
Saingan?
Apa yang ada dipikirannya saat itu. Memangnya ia sedang berada di dalam novel romansa atau drama percintaan?
Surya menghela napas panjang. Selain itu apakah dia benar-benar telah yakin dengan perasaannya? Lalu bagaimana dengan gadis misterinya yang selama ini sudah menjadi penyemangat hidupnya. Tanpa dia, mungkin Surya takkan mencapai kesuksesannya sekarang. Surya mengurut dahinya pelan.
Ia tidak bisa terus seperti ini. Dia harus selalu fokus dan berkepala dingin. Tanggung jawabnya sebagai CEO Akasa Game dan calon pewaris Akasa Group sangatlah besar. Ia perlu memikirkannya masak-masak sebelum memutuskan untuk memulai hubungan serius dengan seseorang.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Kemudian asistennya, Raka, masuk ke dalam untuk menyerahkan dokumen. Surya memeriksa fail tersebut lalu memberikan tanda tangan dan mengembalikannya lagi.
“Pak Surya?”
“Ya, Raka.”
“Ibu Varsha mengabarkan bahwa besok Teja izin untuk tidak masuk.” Lapor Raka.
Ini pertama kalinya Varsha meminta cuti untuk Teja. Mengapa bukan Teja sendiri saja yang mengabarinya. Surya pun jadi merasa khawatir.
“Oke. Apa Varsha mengatakan alasannya?”
“Tidak, Pak.” Jawab Raka.
“Baiklah. Terima kasih, Raka.”
“Iya, Pak.”
Surya ingin menelepon Varsha namun begitu ia melihat jam yang sudah larut rasanya kurang pantas. Mungkin dia bisa menanyakannya besok saja. Surya pun kembali bekerja untuk mengalihkan perhatiannya.
Namun ia tetap saja tak bisa berkonsentrasi. Surya tanpa sadar membuka profil Teja pada daftar pegawai Akasa Game dan membacanya. Begitu melihat tulisan yang tertera di sana ia pun menyadari sesuatu.
Besok adalah hari ulang tahun Teja.
***
Surya melirik jam di atas meja kerjanya. Sebentar lagi mal dan toko-toko akan buka. Rencananya ia akan pergi ke sana untuk membeli kado Teja. Walau semalam ia sempat ragu, takut melanggar batasan apapun itu. Jika dipikir-pikir lagi, rasanya tak salah jika ia memberikan hadiah pada Teja di hari ulang tahunnya.
Surya pun segera beranjak dari kursinya untuk bergegas pergi ke mal. Namun tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka. Seorang wanita dengan gaun putih beraksen bunga-bunga masuk ke dalam kantornya. Begitu elegan dan tampak mahal.
“Mom? Ada apa datang kemari?”
“Tentu saja untuk melihat putranya yang tidak pernah datang berkunjung.”
Surya memasang senyum canggung lalu meminta maaf. Biasanya ia selalu menginap di rumah orangtuanya setiap akhir pekan. Namun ia begitu sibuk beberapa minggu ke belakang, terutama karena mengurusi Festival Akasa Game.
Sebenarnya sudah lama Surya mengajak mamanya untuk tinggal bersamanya. Namun mamanya tidak ingin meninggalkan rumah mereka karena banyak kenangan Bumi dan ayah Surya di sana. Sebaliknya karena alasan yang sama, Surya jadi tak bisa berlama-lama menghabiskan waktu di tempat itu. Alhasil Surya dan mamanya pun tinggal di kediaman yang berbeda.
“Kudengar Mama kemarin datang ke Festival Akasa Game. Kenapa Mama tidak menemuiku?”
__ADS_1
“Kau pikir Mama bisa mencarimu di lautan manusia begitu.”
Surya tersenyum, “Kan Mama bisa meneleponku.”
“Sudahlah. Lagipula Mama dijamu dengan begitu baik oleh salah satu pegawaimu.”
“Mendapat pujian luar biasa dari seorang Ibu Chairman Tara? Siapa namanya, Ma? Sepertinya aku harus menaikkan gajinya.” Walaupun nadanya sedikit meledek, Surya sungguh terkejut dengan perkataan yang diucapkan mamanya barusan.
“Teja Ametarka.”
“Mama mengenal Teja?” Kini Surya semakin terkejut lagi.
“Ya, karena satu dan lain hal, Mama jadi mengenal pria kecil itu.” Ujar Mama Surya. “Kerja bagus sudah merekrutnya.” Tambahnya lagi.
“Terima kasih, Mom. Ya, Teja adalah anak luar biasa.” Surya mengangguk setuju.
“Kebetulan sekali. Apa Mama mau menemaniku pergi membeli kado untuk Teja?”
“Kado untuk pria kecil? Okay.”
Tak lama kemudian, pasangan ibu dan anak itu pun pergi ke mal bersama. Mereka berkeliling ke beberapa tempat namun belum menemukan hadiah yang sesuai. Surya merasa kesulitan memilihkan kado untuk Teja.
Ini pertama kalinya Surya pergi mencari hadiah untuk seseorang yang berusia sekecil Teja. Ia kurang tahu apa yang disukai anak-anak seumurannya sekarang. Tiba-tiba saja Surya merasa dirinya begitu tua dan ketinggalan zaman.
“Mainan robot?” Tanya Surya pada mamanya.
“Aku tidak tahu…”
Surya mengernyitkan dahinya. Lebih mudah untuk menciptakan game daripada mencari kado Teja. Akhirnya ia letakkan lagi kotak mainan robot tersebut kembali ke dalam rak.
“Surya, jangan berpikir rumit. Pikirkan apa yang Teja suka bukannya apa yang anak seusianya suka.” Ucap mamanya.
“Apa yang Teja suka? Aku hanya tahu dia senang bermain game dan mengembangkannya.” Jawab Surya sambil mencoba mengingat hal lainnya mengenai Teja.
“Itu dia. Kau bahkan sudah memiliki jawabannya.”
Tiba-tiba kepalanya seperti diterangi oleh sebuah lampu bohlam terang. Benar sekali. Kenapa ia harus berpikir begitu pelik. Surya tersenyum penuh terima kasih pada mamanya.
Surya dan mamanya pun langsung menuju ke toko komputer terdekat. Setelah memperhatikan dan memeriksa tiap laptop yang ditawarkan, akhirnya ia memilih satu yang cocok. Sebuah laptop hitam canggih dan keluaran terbaru dengan desain elegan dan spesifikasi tinggi. Sangat sempurna untuk gamer dan pengembang game seperti Teja.
Surya tersenyum lebar merasa puas dengan hadiah yang dipilihnya. Ia juga meminta kepada pegawai di sana untuk langsung membungkus laptop tersebut dengan kertas kado. Tak lama, Surya pun sudah mendapatkan bingkisan cantiknya.
“Thank you so much, Mom.”
“Anytime, Dear.”
Setelah makan siang bersama, Surya dan mamanya pun berkendara pulang. Di dalam perjalanan, Mama Surya melirik ke arah tangan putranya. Ia masih bisa melihat cincin emas putih berukir itu melingkar pada jari manisnya. Cincin yang selalu dipakai Surya sejak beberapa tahun silam.
__ADS_1
“Melihatmu begitu perhatian pada seorang anak, Mama jadi bertanya-tanya. Kapan kau sendiri akan punya anak?”
Surya terbatuk mendengar pertanyaan dari mamanya. Mama Surya nyaris tidak pernah membahas persoalan ini dengan dirinya. Jadi ia pikir mamanya tidak terlalu memikirkan topik tersebut. Biasanya yang mereka diskusikan adalah tentang pekerjaan Surya atau Akasa Group.
“Mama rasa umur Mama sudah cukup untuk menimang cucu.”
Ibu Tara sengaja menggunakan dirinya sebagai alasan. Ia tahu putranya memiliki ikatan spesial dengan gadis misterinya. Namun meski sudah bertahun-tahun lamanya, gadis misterius Surya tak pernah menampakkan batang hidungnya. Sementara dirinya sendiri tak akan bertambah muda.
“Mama harap kau mulai mempertimbangkannya. Itu saja.”
Surya hanya tersenyum dan mengangguk mendengar komentar mamanya. Namun Ibu Tara sudah membulatkan tekadnya. Ia tak bisa terus-menerus menunggu dan membiarkan buah hatinya menantikan sesuatu yang tidak jelas.
“Baik Ma.” Ucap Surya akhirnya.
Surya melirik sekilas cincinnya. Setelah ia mulai mendapatkan mimpi-mimpi misteriusnya, ia sengaja memesan khusus cincin tersebut. Selain sebagai penyemangat dan penenang pikirannya, ternyata cincin itu juga bisa menjadi alat penolak wanita yang berusaha mendekatinya. Akhirnya Surya pun jadi memakainya setiap hari.
Tanpa sadar, Surya refleks mengusap pelan ukiran yang tertera pada cincinnya. Sebuah sensasi akrab langsung dirasakan oleh ibu jarinya. Empat huruf yang didesain cantik mengelilingi lingkaran emas putih tersebut.
R-A-I-N.
***
Curcol Author:
Author: "Sur."
Surya: "Ya, Thor?"
Author: "Kapan nikah?"
Surya: "..."
Surya: "Thor."
Author: "Ya, Sur?"
Surya: "Kapan nikah?"
Author: "Mau kudelete kah karaktermu???"
<3<3<3
Hihihi baiklah, semoga suka ya teman-teman. Jangan lupa love, komen, dan jempolnya hehe.
Semoga hari kalian semua menyenangkan ;D
Nuhun\~
__ADS_1
- Bawang