Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari

Kisah Awan, Hujan, Dan Matahari
XVI. Festival Akasa Game (II)


__ADS_3

Teja menggeliatkan badannya. Mencoba meluruskan semua sendinya yang kaku. Ia baru saja selesai memperbaiki sistem eror pada game. Rupanya ada bug yang cukup sulit untuk di atasi. Namun setelah memberikan patch baru, seluruhnya sudah berjalan tanpa cela.


“Hai, Pria kecil. Kita bertemu lagi.”


Teja tersentak kaget mendengar suara yang menyapanya. Ia pun langsung menoleh ke samping. Seorang wanita berusia sekitar awal 50-an sudah berdiri di sebelahnya. Nenek yang dulu pernah ditemuinya di lobi Akasa Tower.


“Nenek!”


Teja tersenyum lebar melihat wanita berpakaian elegan itu. Menampakkan dua lesung pipit kecil yang ia dapatkan dari mamanya. Ia pun cepat-cepat berdiri dan memberi salam.


“Apa yang sedang Nenek lakukan di sini?”


“Hmm… tentu saja untuk melihat-lihat.”


“Kalau begitu mau kutemani melihat-lihat di stan ini?” Tanya Teja menawarkan.


“Perfect.”


Teja pun membawa nenek itu berjalan dari awal stan. Memperkenalkan dan menjelaskan tentang game-game terbaru dari Akasa Game. Sesekali anak laki-laki itu menunjukkan cara bermainnya.


“Nenek mau coba?”


“Okay. Apa yang harus aku tekan tadi, Pria kecil?”


“Tombol segitiga di sebelah kanan, Nek.”


Wanita anggun itu pun mengikuti arahan Teja. Meskipun awalnya cukup kesulitan, permainannya kini menjadi lebih mudah karena bantuan anak laki-laki di sampingnya. Semakin lama ia bermain, semakin terasa menyenangkan pula game tersebut.


Ia jadi mengerti mengapa putranya bersikeras untuk membangun kerajaan Akasa Game. Kehidupan sudah sangat serius, jadi tak ada salahnya untuk rehat sejenak dan melepaskan stres dengan bermain game. Tanpa sadar wanita itu pun mengangguk menyetujui.


“Ada apa, Nek?”


“Ah tidak apa, Pria kecil. Game selanjutnya?”


“Oke.”


Teja lalu menggiring nenek ke bagian mobile game DRF. Seperti sebelumnya, anak laki-laki itu dengan sigap menyampaikan informasi terkait game tersebut. Saat Teja berusaha mengambil ponsel sampel di depannya,  tiba-tiba Om Ardi sudah ada di sebelahnya.


“Ibu Chair-”


Wanita elegan di hadapan Ardi dengan cepat menempelkan jari telunjuk di atas bibir merahnya. Memberi sinyal pada pegawai Surya itu untuk tidak membocorkan identitas aslinya. Ardi pun mengangguk mengerti.


“Ada apa, Om Ardi?” Tanya Teja polos.


“Ah, sini biar Om bantu ambil ponselnya.” Jawab Ardi.


“Terima kasih, Om.”


Setelah Ardi memberikan ponsel sampel pada Teja, ia pun segera pamit pergi. Teja dan nenek pun kini tinggal berdua lagi. Kemudian laki-laki kecil itu dengan bersemangat memberitahunya mengenai DRF. Saking antusiasnya, ia bahkan menceritakan bahwa DRF adalah game favoritnya dan bagaimana ia sampai bisa direkrut oleh Akasa Game juga karena DRF.


Melihat antusiasme anak laki-laki di depannya membuat Ibu Tara tak kuasa menahan senyum. Mungkin begini rasanya memiliki seorang cucu. Kepolosannya, cara bicaranya, semangatnya, bahkan mendengar suaranya yang berusaha dengan serius memberi penjelasan, bisa membuat rasa penat di kepalanya hilang. Sepertinya dia harus mengikuti jejak kakak iparnya untuk cepat-cepat menyuruh Surya mencari istri.


Tak terasa tur kecil dari Teja pun sudah selesai. Anak laki-laki itu tersenyum lalu menjabat tangan Ibu Tara. Kemudian ia memberikan beberapa suvenir DRF padanya.


“Tur yang sangat menyenangkan, Pria kecil. Terima kasih banyak.”


“Dengan senang hati, Nenek.” Respon Teja.


“Sepertinya sekarang kita sudah cukup akrab, Pria kecil. Jadi biar Nenek perkenalkan diri terlebih dahulu.” Kata Ibu Tara memulai. “Nama Nenek, Tara. Kau bisa memanggilku Nenek Tara atau cukup Nenek saja seperti sebelumnya juga tidak masalah.”

__ADS_1


“Baik Nek. Kalau aku, Teja. Teja Ametarka.” Jawab Teja. “Senang berkenalan denganmu, Nenek Tara.” Tambahnya sambil melebarkan senyuman.


“Senang berkenalan denganmu juga, Teja Ametarka.”


***


Varsha dengan cepat menarik tubuhnya dari Surya. Kehangatan yang tadi dia rasakan seketika menghilang. Jantungnya berdetak keras dan suhu tubuhnya terus naik.


“Maaf.” Ucap Surya dan Varsha berbarengan.


Keduanya lalu melepaskan peralatan VR mereka. Varsha menanyakan letak kamar kecil kemudian pamit dan langsung melesat pergi. Namun wanita cantik itu tidak ke arah yang ditunjukkan. Ia justru menuju pintu keluar.


Begitu sampai, wajah Varsha langsung disambut oleh tiupan angin segar. Aroma hujan seketika menenangkan pikirannya yang tadi kacau. Perlahan detak jantungnya pun kembali normal.


Varsha sekali lagi menarik napas panjang lalu mengeluarkannya. Setelah ia merasa siap, wanita cantik itu pun akhirnya berjalan kembali masuk ke dalam. Dari kejauhan ia bisa melihat Surya sedang memegang dua minuman dingin.


“Aku membelikanmu es kopi. Kuharap kau tidak keberatan.” Kata Surya sambil menyodorkan segelas minuman dingin di tangannya.


“Ah, iya terima kasih, Pak Surya.” Respon Varsha tersenyum sopan.


Keduanya kemudian berjalan menyusuri festival. Namun atmosfer di antara Varsha dan Surya kembali lagi menjadi canggung. Tembok es yang sebelumnya telah mencair akhirnya berdiri kokoh seperti semula.


Baik Varsha dan Surya sama-sama tak bisa mencari topik untuk dibicarakan. Meskipun keduanya masih jalan berdampingan, mereka saling mengalihkan pandangan ke arah yang berbeda. Berusaha keras untuk tidak mengingat kembali kejadian tadi.


Berhubung Surya dan dirinya hanya diam saja, indra Varsha jadi fokus pada hal lainnya. Seperti aroma fresh laundry dari hoodie Surya yang sejak tadi ia kenakan. Dicampur dengan harum musk dan woody memabukkan yang Varsha perkirakan berasal dari parfum Surya. Karena ia bisa mencium wangi yang sama pada pria itu saat tubuh mereka bersentuhan.


“Ah itu dia toko permennya. Kamu bilang tadi mau membelikan marshmallow untuk Teja, kan?” Tanya Surya memecahkan keheningan di antara keduanya.


“Iya. Terima kasih, Pak Surya. Kalau begitu saya ke sana dulu.” Ucap Varsha berpamitan.


“Oke. Aku akan menunggu di sini.”


Begitu Varsha memasuki toko permen, Surya langsung menghela napas panjang. Ia memegang dadanya mencoba menenangkan jantungnya yang siap menembus keluar setiap saat. Kemudian Surya meminum es kopinya lalu meletakkan gelas dinginnya di pipi. Cara apapun untuk membuatnya kalem.


Padahal otaknya sudah berusaha keras untuk melupakan kejadian di tempat VR tadi. Sekarang ia malah diserang lagi dengan penampilan manis Varsha. Mengapa wanita itu terlihat cocok sekali mengenakan hoodie miliknya. Walau tentu saja yang paling serasi adalah saat wanita cantik itu berada di dalam pelukannya…


Ugh.


Surya berusaha menghentikan pikiran melanturnya yang merajalela. Meskipun Surya sudah memakai bahasa yang lebih akrab, Varsha masih tetap menggunakan formalitas padanya. Yang artinya wanita itu belum merasa dekat dengannya. Jadi ia sebaiknya tahu diri.


Tak lama kemudian, ia bisa melihat Varsha keluar dari dalam toko permen sambil membawa sebuah tas kain. Akasa Food memang sedang mencanangkan ‘kampanye bebas plastik’ sehingga produk-produk mereka sebisa mungkin tak dikemas dengan bungkusan plastik.


Keduanya pun kembali berjalan berdampingan sambil melihat-lihat sekeliling mereka. Varsha lalu mengambil satu bungkus marshmallow dan membukanya. Kemudian ia menawarkannya pada Surya.


“Terima kasih.” Ucap Surya sambil mengambil satu marshmallow.


“Sama-sama.” Respon Varsha sambil tersenyum. Menampakkan dua lesung pipit favorit Surya.


“Varsha!”


Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari arah belakang mereka. Dari kejauhan tampak seorang pria melambaikan tangan ke arah wanita di sampingnya. Pria itu pun kemudian berjalan mendekat.


“A..xel?” Tanya Surya tidak yakin.


“Pak Surya mengenal Axel?” Kali ini Varsha yang bertanya.


“Ya. Dia temanku saat ada bisnis di Australia dulu.”


“Aah.” Varsha tertawa kecil. “Kalau begitu perkenalkan Pak Surya. Ini Mario, saudara kembar Axel, sekaligus bos saya.” Jelasnya kemudian.

__ADS_1


“Mario, ini Pak Surya. Pimpinan Akasa Game, Bosnya Teja.”


Surya dan Mario pun saling berkenalan sambil berjabat tangan. Surya merasa sedikit aneh karena meskipun ini pertama kalinya ia bertemu dengan Mario, tidak bisa dibilang ia tak pernah melihat wajahnya karena Axel.


“Sebenarnya kita dulu juga pernah bertemu di depan Akasa Tower.” Kata Mario.


Seketika memori tidak mengenakkan terlintas di benak Surya. Rupanya pria inilah yang memboncengi Varsha dan Teja saat itu. Yang berhasil menyulut bara api di dalam hatinya.


“Ah, iya… saya ingat.” Jawab Surya berusaha mengontrol suaranya.


“Tapi… kenapa saya rasanya juga pernah melihat Anda lagi ya sebelumnya… di mana ya... “


“Pak Surya cukup terkenal Mar, jadi wajar saja kalau kamu pernah melihatnya.” Jelas Varsha.


“Oh!” Kata Mario yang baru saja mendapat momen ‘eureka’.


“Anda mirip sekali dengan gambar yang Var-”


Varsha membelalakan matanya. Kemudian dengan cepat ia memasukkan tiga buah marshmallow besar ke dalam mulut Mario. Memaksa temannya itu untuk mengunyahnya sekaligus. Mario menatap Varsha penuh tanya namun wanita cantik itu hanya tersenyum canggung.


“Marshmallow keluaran Akasa Food sangat enak, Mar. Bagaimana menurutmu?” Tanya Varsha berusaha mengalihkan topik.


“E… ak.” Ucap Mario dengan mulut penuhnya.


Varsha asumsikan temannya itu berusaha mengatakan ‘enak’. Ia kemudian melirik Surya di sebelahnya. Entah mengapa raut wajah Surya tampak tidak senang. Varsha bahkan bisa melihat kerutan pada wajahnya yang tampan.


Tak lama, Mario pun berpamitan kepada Varsha dan Surya. Ia sudah ada janji dengan temannya di foodcourt jadi dia harus segera ke sana. Akhirnya Varsha dan Surya pun memutuskan untuk kembali ke tempat Teja.


Perjalanan mereka menuju stan DRF hening seperti sebelumnya. Namun kali ini bukan hanya ada tembok dingin saja melainkan badai salju pun terasa sedang berhembus di antara keduanya. Varsha tidak tahu bahwa suasana hati pria tampan di sebelahnya sedang buruk sekali sekarang.


Mario, saudara kembar Axel. Ia bos Varsha. Ia pernah membawa Varsha dan Teja dengan motornya. Ia bahkan akrab sekali dengan Varsha sampai-sampai wanita cantik itu bisa menyuapinya marshmallow. Surya menghela napas panjang.


Rasanya ia punya saingan yang cukup berat.


***


Curcol Author:


Author: “Sur, pilih mana. Axel atau Mario?”


Surya: “Axel kemana-mana lah!”


Author: “Yakin?”


Surya: “Yakin lah!


Author: “Baiklah. Fufufufufu…”


Surya: “Kenapa emang, Thor? Thor???”


<3<3<3<3<3<3<3


Hihihi, good luck ya, Sur <3


Oke deh, semoga terhibur dan suka ya, guys. Jangan lupa love, komen, dan jempolnya ;D


Nuhun\~


- Bawang

__ADS_1


__ADS_2