
“Bude tunggu di teras ya, Ndok.”
“Baik, Bude. Nanti aku antarkan minumannya ke depan.”
Varsha tampak tengah menyeduhkan dua gelas teh di dapur untuk disajikan pada Pakde Marta dan Bude Woro. Pasangan suami istri itu kini sedang duduk bersantai di depan teras rumah mereka. Sembari menunggu keponakan cantiknya membawakan teh manis hangat.
“Pakde, Bude. Ini teh manisnya,” ucap Varsha sambil meletakkan kedua gelas kaca besar di atas meja.
Kemudian wanita muda itu menarik keluar satu kursi kecil dari ruang tamu. Lalu meletakkannya tepat di depan meja, sehingga posisinya membentuk formasi segitiga dengan bangku Pakde Marta dan Bude Woro. Varsha pun lantas duduk di sana.
Setelah siang tadi akhirnya mempelajari bahwa mama Surya telah mengetahui segalanya, Varsha jadi merasa bersalah terhadap pakde dan budenya. Selama ini, dirinya tak pernah menceritakan tentang Surya pada mereka. Bahkan sesudah reuninya dengan pria itu beberapa bulan lalu, Varsha masih tak berkata apa-apa pada kedua walinya.
Pakde Marta dan Bude Woro cuma tahu sedikit mengenai sejarah keponakannya bersama ayah Teja. Hanya sebatas bahwa Varsha bertemu dengan pria itu lalu menghabiskan malam bersama sampai akhirnya tak nampak lagi batang hidungnya. Sebab itulah, ayah Teja tidak meninggalkan kesan yang baik untuk Pakde Marta dan Bude Woro.
“Pakde, Bude. Varsha ingin mendiskusikan sesuatu,” ucap wanita muda itu pelan. Suaranya sedikit bergetar karena tegang.
“Ada apa, Ndok?” tanya Bude Woro khawatir. Tak biasanya ia melihat keponakan cantiknya bersikap begini. Terakhir kalinya, mungkin pada saat Varsha menyatakan bahwa dirinya hamil lima tahun yang lalu.
Varsha mengambil napas panjang kemudian membuangnya. Berusaha untuk memberanikan dirinya kembali. “Apa Varsha boleh menanyakan pendapat Pakde dan Bude terhadap Surya?”
“Surya? Mas Surya dari kantor Teja?” tanya Pakde Marta memastikan.
“Benar, Pakde. Mas Surya Abhiyoga.”
“Pakde sih, suka-suka saja,” kata Pakde Marta. “Orangnya juga baik. Dia bahkan datang untuk memberi selamat saat ulang tahun Teja dan hari wisudamu.”
Varsha tersenyum mendengar respon pakdenya. Syukurlah Surya memberikan kesan yang cukup baik di mata Pakde Marta. Namun, wanita cantik itu masih belum mendapat jawaban dari budenya.
“Kalau menurut Bude, bagaimana?” tanya Varsha akhirnya.
Bude Woro tampak meminum teh manisnya perlahan, lalu meletakkan kembali gelasnya ke atas meja. Ia kemudian menghela napas panjang.
“Apa Bude boleh menanyakan sesuatu terlebih dulu sebelum menjawab pertanyaanmu tadi, Ndok?”
Jantung Varsha seketika berdebar keras. Ia tidak tahu apa yang akan ditanyakan budenya, namun entah mengapa dirinya jadi semakin tegang. Wanita muda itu pun menganggukkan kepalanya.
“Apa Surya ... adalah ayah Teja?”
Sontak Varsha menelan ludahnya. Sementara Pakde Marta tampak menolehkan kepalanya ke arah istri dan keponakannya secara bergantian. Merasa terkejut sekaligus ingin mendengar konfirmasi dari wanita muda itu.
“Benar,” ungkap Varsha. “Bude Woro, Pakde Marta. Surya adalah ayah kandung Teja.”
Bude Woro sekarang terlihat memejamkan matanya sementara Pakde Marta menggemeretakkan giginya. Keduanya tampak muram dan kesal.
__ADS_1
“Apa Surya tahu bahwa Teja adalah putranya?” Kini pakde Varsha yang bertanya. Nadanya sedikit naik.
Wanita cantik itu mengangguk. “Tapi biar Varsha ceritakan dulu lengkapnya, ya. Pakde, Bude.”
Pasangan itu pun mendengarkan penjelasan panjang lebar keponakannya mengenai ayah Teja. Bagaimana pemuda itu kehilangan ingatannya, namun terus mencari dirinya selama lima tahun terakhir dengan sebagian kenangan yang ia miliki.
Lalu bagaimana Surya melindungi Teja saat malam peluncuran game dan akhirnya mendapatkan kembali memorinya karena kepalanya terbentur keras. Kemudian bagaimana pria itu selalu berupaya mendekatkan dirinya pada Teja dan Varsha. Dan bagaimana Surya begitu menyayangi buah hati mereka dan juga dirinya, serta ingin menjalani hidup bersama selamanya.
Usai Varsha selesai menjelaskan, Pakde Marta dan Bude Woro hanya terdiam di tempat duduk mereka. Belum ada satu pun yang membuka mulut untuk berbicara. Hingga akhirnya Pakde Marta berdiri lalu meremas pelan pundak Varsha.
Pria paruh baya itu menghela napas panjang dan berkata, “Apa pun keputusan Varsha, Pakde akan dukung.”
Kemudian ia berjalan perlahan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Varsha bersama Bude Woro berdua saja di teras. Wanita muda itu pun memberanikan diri melirik ke arah budenya.
“Bawa Surya kemari besok dan kita bicarakan lagi nanti.”
***
“Baju seperti apa yang harus aku pakai?”
“Hmm ….”
“Setelan jas yang biasanya kupakai tentu akan baik-baik saja, ‘kan?”
“Varsha … aku butuh saranmu. Coba serius sedikit.”
Kekasih Surya tertawa kecil. Entah mengapa ia begitu menikmati kepanikan pangeran mataharinya. Usai menceritakan bagaimana respon pakde dan budenya setelah memberitahukan identitas asli Surya, seketika itu juga ayah buah hatinya langsung kebakaran jenggot.
Pemuda itu terus menanyakan apa yang harus ia bawa. Atau apakah ia harus belajar Bahasa Jawa dasar terlebih dahulu sebelumnya. Atau seperti sekarang, pakaian seperti apa yang harus ia kenakan besok saat menemui keduanya.
“Ya. Kurasa yang biasa kamu pakai, tak masalah.”
Varsha bisa mendengar suara helaan napas lega dari ponselnya. Tak lama ia juga menangkap bunyi grasah-grusuh dari sana. Seperti seseorang sedang membuka lemari dan menggantungkan kembali baju-bajunya ke dalam.
“Walau kamu bilang aku tak perlu membawa apa pun, tentunya aku tetap harus membawa sesuatu, ‘kan?”
Wanita muda itu mendengkus kecil. “Ya, kurasa ….”
“Sayang … coba bantulah kekasihmu ini sedikit. Kalau tidak, aku akan memberimu hukuman saat kita bertemu nanti.”
“Oh, ya?” tantang Varsha. “Hukuman macam apa?”
“Kau tak ingin tahu. Yang jelas hukuman berat.”
__ADS_1
Varsha kembali tertawa. “Baiklah, Kekasihku. Apa ada yang bisa kubantu?”
“Apa ada hal spesifik yang disukai pakde dan budemu? Makanan, minuman, atau apa pun?”
Wanita cantik itu tampak berpikir sejenak, mencoba mengingat apa kesukaan Pakde Marta dan Bude Woro. Namun, tak satu pun ada yang terlintas. Ia tahu kalau pakdenya suka bermain catur, membaca koran, dan mengisi kolom TTS di dalamnya. Tetapi itu adalah hal yang setiap hari juga dilakukan oleh walinya tersebut.
Sementara untuk Bude Woro, beliau penyuka jajanan pasar namun itu juga usaha yang mereka lakukan saat ini. Setiap pekan, pasti Varsha dan budenya sibuk membuat segala macam penganan tradisional untuk para pelanggan. Jadi tak mungkin juga jika Surya membawakan hal tersebut.
“Bagaimana kalau aku bawakan peralatan dan perkakas dapur canggih dan terbaru?”
Varsha tersenyum menyadari kemiripan Surya dan Teja. “Anakmu sudah terlebih dahulu melakukannya beberapa hari lalu.”
Surya berdecak. “Sungguh gerak cepat sekali putraku. Kalau begini terus, bisa-bisa dia sudah mendepakku dari Akasa Game dalam setahun.”
“Kurasa Teja bisa melakukannya dengan lebih cepat,” timpal Varsha.
“Bagus. Jadi aku bisa segera bersantai berduaan saja denganmu dan membiarkan Teja mengurus perusahaan.”
Kini giliran Varsha yang berdecak. “Ayah macam apa dirimu?”
“Yang mencintai ibu dari buah hatinya dengan teramat sangat.”
“Gombaaaaaaaaal!”
***
Curcol Author:
Huhuhu, maaf ya upnya agak lama. Author agak ga enak badan kemarin :(
<3<3<3<3<3<3<3
Jangan lupa terus dukung author dengan memberi love, jempol, komen, hadiah, dan votemu ya ;D
Selamat mimpi indah!
Nuhun~
- Bawang
__ADS_1