Teja?” tanya Surya. Suaranya terdengar khawatir.


“Ya, Pak Bos. Teja banyak sekali memberi masukan penting dalam penyelidikan ini.”


“Pastikan Teja selalu aman,” perintah Surya.


“Tentu, Pak Bos,” jawab Ardi cepat. “Di dalam tablet ini, Pak Surya akan melihat dua buah rekaman yang terjadi beberapa hari sebelum hari kejadian.”


Surya mengangguk. Kemudian ia mainkan klip pertama yang sudah disiapkan oleh Ardi. Seketika terlihat panggung acara peluncuran DRF yang kosong, tempat di mana dirinya dan Teja tertimpa lampu penerangan panggung.


Sudut tampilan kameranya dari atas menghadap ke bawah dengan sedikit kemiringan. Membuat cakupan gambar yang dilihat cukup luas. Surya bisa melihat dengan jelas sebagian besar panggung dari langit-langit hingga ke lantai.


Tiba-tiba tampak sosok berpakaian serba hitam sedang mengutak-atik sesuatu pada tiang penerangan panggung yang terpasang di plafon. Namun, wajahnya tidak terlihat jelas. Surya punya tebakan siapa orang tersebut.


“Raka?”


“Benar, Bos.” Ardi mengangguk. “Saya dan Teja memperjelas resolusi pada wajah orang tersebut dan ternyata itu Raka, asisten Pak Surya. Fotonya juga telah saya masukkan ke dalam tablet.”

__ADS_1


Surya menghela napas panjang. Meskipun dia cukup yakin bahwa Raka terlibat, dalam hati kecilnya ia masih sedikit berharap kalau kecurigaannya bisa saja salah. Namun sayangnya, tidak begitu kenyataannya.


Kemudian Surya memutar klip kedua. Kini tampak Raka sedang melihat ke arah atas plafon. Seolah sedang mengukur sudut arah jatuhnya lampu penerangan tersebut ke lantai panggung.


Mendadak kedua mata Surya membelalak. Tampak seseorang yang sangat familier menghampiri Raka. Kemudian kedua orang itu berbincang sesaat.


“Kami juga berhasil memperjelas rekaman suaranya, jika Pak Surya ingin mendengarnya,” ucap Ardi ragu-ragu begitu melihat ekspresi pada wajah bosnya.


Surya terdiam sesaat untuk mengatasi syoknya. Kemudian akhirnya berkata, “Ya … biarkan aku mendengarnya.”


“Sudah kau siapkan semuanya?"


“Ya ….”


“Pastikan kali ini usahamu berhasil.”


“Baik …. “


Raut wajah Raka lalu sedikit mengkerut. Seakan dia ingin menanyakan suatu pertanyaan namun ragu-ragu untuk mengungkapkannya.


“ …. Bagaimana dengan anak laki-laki itu? Dia juga akan berada di atas panggung.”


Sosok misterius itu seketika mendelik tajam ke arah Raka. “Memang sungguh disayangkan anak semuda itu harus terlibat, namun hal tersebut tak bisa dihindari. Rencana tetap harus dijalankan dengan sempurna. Mengerti?”


“Baik ….”


Ekspresi terkejut Surya sekejap berubah menjadi amarah besar. Wajahnya merah padam. Ia tak menyangka sosok yang dikenalnya bisa merencanakan hal sekeji itu. Tanpa sadar, jari-jari Surya mengepal keras hingga kuku-kukunya menancap ke telapaknya.


"Apa Teja mendengar rekaman suara ini?"


"Syukurnya tidak, Pak Surya," jawab Ardi. "Saya dan Dania yang mengerjakannya."


"Kerja bagus."


Surya pun bersumpah dalam hati bahwa ia akan menangkap orang itu. Kemudian memastikan dia mendapatkan hukuman yang setimpal atau bahkan lebih. Dirinya tak akan pernah bisa memaafkan orang yang telah membahayakan buah hatinya, Teja.


***


Curcol Author:


Author: Ahek ditolak lamarannya kacian


Surya: ....


Surya: Daripada kamu Thor, orang yang buat ditolak aja enggak ada.


Author: ....


Author: Tombol delete mana tombol delete


<3<3<3<3<3<3<3


Halo, semoga suka bab ini ya :)


Jangan lupa love, komen, jempol, dan hadiahnya ;D


Semoga akhir pekanmu menyenangkan!


Nuhun~


- Bawang

__ADS_1


 


 


__ADS_2