Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XXXVIII. Stay


__ADS_3

Varsha menghela napas panjang kemudian menggigit bibir. Kedua matanya terus memandang ke depan. Berusaha menahan keinginan untuk tidak mengomeli pasien di sampingnya. Namun, sepertinya kesabarannya sudah semakin menipis.


“Lihat ke depan.”


Senyum Surya semakin melebar mendengar kalimat yang terlontar dari wanita cantik yang duduk di sebelahnya. Pria tampan itu tak mampu mengalihkan pandangannya dari Varsha sejak awal ia masuk ke dalam mobil dan menyetir untuknya. Seolah ia sedang mengisi seluruh memorinya dengan tiap gerak-gerik yang dibuat oleh bidadari hujannya.


Wanita cantik itu masih mengenakan kebaya merah jambunya. Bawahannya yang sebelumnya merupakan kain jarik batik kini sudah diganti dengan celana jeans. Namun tentu saja, dampak keelokannya masih tetap sama bagi Surya yang dimabuk asmara.


“Kan bukan aku yang sedang menyetir,” ujar Surya beralasan. “Hanya kamu yang perlu melihat ke depan.”


“Kalau begitu lihat ke jendela samping,” balas Varsha cepat.


Surya tersenyum. “Tapi ... pemandangan di dalam lebih indah.”


Varsha mendelik tajam dan meringis ke arah Surya. Kemudian ia mengernyitkan dahinya sambil menatap lurus kembali ke jalan. Pria tampan itu sebenarnya malah ingin tambah menggoda Varsha. Tetapi ia memutuskan untuk tidak membuat wanita cantik itu semakin jengkel padanya.


“Baiklah,” ucap Surya akhirnya mengalah dan mengalihkan pandangannya dengan berat hati.


“Aku tidak tahu kalau kamu bisa menyetir,” komentarnya lagi.


“Aku pandai melakukan apa saja,” jawab Varsha.


“Tentu saja.” Surya tertawa kecil lalu kembali mencuri pandang pada bidadari hujannya.


Namun tiba-tiba saja sebersit deru cemburu melandanya. Beragam pikiran memasuki benaknya. Siapa yang mengajari Varsha menyetir. Laki-laki mana yang telah duduk di samping wanita cantik itu selain dirinya.


“Siapa yang mengajarimu menyetir?” tanya Surya sambil berusaha menenangkan pikiran liarnya.


“Tessa.”


Seketika angin sejuk langsung mendinginkan dada Surya yang berkecamuk. Pria itu pun tersenyum lega. Lalu kembali melirik diam-diam ke arah Varsha. Berusaha untuk tidak ketahuan.


“Kamu yakin tidak mau ke rumah sakit atau klinik?” tanya Varsha.


“Tidak perlu,” jawab Surya. “Dokter keluargaku sudah dalam perjalanan menuju ke rumah.”


Varsha mengangguk lalu berbisik pelan. “Syukurlah.”


Seketika Surya merasa bersalah karena telah membuat wanita cantik di sampingnya khawatir. Ia harus menjaga dirinya lebih baik lagi. Sebab kini ada tambahan dua orang spesial dalam hidupnya.


“Ngomong-ngomong … bukannya ini mobil Axel, ya?” tanya Varsha tiba-tiba baru menyadari.

__ADS_1


“Iya.”


Wajah Varsha penuh tanya. “Mobilmu ke mana?”


“Mobilku rusak karena tadi kecela-”


“Kaca spionnya ada yang menyenggol,” potong Surya, merubah jawabannya dengan cepat.


Pria tampan itu nyaris saja kelepasan bicara bahwa ia lagi-lagi berhasil melukai dirinya. Seolah tubuhnya adalah magnet bagi bencana. Namun, melihat dari wajah Varsha tampaknya ia masih sedikit curiga.


“Ugh…,” rintih Surya sambil menyentuh dahi. Berharap Varsha meyakini aktingnya. Ia tak mau bidadari hujannya menangkap keceplosannya barusan.


Berhubung konsentrasi wanita cantik itu lebih banyak terarah pada jalan di depannya, ia jadi tak bisa melihat jelas bahwa Surya hanya berpura-pura saja. Varsha pun melirik khawatir pada pria tampan itu.


“Kalau begitu istirahat saja. Aku akan mengikuti GPS-nya sampai ke rumahmu.”


“Hm mh,” respon Surya sambil berusaha keras menahan senyumnya.


***


Kediaman Surya Abhiyoga berada di dalam kawasan perumahan elite di mana tidak sembarang orang bisa masuk begitu saja. Bersanding rapi dan elegan dengan rumah-rumah raksasa lain yang jaraknya berjauh-jauhan. Bahkan jalan yang harus ditempuh dari pintu gerbang hingga pintu depan rumah Surya saja lumayan melelahkan jika tanpa kendaraan.


Varsha memapah pria tampan itu dari pintu garasi menuju kamar tidur. Sesekali ia menahan napas karena takjub dengan pemandangan dan arsitektur cantik di sekelilingnya. Suara percikan air terdengar kalem dan menenangkan dari air terjun dinding di dalam rumah.


“Terima kasih,” tutur Surya lembut begitu akhirnya mereka tiba di kamar.


Varsha mengangguk dan tersenyum simpul. Kemudian ia susun bantal-bantal di tempat tidur agar Surya bisa bersandar di sana. Sementara pria tampan itu hanya menatap wanita cantik di depannya tanpa berkedip.


Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari depan pintu, lalu seorang pria muda masuk ke dalam. Wajahnya begitu ramah dan penuh senyum. Ia kemudian menunduk hormat pada Surya dan Varsha.


“Pak Surya, Dokter Hilman sudah datang,” lapor pria itu.


“Baik, Wahyu. Terima kasih,” respon Surya. “Bisa tolong antarkan Dokter Hilman kemari?”


“Siap, Pak.”


Tak lama kemudian, Wahyu pun datang bersama Dokter Hilman di belakangnya. Surya menyapa dokter tersebut dengan akrab kemudian berbincang sebentar dengannya. Kelihatan sekali hubungan mereka cukup dekat. Saat Dokter Hilman mulai memeriksa kondisi Surya, Varsha diam-diam keluar kamar karena ingin memberi privasi pada keduanya.


Setelah menunggu sekitar lima belas menit, pintu kamar Surya terbuka kembali. Tampak sosok Dokter Hilman keluar dari dalamnya. Varsha pun bergegas menghampiri pria tersebut.


“Bagaimana keadaan Surya, Dok?” tanya Varsha. Raut wajahnya tampak khawatir.

__ADS_1


“Ia baik-baik saja. Hanya butuh istirahat yang cukup,” jawab Dokter Hilman. “Saya tadi memberikannya obat tidur dalam dosis kecil agar ia bisa beristirahat sejenak.”


Varsha tersenyum lega. “Terima kasih, Dok.”


“Dengan senang hati.”


Dokter Hilman kemudian pamit dan berjalan keluar ditemani Wahyu. Sementara Varsha membuka pintu kamar Surya dengan sangat perlahan karena takut mengganggu pria tampan tersebut. Begitu sampai di dalam, Varsha berjalan mendekati tempat tidur Surya dan duduk di sampingnya.


Pria itu kini sedang terlelap. Dadanya terlihat naik turun dengan ritme normal. Varsha lalu mengamati wajah Surya lekat-lekat. Posisi ini mengingatkannya pada hari di mana dirinya menjenguk pemuda tampan di hadapannya beberapa minggu lalu di rumah sakit. Saat itu mereka bertengkar hebat dan saling melukai hati masing-masing.


Varsha menghela napas panjang. Rasanya kejadian itu sudah berlangsung bertahun-tahun lalu dan bukannya baru beberapa minggu saja. Sebab setelahnya sudah banyak kenangan yang dibuat.


Surya yang terus menunggu di depan rumahnya. Surya yang membawakan bubur ayam favoritnya. Surya yang diam-diam mengikutinya dari rumah hingga ke sekolah Teja dan tempat kerjanya. Surya yang membawa Teja tamasya paralayang. Surya yang menghadiri wisudanya ….


Varsha memejamkan matanya selama beberapa saat lalu membukanya lagi. Sesungguhnya dirinya masih tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan Surya. Selain itu, dia juga tidak lagi yakin masih memendam amarah terhadap pria tersebut.


Wanita cantik itu pun akhirnya memutuskan pulang dan meninggalkan Surya untuk beristirahat. Namun, mendadak dahi Surya mengernyit. Pada wajahnya yang pucat terdapat tetesan-tetesan kecil keringat dingin. Kepalanya bergerak tidak tenang, seolah sedang mendapat mimpi buruk.


Varsha pun mendekat ke arah Surya untuk mengecek keadaannya. Namun, tiba-tiba saja sebuah tangan besar meraih dan merangkul tubuhnya hingga menempel erat pada pria tampan yang sedang berbaring di hadapannya. Wanita cantik itu seketika panik dan berusaha untuk melepaskan diri. Sampai sebuah suara berat dan serak terdengar syahdu di telinganya.


“Varsha … please stay.”


***


Curcol Author:


Bisa ae lo Sur ;P


<3<3<3<3<3<3<3


Huhuhu, maafkan Author kemarin ga up ya. Diusahakan hari ini akan up lagi nanti. Terima kasih sudah sabar menanti. Kalian yang terbaeq, de best lah pokoknya XD


Jangan lupa terus dukung dengan memberi love, komen, jempol, serta hadiah, ya ;D


Semoga harimu menyenangkan dan selamat beraktivitas!


Nuhun~


- Bawang


 

__ADS_1


 


__ADS_2