Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XXIX. Keraguan


__ADS_3

“Tepat esok harinya, Tante Tara secara mukjizat tersadar dari koma. Walau awalnya tidak diangkat, aku terus menghubungi Surya dan akhirnya tersambung,” ucap Dewa.


“Namun setelah mendengar kabar itu … ia mengalami kecelakaan,” lanjut Dewa lagi dengan nada berat. Seolah memori buruk tersebut baru terjadi kemarin. Kemudian Tessa meremas pelan tangan Dewa, berusaha untuk menguatkannya.


Dewa menghela napas panjang lalu berkata, “Surya menderita amnesia sejak peristiwa itu.”


“Amnesia? Lalu bagaimana dia mencari Rain?” tanya Tessa. “Kak Dewa bilang tadi, Kak Surya juga mencari Rain.”


“Ada kalanya ia mendapat memori tentang Rain. Meskipun hanya sedikit saja,” jawab Dewa. “Karena itulah sulit sekali untuk menemukannya.”


Dewa lalu mengerutkan keningnya, berusaha mengenang memori beberapa tahun lalu. “Aku ingat Surya kembali lagi ke Tebing Purwa dan karavan itu. Mencoba mencocokkan tanggal saat dia bertemu dengan Rain.”


“Namun, upayanya sama sekali tidak membawa hasil. Nama Rain atau gadis lainnya tidak ada pada daftar tamu yang menginap di hari tersebut. Justru yang ada malah nama sebuah perusahaan.”


Seketika Tessa menganga dan menutup mulutnya dengan tangan. Tiba-tiba semuanya masuk akal sekarang. Tentu saja nama Rain atau Varsha tidak ada di dalam buku tamu. Sebab Tessa lah yang memberikan hadiah menginap di karavan.


“Itu … itu perusahaan tempat ayahku bekerja,” ujar Tessa setelah pulih dari kagetnya.


“Ayahku mendapatkan hadiah menginap di karavan tersebut dari kantornya,” kata Tessa mulai menjelaskan.


“Namun, karena pada hari itu seluruh keluargaku harus menghadiri acara pernikahan sepupu, aku akhirnya memberikannya pada Varsha ….”


Begitu Tessa selesai bercerita, keduanya terdiam. Layaknya sedang berusaha mencerna seluruh informasi, yang mereka baru saja saling terima. Setelah beberapa saat, Tessa dan Dewa pun saling memandang lalu tersenyum.


“Aku harap setelah ini hanya akan ada kebahagiaan untuk Varsha dan Surya,” ucap Dewa sungguh-sungguh.


Tessa tersenyum simpul dan mengangguk pelan. Bukan hanya Dewa yang menjadi saksi atas usaha dan upaya orang yang ia sayangi. Tessa pun juga selalu ada di samping sahabatnya, melihat perjuangan kerasnya selama lima tahun terakhir bahkan lebih. Ia ingin Varsha dan Teja bahagia bagaimanapun caranya, dengan atau tanpa Surya.


“Sebaiknya aku pamit dulu. Aku masih ada urusan lain.” Kalimat Dewa sekejap mengembalikan fokus Tessa padanya.


“Baik, Kak Dewa. Terima kasih banyak hari ini,” kata Varsha akhirnya.


“Sama-sama.” Dewa tersenyum.


Tak lama kemudian, pria itu keluar dari Private Cafe dan pergi dengan mobilnya. Meninggalkan Tessa seorang diri duduk di atas sofa. Namun tiba-tiba seorang wanita cantik keluar dari balik tirai yang membatasi kafe dengan dapur kotor.


“Kamu sudah dengar semuanya, Var?” tanya Tessa. Tidak ada kekagetan sama sekali pada nadanya. Seolah ia memang sudah tahu dari awal bahwa wanita itu ada di sana sejak tadi.


Varsha mengangguk pelan merespon sahabatnya. Namun ia hanya diam saja tak bersuara. Ekspresi wajahnya tidak terbaca.


“Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?” tanya Tessa lagi.


Varsha menghela napas sebelum akhirnya berkata, “Aku … tidak tahu.”

__ADS_1


***


Surya mengembuskan napas kuat-kuat. Kemudian ia bersandar pasrah pada kursi kerjanya, melihat langit-langit di atas. Kepalanya penuh dengan berbagai macam pikiran. Namun yang paling mengisi ruangnya adalah seorang wanita dan anak laki-laki.


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Tak lama seorang pemuda berjas rapi masuk ke dalam ruangan. Ia berjalan menghampiri Surya lalu berhenti tepat di depan mejanya. Kemudian pria itu menunduk memberi hormat, menunggu diberi perintah.


“Kau sudah datang,” ucap Surya lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.


“Maaf, membuat Pak Surya menunggu,” respon pria di depannya, masih dengan kepala tertunduk.


“Aku ingin kau menyelidiki kecelakaan di Akasa Hotel,” titah Surya.


“Baik, Pak.”


“Apa ada lagi, Pak Surya?”


Surya berdiri dari kursinya lalu berjalan pelan menghampiri pria berjas rapi itu. Begitu tiba di depannya, Surya duduk bersandar di atas meja. Kedua tangannya terlipat di depan dada.


“Seluruh ingatanku telah kembali, Raka,” ucapnya perlahan. “Aku mengingat jelas apa yang terjadi sebelum kecelakaan lima tahun lalu.”


Raka, asisten Surya, hanya diam saja di depannya. Mendengarkan setiap kalimat dari bosnya dengan khusyuk.


“Saat itu aku sudah berusaha menginjak rem. Bahkan sudah aku tekan berkali-kali namun tidak bekerja. Hingga aku sadar bahwa remnya blong,” cerita Surya.


Surya terdiam sejenak lalu akhirnya menggeleng. “Tapi itu tidak mungkin. Kalaupun terjadi probabilitasnya sangat kecil.”


“Tapi kau tahu apa yang paling mencurigakan, Raka?” tanya Surya.


“Selain pengecekan berkala, di setiap mobil anggota keluarga Abhiyoga juga sudah dilengkapi dengan sebuah perangkat,” jelasnya lagi.


“Kamera black box. Untuk merekam situasi di luar dan di dalam mobil.”


Surya mendegus kecil. “Namun benda itu tidak ada. Hilang tanpa jejak.”


“Aku tahu hasil penyidikan menyatakan bahwa black box tersebut diduga terlepas dan jatuh ke jurang di dekat tempat kejadian,” ucap Surya. “Itu artinya ada dua kemungkinan yang seharusnya berpeluang kecil untuk terjadi, tetapi malah jadi terwujud.”


“Terlalu banyak kebetulan … sangat mencurigakan,” lanjut Surya nyaris berbisik.


Surya kemudian berjalan ke arah Raka. Begitu ia berdiri di sampingnya, ia letakkan satu tangannya di atas bahu asistennya itu. Kemudian meremasnya pelan.


“Selain kejadian di Akasa Hotel, aku juga ingin kau menyelidiki sampai tuntas kecelakaan lima tahun lalu,” perintah Surya. Suaranya pelan namun sangat jelas.


“Aku percayakan sepenuhnya padamu, Raka.”

__ADS_1


“Baik, Pak Surya,” jawab Raka dengan suara mantap.


Setelah memastikan Surya tak lagi memiliki instruksi untuknya, Raka pamit keluar ruangan. Surya kemudian menatap asistennya itu hingga siluetnya tak terlihat lagi. Ekspresi wajahnya sulit dibaca.


Tak lama kemudian, kembali terdengar suara ketukan dari pintu. Tampaknya Surya banyak menerima tamu hari ini. Sosok pemuda berwajah ramah dan penuh senyum memasuki ruangannya.


“Ada yang bisa dibantu, Bos?” tanyanya begitu sampai di depan Surya.


“Apa kau sedang sibuk, Ardi?”


“Berkat Anda, saya selalu sibuk, Bos,” canda Ardi. “Tapi tentu saja, saya selalu punya waktu untuk Pak Bos.”


“Aku memerlukan keahlianmu …” ucap Surya dengan raut wajah serius.


“Tentu saja, Bo-


“Yang dulu,” potong Surya sebelum pegawainya itu menyelesaikan responnya.


Seketika ekspresi Ardi berubah menjadi lebih serius. “Baik, Bos.”


Tidak banyak ada yang mengetahui hal ini, namun Ardi sebelumnya merupakan peretas topi hitam dengan kemampuan yang luar biasa. Untungnya sebelum pemuda itu menyia-nyiakan hidupnya lebih jauh lagi, ia ditemukan oleh Surya dan akhirnya direkrut ke Akasa Game. Berkat itu, Ardi sangat berterima kasih pada Surya dan akan melakukan apa saja untuk bosnya.


“Aku ingin kau investigasi kejadian di Akasa Hotel dan kecelakaanku lima tahun lalu,” tegas Surya.


“Dimengerti, Bos.” jawab Ardi cepat.


Surya terpaku sesaat, lalu akhirnya berkata, “Aku juga ingin kau menyelidiki dan mengawasi gerak-gerik … Raka.”


***


Curcol Author:


RAKA??? NOOOOOO\~


<3<3<3<3<3<3


Berasa nulis CSI atau cerita detektif hihihi, tiba-tiba merasa bahagia xDD


Baiklah, semoga suka dan menikmati ceritanya ya teman-teman.


Jangan lupa love, komen, dan jempolnya, ya ;D


Semoga harimu menyenangkan, dan semangat semuanya memulai hari esok!! huhuhu **

__ADS_1


Nuhun\~


- Bawang


__ADS_2